SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
ATRAKSI MASTER WUSHU


__ADS_3

Ashen memainkan bilah besi itu dengan begitu cantik. Semua terpukau melihatnya. Sky, Bomesh dan Arfhan bertepuk tangan meriah.


Herman sudah sampai di atas terlebih dahulu. Lalu disusul semuanya.


"Ayah?"


"Ssshhh!" Herman menempelkan jari telunjuknya di bibir.


Semua kini bisa melihat bagaimana Ashen beratraksi begitu cantik. Gio dan lainnya sudah berada di seberang dan merekam semua aksi begitu juga Rion.


"Pria tua ... kau hanya seorang pebalet!" hina pria muda itu.


Pria itu memainkan senjata lipatnya dengan cepat dan juga cantik. Begitu berbahaya, kilatan pisau begitu mengerikan, seakan-akan siap merobek tangan yang memainkannya.


"Wah ... keren!" puji Arfhan takjub.


Sky dan Bomesh mengangguk setuju. Keduanya berjalan berputar. Senjata Ashen lebih unggul karena jangkauannya yang panjang.


"Dempetin aja Tor!" seru kawannya.


Toro, nama pria muda itu. Ia bergerak cepat mendekat Ashen dan menyabet senjatanya. Rion tentu langsung berteriak.


"Koko kiri pentung!"


Ko Ashen adalah pria terlatih dan seorang master beladiri terkenal. Pria itu tentu sudah menebak lawan mau bergerak kemana. Ia memang melakukan apa yang diteriakkan seseorang tadi padanya.


Set! Tang! Aduh! Pekik keras terdengar keluar dari mulut pria muda.


Semua anak berteriak dan bersorak. Mereka lalu mengelu-elukan Ashen yang bisa memukul lawan.


"Hati-hati Ko!" teriak Arfhan begitu khawatir.


Tampak kawan pria bernama Toro kesal. Mereka hendak melakukan kecurangan.


"Ehem!" dehem Gio yang berdiri tak jauh dari empat pria kawanan.


Keempatnya tentu menatap Gio dari kepala hingga kaki. Pakaian Gio yang menandakan jika dirinya seorang pengawal tentu terlihat. Lalu Felix dan Hendra muncul di sana. Dua pria berpakaian sama dengan Gio. Mereka menyandar di tiang besi.


"Jangan curang ... masa lawan kakek tua kalian curang," ujar Felix begitu pelan namun sangat dingin hingga membuat empat pria itu tak berkutik.


Namun, salah satu juga melihat keberadaan bilah besi. Walau tak sepanjang milik lawan, pria itu mendorong bilah itu kuat-kuat dengan kakinya.


"Pake itu Tor!" teriaknya.


Toro melihat bilah besi yang disodorkan temannya tersenyum. Sungguh pria muda itu tidak tau jika di ujung jembatan, ada orang lain yang siap menahan dirinya dan empat temannya.


Pria penyodor bilah besi itu tersenyum mengejek Gio. Tapi Gio sangat santai menatapnya.


"Ck ... santai Bro ... kita belum lihat, siapa pemenang di sini!" ujarnya dengan kilat mata sadis.


"Hea!" teriak Toro mulai menyerang Ashen.


Rupanya Toro juga bukan pria sembarangan, gerakannya sangat terlatih dan bagus. Ashen sedikit kualahan, terutama pada tenaganya yang memang tidak seperti dulu lagi.


"Ah ... aku bukan pria dua puluh lima tahun lalu!" keluhnya dalam hati.


Bunyi bilah besi yang saling beradu membuat penonton mereka berdecak kagum. Sky, Bomesh dan Arfhan sering bertepuk tangan untuk keduanya.

__ADS_1


"Kalian pilih siapa sih Baby?" tanya Herman gusar.


Pria itu gemas dengan tiga perusuh itu.


"Ko, Ion yang gantiin Koko gimana?" teriak Rion menawarkan diri.


"Tidak perlu Nak ...."


"Koko ... awas!" teriak Arfhan.


Rion kesal, ternyata lawan berbuat curang. Rion bergerak cepat dengan menendang krikil langsung ke biji mata Toro.


"Ah!"


Toro berkedip, pandangannya terganggu. Empat pria di sana berteriak.


"Curang!" mereka hendak merangsek ikut membantu melawan.


Bug! Bug! Bug! Keempatnya kini mengerang kesakitan dengan bergulingan. Felix dan Hendra pelaku pemukulan.


Kelima pria digelandang ke markas SavedLived. Gio, Felix dan Hendra yang membawa mereka.


Herman bersalaman pada Ashen.


"Terima kasih ... terima kasih!" ujarnya tak tau harus berkata apa lagi.


"Tidak masalah, Owe senang menolong meleka," sahut Ashen.


Pria itu diantar Budiman dan Gomesh ke tokonya. Enam bocah menunduk kepala. Herman hanya bisa menghela napas panjang. Rion membela keenamnya.


"Ya sudah, ayo beli apa yang kalian inginkan!" ajak Herman dan membuat semua bersorak kegirangan.


Virgou sangat menyesal tidak ikut menonton pertunjukan langsung pertarungan cantik tadi.


"Jadi orang sialan itu bisa mengimbangi Ko Ashen?" tanya pria sejuta pesona itu.


"Benar Kak!" seru David antusias.


"Siapa namanya?" tanya Haidar lagi.


"Nggak tau tapi beliau dipanggil Ko Ashen sama orang-orang dan pelanggannya," jawab David.


Haidar mengetik nama pria itu. Ia menemukan foto empat puluh tahun lalu. Seorang pemuda yang wajahnya sama.


"Tjia Shen Tse? Apa nama beliau Tjia Shen Tse?"


"Iya itu dia!" sahut Virgou.


"Beliau ahli Wushu dunia yang redup bintangnya akibat peristiwa doping. Ko Ashen yang tak terkalahkan dituduh memakai dopping," lanjutnya.


"Bawa dia ke sini. Aku ingin mendengar ceritanya!" titah Herman langsung.


"Jika kita bisa membantunya membersihkan nama baik tentu dia senang," lanjutnya.


Haidar mengangguk setuju. Ia pun membawa pria itu bersama istrinya ditemani David.


Bart memeluk Ashen dengan hangat dengan ribuan ucapan terima kasih.

__ADS_1


"Kau bisa saja tak peduli,"


"Tidak bisa, haa ... Owe liat wajah cucu-cucu owe pada meleka," jawab pria bermata sipit itu.


Aksennya yang khas mengundang banyak bayi ingin tau terutama Arsh. Bayi itu begitu berani duduk di pangkuan Ashen.


"Oh ... kamu belani sekali Nak!" kekeh pria itu.


"Amuh spasa?" tanya Arsh.


"Ashen!' jawab pria itu tegas.


"Baby, sini!" Rion memanggil bayi itu.


Arsh menurut, ia turun dari pangkuan Ashen dan memilih dipangku Leon. Bayi itu menarik tangan Leon dan menepuk panggulnya pelan. Rupanya ingin dipokpok, Arsh pun tertidur tak lama kemudian.


"Ceritakan lah," pinta Herman yang begitu penasaran.


Ashen akhirnya bercerita, bagaimana masa jayanya. Berawal dari sebuah pertandingan antar sekolah yang dimenangkannya lalu berlanjut hingga tingkat kota, lalu kabupaten kemudian naik tingkat propinsi.


"Owe selalu juala satu, mau seni Wushu atau tanding," lanjut pria itu.


"Pas di plopinsi Owe halus beltanding dengan lawan sepadan. Owe dali dusun kecil selalu ditindas dan diculangi. Semua pukulan Owe dianggap tidak sah," ujarnya dengan mata menerawang.


"Akhirnya Owe milih seni yang tidak pelu memukul lawan, meleka nggak bisa culang lagi," ujarnya.


"Hingga owe memenangkan seni Wushu dengan mudah hingga sepuluh tahun bertulut-tulut," lanjutnya.


"Koko nggak diminta untuk tanding olimpiade atau Asean games?" tanya Virgou penasaran.


Pria itu menggeleng. "Owe selalu dijegal oleh pemain lain dali plopinsi besal."


"Hingga ketika usia dua puluh lima Owe disuluh tanding lagi. Tapi, Owe dilalang tanding seni," lanjutnya.


"Owe selalu memukul K.O lawan atau meleka langsung menyelah kalah hanya dengan lima pukulan saja,"


"Semua plotes, entah dali mana meleka memasukkan obat doping ke minuman Owe. Tanpa pemeliksaan seluluh badan, owe diblacklist dari semua event dan mengembalikan semua hadiah yang pernah owe telima."


"Pihak sekolah atau pemerintah daerah nggak melakukan pembelaan?" tanya David tak percaya.


"Yang aku tau, negara itu sangat mendukung atletnya yang berprestasi?"


Ashen tertawa lirih. Mungkin waktu itu ia sedikit apes saja.


"Nama Owe sudah belsih lima tahun lalu. Ada waltawan yang menyelidiki kasus Owe. Hasilnya, semua hadiah yang dilampas dikembalikan. Owe datang ke Indonesia sudah sepuluh tahun lalu langsung tinggal di tempat sekalang," lanjutnya bercerita.


"Oh ... syukurlah kalau nama Koko udah bersih," ujar Herman lega.


"Iya, telnyata yang owe ikuti semua panitia ilegal, waktu itu memang lagi malak penipuan. Cuma kami dali plopinsi kecil jadi tidak telindungi," ujar Ashen mengakhiri ceritanya.


Ashen kembali dengan wajah berbinar. Masalahnya, semua keluarga akan berlangganan beras padanya.


"Lejeki udah ada yang ngatul ... lalu kenapa manusia telus melasa kulang ya?" tanyanya heran pada diri sendiri.


Bersambung.


Ya karena itu Ko ... kurang ... kurang bersyukur ...

__ADS_1


Next?


__ADS_2