SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
BUCIN


__ADS_3

Enam belas jam jarak tempuh yang dipakai oleh sepasang suami istri ini. Andoro benar-benar tak melepas istrinya pergi sendiri. Entah berapa kali Luisa menyindir pria itu, tetapi Andoro tetap berada di sisi istrinya.


"Bukankah kau ingin pergi sendiri tadi?" desis Luisa menatap sinis suaminya.


Andoro mengeratkan pelukannya. Ia berkali-kali mengecup pelipis dan pipi istrinya.


"Menyingkir lah ... aku mau duduk tenang!" usir wanita itu ketus.


Andoro tetap pada pendirian memeluk Luisa. Ia bukan lupa, tapi sangat ingat ketika wanita dalam pelukannya itu tengah tersenyum menatap pria lain. Andoro benar-benar hancur saat itu, ia terbakar api cemburu.


"Kita belum bercerai Luisa!" tekan pria itu.


"Apa pedulimu. Aku sudah melayangkan gugatan. Langit perlu Papa yang baik dan bukan mata keranjang!" sindir Luisa.


Denara yang melihat betapa pria incarannya marah terhadap istrinya. Bukan menenangkan malah memperkeruh suasana.


"Sayang, dia sudah memiliki pria yang menerimanya. Kenapa kau tidak lepaskan saja dan kita bisa hidup bahagia. Kita bisa mulai semua dari awal," rayu wanita itu.


"Aku akan bersamamu walau kita hidup susah," lanjut Denara dengan pandangan yang membuat semua pria terbakar gairah.


Andoro ada di ruang kerjanya. Denara tidak pernah beranjak dari sisi pria itu. Bayangan hidup super mewah dengan fasilitas nomor satu akan ada digenggamnya.


Andoro mencekal kuat tangan Denara yang meraba dadanya. Wanita itu sampai meringis kesakitan.


"Jack!" panggilnya.


Sosok pria berkulit hitam muncul. Jack Black adalah pria berwarna negara Amerika-Afrika. Pria itu sudah berulang kali mengingatkan tuannya.


"Tuan!"


"Buang perempuan ini dan blacklist dia dari perusahaan manapun!' titah Andoro waktu itu.


Denara menjerit ketika Jack menyeretnya tanpa ampun. Jack Black sudah beristirahat dengan tenang. Pria itu meninggal setelah kematian istrinya. Kini Zack Black putranya menjadi menjadi tangan kanan Andoro. Usia Zack sama dengan Langit. Ia kini duduk di bangku belakang tuannya.


"Kau tau ... aku tadi menampar selingkuhanmu!" ujar Luisa sambil melirik sengit suaminya.


"Aku selalu minta maaf, kapan kau memaafkan aku?" tanya Andoro lirih.


Luisa menatap ketulusan suaminya di sana. Andoro mengusap pipi dingin Luisa. Sejak Langit lahir, rona merah di pipi itu sudah tak nampak lagi.


"Aku merindukan rona di pipimu," aku pria itu lalu menggosok hidungnya di hidung sang istri.


"Aku merindukan manis bibirmu," lanjutnya lalu mengecup kembali dan memagut benda kenyal yang masih saja dingin.


"Please ... forgive me ... i'm begging you!" pinta Andoro tulus.


Langit sangat terkejut ketika mendapat kabar jika ayah dan ibunya malah pergi menggunakan pesawat komersil.

__ADS_1


"Kenapa nggak pake jet pribadi?" gumamnya.


Kini pria itu menunggu kedatangan ayah dan ibunya. Tak lama, dua wajah itu muncul. Nampak wajah sang ibu yang tersenyum padanya. Walau bagaimanapun Luisa adalah ibu terbaik yang pernah ada. Langit tak menampik hal itu.


"Mama, Papa!" sambutnya lalu memeluk keduanya.


"Hai Zack!" Langit ber-hi five pada ajudan setia ayahnya.


"Ayo-ayo!" ajaknya.


Koper-koper diletakkan di bagasi mobil. Kendaraan mewah itu pun bergerak ke hunian Langit yang baru.


"Assalamualaikum!" salam pria itu ketika masuk rumah.


Luisa nampak tersenyum puas melihat betapa mewah dan luasnya hunian sang putra.


"Wa'alaikumusalam!" balas Nai.


Rumah memang sepi karena memang belum waktu berkumpul. Hari masih terlalu pagi, semua masih bersekolah walau hari Sabtu.


Nai mencium tangan ayah ibu mertuanya. Luisa mengecup pucuk kepala menantunya.


"Perkenalkan ini Zack, saudaraku!" ujar Langit memperkenalkan Zack.


"Kakak!" Nai juga mencium punggung tangan pria berkulit hitam itu ketika menyodorkan tangannya.


"Sabar Zack ... sebentar lagi kau tidak akan mau pulang setelah ini," ujar Langit berbisik.


Kini semua berada di kamar masing-masing. Zack terkejut dengan kamar yang diperuntukkan dirinya.


"Ini bukannya terlalu mewah?" cicitnya bertanya.


"Tidak Kak, ini kamarmu!" jawab Nai begitu tegas.


Kamar Luisa dan Andoro tak kalah mewah dan indahnya. Luisa benar-benar betah. Ia sudah lama tak menginjakkan kaki di tanah kelahirannya itu.


Andoro memeluk Luisa dari belakang. Pria itu meletakkan dagunya di pucuk kepala sang istri. Luisa hanya bisa menghela napas panjang. Wanita itu memang sangat mencintai suaminya. Sebuah kejadian di mana beberapa pria pasti melakukannya.


"Sayang ...," panggil pria itu mesra.


"Aku mencintaimu," lanjutnya berbisik.


Setetes air bening jatuh dari pelupuk mata Luisa. Masih terekam jelas bagaimana sang suami berciuman begitu panas dengan wanita lain, sedang ia masih merasa sakit akibat operasi cesar ketika melahirkan Langit.


"Malam bantu aku, tuk luluhkan dia, bintak bantu aku tuk tenangkan dia ... dari rasa cemburu ... dari rasa curiga ... sebenarnya aku tak bisa hidup tanpanya ...," Andoro menyanyikan lagu viral itu.


"Katakan bagaimana?" desis Luisa. "Kau menciumnya begitu panas. Andai aku tak datang ... mungkin kau ...."

__ADS_1


Perkataan Luisa terhenti. Andoro mencium bibir wanita itu. Dua puluh lima tahun waktu yang telah lewat, tetapi ingatan Luisa masih kuat.


"Katakan jika kau ingin aku berhenti sayang ... aku sudah bersujud padamu. Jika kau mau kau boleh membunuhku sekarang juga," pinta Andoro setelah melepas tautannya.


Luisa sama sekali tak membalas pagutan suaminya. Dua puluh lima tahun ia arungi dengan ranjang yang dingin.


"Katakan sayang," pinta Andoro.


"Setelah dua puluh lima tahun, baru kau tanyakan itu?" desis Luisa menatap tajam suaminya.


"Kenapa tidak dari dulu?" Andoro melepas pelukannya.


Kesalahan fatal, ia sangat tau itu. Air mata istrinya menjawab kesakitan wanita itu.


"Kau tau kenapa aku begitu keras mendidik Langit agar menjauhi wanita sosialita seperti aku?" tanya Luisa.


"Agar dia jatuh tepat pada gadis sederhana dan ia berjuang untuk menyatakan cintanya," lanjutnya.


"Kuakui aku juga memiliki misi ketika Langit beristri Naisya Putri Hovert Pratama. Siapa yang tidak ingin memamerkan gadis cantik putri pebisnis ternama?" lanjutnya.


Andoro menatap netra coklat terang milik sang istri. Ia diam dan membiarkan Luisa mengeluarkan unek-uneknya.


"Aku tak mau Langit tergoda oleh wanita seperti Denara!"


Andoro berlutut pada sang istri. Luisa membola.


"Aku mencintaimu, Luisa Hardoyo!"


"Apa kau masih mau bersamaku sekarang dan selamanya?!" lanjut Andoro mengungkap perasaannya.


Luisa terdiam, Langit dan Nai yang ada di balik pintu yang sedikit terbuka, mendengar percakapan kedua orang tuanya. Langit sangat tidak percaya jika ayahnya dulu pernah berkhianat pada ibunya.


"Berengsek!" umpatnya pelan, ia hendak masuk ke kamar itu namun langsung dihalangi Nai.


"Sayang?" Nai menggeleng.


"Biar Papa menyelesaikan sendiri persoalannya ya," ujar Nai lalu membawa suaminya menjauh dari kamar itu.


"Tapi sayang," Langit masih marah pada ayahnya.


Nai terus menyeret suaminya. Walau tubuh Langit lebih besar, tetapi tenaga Nai sangat kuat. Langit baru tau jika putri dari campuran Pratama dan Dougher Young itu sangat kuat.


Bersambung.


Nai gitu loh ...


Next?

__ADS_1


__ADS_2