SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
BABAK BARU


__ADS_3

Kaila, Dewa, Dewi, Rasya dan Rasyid sudah merapikan tasnya. Lima remaja kelas dua SMP itu tak pernah berpisah seperti kakak-kakak terdahulu mereka.


"Kalian berkelompok nggak mau pisah?" tanya salah satu teman mereka.


"Iya, kita nggak mau pisah!" tekan Dewi.


"Rasya, Rasyid gabung Ama kita aja," ajak salah satu murid perempuan genit.


"Nggak ah," tolak Rasya.


"Nanti aku traktir tiap hari deh," tawar anak gadis itu lagi makin berani.


"Kamu bisa pegang-pegang aku," lanjutnya lagi.


"Pegang-pegang?" Rasya mengerutkan kening.


"Kamu buah apa dipegang-pegang?" Rasya masih belum paham dengan maksud teman cantiknya itu.


"Iya kamu bisa ....."


"Rasya, Rasyid, udah yuk!" ajak Kaila memotong perkataan teman genitnya itu.


Duo R itu memutuskan pandang dan beralih mengikuti jalan dari Kaila, Dewi dan Dewa.


"Rasy kamu bisa remes dada aku!" teriak gadis genit itu kesal.


Beruntung duo R tak mendengar perkataan temannya itu. Ramainya suasana anak-anak yang keluar kelas penyebabnya.


Tiga pengawal sudah menunggu anak-anak atasan mereka. Semua naik mobil dan meluncur untuk pulang. Mereka menuju kediaman Herman sekarang.


"Bu'lek, ada gulali kapas!' teriak Kaila menunjuk permen kapas warna pink yang dijual di pinggir jalan.


"Mau Nona?" tawar Juan.


"Mau Papa!" seru semua anak.


Mobil menepi, Juan keluar mobil. Pria itu berlari menuju arah pedagang permen kapas itu.


"Papa Henry, Baby Shyla udah bisa ngapain? Kok nggak pernah main ke rumah sih?" tanya Dewi pada Henri yang memegang kemudi.


"Iya udah bisa begitu. Maaf sayang, memang jarang karena jauh kan rumahnya," jawab Henri menyesal.


"Sama rusuh nggak kek Arsh?" tanya Dewa.


"Ya begitu lah. Kata Mama Sheila, udah bisa numpahin garam," jawab Henri terkekeh.


"Bawa ke rumah dong Papa, gemes tau. Biar tambah badung kek perusuh!" pinta Kaila memohon.


"Iya nanti Papa bawa ya!" angguk Henri tersenyum.


Juan menyerahkan satu permen kapas. Mereka berbagi makannya, bahkan tiga pengawal ikut makan karena disuapi oleh Kaila.


Mansion Herman penuh dengan manusia. Bart memangku Zaa, cucunya yang sudah mulai berontak. Bayi cantik itu ingin merangkak bebas, tetapi Bart senang mengganggu cucunya itu.


"Aaah!" pekik Zaa kesal pada kakeknya.


Bart tertawa melihatnya. Pria gaek itu menciumi cucunya dengan gemas hingga menangis.


"Wuyuy ... nan anisin anti Paypi!" protes Arsh galak.


Bart tertawa senang. Akhirnya Lastri mengambil putrinya dan membawanya ke kamar untuk disusui. Nisa sudah terlelap setelah disusui tadi.


Chira dan Aarav masih bergulingan Dua bayi itu tidak mau disusui ibunya. Padahal sudah waktunya tidur siang.

__ADS_1


"Ayo bobo sayang," ajak Najwa menggendong Chira. Leon membantu istrinya membawa Aarav ke kamar.


Angel dan Fael pun. sudah tidur dari tadi. Alia sudah terlelap di tangan Puspita, wanita itu membawa bayi perempuannya ke kamar.


"Ayo Babies!" perintah Rion pada semua bayi yang lain.


Arsh digendong oleh Gabe, Della bergandengan dengan Firman. Harun, Azha, Bariana, Arraya dan Arion ikut naik.


Disusul Arsyad, Aaima, Maryam, Aisya, Al Fatih, Al Bara dan El Bara juga bergandengan tangan.


Aliyah, Zizam dan Izzat, lalu Gino, Seno, Lilo, Verra serta Dita juga sudah berada di kamarnya mereka digendong oleh para pengawal. Herman menerapkan hal sama seperti di rumah Terra yang mempercayai semua pengawal layaknya keluarga.


Herman mendapat loyalitas penuh semua pengawal yang ia sewa dari perusahaan milik Virgou itu.


"Akhirnya mereka tidur juga," ujar Khasya menghela napas panjang.


Zhein datang bersama Karina. Pria itu sudah sehat. Tiga keponakannya masih dalam keadaan sama, kritis.


"Kau sudah baikan Zhein?" tanya Herman.


"Sudah Yah, alhamdulilah," jawab pria itu.


"Makanlah dulu bareng anak-anak," perintah Khasya.


"Makasih Bun," ujar Karina.


Duo R, Kaila, Dewa dan Dewi datang bersamaan dengan Ella, Bastian, Billy dan Martha. Mereka mencium punggung tangan semua orang tua.


"Ganti baju dulu, baru makan ya!" pinta Khasya lagi.


"Iya Bunda," sahut Dewi menurut.


Setelah makan siang, anak-anak disuruh tidur. Tak ada yang boleh membantah. Semua harus ikut aturan.


"Aku ke sini mau mengambil anak-anak Yah," ujar Karina memulai pembicaraan.


"Apa katamu?" tanya Herman menatap tak suka perkataan Karina.


Wanita itu buru-buru menunduk. Zhein tetap setia dengan bungkam. Ia sangat tau jika tak akan mudah membawa anak-anak keluar jika sudah berada di tangan keluarga itu.


"Kau yakin bisa merawat Baby Gi dan empat adiknya?" tanya Khasya ragu.


"Raffhan, Zheinra, Setya sama Davina saja lebih suka di sini," celetuk Herman menyindir sepasang suami istri itu.


Karina menunduk, ia memang lupa jika semua anak dan cucunya lebih senang bersama keluarga hangat ini. Mereka baru mau bersama Karina jika tidak dimarahi oleh Raka, putranya.


"Sudahlah, nanti kita tanya sama anak-anak. Jika mereka mau ikut dengan kalian. Maka aku biarkan!" putus Herman kemudian.


"Tetapi jika tidak!" Herman menatap Karina dan Zhein bergantian.


"Aku akan melawan kalian jika memaksa!" lanjutnya bersungguh-sungguh.


Bram datang bersama istrinya. Ia belum mengetahui perihal Karina dan menantunya itu ingin mengambil Gino dan empat adiknya. Herman langsung memberitahunya.


"Apa kalian sanggup?" pertanyaan sama terlontar dari mulut Bram. Penuh keragu-raguan.


"Sudah, biar saja. Aku mau lihat apa Baby Gi mau ikut dengan mereka ini," sahut Herman remeh.


Bahu Zhein turun. Karina tak bisa berkata apa-apa. Kanya pun tak dapat membela putrinya itu. Tak lama Raka datang bersama istri, anak dan dua adiknya.


"Astagfirullah. Kalian nggak bobo siang?" Maria menatap Raka tak suka melihat Zheinra yang setengah mengantuk datang.


"Tadi di rumah main aja Mommy!" seru Raka membela diri, Almira mengangguk membenarkan.

__ADS_1


"Nggak berhenti main saling ganggu!" sambung Mira ikut mengadu.


"Ya sudah, sana bobo!" perintah Maria.


"Mau makan Mommy ... lapar," cicit Davina.


"Belum makan?" Terra memelototi Raka.


"Udah Mama Teya!" sanggah Raka lagi.


"Masih lapar Nenek," ujar Setya pada Terra.


Wanita itu cemberut mendengar panggilan Setya padanya. Maria terkekeh melihat wajah Terra.


"Iya Nenek Maria, Davi juga masih lapar," kali ini Terra yang tertawa ringan.


Akhirnya mereka makan dan masuk kamar untuk tidur siang. Zheinra dan Raffhan juga sama.


"Raffhan, kamu masih harus kerja sama Kakak!" peringat Raka.


"Mama," rengek Raffhan tak mau kerja lagi.


"Baby, kasihan kakak kalo sendirian," Terra memberi pengertian pada Raffhan.


"Ngantuk Ma," keluh remaja itu.


"Raffhan!' peringat Zhein, ayahnya.


Raffhan pun diam. Herman sangat tidak suka nada Zhein memperingati putranya.


"Tidur siang sana Raffhan. Ayah yang memintamu!" perintah pria itu.


Raffhan sangat senang mendengarnya. Raka dan Zhein tak bisa melarang jika Herman yang sudah bersuara.


"Raka juga boleh bobo dong Ayah," Raka kini bermanja pada Herman.


"Jika kau merasa lelah, percayakan pada ajudanmu di perusahaan. Kau bisa istirahat sayang," ujar Herman tak masalah.


Raka menurut, ia menelepon ajudannya dan meminta menggantikan dirinya. Lagi pula memang tidak ada masalah penting yang mesti ditangani pria itu.


Sore menjelang. Zhein menatap lima anak yang takut mendatanginya. Gino bersembunyi di balik tubuh Maria.


"Eundat mawu itut Mommy," bisiknya pada wanita itu.


Lidya belum pulang karena banyak kasus besar di rumah sakit. Demian menunggu istrinya bersama Jac.


"Baby, Papa janji akan mencintai kalian sama dengan keluarga ini," pinta Zhein memohon.


Gino tetap menolak. Herman mulai memperingati Zhein agar tidak memaksa kelima bayi itu untuk ikut.


"Baiklah," Zhein menyerah.


"Kau bisa datang ke sini untuk bermain bersama mereka Zhein," ujar Bram menenangkan menantunya itu.


Bersambung.


Ah ... sudahlah Zhein biarkan Gino dan lainnya diurus sama keluarga hebat itu ya.


Next?


mohon maaf ya ... othor lagi sibuk banget jadi up satu-satu.


ba bowu Readers ❤️

__ADS_1


__ADS_2