
Hari yang ditunggu tiba. Seribu anak yatim piatu didatangkan. Ballroom di salah satu hotel milik Bram kembali dihias secara indah dan mewah. Anak-anak didudukkan pada meja-meja bundar layaknya di restoran mahal, semua pelayan hotel melayani semua anak yang duduk itu.
Kean mengubah konsep dengan makan bersama anak yatim-piatu. Jangan salah para pelayan yang melayani anak-anak itu adalah Frans, Leon, Brat, Bram, Haidar, David, Demian, Darren, Remario, Raka, Zhein, Jac, Virgou, Herman dan Dominic. Beberapa anak laki-laki lain juga membantu ayah-ayah mereka.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat sore semuanya ...."
Kean memulai acara, remaja itu mengundang salah satu ustad muda yang tersohor dan viral di jagad media.
Semua anak mendengarkan tausiyah yang diberikan ustadz muda nan tampan itu.
"Eh ... ada ustadz ganteng," gumam Maisya tersipu.
"Baby!" Herman yang mendengarnya menatap putri dari Virgou itu horor.
Maisya mencebik, gadis itu memang sudah besar dan sedang menikmati hormon remajanya.
"Baby!" peringat Herman lagi.
Maisya menunduk, ia pasti takut jika Herman bersuara tegas seperti itu. Virgou sang ayah pasti akan mendukung ayahnya yang posesif itu.
"Masuk!" titah Herman sangat tegas.
"Iya Ayah," sahut Maisya.
Gadis itu pun masuk ke ruangan lain di mana semua anak perempuan berkumpul. Khasya mengelus punggung suaminya.
"Jangan terlalu keras sayang, nanti dia memberontak," peringatnya.
"Akan kugantung kakinya jika dia berani berontak!" ancam Herman tak peduli.
Pria itu mendengkus kesal, lalu memilih duduk menenangkan dirinya. Nai yang mendapatkan ayahnya yang lain itu seperti pucat.
"Ayah? Ayah kenapa?" tanya wanita itu.
Nai memang masih remaja, tapi ia sudah menikah. Lalu ia juga sudah menjadi wanita seutuhnya. Nai bersimpuh di kaki Herman dan memeriksa nadi pria itu.
"Ayah istirahat dulu ya," pintanya benar-benar khawatir.
Khasya pun ikutan cemas. Ia memang tak menyangka jika kemarahan suaminya tadi berimbas pada kesehatan pria itu.
"Ayah ... ayah kenapa?" tanya Virgou panik.
Semua pria memakai baju pelayan hotel. Tentu saja membuat kesan tersendiri pada semua orang bahkan para awak media sangat antusias dengan konsep yang digunakan di pesta ini.
"Ayah tidak apa-apa, hanya kelelahan saja," ujar Herman menenangkan semuanya.
Tak butuh waktu lama, pria tua itu telah menenangkan diri dan kembali menjadi pelayan bagi semua anak yatim piatu.
__ADS_1
"Ya terima kasih para hadirin sekalian. Acara utama telah selesai, maka kita lanjutkan acara pembagian bingkisan!" ujar Kean.
Remaja itu sangat antusias hingga tiba-tiba dia ingat sesuatu. Kean cemberut begitu juga anak-anak yang lain. Sedangkan para perusuh junior saling pandang.
"Piasana pita nantli deh?' sahut Harun bingung.
"Piya ya ... ayo pita nantli laja!" usul Bariana.
"Lide yan badhus!" sahut Azha.
"Ata' Sam!" panggil Harun berbisik.
"Apa Baby?" Harun membisikkan sesuatu pada kakaknya.
Bocah sebelas tahun itu mengangguk antusias. Ia mengajak Setya, Raffhan, Zheinra dan Devina ikut serta mengantri.
"Buat apa Dik, mending kita minta aja kalo mau," tolak Raffhan.
"Ih seru tau kak!" ujar Samudera.
Akhirnya semua ikut mengantri. Semua anak yakin jika mereka tidak ketahuan oleh para orang tua. Kean melihat adik-adiknya yang berbaris bersama anak-anak yatim-piatu. Remaja itu memiliki ide yang sangat brilian.
Kean celingukan, ia mencari keberadaan semua saudaranya yang lain. Rupanya kesehatan Herman membuat semua perusuh paling junior tengah menenangkan pria itu. Pembagian hadiah diberikan oleh para ibu mereka. Terra dan Seruni juga Kanya berada di depan dan menyalimi semua anak sambil memberikan bingkisan.
Giliran Samudera berada sebentar lagi dengan Terra, Kean mengalihkan pandangan salah satu ibunya itu hingga bingkisan diterima Samudera. Begitu seterusnya, remaja itu berhasil mengalihkan pandangan semua ibunya agar tak memperhatikan anak-anak yang mengantri.
"Mama ... itu ada anak bayi yang belum dapat, biar Kean aja yang kasih ya!" pinta remaja itu menawarkan bantuan.
Terra dan lainnya memang tak fokus akibat mendengar kesehatan Herman yang ngedrop. Kean memang membagi semua hadiah sesuai perintah Terra.
"Sisa delapan bingkisan, ada yang belum kebagian?" tanyanya.
Sejahil atau nakalnya Kean, remaja tampan itu tetap menjalankan amanah. Ia tak mau berbuat curang atau menilep pemilik yang hak.
"Sudah selesai Tuan," ujar salah satu pengawal.
Akhirnya acara selesai, semua anak mengasingkan diri, mereka pergi ke area lain. Sedang para orang tua berkerumun di Herman.
"Ayah sudah tidak apa-apa!" dengkus pria itu kesal.
"Tapi tadi Ayah pucat!" ujar Nai.
"Kita ke dokter ya," pinta Bart.
"Astagfirullah ... aku sudah tidak apa-apa sayang!" Herman benar-benar kesal.
"Sebentar ... mana anak-anak?" tanya Budiman sambil memutar tubuhnya mencari semua perusuh itu.
__ADS_1
Semua ikutan berputar mencari keberadaan anak-anak. Bahkan semua bayi ikut hilang dari pandangan mereka.
"Astagfirullah, kemana mereka!" gerutu Virgou.
"Gomesh!" teriaknya memanggil.
Gomesh hanya menatap ketuanya malas, ia juga tadi sibuk mengatur semua para tamu dan media yang datang.
"Langit! Reno!" pekik pria sejuta pesona itu lagi.
"Iya Dad!' sahut keduanya mereka baru dari luar ballroom.
"Kenapa kau tidak menjaga semua anak-anak!" teriak Virgou kesal.
Langit hendak menjawab namun, Khasya memberi kode agar pria itu diam. Langit pun membungkuk hormat untuk meminta maaf.
"Tuan, semua Babies ada di ruangan Flamboyan!" lapor salah satu pengawal wanita.
"Eh, Baby Ion juga nggak ada loh?" ujar Darren mencari keberadaan adiknya itu.
"Jangankan dia, istrinya juga menghilang!" sahut Terra mencari keberadaan menantunya.
Akhirnya semua orang menuju ruangan yang dipakai oleh semua anak. Di sana para perusuh paling senior bertepuk tangan melihat bingkisan yang didapat oleh semua anak tanpa kendala.
"Kalian hebat Babies!" puji Rion bangga.
"Kalian bisa lepas dari pengawasan Mama gimana?" tanya Azizah sampai berdecak kagum.
"Itu karena Kean Kak!" jawab Kean begitu bangga.
"Kean mengalihkan pandangan Mama dan menyuruh semua perusuh cepat-cepat berlalu dari antrian!" lanjutnya sambil tersenyum lebar.
Para orang tua hanya bisa menghela napas panjang. Herman menggaruk kepalanya. Ia menatap Virgou, Kean putra ya dari dulu yang pertama kali mengajak semua saudaranya mengantri.
"Itu anak Ayah!" tekan Virgou tak mau disalahkan.
"Astaga ... kau ini!" ketus Herman berdecak kesal.
"Ya sudah, memang mereka seperti itu. Dari dulu tak pernah minta hadiah. Tapi giliran ada bingkisan untuk anak-anak yatim, semua antusias mengantri," ujar Bram memaklumi.
Remario dan Zhein yang baru pertama kali mendapat perihal para remaja yang seperti itu hanya melongo tak percaya.
"Mereka kan bisa beli?" ujar Zhein.
"Itulah bedanya anak-anakku. Mereka benar-benar sederhana dan memposisikan diri sama seperti anak-anak lainnya," ujar Dominic.
Bersambung.
__ADS_1
Memang gitu Daddy Remario. Anak-anak dari dulu suka ngantri.
Next?