SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
SEBUAH CERITA


__ADS_3

Virgou berlari menuju sekolah yang ia rasa jauh, David ikut berlari. Ketika sampai dua pria itu tak melihat gerombolan orang yang berkumpul di beberapa mobil. Pria itu langsung masuk ke dalam sekolah.


"Putraku!" pekiknya memanggil.


Sky, Bomesh, Samudera, Benua, Domesh yang menunggu di dalam kantor guru langsung berdiri.


"Daddy!" pekik kelima anak langsung menangis.


Para guru keluar dan menemui Virgou. Mereka mempersilahkan pria sejuta pesona itu masuk bersama adiknya. Kelima anak langsung memeluk ayah mereka.


"Oh ... sayangku ... my babies ... maaf ya Daddy telat datang," ujarnya lega mengecup kepala semua anaknya.


David juga melakukan hal yang sama. Ia menciumi semua pucuk kepala anak-anak. Lalu mengajak mereka keluar dari kantor.


"Daddy, Sky lapar," keluh bocah usia tujuh tahun itu.


"Iya, kita makan di kantin ya. Daddy mau pinjem charger ibu kantin juga," ujarnya.


Lalu mereka pun pergi ke kantin sekolah. Sedang di luar, mereka semua masih menunggu. Padahal semua anak sudah keluar dan para guru juga sudah mulai pulang.


Geomitha kembali memberanikan diri masuk kembali ke dalam sekolah. Ia yang mahir berbahasa Indonesia, ia juga tadi yang tadi mendatangi Bomesh.


"Maaf permisi!" ujarnya pada salah seorang guru.


"Iya ada yang bisa saya bantu?" sahut sang guru sedikit heran.


Perawakan Geomitha tak mirip sama sekali orang Indonesia dialeknya menandakan jika ia adalah pendatang. Bu guru mulai curiga.


"Begini Bu, saya adalah Bibi dari Bomesh, ingin menjemputnya pulang karena ibunya sakit," ujar Geomitha tentu berbohong.


Bu guru tentu sangat hapal siapa saja ayah dan ibu dari salah satu muridnya itu. Perempuan yang ada di depannya itu tak dikenalinya sama sekali.


"Anda namanya siapa? Kenapa saya tidak pernah melihat anda?" tanyanya curiga.


"Ah ... maaf, saya adalah Bibi yang baru datang dari luar negeri beberapa hari lalu, jadi saya baru terlihat. Ibu dari Bomesh sakit lalu menyuruh saya untuk datang menjemputnya," jelasnya panjang lebar.


"Oh seperti itu," ujar Bu guru lega.


"Tapi semua anak sudah pulang. Hanya tinggal anak-anak yang mengikuti ekstrakurikuler!" lanjutnya.


"Apa? Sudah pulang?"


"Iya, apa anda tidak bertemu dengan mereka?" tanya Bu guru.


"Mereka, apa maksudnya mereka? Saya hanya mencari Bomesh bukan mereka!" sahut Geomitha.

__ADS_1


"Berarti anda bohong!" sahut Bu guru tegas.


"Apa maksud ibu saya. bohong. Saya adalah Bibi dari Bomesh. Anda tadi mengatakan jika Bomesh pergi bersama mereka. Anda tidak menjaga keponakan saya dengan benar. Bagaimana jika Bomesh diculik!" oceh Geomitha kesal.


"Anda bukan Bibinya!"


"Saya Bibinya. Kan tadi saya mengatakan jika saya baru datang dari luar negeri kemarin dan sekarang saya ke sini atas perintah ibu dari keponakan saya!" teriak Geomitha.


"Bomesh itu sudaranya banyak! Jika anda hanya mengenal Bomesh saja berarti anda sangat bohong sekali!" sentak Bu guru membuat Geomitha bungkam.


"Sekarang anda pergi dari sini, sebelum saya panggil keamanan!" usir Bu guru lagi.


Geomitha yang sudah diketahui jika berbohong, akhirnya memilih pergi. Ia kembali pada tujuh saudaranya yang masih menunggu.


"Bagaimana?" tanya Geonesh.


"Mereka sudah pulang," jawab wanita itu lemah.


"Apa maksudmu mereka?" tanya Geonesh gusar.


"Bomesh memiliki banyak saudara. Sepertinya kita akan dilaporkan oleh pihak sekolah jika tak segera pergi dari sini,"


Geomenino yang sudah di dalam mobil dari tadi hanya menunggu di sana dan tak perduli. Akhirnya mereka semua masuk dalam satu minivan yang mereka sewa.


Penampakan tujuh orang beda usia itu tampak dalam spion kiri di mana Geonesh duduk paling depan. Ia melihat Bomesh diantara mereka.


"Itu anaknya!" pekiknya menunjuk lalu menoleh ke belakang.


Semua yang ada di dalam minivan ikut menoleh ke belakang. Mereka melihat Gomesh kecil di antara semua orang. Bomesh memang sangat mirip ayahnya. Sedang Domesh lebih cenderung mirip ibunya yang berkulit sedikit terang.


"Tapi siapa dua pria dewasa itu? Kenapa mereka tampak begitu akrab?" tanya Gorgon.


"Pak berhenti dulu Pak!" pinta Geomitha.


Sedang Virgou merasa heran dengan minivan yang berjalan pelan dan tiba-tiba berhenti. Pria itu langsung waspada, begitu juga David.


Geonesh keluar bersama Gorgon, Geomitha dan Georgina. Gorgon sangat mirip dengan Gomesh. Kini Virgou langsung tau siapa mereka hanya dilihat dari kemiripan wajah semuanya.


Bomesh dan Domesh sedikit terkejut melihat sosok pria yang mirip dengan ayahnya tetapi tubuhnya jauh lebih pendek dan kecil dari ayah mereka.


"Bom, mereka siapa?" bisik Sky bertanya.


"Aku nggak tau," bisik Bomesh menjawab.


"Berikan anak Gomesh padaku!" titah Geonesh sok jagoan.

__ADS_1


Virgou berkacak pinggang, pria dengan sejuta pesona itu maju dengan santai sedang David mulai menjaga anak-anak. Geonesh menelan saliva kasar. pria yang ia tatap lebih tinggi darinya sorot matanya yang biru begitu tajam menusuk hingga merontokkan semua tulangnya.


Geomitha menganga lebar menatap pria yang memiliki ketampanan luar biasa. rambut Virgou yang keperakan mata biru dengan dada lebar berotot, tinggi dan terlebih lagi memiliki pesona yang luar biasa. Gorgon mundur dan menundukkan kepala.


"Apa yang kau inginkan dari putraku?" desis Virgou bertanya.


Nada datar dengan ekspresi dingin juga tatapan ingin membunuh, membuat nyali Geonesh terbang entah kemana. Pria itu merosot ke aspal yang panas.


Geomitha masih setia menganga, hingga nyaris keluar air liurnya. Semua yang ada di mobil keluar. Lima orang bermuka hampir sama hanya beda usia saja.


"Kak!" panggil Geomenino pada tiga kakaknya.


Gometrio, Gomash, Georgina, Geomenino menatap Virgou. Mereka juga langsung menunduk melihat sosok yang begitu mendominasi semuanya.


"Aku tanya sekali lagi, mau apa kalian mencari putraku Bomesh!" bentak Virgou marah.


David mulai tak tenang. Ia tidak takut sama sekali, tetapi ia mengkhawatirkan anak-anak. Ia pun mulai mengambil ponsel kakaknya itu dari saku celana Virgou.


David melakukan panggilan. Ia sedikit kesal karena tak ada satupun panggilan yang tersambung. Hingga panggilan ketiga, baru lah ada yang mengangkat.


"Rio ke sini bawa semua pasukanmu!" titah David.


Tak butuh waktu lama lima puluh orang sudah berada di tempat itu. Mereka langsung mengamankan tujuh orang yang mulai ketakutan. Bomesh dan lainnya langsung dibawa pulang ke rumah.


Virgou dengan segera pergi ke markas. Terra meneriaki pria itu tapi tak digubris sama sekali. Wanita itu dengan terpaksa menelepon Lidya.


"Assalamualaikum, sayang. Sekarang kamu segera ke markas ya, tenangin Daddy kamu!" pinta Terra.


"Oteh Mama!" sahut Lidya dari sambungan telepon.


Lidya langsung keluar ruang praktek, Putri ingin ikut tapi langsung ditolak oleh Lidya.


"Kamu telepon Bang Jac ya, bilang jemput kamu sekarang dan minta Mas Demian menyusul ke markas SavedLived!" perintah Lidya.


"Oh ya, tolong kamu bawa Kak Aini juga ya!" lanjutnya.


Putri menurut, ia meminta suaminya menjemput dan menyuruh Demian menyusul istrinya ke tempat yang tadi disebut Lidya. Felix, Hendra dan Gio langsung mengikuti Nona muda mereka.


Empat orang itu naik mobil dan meluncur langsung ke markas SavedLived.


Bersambung.


Wah ... apa yang terjadi?


next?

__ADS_1


__ADS_2