SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
Bab 24 Cobaan Hidup Rianti


__ADS_3

juga, kata Irfan Rianti mau pinjam uang sama Rianti, bukan hanya itu saja, dia pernah pakai Hp Rianti buat balas pesan whataspp orang yang sedang ribut sama dia yaitu Alex sepupu Irfan dan Alex mengira itu tulisan Rianti, hal itu sama seperti apa yang di lakukan oleh Mira di luar masalah keluarga Rianti, terhadap Irfan pribadi”, kata Indah panjang lebar.


“Irfan di perlakukan di kekang oleh fansnya, dengan mengatas namakan dirinya, dengan orang lain, kalau ada berita tentang Irfan yang enggak enak itu di sebarkan oleh Mira dan menyuruh fans lain juga ikut menyebarkan tapi bilangnya di suruh Irfan dan mama Vinda, bukan hanya itu saja kalau ada DM masuk di Instragram yang bahasanya baik – baik, nanti orang itu di sebarkan oleh Mira dan fans lainnya, dia enggak di sukai oleh, Irfan, karena Dmnya lebay, dan halu padahal justru Irfan balas orang itu baik – baik, bukan hanya itu saja, tentang jumpa fans yang beritanya waktu itu ada kecurangan dan di lakukan oleh saya, itu semua bohong Pak, saya melakukan hal itu karena di suruh oleh Mira, saya narik uang ke orang lain transfer 300 ribu tapi masuk ke rekening saya sendiri, dan nanti bikin berita gossip kalau acara jumpa fans Irfan gagal karena managernya, padahal manager Irfan yang lama Farhan jusrtu mengundurkan diri secara baik – baik, bukan karena jumpa fans tersebut, Farhan mengundurkan diri, karena ibunya sakit di kampung, dan dia harus pulang kampung, bahkan Irfan mengirim uang sampai sekarang untuk Farhan dan keluarganya di kampung, apalagi Farhan itu punya anak dan istri di sana, anaknya pada saat itu memang, mau masuk sekolah SMP, intinya Farhan pulang karena keadaan keluarganya, bukan karena acara jumpa fans, hubungannya dengan Irfan baik – baik saja”, cerita Indah panjang lebar.


“Dan mulai sekarang saya juga akan keluar dari grup fans anjinggggg gila harta itu pak, saya mau di jalan yang benar dank arena Allah, bukan karena obsesi, saya menyayangi orang yang tulus, bukan karena harta dan gila obsesi karena artis, dan bagi saya artis itu manusia, bukan seperti mereka yang norakkkkk, enggak punya harga diri, saya punya harga diri, walau terus dan menerus juga di jadikan boneka para anjing tersebut”, ! pekik Indah tersebut dan menangis tersedu.


“Buat saya sendiri, menjadi orang kepercayaan Irfan juga saya sebenarnya merasa agak berat, terus – terang Irfan kasih nomor whatsapp pribadi ke saya, buat saya justru sebenarnya dari saya pribadi beban, tapi saya juga harus melindungi orang yang butuh perlindungan, saya merasa bertanggung jawab dengan masalah ini semua, bahkan saya sendiri juga, melindungi Rianti bukan hanya Irfan, kalau perlu Rianti dan Irfan anggap saya sahabat juga enggak masalah, Insya Allah, saya enggak akan menjerumuskan mereka, seperti yang lainnya, dan kalau emang Irfan enggak suka saya pun, saya ikhlas, saya akan putus hubungan dengan Irfan secara komunikasi juga, saya hanya mau berbuat kebaikan saja dalam hidup, seperti apa yang juga Irfan sebarkan ke orang lain juga sealama ini dengan atau adanya itu, saya hanya juga hanya ingin jadi orang yang baik kepada orang lain”, kata Indah menangis.


“Astragfirulloh mbak Indah sabar mbakkk”, kata supir taksi itu.


“Bukan hanya itu saja, saya kadang di suruh oleh Mira dan yang lainnya, juga, fans lainnya untuk apa, memposting foto kalau bersama Irfan untuk mencari pengikut sebanyak – banyaknya, demi Allah, saya enggak mau menjadi orang yang curang pak, dan itu sama saja, saya memanfaatkan orang lain, Irfan emang artis tapi dia juga perasaan yang punya hati, bukan hanya itu nanti, kalau di kasih hadiah sama irfan saya sendiri juga suka di suruh posting foto untuk cari komentar kalau enggak ancaman Mira, akan menghancurkan hidup saya dan keluarga kecil saya di rumah, karena dia juga dendam di putus hubungan dengan kami semua, sebagai anggota keluarga besar juga”, Indah menarik nafas panjang untuk meredakan emosinya sendiri setelah menceritakan itu semua.


“Demi Allah, saya butuh kasih sayang dari orang lain dan enggak mau jadi orang yang nyakitin perasaan orang lain”, isak Indah, dan perasaannya berubah menjadi galau dan tidak tenang.


“Mbak Indah saya paham”, kata supir taksi itu lagi.


“Berarti sekarang masalah Rianti yang juga di sakiti oleh keluarganya, masalah Irfan yang juga masuk perangkap setan fansnya, semuanya ada di tangan mbak, dan mbak harus membela keduanya, dengan adil itu saran saya”, kata supir taksi itu.


Indah menyeka air matanya, dan setelah tiba di depan rumah Irfan, dia membuka tasnya, untuk mengambil uang dan membayar supir taksi tersebut, lalu kemudian masuk ke dalam, aku yang sedang mengambil minum di meja dapur, melihat Indah dengan keheranan.


“Mana Fiza”, ? tanyaku.


“Sebentar lagi juga sampai, aku lagi enggak tenang jadi buru – buru berangkat sendiri”, jawab Indah.


“Kita ngobrol sama – sama yah sambil sarapan, sambil nunggu Fiza kalau begitu, coba kamu telepon lagi dia”, timpal Irfan.


Akhirnya Fiza tiba di antara mereka, dan langsung ikut mengobrol, dan Fiza memberikan pernyataan juga usulan kepada Mama Vinda serta Irfan juga, mengenai yang berkaitan dengan masalah Rianti juga.


“Sebenarnya, begini masalahnya, yah sebelumnya minta maaf, yah kalau ada saya kata – kata salah, waktu dulu awal berdirinya fans yang adminnya Mira, kalau saya boleh koreksi sedikit terhadap Irfan pribadi di luar masalah ini, terus – terang dulu, Irfan saya sempat pernah baca di posting dengan salah satu fans kalau dia curhat dengan fans, dan saya sebenarnya dari situ juga, sudah enggak suka, dan enggak setuju, sama saja mengumbar aib, namun untuk Irfan sendiri, fan saya minta maaf yah kalau kata – kata salah saya, waktu itu emang saya enggak sengaja lihat, fans kamu posting curhatan kamu dengan Fans, dan di sebarkan oleh Fans kamu, juga, tapi menurut saya pribadi, kalau tahu dari awal fans kamu orang yang seperti apa, seharusnya enggak mengumbar cerita pribadi ke kamu ke mereka”, kata Fiza.


“Yah itu benar Fiza”, kata Irfan singkat.


“Tapi sekarang, masalahnya gini masalahnya sepertinya kekuatan di Pak Hasan sendiri ada di Mira, dan Mira bisa kuat karena Pak Hasan, dan saya juga menemukan bukti baru juga, mengenai Desi dan Gina”, kata sahut Rendy.


“Tapi emang masalah fans benar apa yang kata Fiza bilang, salahnya waktu dulu awal saya sendiri, jadi artis di situ”, timpal Irfan.


“Jadi Gina sendiri, setelah saya selidiki, itu emang awalnya bukan orang yang kerjasama dengan keluarga, dan justru Gina sendiri, mau mendapat untung dari masalah keluarga ini, dan malah niatnya, mau menipu Desi, karena dia sebenarnya, bukan orang fisioterapi dari rumah sakit, tapi orang sering ke tempat Gym tersebut, dan untuk Gym di sana, dan basik dia sendiri berlatar belakang, orang fisioterapi tapi fisioterapi rumahan, apakah dia mengenal dekat keluarga Rianti, yah emang sebenarnya mengenal dekat, karena itu kerjasama dengan bertujuan bukan fisioterapi tapi mata – mata, namun pada awalnya juga dia di satu sisi lain orang yang senang cari untung di mana ada kesempatan masalah orang lain”, kata Rendy panjang lebar.


“Dan di keluarga Rianti sendiri, Irfan sendiri di tuduh menghasut Rianti, untuk mengeluarkan Gina, sebagai orang fisioterapi yang kerja di rumah, dan Irfan sendiri sekarang ini dari info yang saya dapat dari tim saya, Irfan sendiri di tuduh penculikkan Rianti, namun di satu sisi lain, Mira menuduh Indah menculik Rianti dan Irfan agar nama dia terkenal, sebagai fans Irfan, sebenarnya yang masuk perangkap itu memang Irfan juga bukan hanya Rianti”, kata Rendy panjang lebar.


“Tapi gini, saya kan netizen yang awalnya enggak tahu apa – apa, bisa enggak saya ikut bantu mereka, saya coba sebarkan lagi aja fans Irfan itu seperti dengan Indah, saya kerjasama, karena kalau kita menghancurkan fans Irfan, keluarga Rianti akan kalah”, sahut Fiza.


“Yah bisa saja begitu”, kata Rendy mengangguk.


“Yah kalau enggak fans lovers lama di bubarkan saja yang adminnya Mira”, sahut singkat mama Vinda.


“Tapi masalahnya di mana keberadaan sertifikat rumah di Tangeran Selatan, apakah berpindah tangan itu di Mira, saya yakin Mira itu ngumpet di rumah Elin”, ! kataku dengan suara keras.


“Yang penting di BPN sudah di blokir Ri…, tinggal suratnya memang kita cari”, timpal Irfan.


“Yah begini saja, untuk sementara saya bantu buat sertifikat baru dulu saja, kalau emang hal itu enggak berhasil ketemu, Rianti punya sertifikat yang baru”, saran Rendy.


“Yah oke”, kataku kemudian mengangguk.

__ADS_1


Setelah pertemuan tersebut, memang fans lovers lama, Irfan di bubarkan dengan admin Mira, dan ketika terjadi pembubaran, memang terjadi protes dari mereka, yang mau mempertahankan, grupnya sedangkan di satu sisi lain, sertifikat Tangerang Selatan, aku masih menunggu info baru lagi siapa tahu ada kabar dari pengacara Rendy, dan ketika aksi protes itu sendiri juga, berhasil di bubarkan oleh Irfan dan timnya, di rumah kontrakan yang sekarang aku tempati sementara untuk bersembunyi, keadaan terasa mulai sudah aman, dan tenang, mama mulai melanjutkan fisioterapinya lagi dengan Mbak Atin.


Namun tiba – tiba saja, baru saja aku menyalakan Tv, aku menonton berita, yang membuat mataku, terbelalak kaget, dan langsung menegur papaku yang ikut menonton namun tidak begitu fokus di depan Tv, juga mamaku.


“Maaaaaa”, !!!! teriakku.


“papaaaaaaaa”, !!! teriakku lagi sambil menunjuk kea rah Tv, dengan jalan tertatih karena diabetes basah, papa mendekati aku, dan duduk di sebelahku.


“Astragfirulloh nakkk”, guman papa mengelus dada, dan mamaku meneteskan air mata, menonton berita itu.


SEORANG ARTIS IRFAN SANTOSO MELAKUKAN PENCULIKKAN KELUARGA PENULIS NOVEL RIANTI PUTRI ANGGORO SELAIN MENGHASUT DIRINYA UNTUK MEMECAT ORANG FISIOTERAPI YANG MERAWAT IBUNYA.


Seorang artis dan juga yang di kenal host pendamping acara mistis Irfan Santoso, Kebajikan, melakukan Penculikkan, terhadap Rianti Putri Anggoro dan keluarganya, bahkan menghasut Rianti untuk memecat orang fisioterapi yang merawat ibunya bernama Gina, hal ini di nyatakan Gina kepada keluarga Rianti.


“Bangsat mereka semua maaaa”, pekikku.


“Paaaa”, pekikku kemudian.


“Mudah – mudahan rumah kontrakan ini enggak ada yang tahu”, kata mamaku kemudian.


Hari demi hari, aku menjalani hidup di rumah kontrakan itu, sambil aku menulis lagi novelku yang keempat, dan pada saat aku sedang menulis, bisa jadi pihak kantor penerbitku, mendengar berita itu, Mbak Eka editor menelepon aku, tepat jam 10 pagi pada saat kantor baru saja buka.


“Halo asalamualaikum Mbak Eka”, sapaku mengangkat telepon.


“Walaikumsalam, Mbak Rianti kami semua sudah tahu masalah itu, dan mengenai berita di Tv, kami tahu itu berita bohong, karena itu kami tunggu di ruang meeting, untuk membahas masalah ini, mungkin ini masalahnya, bukan hanya orang mencuri sertifikat rumah, tapi ada oknum – oknum lain yang ikut campur sehingga masalah jadi ribet begini, dan mereka membuat drama akan masalah ini, dengan tuduhan yang simpang – siur, karena adanya juga saya pastikan oknum lain adalah orang yang mau cari untung dan kesempatan untuk ego pribadi Mbak Rianti, jam 10 hari ini intinya saya tunggu di kantor”, kata mbak Eka.


“Oke saya mau jelaskan semuanya di kantor juga”, kataku mengakhiri pembicaraan dengan Mbak Eka.


“Mbak Rianti”, tegur Mas Fitrah.


“Mbak info dari yang kami juga dapat, kayaknya emang simpang siur banget juga, mbak karena masalahnya di sini, kami juga dapat dari kabar, dari seseorang namanya Mira, dia memuat artikel kemana – mana lho mbak, ini nih saya, kasih lihat”, Mas Fitrah mengeluarkan Hpnya, dan ingin memperlihatkan berita yang di dapat dari google, dan kemudian dia screen shot.


DARI ARTIKEL CAPTION INSTRAGRAM MILIK MIRA ARYANTI, FANS DARI IRFAN SANTOSO, KALAU ADA PERNYATAAN, DARI IRFAN SANTOSO, RIANTI MEMANG BUKAN SAHABAT MELAINKAN FANS TAPI NGAKU JADI SAHABAT AGAR DIA BISA JADI PENULIS TERKENAL DAN DIA RUPANYA JUGA KERJASAMA DENGAN INDAH SAFITRI UNTUK NUMPANG TENAR


“ini semua pernyataaannn palsu”, !! teriakku keras, dan ketika aku berteriak di lobby utama penerbit itu, semua orang yang di sana, kaget dan menoleh ke arahku, namun bagiku tidak masalah, karena aku menyatakan sebuah kebenaran, dan aku melakukan kebenaran bukan kesalahan.


“Justru Mira itu kerjasama dengan keluarga aku untuk meneror aku, dan mencari untung dari masalah keluarga yang sedang aku hadapi ini, Irfan enggak pernah juga kasih statement apapun tentang hubungan kita, bahkan selama ini, dia enggak pernah umbar tentang hubungan kita ke muka umum, dan waktu itu saja dia angkat bicara ke muka umum kalau aku sahabatnya, pada saat aku ikut syuting Kebajikan, ini semua bohong”, kataku panjang.


“Saya ke ruang meeting sekarang, kita harus bahas masalah ini juga, karena kalau sudah seperti ini, ini menyangkut nama baik saya juga, sebagai Mas Fitra, sedangkan fans Irfan itu, adalah orang – orang yang mau cari untung karena uang dan obsesi, obsesi tergila – gila dengan ketampanan Irfan, yang mereka pikir sambil ambil kesempatan dengan cara apapun, tanpa mereka berpikir lagi panjang, kalau tingkah mereka bisa ada orang lain juga yang di rugikan”, kataku panjang lebar.


Aku melanjutkan langkah kakiku, sambil menceritakan semuanya, dengan Mas Fitrah, dan ketika aku sudah sampai di ruang meeting tersebut, rupanya sudah banyak orang yang juga menunggu di sana, aku langsung menceritakan semuanya, kenyataannya dan fakta yang sebenarnya terjadi, dan pada akhirnya ada sebuah keputusan, yang akhirnya, pihak penerbit mau ikut membantu untuk membelaku, dan hal itu di sampaikan oleh Mas Rahmat, sebagai orang pemilik penerbit ini.


“Kita bisa tepiskan kalau begitu berita – berita itu, dengan kita bayar wartawan yang benar – benar jujur dan tulus, dan enggak curang, karena di sini, udah ketahuan wartawan itu sendiri adalah wartawan nakal yang mata duitan dan kerjasama sama mereka”, kata Mas Rahmat.


“Besok kita meeting jam 10”, timpal Agni editor cover.


“Tolong, buat Mbak Rianti, besok jam 10, saya mau mbak undang Irfan, dan managernya, serta orang yang di percaya kalian, yang berpihak kepada kalian berdua, bukan berpihak hanya satu orang, itu namanya sama saja ribet”, sahut Nico editor layout.


Setelah selesai, meeting dengan para penerbit di kantor penerbit, dalam perjalanan di dalam taksi, aku menghubungi Irfan, dan terdengar kalau Irfan juga tengah dalam keramaian, rupanya dia sedang syuting wawancara, mungkin membahas masalah ini.


“Irfan kamu lagi syuting”, ? tanyaku.


“Yah aku lagi break”, jawab Irfan.

__ADS_1


“Yah udah aku susul ke sana aja yah”, kataku mengakhiri pembicaraan dengan Irfan dan kemudian aku mengirim pesan whatsapp kepada Irfan.


“Irfan, orang – orang itu semakin membuat drama berita – berita hoaks, tentang kita dan masalah sertifikat itu”, kataku menulis pesan di whatsapp dan mengirimnya.


“Yah aku tahu, karena masalahnya fans aku benar – benar gila obsesi makanya apapun itu, di carinya kesempatan, rasanya biar aku paranin aja deh hari ini yah teman dari Eli, Tiara, itu sama gilanya, biar aku ancam dia, sama kamu yah hari ini juga, tapi tadi aku barusan wawancara di Tv, ada pertanyaan yang mencuat masalah itu, tapi aku sudah ceritakan yang sebenarnya terjadi faktanya, biar mampus, aja kalau di Tv, kayak apa, mereka tuh hanya gila obsesi tapi enggak punya otak itu masalahnya Ri”, Irfan mengirim pesan kepadaku di whatsapp.


“Yah sudah sekarang kasih alamat studio kamu sekarang di mana”, ? balasku lagi pada pesan whatsapp.


Jl. Buana Hari II no 5


Komplek Harian Gilang


Jakarta Selatan.


Aku langsung, menyimpan alamat, tersebut yang di kirim oleh Irfan, dan taksi yang aku tumpangi, aku arahkan ke alamat tersebut, aku memberikan alamat itu kepada supir taksi.


Pada saat tiba di studio tersebut, aku langsung menunggu di ruang tunggu, dan ketika berada di ruang tunggu, sambil menghadap kea rah depan, pikiranku sudah mulai kusut yang benar 0 benar seperti aku ini orang error, aku menangis dan tidak bisa menahan air mata lagi, dengan apa yang aku rasakan tersebut.


“Ya Allah, tolong lindungi aku, dari semua orang, yang mau berbuat jahat padaku, sebenarnya apa yang salah, dari diri aku, kenapa semua orang mau menghancurkan hidup aku, membuat aku tenggelan dan enggak bisa berbuat apa – apa, sekarang puas mereka semua, sudah membuat aku hancur karirku, di hancurkan dengan gossip murahan, hakku di rampas, sudah puas dengan apa yang mereka lakukan kepadaku sekarang ini, asal mereka tahu saja, kalau karma yang mereka akan dapatkan semua, sebenarnya dari dulu pun aku sudah tahu, fans Irfan itu orang – orang seperti apa, tiap kali ada mereka pasti ada masalah, dan aku tahu keluargaku sendiri seperti apa, mereka orang gila semua, yang hanya mengajar materi, obsesi, dan duniawi, tanpa perdulikan apa yang di rasakan oleh orang lain, atau emang sudah kehilangan rasa manusiawi, hanya karena dunia, benar – benar manusia iblis”


Tidak lama kemudian, aku melihat Irfan menghampiriku, dan duduk di depanku, kemudian mengajak bicara aku, sambil menatap diriku tajam.


“Kamu harus ikut syuting wawancara sekarang, masalah ini aku sudah ceritakan juga dengan host acara ini Kak Devi, dan sekarang dia ada di ruang make up artis, kita temui dia sekarang”, ajak Irfan, sambil menarik tanganku, dan aku merasa kaget dengan sikapnya itu, yang terlihat dia – benar ikut terbawa emosi dengan apa yang aku rasakan juga, aku menangis dan kemudian memeluk dadanya.


“Irfannn, aku cuma bisa merasa ada kekuatan akan ini semua yang lebih, itu karena ada kamu, dan selama ada kamu, fan….”, isakku dengan suara terputus karena terisak, aku ingin memulai kata – kataku kembali sambil melepas pelukkan dan menyeka air mata.


“Cuma kamu yang tahu apa yang aku rasakan, perasaan aku sayang sama kamu, aku bela kamu, aku kadang suka khawatir berlebihan sama kamu, bukan karena apa – apa, karena enggak orang lain lagi, yang memperlakukan seperti ini, selain kamu Irfan, kamu ingat enggak, kalau mamaku pernah cerita sebelum semua ini, dia enggak pernah cocok dengan keluarganya sendiri, bahkan yang sering ribut sama aku itu sepupu aku, bukan orang lain, dan semua itu, karena, yang mereka lakukan, meremehkan aku, dan enggak pernah menghargai perasaanku, segala pernyataan, pendapat, apapun itu aku enggak pernah di anggap, dan mereka bully aku, selama ini, yang aku rasakan begitu, menjadikan aku kambing hitam, dan sekarang aku tahu alasannya apa, di satu sisi lain, kamu punya fans orang yang enggak punya otak, terlalu terobsesi dengan paras wajah, sampai berani berbuat gila, terlalu terobsesi dengan artis sampai enggak punya pikiran, dan mereka yang gila harta juga, selain itu, tapi aku dan kamu, harus keluar dari ini semua Irfan, kita sama – sama cari jalan keluarnya, sudah jelas kan dari artikel itu, seolah agar orang di luar sana berpikir aku yang salah, dan aku yang di salahkan sama kamu, padahal justru mereka fitnah kamu Irfan”, ! kataku dengan suara keras.


“Aku paham”, Irfan menganggukan kepala.


“Yah udah kita sama – sama temui dulu Kak Devi yah”, kata Irfan kemudian, dan kemudian kami berdua menemui host terkenal acara berita artis itu, di ruang make up, aku dan Irfan dengan kompak menceritakan masalahnya, siapa tahu Kak Devi, bisa membantu kami berdua.


“Saya akan bantu kalau begitu”, kata Kak Devi.


“begini saja, saya coba panas – panasin fans Irfan, dan keluarga kamu Rianti, nanti kalau mereka sudah panas, di situ, saya juga, kenal hatters, artis, dan hatters ini, nanti saya akan temui, dan saya ceritakan semua, kebetulan hatters ini juga kenal dengan wartawan artikel berita gossip di google juga, kita bisa kerjasama dengan mereka semua, Rianti, kalau kita berada di jalan yang benar, kita enggak perlu, wajar saja, orang itu mempertahankan apa yang menjadi haknya, apalagi sertifikat itu atas nama pribadi mama kamu, yang di curi sama om kamu itu, dan fans Irfan enggak berhak mengekang artis idolanya, apalagi melakukan kecurangan, juga seperti dan mencari untung dari masalah kamu, sama aja kerena obsesi, mereka karena tahu masalah kamu, dan kamu dekat sama Irfan, jadi mereka ikut campur, tapi kita bisa tepiskan semua ini, sekarang kamu ganti baju sama Mas Rano untuk ikut wawancara, dan setelah wawancara, nanti kita ketemu dengan orang kepercayaan saya itu”, kata kak Devi.


Aku mengikuti apa yang di suruh oleh Kak Devi, aku masuk ke ruang ganti, dan dalam sekejap aku langsung di poles oleh penata rias artis Kak Fara, lalu kemudian, aku wawancara dengan Kak Devi, aku sudah tahu apa yang mereka harus jawab, begitu memohok pertanyaan tentang sertifikat dan fans Irfan juga, lebihnya tentang keluargaku juga.


Di tempat yang berbeda dengan aku dan Irfan, salah satu fans Irfan, dan pengikut Mira, dan salah satu teman dari Elin juga, bernama Lina, dia menonton Tv, melihata tayangan tersebut, perasaannya semakin panas, karena obsesi gilanya, selama ini sudah di hancurkan olehku, dan niatnya untuk juga ikut merampas harta orang lain, rupanya, apa yang di jaga sebagai amanah dari Allah, yang di miliki oleh mama dan papaku, menjadi rebutan orang – orang yang gila harta, bukan keluargaku saja, apalagi fans Irfan, orang – orang terobsesi dengan artis yang berlebihan, dan berani melakukan cara yang tidak halal, hanya karena obsesi, berani bertindak apa saja, asalkan merasa puas, dengan apa yang di inginkan oleh mereka, itulah ciri – ciri pengikut Mira, dan hanya Indah saja yang berbeda, emosi Lina yang semakin membakar hatinya, apalagi tahu kalau fans lovers lama, dengan admin Mira, di bubarkan oleh mama Vinda dan Irfan, mencuat ke arah yang benar – benar sudah gila, dengan apa yang ingin di lakukannya, sekarang semua orang yang berpihak kepada Irfan, dan agar Irfan bisa di miliki kembali seutuhnya olehnya, tanpa siapapun orang bisa miliki dirinya.


Satu tangannya menyambar Hp yant tergeletak di sebelahnya, dan kemudian dia mencari berita tentang apapun yang membahas tentang host Devi Kartika tersebut, dan ketika dia menemukan satu berita yang agak kurang baik tentang Devi, senyuman iblis, tersimpul di wajahnya, dia sudah tahu apa yang harus di lakukannya, satu tangannya juga mencari nomor kontak bernama Nia, dan dia seorang wartawan nakal kepercayaan fans lovers Irfan.


“Halo asalamualaikum”, sapa Lina menelepon Nia.


“Walaikumsalam”, balas Nia.


“Bisa kita ketemu sekarang”, sahut Lina


“Ada yang mau saya omongin sekarang juga”, kata Lina kemudian.


“Yah udah kalau begitu kita ketemu di mana”, ? akhirnya Nia menanggapi, apa yang di inginkan oleh Lina


“Di Mall Jakarta Barat, Cengkareng”, Lina akhirnya menyebut nama tempatnya, dan kemudian, dia memasukkan Hp ke dalam tasnya, setelah itu bersiap – siap meninggalkan rumahnya, di pinggiran trototar, Devi mencari taksi yang kosong dan berhenti di depannya dan ketika sudah ada yang berhenti di depannya, dia langsung masuk ke dalamnya, dan menuju ke arah lokasi dia bertemu dengan Nia, sedangkan di tempat yang berbeda juga dengan Lina, yang masih dalam perjalanan untuk bertemu dengannya, Nia yang sudah di tempat lebih dulu, dua orang laki – laki,

__ADS_1


__ADS_2