
Pukul 12.30. Arsh sudah merasa perih dan haus. Memang udaranya sangat panas siang itu.
'Mama aus Ma ...," keluh balita itu.
"Ya sudah ... batal aja," ujar Arimbi menggoda.
Wanita itu sedang tidak berpuasa, sudah dua tahun ia menikah dan belum mendapat kepercayaan dari Yang Maha Kuasa untuk mendapatkan keturunan. Hari pertama puasa ia mendapatkan siklusnya.
"Minum ah!" Arimbi meneguk air kelapa.
"Mama!" sentak Arsh marah.
"Mama peulposa!' tunjuk bayi itu kesal.
"Mama kan emang lagi nggak puasa Baby!" goda Arimbi lagi.
"Ommy ... huaaa ... Mama Imbi dalat!' adu Arsh pada Maria.
"Baby!"
Maria menghela napas panjang. Arimbi bukannya berhenti, malah tambah menggoda Arsh.
"Sayang ... jangan goda anakmu!' peringat Maria.
"Sini Baby," Rosa mengambil bayi tampan itu dan membawanya untuk berbatal puasa.
"Mimik ini Baby," Rosa menyodorkan jus dalam kemasan.
Arsh meminumnya, hal itu membuat semua bayi ribut ikut mau buka.
"Janan pilih tasih Tinti!" ujar para bayi kesal.
"Jangan khawatir sayang. Nih, ada banyak!" ujar wanita itu.
Rosa sengaja membeli banyak minuman jus kemasan. Semua minum dan mengucap hamdalah setelah meminumnya.
"Dih ... puasanya batal!" ledek Arimbi.
"Sayang!' peringat Maria.
"Imi Mama Bimbi tot senit ya?' sindir Dita.
"Pita basih teusil, tayat Mama puluna eundat peulnah bantal!' lanjutnya dan membuat Arimbi mengerucutkan bibirnya.
"Mama nggak pernah batal!' sanggahnya.
"Jangan bohong Dek!' sahut Satrio tentu tau apa perbuatan saudari kembarnya itu. Mereka besar bersama.
"Kamu sering pake alasan sakit dan alasan datang bulan. Entah, udah dibayar belum tuh utang puasanya," ujar Satrio lagi.
"Udah lah!' sengit Arimbi.
"Aku bayar pake puasa Nabi Daud!" lanjutnya.
"Eh ... kok malah berantem ini?" Rion datang bersama putranya yang dalam gendongan.
"Ini nih Mas Satrio!' adu Arimbi menunjuk kakak kembarnya.
"Eh ... kok aku?' sengit Satrio tak mau disalahkan.
"Kamu yang bohong sama adik-adik kalo nggak pernah batal!' lanjutnya masih sengit.
"Ini masih ribut?" lagi-lagi Rion bertanya, ia mulai kesal.
Baik Satrio dan Arimbi mulai diam. Rion memang tak suka jika adik-adiknya ribut hanya perkara tak jelas.
__ADS_1
"Sudah biarkan semua baby batal puasanya. Lagian mereka belum sah puasa karena belum baliq!" seru Rion.
"Mas Baby!" peringat Azizah.
"Jangan marah dong. Istighfar!' lanjutnya menenangkan sang suami.
Ryo tampak sudah berlari dan meminta jus kemasan pada Rosa. Bayi mau dua tahun itu tentu sudah lasak seperti kakaknya Arsh.
"Amah ... Ata' Yiya atal!" adu bayi tampan itu.
"Ata' atal dhimana Paypi?" tanya Alia bingung, padahal ia tidak melakukan apa-apa.
"Ata' dat yayan Yiyo!" cebik Ryo dengan mata berkaca-kaca.
"Oh sini Paypi!" Alia memeluk Ryo dengan sayang.
Alia sudah berusia tiga tahun, sedang, Della mau berusia lima tahun. Tahun ini balita itu akan bersekolah. Lilo dan Seno juga sudah bersekolah.
"Mama ... hiks ... hiks!' Lilo pulang dalam keadaan menangis.
"Loh, kenapa sayang?" Terra mendatangi balita itu.
"Mama, Lilo belat di celana!" lapor Seno.
"Huuuwwaaaa!' Lilo menangis karena malu.
"Sini, sini!" Gina menggendong balita itu.
"Biar Bibi bersihkan ya, jangan nangis," ujarnya lalu menghapus air mata Lilo.
"Kenapa bisa pup dalam celana sayang?" tanya Terra.
"Satit peyut Mama, telus bawu ke kamal mandi ... eh beyum sampe udah keluan duluan ... huuuu!" jelas Lilo lalu menangis.
"Memang Baby makan apa sih?" tanya Azizah lalu mengikuti Gina naik ke lantai dua.
"Oh apa Den Lilo sakit perut gara-gara makan mie tadi sahur?" tanya Ani mengingat apa yang dimakan semua anak-anak.
"Kan Lilo nggak bisa makan mie instan banyak-banyak," lanjutnya.
"Oh iya ... gara-gara kesiangan sahur jadi makanannya nggak bener," ujar Terra teringat.
"Maaf ya Nyonya, saya malah nggak bangunin sahur. Karena biasanya Nyonya duluan bangun dari saya," ujar Ani menyesal.
"Nggak apa-apa Bi," Terra memeluk wanita pekerja yang sangat setia dan loyal itu.
Ani, Gina dan suaminya menolak pensiun dari pekerjaan mereka. Padahal Terra sudah membelikan mereka rumah juga tunjangan hari tua.
"Kami merasa tak diinginkan jika harus pergi dari sini Nyonya," itu alasan Deno, suami dari Gina.
"Biarkan kami di sini hingga menutup mata seperti almarhumah Romlah," lanjut pria berusia sama dengan Herman itu.
Memang Deno sudah tua, tetapi tenaganya masih kuat. Bahkan ingatannya juga sangat tajam matanya juga tidak rabun. Deno benar-benar jadi panutan semua pengawal karena daya ingat dan juga pandangan yang tajam.
Akhirnya Terra membiarkan tiga pekerja itu tetap bersamanya. Bahkan menjadi kepala pelayan bagi semua pekerja rumah tangga.
"Te sayang Bibi, sehat terus ya Bi," ujarnya memeluk Ani.
"Nyah ... Den Lilo badannya anget," lapor Gina.
Lilo ada di tangan Azizah. Rupanya sakit perutnya berimbas dengan daya tahan balita itu. Arimbi langsung mengambil alih Lilo.
"Sini Baby,"
Arimbi memeriksa Lilo. Ia mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Ini sakit Baby?" Lilo mengangguk ketika Arimbi menekan perut bawah bagian kanannya.
"Mama!' pekiknya menahan sakit.
"Kita ke rumah sakit!" ujar wanita itu.
"Dian!"
Seorang pengawal wanita datang, Arimbi menyerahkan Lilo.
"Tunggu, aku mau siap-siap dulu!" ujarnya.
"Panaskan mobil!" teriaknya memberi perintah.
"Sayang, Baby kenapa?" teriak Maria dan ibu-ibu lainnya panik.
Semua anak-anak mulai menangis. Ani, Gina, Rosa dan lainnya menenangkan semua perusuh itu.
"Lilo terdeteksi kena usus buntu Ma!" teriak Arimbi.
"Baby!" semua ibu menutup mulutnya.
"Aku ikut!" ujar Terra lalu berlari ke kamar dan berganti pakaian.
Semua diminta menunggu, Dian menggendong Lilo yang sudah lemah. Fio langsung menancap pedal gas dalam-dalam.
Hanya butuh waktu lima belas menit sampai di depan lobi rumah sakit. Nai sudah berada di sana dengan brangkar. Memang rumah sakit Nai lebih dekat dari pada rumah sakit Arimbi.
"Bu'lek?"
"Ciri-ciri perut bengkak, demam dan kata Bi Gina Baby sempat muntah!' lapor Arimbi.
"Kita periksa usg dulu!" ujar Nai lalu melarikan Lilo ke ruang usg.
Terra diminta menunggu bersama Arimbi. Tak butuh waktu lama Zhein datang sendiri lalu disusul Hermanz Virgou dan Gomesh.
"Baby?' Virgou langsung memeluk Arimbi.
"Kamu kok pucat?" semua melihat Arimbi.
"Rimbi lagi dapat Daddy, ini hari pertama jadi lagi banyak-banyaknya," jelas Arimbi.
"Kamu sudah makan?" Arimbi menggeleng.
"Ayo makan dulu!" ajak Terra.
"Mama juga sedang tidak puasa," ujar wanita itu lagi.
Arimbi pun dibawa Terra ke kantin untuk makan siang. Tak lama Lilo keluar dari ruang USG.
"Siapkan ruang operasi!" teriak Nai yang membuat Zhein lemah.
"Baby?"
"Usud Lilo meradang dan harus mendapatkan penanganan. Operasi adalah jawabannya Papa. Maaf, siapa yang jadi penjaminnya?"
Air mata Nai menetes ketika mengatakan hal itu. Gomesh langsung maju.
"Aku ... aku menjamin!" Nai memeluk pria raksasa itu.
"Pa ... papa ke ruang utama itu ya. Tanda tangan menjamin tidak menuntut rumah sakit jika terjadi apa-apa pada Baby!'
bersambung.
Baby Lilo?! 😱
__ADS_1
next?