
Nai dan Arimbi memelototi teman kuliahnya. Malah ada yang berani menggoda Arimbi atau Nai langsung.
"Mbi ... ayahnya ganteng ih ... mau dong jadi anaknya," godanya sambil menekan kata anaknya.
"Cis ... hey ... cewek jangan murahan dong," hina Arimbi to the poin.
"Ih ... kok gitu sih? Aku kan mau jadi anaknya!" seru gadis itu tak terima.
"Lagian ayahmu juga nggak keberatan kok, anak angkatnya kan banyak," lanjutnya lalu mengedip pada Herman.
Herman menggeleng melihat anak jaman sekarang yang jauh lebih berani. Makanya ia selalu mengingatkan putra dan putrinya untuk pandai bergaul dan membawa diri.
"Nggak apa dibilang cupu atau kurang gaul. Yang penting kalian nggak terjerumus dan membuat ayah dan bunda kecewa," nasihat pria itu.
Terbukti sampai sekarang, semua anaknya tak ada yang bertingkah macam-macam.
"Maaf, saya nggak mau punya anak angkat lagi," sahut Herman ketus menolak keinginan gadis itu.
"Ih ... kok gitu sih om," rajuk gadis itu malah makin berani.
"Duh ... husssh. huussshh ... sanah ...!" usir Nai berlaga artis yang dipanggil Inces itu.
Musik mengalun. Nai menarik Herman dan Arimbi menarik Haidar untuk berdansa dengannya.
"Daddy dansa yuk," ajak Daud.
Budiman dan Gomesh hanya menatap sekeliling di sekitar tuan mereka. Tak ada yang berani mendekat pada dua pria itu. Suasana masih aman terkendali hingga.
"Arimbi aku cinta kamu!' pekik seorang pria dengan balutan mewah dan tampan.
Semua menoleh padanya. Pemuda itu berjalan dengan angkuhnya. Ia dengan tanpa malu mencium punggung tangan Herman.
"Selamat malam ayah, perkenalan saya Dokter Anvaro Lesmana putra tunggal dari Hendro Permana, saya bermaksud ingin memacari putri ayah," ungkapnya dengan berani.
Arimbi sangat kesal luar biasa. Ia hendak menghajar pemuda uang berusia dua puluh empat tahun itu. Haidar menahannya.
"Duh ... duh ... Tuan Anvaro, kok anda percaya diri sekali!" sindir Nai sinis.
"Sudah lah Nai, aku tau kau juga menyukaiku, tapi aku tekankan jika hanya Arimbi seseorang dalam hatiku!" ujarnya menolak Nai.
Nai melongo dengan tingkat percaya diri pemuda di depannya. Sedang Haidar berdecih tak suka begitu juga Virgou. Budiman dan Gomesh mendekati Anvaro. Pemuda itu harus mendongak untuk melihat keduanya.
"Pergi atau kupatahkan masa depanmu!" ancam Budiman.
"Kenapa om ... kenapa kalian tak merestui cinta suciku ini pada nona muda kalian ... Arimbi ... tak lihat kah engkau dengan perjuanganku ini?!" teriaknya tak percaya pada sang gadis pujaan.
Virgou mau muntah, sedang Haidar ingin mencekik pemuda itu sekarang juga.
"Anak sialan!" teriak Haidar marah.
"Duh om ... jangan sensi gitu, maaf ya kalau pilihanku tidak jatuh pada putri om," sahut Anvaro masih tetap percaya diri.
"Mau muntah aku mendengar mu!' sungut Virgou kesal.
__ADS_1
"Dokter Laila!" pekik Nai tiba-tiba.
Seorang perempuan hamil lima bulan datang tergopoh-gopoh. Wanita itu termasuk dokter pembimbing bagi dokter muda yang tengah mengikuti koas.
"Sayang ... apa yang kau lakukan?!" pekik Laila malu bukan main.
"Laila ... ijinkan aku untuk berpoligami. Aku pasti berlaku adil sayang," ujar Anvaro pada istrinya.
Ya, Anvaro sudah beristri, ia telah menikah satu tahun lalu dan kini istrinya tengah mengandung. Laila menatap suaminya dengan pandangan dan hati yang berkecamuk antara malu dan marah jadi satu.
"Apa katamu?" kini Arimbi yang tak percaya dengan perkataan dokter itu.
"Papa, baba minggir!" titahnya dengan menyerobot dua tubuh besar itu.
"Iya, poligami adalah salah satu sunnah nabi. Jadi jika kau berperilaku seperti apa yang dilakukan nabi, maka surga adalah ganjarannya," ujar pemuda itu yakin.
Arimbi ingin sekali menampar pemuda di hadapannya ini. Tapi ia melihat Laila di sana hanya menatap sedih.
"Kau benar-benar membuatku muak!" ujar Budiman tak tahan.
Ia menyeret pemuda itu keluar dari pesta, Gomesh mengikutinya. Laila langsung khawatir.
"Dok biarkan dia ... sekali-kali kau membiarkan suamimu diberi pelajaran oleh orang lain," tahan Arimbi pada Laila.
Wanita itu mengelus perutnya yang tiba-tiba kram. Ia mengernyit menahan sakit.
"Dokter!"
Arimbi dan Nai langsung menahan tubuh Laila yang tiba-tiba limbung. Semua panik musik berhenti. Para dokter senior langsung menggiring Laila ke klinik perawatan.
Semua protes mereka merasa sudah ikut membayar mahal pesta ini.
"Jangan dibubarin dong!"
"Iya, makan malam aja belum datang!" teriak mereka.
"Jangan bubarin!"
"Ya ... ya!"
Akhirnya panita kembali melanjutkan pesta. Daud, Nai dan Arimbi sudah tak ingin berada di tempat itu. Mereka minta pulang.
"Daddy, pulang yuk," ajak Daud.
"Baba ama papa Gomesh belum datang!" peringat Nai.
"Ah ... biar mereka bisa pulang sendiri baby," ujar Virgou.
"Nggak mau, harus sama baba dan papa juga," rengek gadis itu.
Virgou mengalah. Akhirnya mereka duduk di sebuah meja bundar dan menikmati hidangan yang tersedia. Seorang mahasiswi yang memiliki keahlian khusus naik panggung.
"Halo selamat malam teman-teman are you ready!" pekiknya.
__ADS_1
"Ready!" semua berteriak.
"Dokter DJ cooming baby!"
Musik mulai terdengar keras. Semua bergoyang dan berjoged di bawah panggung. Ternyata inilah puncak acara. Makanan datang begitu juga minuman. Beberapa duduk sambil menggoyangkan badan mereka dan menikmati makanannya.
"Daud ... yuk disko!" ajak salah satu gadis.
Herman memelototi Daud. Remaja itu tersenyum dan ia menolak ajakan teman kuliahnya.
"Awas kamu macam-macam!" peringat Herman.
"Iya ayah!" sahut Daud.
Budiman dan Gomesh datang tetap dengan wajah datar dan dingin mereka. Para gadis menggoda mereka.
"Om ... yuk ONS!" kikik genit terdengar. "Aku masih perawan loh!"
Budiman sampai merinding mendengar permintaan salah satu gadis yang pastinya masih belia. Sedang Gomesh memilih menyumbat telinganya.
"Tuh mereka udah datang, ayo pulang!" ajak Virgou.
Akhirnya mereka pulang. Nai menyuapi Budiman dengan kue yang tadi sempat diambilnya. Sedang di mobil lain, Arimbi menyuapi Gomesh dengan roti yang juga ia ambil tadi.
Sampai mansion. Semua ibu masih menunggu kepulangan mereka. Para ayah sepakat untuk diam dan tidak menceritakan apa yang terjadi.
"Alhamdulillah, akhirnya kalian pulang," sambut Khasya.
"Kalian pasti belum makan kan?"
"Belum bunda," sahut kelima pria lelah.
Khasya langsung meminta semuanya untuk makan malam terlebih dahulu.
"Habis ini langsung isya ya!" titahnya.
Semua menyahut kecuali Gomesh. Pria itu langsung masuk kamar di mana istrinya berasa.
"Aku sudah tua juga ya" keluhnya sambil mengusap buku tangannya yang sedikit lecet.
"Kau sudah pulang sayang?" tanya Maria lalu memeluk suaminya.
"Iya sayang," ujar Gomesh membalas pelukan sang istri, ia telah berganti pakaian.
Netra gelap sang istri menelisik manik hitam suaminya. Hanya dengan menatapnya saja Gomesh akhirnya tak bisa menyembunyikan apa yang terjadi barusan. Ia pun menceritakan kejadiannya.
Sedang baik di kamar Virgou, Haidar dan Budiman. Mereka sudah ember duluan jika tadi ada yang begitu berani melamar Arimbi. Semua ibu kesal mendengarnya.
"Pake minta poligami segala lagi ma," ujar Haidar begitu kesal menceritakan hal tadi pada istrinya.
"Bagus ... biar dia tau rasa. Enak aja putriku mau dijadikan istri mudanya!" sahut Terra setuju perbuatan suaminya.
bersambung.
__ADS_1
et dah ... 🤦
next?