
Bart datang ke rumah Terra, cucunya. Pria itu lebih sering menginap di tempat Terra di banding dengan yang lain. Hal ini membuat Seruni iri, wanita itu cemberut dengan kedatangan Bart di rumah kakak iparnya itu.
“Kenapa Grandpa, leboh suka ke rumah Kak Terra?’ tanyanya kesal.
“Lalu aku ke rumahmu, siapa yang menyambut ku?” tanya Bart juga kesal.
Seruni tambah cemberut, ia juga lebih suka datang ke rumah Terra, karena semua anak berkumpul di sini. Usia kandungannya sudah enam bulan, Bart mengusap perut buncit cucu menantunya itu.
“Sehat terus, ya sayang,” ujarnya berdoa.
“Aamiin, uyut,” sahut Seruni.
“Benpa ... benpa!” seru Bariana.
“Ada apa baby?”
“Benpa ... pasa tata Ajha beustina pia mandhil Benpa yuyut?” tanya Bariana tak percaya.
“Memang harusnya begitu Baby,” jawab pria gaek itu.
“Pemana Yuyut pa’a?” tanya bayi cantik itu.
Bariana naik ke atas pangkuan Seruni. Wanita itu yang gemas mengigit pipi bayi itu bohongan. Rambut seperti mie instan dan lepas satu-satu, pipi tembem ala bakpao, kulit kecoklatan, maya bulat dengan bulumata lentik dan tebal sama dengan alis yang berjejer rapi. Seruni yakin jika Bariana akan sangat cantik ketika dewasa nanti.
“Buyut itu panggilan di atas kakek, karena lahir dari cucunya kakek,” jawab pria tua itu.
Arraya, Arion, Azha, Harun, Maryam, Aisyah, Fatih, Al dan El Bara, Arsyad, Fathiyya, Aaima sedang berkumpul di rumah Terra. Putri dan Jac lebih sering menitipkan putrinya di rumah mertua Demian karena banyak anak di sana.
“Anat cucu?” tanya Bariana bingung.
“Bemana Papa anat benpa judha?” tanyanya lagi.
“Sudahlah baby, jangan mempermasalahkan panggilan. Kalian panggil aku Daddy juga tak masalah,” sahut Bart gemas.
“Atuh mami ...!” pekik El Bara yang mau dipangku Seruni.
“Atuh puluan!” seru Bariana tak mau mengalah.
“Baby, gantian sama adiknya,” perintah maria.
“Mommy, Baby balu beubental pipantu Mami!” sahut bayi cantik itu tak mau mengalah.
“Sama Grandpa sini!” ajak Bart pada Bariana.
Maryam, Al Bara dan Aaima sudah naik duluan ke pangkuan pria gaek itu. walau terjadi perebutan. Tetapi ketiganya bisa dengan tenang di pangkuan Bart. Lalu Seruni mengajak yang lainnya duduk di kursi lainnya.
“Mami, teusil setali!” sahut Harun melihat wanita itu.
__ADS_1
“Kalian yang cepat sekali besar,” keluh wanita itu kesal.
“Talo eundar peusal, pita banti teldil Mami,” sahut Azha santai.
Terra dan Maria terkekeh. Tak lama Puspita datang bersama Khasya, dua wanita itu sudah bisa pulang cepat dari kantor mereka. Rando bisa menangani semua pekerjaan dengan baik, terlebih Terra yang hanya bekerja di balik layar sangat membantu keduanya.
Sedang di tempat lain, Bram baru mendapat kabar dari Swiss. Ibunya masuk ruamh sakit dan sudah tak sadarkan diri. Bram langsung menghubungi putra dan putrinya, meminta doa terbaik untuk nenek mereka.
“Jadi Papa dan mama ke sana sekarang?” tanya Haidar dalam sambungan telepon.
“Iya sayang. Papa dan Mama akn ke Eropa. Minta doanya ya,” ujar pria itu dalam sambungan telepon.
Haidar memberi kabar melalui chat familly agar memberikan doa terbaik untuk neneknya, Labertha Weist. Semua cukup terkejut dengan kabar tersebut, namun usia Labertha yang sudah lebih dari seratus tahun, membuat semuanya mengerti.
Bart menatap ponselnya ketika Haidar meminta doa bagi kesembuhan neneknya. Ia merasa usianya sudah ikut menua, tetapi Tuhan masih memberinya napas hingga sekarang.
“Grandpa,” panggil Terra.
Pria itu tersenyum. Terra dan Seruni sangat paham akan kegundahan pria itu. usianya sudah sembilan puluh eman tahun. Bart hanya menunggu kapan panggilan itu datang, ia ingin sekali meninggal di pangkuan Virgou.
“Aku ingin Virgou dan kau ada di sisiku saat aku meninggal nanti, Terra,’ ujar pria itu membuat Teera langsung menggeleng pelan.
“Grandpa usianya panjang!” sahutnya yang di sertai anggukan Seruni.
“Pokoknya, sebelum Azha besar Grandpa masih sehat bugar seperti ini!” sahutnya.
“Kau kira aku tugu apa, berdiri hingga ribuan tahun!” dumal pria itu kesal.
“Tidak boleh, aku mau penerusku mengguncang bumi!” sahut Bart kesal.
Terra dan Seruni mengecup pipi Bart. Maria datang dan bersimpuh di hadapan pria itu. ia meletakkan tangan Bart di kepalanya.
“Aku tak punya kakek sebaik dirimu Tuan, tapi aku pastikan kau adalah ayah sekaligus kakek untukku,” ujarnya.
“Imi teunapa syedih-syedih sih?” protes Arraya tak suka.
“Maaf baby,” sahut semua orang dewasa.
Bram dan Kanya berangkat menggunakan jet pribadinya. Keduanya telah menyiapkan mental untuk yang terburuk. Bram memang tau ibunya sudah terlalu tua untuk melanjutkan hidupnya. Tapi sebagai anak, ia ingin ibunya masih hidup dan selalu ada untuknya.
Para orang dewasa tengah bercengkrama sendiri. Bariana sudah tidak di pangkuan Seruni lagi begitu juga bayi lainnya. Mereka berkumpul dan sedang membicarakan sesuatu. Maryam, dan saudara seusianya yang belum bisa bicara hanya mengangguk saja mendengar kakak mereka berbicara.
“Alun, padhi ipu meuleta tenapa syih?” tanya Arion tak mengerti.
“Eundat pahu. Meuleta seupelti peumbicalatan Yuyut Betla,” jawab Harun.
“Pemana teunapa Yuyut Petla?” tanya Bariana.
__ADS_1
“Peubental, pial atuh menupin beumpicalaan meuleta,” sahut Azha.
Bayi tampan itu bergerak mendekati para orang dewasa, mencoba mencuri dengar apa yang dibicarakan oleh para orang dewasa. Begitu ia tau, segera ia menyambangi saudaranya yang sepertinya begitu penasaran.
“Meuleta ladhi nomon pa’a?” tanya Harun penasaran.
“Imi beulita syedih woh,” ujar Azha.
“Syedih pa’a? Yuyut Betla teunapa? Pa’a syedan satit?” tanya Arraya beruntun.
“Piya, tata meuleta beudhitu!” jawab Azha membenarkan.
“Talo syatit tan pisa peumbuh!” sahut Bariana.
“Tata Benpa, teusyempatan bidup Yuyut Betla pipis,” sahut Azha.
“Pis pis?” tanya Arsyad sampai miring kepalanya.
“Puyut polpol lana?” tanya Aaima bingung.
Azha mwnggaruk kepalanya. Ia sendiri bingung bagaimana buyutnya bisa hidupnya pipis di celana. Pikiran bayi itu tak sampai pada perkataan para orang dewasa.
“Ah ... atuh pahu!” seru Bariana kini mulai mengerti.
“Pa’a?” tanya Azha.
Semua bayi menoleh pada Bariana yang tengah berpikir keras dengan dugaannya mengenai keadaan uyut mereka. Bayi cantik itu mengusap dagunya dengan kening berkerut.
“Beupeltina Yuyut Betla, syatit talena bidupna eundat peulna pipis!” angguknya serius.
“Pisa pdhi beudithu!” sahut Arion kini.
“Tan pindal pipis laja bi selana, peles!” sahut Arraya tak yakin dengan asumsi saudaranya itu.
“Penata bampai Tate Plam halus peuldhi te Elopa puat bihat Yuyut Betla pipis pi selana?” tanyanya berdebat.
“Buntin Yuyut Betla, bawu Tate Plam ajat Tate pipisin bi tamal bandi!” sahut Harun memberi pendapatnya.
“Alun, Yuyut pudah peusal, napain bi pipisin teu tamal pandi. Yuyut Petla tan butan Baby Fathiyya!” sahut Arraya tak menerima pendapat saudaranya itu.
“Pati spasa pahu tan? Teultadan wowan pua ipu baneh pintahna!” sahut Harun tak mau kalah dalam peredebatan ini.
Arraya kalah debat, ia menggaruk kepalanya. Sedang para orang dewasa hanya terbengong mendengar perdebatan yang malah mengarah pad Bertha yang pipis di celana.
“Anak-anakmu itu Terra,” keluh Bart.
bersambung..
__ADS_1
ah ... kenapa jadi begitu Babies?!🤦🤭
next?