SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
A MOMENT


__ADS_3

Bagaimana jika Calvin, Dimas, Affhan, Dewa, Rasya dan Rasyid bergabung? Lima remaja yang beda usia hanya satu tahun saja, Rasya dan Rasyid yang usianya lebih muda, Dewa juga seumuran. Calvin yang lebih tua. Jika diurutkan Calvin lebih tua satu tahun dari Dimas dan lebih tua tiga bulan dari Affhan lalu satu tahun kemudian lahir Dewa dan lima bulan kemudian baru duo R.


Enam remaja pria itu tengah berkumpul, mereka juga ingin berpetualang seperti Maisya dan Dewi kemarin.


"Tapi jangan sampai berantem lah," ujar Dimas.


Remaja itu berkulit sawo matang, tampan dengan sorot mata tajam. Dimas tipikal pendiam sama dengan lima saudaranya yang lain. Tak banyak tingkah dan tak banyak. Sebenarnya Kean juga masuk, tetapi remaja itu masih ada suara jika ingin mericuhi semua keluarga.


"Sepertinya kita akan kesulitan jika mau pergi seperti yang dilakukan Baby Mai dan Baby Dew," sahut Calvin.


"Iya, Daddy langsung nempatin bodyguard di belakang," keluh Rasya.


"Trus apa kita ngendon terus di rumah. Sumpah bokongku udah kebas kebanyakan duduk sama tidur," keluh Dewa.


"Ya gimana, para orang tua bersikap begitu kan karena emang sayang sama kita," timpal Dimas.


"Sayang sampai kita nggak punya ruang lain selain rumah," sahut Rasyid.


"Yah, Kakak juga sebenernya pengen banget hang out tanpa pengawal gitu, trus bisa komgkow sama temen-temen," sahut Dimas.


"Mama sama Papa gitu karena takut kita terbawa arus kali ya?" timpal Dimas lagi.


"Ah ... keluar yuk ... dari tadi ngobrol melulu!" ajak Calvin.


"Ajak Kak Kean coba, apa dia punya ide?" sahut Affhan.


"Mas Satrio juga!" seru Dewa.


Kean dan Satrio mendatangi mereka, pergerakan mereka yang berkumpul membuat para orang tua mulai gelisah. Demian, menenangkan orang tua.


"Kita percaya sama mereka ya. Mereka semua kan cowo, nggak mungkin ada yang godain kek Baby Dew dan Baby Mai," ujarnya.


"Kita pernah remaja, tentu sangat penasaran dengan dunia luar. Kita biarkan saja mereka," lanjutnya.


Dominic tengah menggendong Aaric yang rewel, bayi tiga bulan itu tengah manja, bahkan dua lainnya tengah digendong Budiman dan Virgou.


"Ya, asal mereka ijin dengan Ayah," sahut Herman.


Bram yang sangat tau apa yang diinginkan oleh para remaja laki-laki itu lalu mendatangi.


"Kalian bosan di rumah?" semua langsung mengangguk kuat.


"Ya sudah, Kakek ijinkan!"


"Horeee!" seru Kean bertepuk tangan.


Bram menghela napas. Kepolosan mereka lah yang membuat semua orang tua takut.


"Tapi, kalian harus belajar dewasa dan bijak ya!" semua lagi-lagi mengangguk.


Akhirnya mereka pergi dengan wajah cerah. Satrio yang mengemudi mobil, tadinya Gomesh bersikeras ikut tapi Dominic melarangnya.


"Sudah biarkan anak-anak pergi!"


"Tuan,"


"Ikuti mereka seperti kemarin!" titah Virgou.


Dominic hanya menghela napas. Memang setelah kasus alat pembungkus kemarin, membuat pria itu sadar jika semua anak masih begitu polos.


"Asik ya jadi anak laki-laki," celetuk Kaila.


"Baby," peringat Khasya.

__ADS_1


"Ila juga mau hangout Bunda," rengeknya. "Kemarin Dew sama Kak Maisya nggak ngajak Kaila!"


Kaila Ahsyun Black Dougher Young, usianya sama dengan Rasya dan Rasyid juga Dewa dan Dewi.


"Gimana kita juga keluar Kak!" ajak Samudera.


"Baby jangan buat perkara!" sahut Gisel.


Samudera berdecak, Benua, Domesh, Bomesh dan Sky hanya diam saja.


"Eh ... meuleta tenapa penen banet peuldi teluan ya?" tanya Bariana pada Harun.


"Pidat pahu!" jawab Harun mengendikkan bahu.


"Pita salan-salan pi sini aza!" sebuah ide brilian dilontarkan Aisya.


"Lumah Uyut tan dedhe ... basti banyat pentat yan teulsempunyi!" sahut Aaima tercerahkan.


Harun menatap semua orang dewasa yang sibuk dengan para bayi.


"Lide yan padhus ... pati tita dandenan tanan ya, tatutnya lada hantu tayat di tampunna Umi Layla," ujar Harun.


Semua mengangguk, secara perlahan para balita bergandengan, Aminah dan Ari diajak serta mereka bergandengan menaiki tangga. Sebenarnya ada lift di sana. Hanya saja tinggi Harun belum sampai pada tombol.


"Ata' pita teumana pulu?" tanya Ari berbisik.


"Pita te tintat satu," jawab Harun mengomando.


Semua orang tua memang tak menyadari dengan semua anak-anak yang tiba-tiba menghilang. Kehadiran Arsh yang menjadi pusat perhatian membuat semuanya tak fokus.


"Eh ... Babies pada kemana?" tanya Aini ketika melihat pergerakan pada bayi yang berjalan menaiki tangga.


"Put, Put!"


"Apa Mba," sahutnya.


"Itu anak-anak mau kemana?" tunjuknya.


"Ditya, awasi adik-adik sayang!" perintah Putri.


Ternyata bukan hanya Aini yang melihat anak-anak naik tangga, seluruh anak angkat Bart juga ikut.


"Mas mau ikutin mereka?" tanya Radit.


"Iya, ayo!" ajak Azlan.


Radit juga memilih ikut kakaknya. Hanya Samudera, Benua, Domesh, Bomesh dan Sky juga Kaila dan kakak-kakak perempuannya yang ada di bawah bersama para ibu.


Harun yang instingnya peka, menoleh ke belakang. Semua kakak-kakaknya ikut. Balita itu menggaruk kepalanya.


"Alun ... imi lada tamal dedhe!" tunjuk Bariana pada sebuah pintu besar.


"Oh iya," Harun mengangguk lalu ia mencoba menyentuh handel pintu tapi tak sampai.


"Eundat pampai!" keluhnya.


Aryo datang dan mencoba membukanya. Klik, semua saling menoleh.


"Nggak terkunci? Ini bukan kamar kan?" semua menggeleng.


Memang lantai satu bukan letak kamar-kamar mereka. Pintu dibuka, sebuah ruangan indah dengan dekorasi mewah. Nuansa emas dan perak jadi warna dominasi seluruh ruangan. Banyak lukisan tergantung di dinding. Lukisan paling besar ada di tengah-tengah.


"Ini siapa?" tanya Derry.

__ADS_1


"Mirip Papa, tapi bukan Papa?" sahut Rani.


"Buntin ipu papana uyut!?" sahut Arsyad.


"Bisa jadi," sahut Azlan.


Mata mereka menatap satu persatu foto yang tergantung di dinding ruangan. Mereka berusaha mengenali semua.


"Daddy mana?" tanya Harun mencari foto ayahnya.


"Imi Daddy!" tunjuk Al Bara.


"Butan, Daddy batana pilu!" sahut Al Fatih.


"Imi bilu pati butan Daddy. Imi Benpa Plans!" tunjuk Maryam.


"Tlus yan milip Daddy imi spasa?" tanya Harun menunjuk satu foto.


"Itu adalah Om nya Daddy kalian!" sebuah suara mengejutkan semuanya.


Leon menyusul semua anak-anak yang naik ke lantai satu. Pria itu kecarian semua adik-adik dan juga cucu-cucunya.


"Om na Daddy?" Leon mengangguk.


"Itu Grandpa Ben, papa dari Mama Terra, Abah Darren, Mama Lidya dan Papa Rion," jawab Leon lagi.


"Lutisan Daddy mana?" tanya Ari.


"Lukisan Daddy kalian hari ini baru jadi, sebenarnya Daddy kalian itu tidak bisa dilukis!" sahut Leon mulai usil.


"Tenapa?" tanya Ari lagi dengan mata bulat.


Leon menengok ke belakang, pria itu meyakinkan jika monster dari Dougher Young itu tak mendengar sama sekali.


"Daddy kalian itu setengah iblis setengah manusia," jawabnya.


"Benpa janan bolon woh!" geleng El Bara sambil menggoyang telunjuknya.


Leon berdecak, sedang yang lain mengangguk, semua tak percaya perkataan Leon.


"Benar, Grandpa mana boleh bohong!" sengit pria itu.


"Benpa ... talo Daddy piplis pama bonstel ... Daddy eundat sholat!" sahut Arsyad yang diangguki semua anak.


Leon kesal dengan itu, padahal ia ingin sekali membuat semua anak takut pada pria dengan sejuta pesona itu. Tetapi, Virgou yang memang telah berubah perangainya membuat semua anak malah sayang padanya.


Sedang di lantai bawah. Virgou mengorek telinganya dalam-dalam.


"Kau kenapa?" tanya Haidar.


"Nggak tau, kupingku seperti gatal,"


"Congekan kali!" celetuk David yang langsung dihadiahi pukulan ringan oleh Khasya.


"Bunda!" rengek David cemberut.


"Nggak boleh begitu!" larang perempuan itu.


Virgou meledek David lalu memeluk Khasya manja, Herman sampai kesal melihatnya, tetapi bibirnya mengulas senyum.


Bersambung.


Tuh Daddy ... Grandpa Leon yang ngibul sama anak-anak!

__ADS_1


Next?


__ADS_2