
Setelah mensahkan Adiba menjadi istri dari Satrio. Kini pemuda itu menggandeng kemanapun gadis itu.
Adiba yang penurut, sangat patuh. Gadis itu bahkan dengan manja memeluk tangan pemuda yang telah menjadi suaminya itu.
Kean, Calvin, Sean, Al dan Daud menatap saudara mereka yang sudah memiliki pasangan.
"Kita boleh nikah juga dong?!" celetuk Calvin yang membuat Virgou tersedak.
Mereka ada di mansion Bart. Semua akan berbuka puasa di sana.
"Kamu masih kecil Baby!" peringat pria sejuta pesona itu.
"Daddy, usiaku lebih tua tiga bulan dari Satrio!" ketus Calvin.
"Emang kamu udah punya calon?" tanya Sean.
"Belum sih," jawab Calvin.
"Pacaran kan kita nggak boleh!" lanjutnya malas.
"Kau mau apain anak orang?" ketus Haidar keki.
"Mama sama Papa aja dulu pacaran!" celetuk Al yang diangguki Sean dan Daud.
"Kita aja nih yang dilarang seolah-olah kita nggak bisa jaga diri dan kebablasan," lanjutnya setengah protes.
"Lalu kamu mau pacaran?" tanya Kean.
Semua diam, para pemuda itu tentu masih terlalu polos. Orang tua takut bukan apa-apa.
"Aku malah belum mau tuh punya pasangan," ujar Kean yang membuat Virgou lega.
"Maisya suruh nikah duluan aja. Aku minta pelangkah satu miliar!" kekeh Kean.
"Kakak mau jual aku?!" ketus Maisya cemberut.
"Eh ... yang mau jual siapa?" sungut Kean.
"Itu Kakak bilang tadi?!"
"Baby, kakak kan hanya bilang jika kau menikah kakak minta pelangkah satu miliar bukan mau menjualmu!' terang pemuda itu kesal.
Maisya cemberut, ia juga mau sembilan belas tahun. Gadis berotot itu kini menyender pada kakaknya Calvin.
"Affhan ada cewe yang Affhan suka," celetuk Affhan.
"Siapa?" tanya Virgou marah.
"Daddy!" protes semua pemuda.
Virgou mendumal kesal. Herman menatap pria itu kesal.
"Putramu juga sudah besar. Kau sudah tua Virgou!" peringatnya.
"Ayah ... dia masih kecil!" protes Virgou.
"Dan kau masih muda?!" ketus Herman memutar mata malas.
Virgou cemberut, semua anak tengah bermain. Mereka melupakan pernikahan yang baru terjadi kemarin.
Satrio duduk dengan Adiba di sisinya. Hal ini membuat Demian meledek pengantin baru itu.
"Cie ... cie ...," Adiba malu dibuatnya.
"Gimana rasanya udah bobo bareng?"
"Mas!" peringat Lidya.
"Belum ngapa-ngapain Pa," sahut Satrio santai.
"Ah masa?" tanya Demian tak percaya.
__ADS_1
"Kemarin kau menatapnya seperti ingin menelan dia hidup-hidup!" ledek Demian lagi.
"Assalamualaikum!"
Zhein datang bersama istri dan anak-anak. Muka pria itu cemberut karena tidak diberitahu perihal pernikahan Satrio.
"Salahmu sendiri jarang datang!" ketus Herman melotot.
"Ayah ... Raka baru aja menang tender besar. Ayah tau kan kalo anak itu sangat baik hati sampai dimanfaatkan orang lain?!" ketus Zhein.
"Jangan jadikan alasanmu menjaga Raka. Kau melarang Karina dan anak-anak bermain bersama saudaranya!"
"Ih ...."
"Memang tuh Mas ... anakmu itu sampai lupa jika ada lima ponakannya di sini!" sindir Kanya.
"Aku sih tak peduli, Gino, Lilo, Seno, Verra dan Dita berkecukupan di tanganku!" sahut Haidar cepat.
"Jangan khawatir Papa. Ada Demian di sini!" sahut Demian.
"Jac juga ada!"
Zhein merengek, pria itu memang salah. Tak lama Raka datang bersama istrinya membawa satu kado besar. Hal itu membuat semua perusuh paling junior protes.
"Tado puwat atuh bana?!" tanya Maryam.
"Pita butain laja!" usul Fathiyya.
"Baby itu bukan punya kamu!" peringat Gisel.
"Mommy atuh inin hadiah!" protesnya.
"Nanti Papa Raka belikan mau?" tawar Raka.
"Yang ini buat Satrio dan istrinya ya!"
"Ck ... syelalu pedhitu!" ketus Aisya mencebik kesal.
"Ata' Syasyad ... pesot pita meunitah yut pial bapat tado!' ajaknya yang membuat Lidya membelalakkan matanya.
"Atuh sama spasa?" celetuk Aaima.
"Kamu sama Kakak Baby!" sahut Azha santai.
"Oteh!" angguk Aaima.
Jac melirik David, pria yang dilirik hanya mengulas senyum lebar. Pembicaraan para perusuh membuat semua ibu khawatir.
"Kenapa mereka jadi lebih dewasa ketimbang Kean!" keluh Puspita.
"Baby Ella apa kamu udah punya pacar?" tanya Dewi.
"Bu'lek nanya?" cibir Ella.
"Coba aja kalo berani!" celetuk Bastian melirik tajam pada kakaknya itu.
"Emang Bu'lek boleh pacaran?"
"Bu'lek nggak mau pacaran!' tolak Dewi.
"Mas Dimas?" Dimas juga menggeleng.
"Atuh pasalna Jenjel!" celetuk El Bara.
"Atuh Paypi Siela!" kali ini Al Bara menunjuk tangannya.
Xierra yang disebut namanya menoleh. Lalu bayi itu menakup pipi dan menggoyangkan pinggulnya.
Sedang sepasang pengantin baru hanya duduk berhimpitan sambil menggenggam tangan. Satrio ingin sekali mencium Adiba, tapi ia takut sendiri.
"Maaf ya sayang," ujar pemuda itu berbisik.
__ADS_1
"Maaf kenapa Mas?" tanya Adiba bingung.
"Maaf kalau Mas belum bisa menjalankan tugas sebagai suami," ujar pemuda itu yang tidak dimengerti oleh Adiba.
"Maksud Mas?"
"Malam pertama," jawab Satrio.
Blush! Muka Adiba mendadak merah laksana kepiting rebus. Tangan Satrio mengangkat genggamannya lalu mengecup buku tangan sang istri.
Kegiatan mesra mereka menjadi perhatian orang tua. Rion sudah mengajak semua perusuh menjauh dari orang tua dan kini mulai bermain.
"Ayah bisa mensurvei Exel jadi calon mantu!" celetuk pemuda itu ia melirik Dewi.
"Tidak sekarang!" tukas Herman.
"Fio apa bisa mendaftar untuk Nona Maisya?" Fio tiba-tiba bersuara.
"Kau bilang apa?" Gabe menatap horor pemuda yang berusia dua puluh empat tahun itu.
"Untung putra dan putriku masih kecil!" sahut David mengelus dada.
Putranya baru enam tahun, sedang Aliya Rinjani baru empat tahun. Seruni belum dikaruniai anak lagi padahal ia tidak melakukan program keluarga berencana.
"Gomesh!" teriak Virgou.
"Cari tau semua tentang Fio dan Exel!" perintahnya.
"Tuan, Baby Mai dan Baby De masih kecil!" protes raksasa itu.
"Ck!" Virgou berdecak kesal.
Gomesh membungkuk dengan wajah ditekuk. Maisya mendekati ayahnya.
"Dad ...." gadis itu berbisik pada Virgou.
"Kau yakin?" gadis itu mengangguk.
"Daddy hanya akan menikahkan mu dengan orang yang Daddy kenal!" tekan Virgou.
"Daddy!" rengek Maisya.
"Baby ... Iqbal bukan tipe kamu. Dia anak mami!" terang pria itu.
"Kami juga anak mami!" celetuk Calvin yang diangguki semua saudaranya.
"Tidak!" tolak Virgou tetap pada pendiriannya.
"Dengan Fio atau tidak sama sekali!" lanjutnya.
"Virgou!" sentak Herman, Haidar dan Gabe bersamaan.
"Elle juga mau menikah muda dong!" sahut Ella.
Gabriela Putri Dougher Young seusia dengan Adiba. Gadis itu iri karena Adiba sudah dipersunting kakak idamannya.
"Kak Satrio udah milih Adiba dari awal," lanjutnya lirih, ia patah hati.
Gabe baru tau jika putrinya menyukai Satrio. Herman memeluk gadis itu. Walau Ella dan Satrio boleh menikah. Tetapi, mereka sangat dekat karena Terra adalah keponakan langsung Herman.
"Mungkin Baby mau sama Dimas?" tawarnya.
"Nggak mau!" tolak Ella dan Dimas bersamaan.
"Sudah jangan jodohkan mereka. Biar mereka cari sendiri jodohnya!" ujar Bram.
"Hei ... kalian mau kemana?!" teriak Rion ketika melihat Satrio membawa istrinya ke kamar.
"Ini masih puasa woy!" lanjutnya nyinyir.
Bersambung.
__ADS_1
Lah papa baby ... 😁🤦
next?