SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
Sang Pewaris 87 Aku??Setan??


__ADS_3

Andika berjalan terseok-seok diarea Pemakaman Umum,Ia didampingi sopir pribadinya.Karena tadi supirnya mengantar Bu Lastri kesini, pasti dia tahu dimana letak makam Pak Hans.


"Itu Tuan Muda"Si Supir menunjuk gundukan tanah yang masih basah.Andika begitu susah payah untuk mencapai tempat yang dituju.Ia berjongkok menatap nanar batu nisan yang bertuliskan HANS PRASETYO ADJIE.


"Pa, tidak pentingkah diriku sehingga saat kamu tiada tak ada yang mengabariku?aku belum sempat memohon ampun padamu atas semua kesalahanku.Kini aku sadar Pa,banyak sekali kesalahan-kesalahan yang telah aku lakukan.Tapi tak pernah sekalipun kamu menghakimi ku."


"Sekarang aku harus bagaimana?Aku tidak tahu harus minta pendapat siapa lagi? Apakah Abang Zul masih mau perduli denganku?Aku terlalu malu untuk menemuinya Pa"


Andika mencekram sebagian tanah merah itu,Ada rasa sakit di ulu hatinya atas kepergian Sang Papa.Di dalam hatinya timbul pertanyaan apa penyebabnya Sang Papa meninggal? Benarkah dibunuh seperti apa yang Mamanya katakan? Rasanya tak mungkin Zulkarnain yang melakukan?Andika bertekad ingin mencari tahu,ia melambai memanggil sopirnya.Lalu minta tolong agar ia diantar ke Villa.


__"Raya,,,"Dengan suara yang lemah Andika memanggil adiknya yang terlihat duduk menelungkupkan wajahnya diantara dua lengannya.Soraya mendongak begitu pun semua orang yang duduk mengitar diruang tamu.


"Kak Dika??"Soraya bangkit,ia bergegas menyambar tubuh kakaknya yang terlihat lemah lunglai."Kakak kenapa?"


"Aku sakit"Jawab Andika, suaranya hampir tak terdengar.


"Sakit?? sakit apa Kak?"


"Nanti aku cerita, sekarang aku lapar,boleh aku makan?"Soraya menatap Zulkarnain,dari wajahnya nampak sekali ia ingin tertawa.

__ADS_1


Zulkarnain memberi kode kepada Mumun untuk mengambilkan Andika makanan.


Soraya dengan telaten menyuapi Kakaknya makan,Andika terlihat benar-benar lapar.Ia makan dengan sangat rakus.Setelah menegak air putih,ia bersendawa.Sangat nyaring didengar membuat beberapa orang yang ada disitu jadi risih.


"Sekarang tolong Kakak cerita, kenapa Kakak bisa begini ? terus kenapa tidak datang di acara pemakaman Papa?"Soraya bertanya tanpa jeda.


"Aku nggak tahu Raya kalau Papa meninggal,Mama nggak ngasih tau aku.Hanya disaat aku bertanya dia habis dari mana, baru dia menjawab kalau habis dari TPU"


Soraya menghela nafas pelan"Papa meninggal karena apa?"Andika menyambung kalimatnya.Ia menatap Zulkarnain ingin tahu jawabannya.Tapi Zulkarnain hanya diam tak bergeming.Ia tidak tahu harus menjelaskan mulai dari mana.Yang jelas ia tak tahu pasti Pak Hans meninggal karena apa?


"Apa benar Papa meninggal karena dibunuh?"Pertanyaan Andika sontak membuat orang yang ada di ruangan itu menjadi tegang.


"Mama"Andika menjawab dengan jujur.Soraya menahan nafas,ia tak percaya Mamanya akan mengatakan hal seperti itu."Katanya kamu Bang yang bunuh Papa, benarkah itu?"


"Aku?"Zulkarnain menunjuk diri sendiri.Andika mengangguk lemah.Semua orang saling berpandangan satu sama lain.


"Kak,kakak sebenarnya sakit apa sih?"Soraya mengalihkan pembicaraan.


"Aku??aku lihat setan Raya,di rumah ini.Dan setan itu ikut aku sampai ke Paviliun.Aku takut "Andika bergidik ngeri mengingat peristiwa itu.Soraya mengangkat alisnya seperti tak percaya.

__ADS_1


"Nggak ada kerjaan tuh setan ngikutin kamu sampai ke Paviliun Kak"Seloroh Soraya.


"Itulah, tapi sekarang udah nggak ada.Mungkin setannya dibawa pergi sama Papa"Ucapan Andika membuat orang-orang sekitar menahan tawa termasuk Soraya."Aku serius Raya,Kalian semua pasti pada nggak percaya kan?kan?"Andika menuding semua orang.


"Iyalah karena kalian nggak pernah ngalamin "Sambung Andika.


"Busyet..aku dijuluki setan"Lucy berucap dalam hati.


"Dika"Zulkarnain yang semula diam,kini membuka suara."Sebaiknya kamu istirahat dulu, dilihat dari wajahmu sepertinya kamu sudah beberapa hari nggak tidur "


"Bener Bang,aku nggak bisa tidur karena selalu diganggu setan sialan itu"


"Ya udah ayo aku antar ke kamar kak"Soraya mengajak Andika masuk.Ia khawatir semakin lama Andika disitu akan semakin ngelantur.


"Tapi gimana kalau setannya datang lagi Raya,aku takut"Andika menahan tangan adiknya yang ingin menggandengnya masuk.


Lucy sudah tak tahan lagi,ia bangkit dan tanpa ba-bi-bu ia menjitak kening Pamannya itu.


Soraya terpana melihat adegan itu,yang lebih gilanya.Andika langsung tidak sadarkan diri.Ia yang belum tahu apa-apa tentang Lucy jadi keheranan.Padahal jitakan Lucy tidaklah kuat sangat,tapi Andika tepar.

__ADS_1


"Maaf Tante aku sudah tidak tahan lagi "Selesai berkata demikian,Lucy beranjak pergi.Lisa mengekor dibelakang adiknya.


__ADS_2