
"Maaf, aku tak bisa berlama-lama. Aku takut pelangganku datang ke gerai untuk mengambil pakaian mereka." Amira memutar tubuhnya dan menuju ke arah pintu ruangan itu.
"Tunggu!" cegah Rey.
Amira membalikkan lagi tubuhnya dan menatap Rey.
"Kenapa? Apa bajunya ada yang kurang?" tanya Amira sambil mengalihkan pandangannya pada baju-baju yang tadi dibawanya. Seingatnya dia telah membawa semua baju Rey.
"Jangan pergi dulu!" ujar Rey tanpa memperhatikan Amira. Matanya tertuju pada layar laptop di hadapannya.
"Bajunya sudah kubawa semua. Apa mungkin ada pakaian kotor lain yang ingin kucucikan? Biar sekalian aku bawa sekarang." Amira berusaha tetap sopan pada Rey.
"Duduk!"
"Mohon maaf, aku tak bisa berlama-lama. Aku harus segera kembali," ujar Amira masih berusaha tenang dan sopan.
"Aku bilang duduk!" Nada suara Rey meninggi dan tangannya menunjuk pada kursi yang berada di sampingnya.
Amira terkejut dengan suara bentakan itu. Nyalinya menjadi sedikit ciut. Perlahan Amira menuju kursi yang ditunjuk Rey lalu mendudukinya.
"Mulai sekarang kamu harus mengantar semua bajuku ke sini." Nada suara Rey melemah kembali.
"Tapi aku..."
"Aku tak menerima penolakan! Katakan berapa yang kamu minta, aku akan berikan padamu." Mata Rey kembali menatap Amira tajam.
"Tapi ini bukan masalah uang, hanya saja..."
"Aku sudah bilang aku tak menerima penolakan! Paham?" Suara Rey kembali meninggi.
Amira terdiam. Baru kali ini dia mendapat bentakan. Meski ayahnya orang yang tegas, namun dia tak pernah membentaknya seperti itu.
Rey mengeluarkan selembar cek lalu menulis sesuatu di atasnya dan menandatanganinya.
"Ambil ini. Kamu bisa tulis sendiri angka yang kamu inginkan di sana. Kamu membutuhkan uang untuk pengobatan ibumu, kan?"
"Tapi..."
"Satu hal lagi. Jangan pernah membantahku. Ambil!' perintah Rey.
Dengan sedikit ketakutan Amira mengambil lembaran kecil itu dan memasukkannya ke dalam amplop coklat yang diberikan Rey padanya.
Ketakutan dan keterkejutannya membuat Amira tak bisa berpikir cepat. Dia tak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Bahkan dia tak punya nyali untuk berdiri dari tempat duduknya.
"Masih mau di sini? Apa kamu mau menggodaku?" tanya Rey tanpa ekspresi dengan mata yang tetap fokus pada layar laptopnya.
__ADS_1
Pertanyaan Rey membuat Amira tersadar dan segera bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan menuju pintu.
Setelah berada di luar ruangan Rey, Amira mengatur napasnya dan mencoba menenangkan diri.
"Aku harus segera pergi dari tempat ini," gumamnya.
Namun baru saja berjalan beberapa langkah, langkahnya terhenti. Dia baru sadar bahwa dia tak tahu kemana arah menuju pintu utama rumah itu. Rumah besar dengan lorong yang sepi, tak ada yang bisa dimintai pertolongan untuk mengantarnya keluar.
Amira berusaha mengingat-ingat arah yang tadi dilaluinya saat dia datang. Namun dia menjadi tak yakin karena ada banyak pintu yang sama di sana. Dia mencoba melanjutkan langkahnya, berharap bisa bertemu seseorang yang bisa mengantarnya ke pintu utama.
"Hei, siapa di sana?" Amira mendengar suara seseorang yang membuatnya sangat terkejut.
Amira membalikkan tubuhnya lalu matanya mencari pemilik suara itu.
"Siapa kamu?" tanya seorang pria yang ada di hadapannya. Seorang pria tampan yang tak kalah tampan dari Rey.
"Ma...maaf, saya ke sini untuk mengantarkan baju-baju Tuan Rey yang dicucikan di gerai laundry kami," jelas Amira gugup.
"Rey? Laundry? Sejak kapan dia mencucikan bajunya di gerai laundry? Bukankah di rumah ini segalanya sudah ada yang mengerjakan?" pikir pria itu.
"Lalu kenapa kamu mengendap-endap seperti itu?" tanya pria itu lagi.
"Saya tidak tahu arah keluar dari rumah ini. Bisakah Tuan membantu saya? Saya mohon, Tuan."
"Apa Rey membiarkanmu keluar tanpa memanggilkan pelayan untuk mengantarmu?" tanya pria itu lagi. Amira menggelengkan kepalanya.
Amira mengikuti pria itu dari belakang tanpa mengeluarkan suara..
"Siapa namamu?" tanya pria itu lagi.
"Amira, Tuan."
"Jangan panggil aku tuan. Panggil saja Raj. Rey itu adalah kakakku."
Amira diam saja, tak mengucapkan sepatah kata pun. Raj menoleh ke arah Amira.
"Boleh aku tahu alamat tempat kerjamu?" tanya Raj.
Amira membuka dompetnya dan mengambil sebuah kartu, lalu diserahkannya pada Raj.
"Hmm, cukup jauh dari sini. Oh iya, ini kartu namaku." Raj menyerahkan kartu namanya pada Amira.
Amira mengambilnya dan memasukkannya ke dalam dompetnya tanpa melihat kartu itu.
Tanpa terasa mereka sudah tiba di pintu utama. Raj membukakan pintu untuk Amira.
__ADS_1
"Silakan."
"Terimakasih, Tuan. Permisi," ucap Amira.
"Tunggu, nona... siapa tadi?
"Amira."
"Sampai ketemu lagi, Amira Semoga kita masih bisa bertemu lagi. Aku tahu kamu gadis yang baik. Hati-hati di jalan."
"Terimakasih, Tuan."
"Panggil aku Raj saja."
"Baik, Tuan... eh Raj. Permisi." Tanpa menoleh lagi ke belakang Amira mempercepat langkahnya menuju pintu gerbang rumah itu.
Raj memandang Amira yang berjalan menuju pintu gerbang.
"Wanita yang menarik," gumam Raj
"Aku ingin tau apa yang direncanakan Rey pada gadis ini. Aku yakin Rey punya rencana yang harus dicurigai. Untuk apa dia mencucikan pakaiannya di gerai laundry yang jaraknya cukup jauh dari sini?" batin Raj.
Amira merasa lega begitu dia telah keluar dari rumah besar itu. Dia tak ingin masuk lagi ke sana. Rumah yang membuatnya hampir tersesat.
"Aku gak akan datang ke rumah ini lagi," gumam Amira.
Sesaat dia menatap rumah besar itu sambil menunggu ojek online yang dipesannya datang.
"Selamat tinggal rumah besa," bisiknya.
Tak lama ojek yang dipesannya datang, dan membawanya kembali ke tempat usahanya.
"Ayo, Bang. Tolong agak cepat, saya sedang ditunggu orang," ujar Amira.
"Baik, Mbak. Tolong pegangan, biar gak jatuh." Pengemudi ojek itu lalu memacu motornya.
Apa yang dikhawatirkannya terjadi. Beberapa orang pelanggannya sedang menunggu di depan gerainya.
"Nah, ini dia orangnya. Kemana saja? kKami sudah menunggu lama di sini!" tegur seorang wanita yang sudah lama menjadi salah satu pelanggan Amira.
"Maaf, ya? Tadi ada urusan dulu. Aku kira sebentar, ternyata lebih lama sedikit. Sekali lagi mohon maaf, ya?" ujar Amira sambil membuka kunci pintu gerainya.
Tak perlu waktu lama Amira sudah selesai melayani semua pelanggannya. Kini dia bersiap-siap untuk pulang apalagi dia baru saja mendapat telepon dari tetangganya yang mengabarkan bahwa keadaan ibunya memburuk.
Diambilnya semua uang yang ada di laci cash register dan dimasukkannya ke dalam dompetnya. Kembali Amira memesan ojekdq online karena dia harus segera tiba di rumahnya.
__ADS_1
"Jangan sakit lagi, Bu. Ya Tuhan, lindungilah ibuku, sembuhkan dia dari penyakitnya. Beri aku waktu lebih lama untuk berbakti padanya."