SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
LIBURAN


__ADS_3

Minggu pagi, mansion Bart ramai dengan manusia. Para orang tua sedang menyaksikan anak-anak yang tak ada habis ide untuk mengocok perut mereka.


"Mashaallah," ucap Fery mengelus perutnya yang sudah kram.


"Kenapa mereka tak kehabisan ide ya?" lanjutnya gemas sendiri.


"Kita tak perlu jauh-jauh pergi ke tempat hiburan atau apa, kita sudah mendapatkannya di sini," sahut Basri yang mengurut pipinya.


"Mumi ... Alsh au soslat!" pekik Arsh.


Bayi mau sepuluh bulan itu melihat Dahlan membagikan coklat pada Samudera.


"Sabar Baby, ini ada kok sama Kakak. Kalian pasti kebagian," ujar Samudera yang menerima coklat.


Usai mengucap terima kasih pada Dahlan. Coklat-coklat itu langsung dibagikan.


"Ayo bilang apa sama Abi?" suruh Azizah.


"Patashi Api!" teriak para perusuh paling junior.


Semua tak sabar membuka bungkus coklat itu. Lagi-lagi Della yang menjadi tempat para bayi meminta tolong. Karena Della bisa membukanya dengan baik.


"Sini Kakak bantu," ujar Sky yang membantu Della membuka bungkus makanan itu.


Hanya dalam sekejap makanan manis itu pun habis. Semua mulut bayi celemotan. Basri membersihkan mulut mereka dengan tisu.


"Jadi kapan Mas Bas tinggal di sini?" tanya Fery.


"Mas Beny dan Mbak Neni sudah tinggal di sini loh," lanjutnya.


"Aku sih mau tinggal di sini, karena memang lebih banyak. Tetapi, putraku tak membolehkan aku. Jadi kemungkinan aku dan Shama bergantian tinggalnya," jelas Basri.


Fery mengangguk, ia dan Mia hanya memiliki satu putra. Jadi tak ada yang merawatnya selain Gisel. Walau menantunya seorang CEO di perusahaan putranya. Gisel tetap memperhatikan keperluan mertuanya itu.


"Mba Sriani juga sudah pindah ya?" tanya Mia pada Sriani.


"Iya, Gabe senang. Tapi anak itu sangat membuatku sedikit kesal. Katanya, aku bisa jadi penjaga anak-anak!" jawabnya dengan wajah kesal.


"Untung Ella, Bastian, Billy dan Martha sudah besar ya?" sahut Nania, ibu dari putri.


"Bayangkan jika mereka seusia Aaima," lanjutnya sedikit menghela napas panjang.


"Ah ... apa lagi yang cucumu lakukan Mba? Lemari mana lagi yang dia panjat?" tanya Neni begitu gemas akan tingkah laku bayi perempuan.


"Kemarin dia nyaris masuk kitchen set. Entah bagaimana ia bisa naik ke atas. Jika saja Kakeknya tidak berteriak, mungkin kami mengira dia disembunyikan Wewe gombel," jelas Nania.


Semua menggeleng kepala. Arsh adalah bayi super kepo. Ia mendengar istilah baru dari mulut para orang tua yang ia rasa menggosipi dirinya dan saudara-saudaranya.


"Ata' Ima ... Ata' Ima!" panggilnya.


"Pa'a Paypi?" sahut Aaima.


Semua bayi mendadak berkumpul. Harun dan lainnya ikut mendengarkan apa yang hendak dikatakan bayi paling rusuh itu.


Melihat semua kakak-kakaknya mengerumuninya. Arsh mengerutkan kening.

__ADS_1


"Ata'pemua papain?" tanya bayi itu sambil melihat kakak-kakaknya satu persatu.


"Denelin tamuh nomon Paypi, piayasana tamuh bunya pinpo bentin," jawab Harun.


"Oh," Arsh mengangguk.


"Ata' ta sisosopin mama lan wuwa woh!" adunya.


"Pitosyipin teunapa?" tanya Bariana sampai mengerutkan kening.


"Ata Netnet Ata' Ima lo Ata' bumpet ma ewew ombel," jawabnya.


"Spasa ipu ewew pompel?" tanya Arraya bingung.


"Alsh ndat au," Arsh mengendik bahu.


Semua bayi menatap orang tau yang tadi membicarakan mereka. Tentu saja membuat semuanya tak bisa berkata apa-apa. Nania yang sangat kesal dengan mulutnya yang bicara sembarangan.


'Ah ... kenapa mulut ini bicara itu!'


"Pudah, pita tat atan peuntapat sawaban talo pihat pama wowan puwa," ujar Arion yang sangat mengerti.


"Tlus pita beunasalan tayat dhini peulsanya pama spasa?" tanya Azha gusar.


"Tundhu Pulu!" ujar Arion tiba-tiba.


"Baby Alsh pilan, Baby Mima pitumpetin spasa?" tanyanya lagi.


"Sewe sompel!" jawab Harun.


"Pewe bombel!" jawab Bariana.


Terra mendengar teriakan itu. Ia sangat kesal dengan siapa yang mengatakan hal baru pada para bayi super kepo itu.


'Ck ... anak sialan aja mereka masih ingat apa lagi ini Wewe gombel!" gerutunya dalam hati.


"Ah atuh pahu spasa ipu sewe pompel!" teriak Arraya.


"Spasa?" tanya semuanya begitu penasaran.


"Talo tata Pi Lela, sewe tompel ipu yan suta pumpetin nanat teusil!" jawabnya.


"Wah ... tot pisa?" tanya Al Bara. "Pumpetinna pimana?"


"Eundat pahu, tatanya bi tampun Pi Lela. Ada anat yan lilan plus peutemu pi putan pampu!" jawab Arraya yang sangat mengingat kisah seru salah satu maid di rumah ibunya.


"Tatana pibumpetin sewe tompel ipu!" lanjutnya lagi.


"Tot syelem ya?" sahut Aminah lalu menggosok tengkuknya.


Semua anak-anak terdiam, Kean sangat senang dengan hal yang juga baru ia ketahui itu. Remaja itu tiba-tiba kepikiran untuk mengetahui apa itu Wewe gombel. Hanya saja, Kean tidak menggunakan ponsel pintarnya untuk cari tau.


"Papa Felix!" panggilnya.


"Apa sayang?" sahut pria yang tengah berjaga.

__ADS_1


Kean keluar dari ruang tengah yang di mana adik-adiknya berkumpul. Remaja itu menanyakan apa yang baru saja ia ketahui. Felix menggaruk kepalanya.


"Apa Papa!?" desak Kean bertanya.


"Papa juga nggak tau Baby," jawab pria itu dengan wajah menyesal.


Kean memang sangat polos, tetapi remaja itu bukan anak yang begitu mudah dibohongi. Kean termasuk sangat cepat melihat perubahan ekspresi wajah seseorang bahkan ia mampu membaca karakter orang tersebut.


"Papa jangan bohong. Kean aduin sama Babies loh!" ancamnya.


"Babies Papa Felix tau loh Wewe gombel itu apa!" teriaknya langsung.


Semua bayi tentu langsung mengerubungi pria itu dengan tatapan menuntut. Terra langsung uring-uringan dengan sosok yang bicara sembarangan.


"Kenapa kau menatapku!?" dumal Bart kesal.


Terra berdecak, wanita itu sudah menuduh jika kakeknya itulah biang utama kerusuhan para bayi. Sedang Nania memilih menyelamatkan diri dan membiarkan Bart menjadi sosok tertuduh itu..


Kini semua anak tidur, malam telah larut. Semua nenek telah memeriksa cucu mereka. Luisa kini senang karena Mawar, Lia dan Arini mau ikut tidur bersamanya, Andoro sang suami terbang ke Eropa untuk mengambil beberapa data, Zack bersamanya. Jadi Luisa tak mengkhawatirkan suaminya lagi.


Mereka semua menginap di mansion Bart. Pria itu duduk dalam kesendiriannya di balkon. Widya dan Seruni baru saja memeriksa semua bayi-bayi, melihat pria paling tua di sana. Keduanya mendekati Bart.


"Grandpa," panggil Seruni.


Widya menyampirkan selimut ke tubuh pria itu. Bart mengucap terima kasih.


"Sudah malam, kenapa Grandpa di sini?" tanya Seruni lagi.


"Tidak ada apa-apa sayang," jawab pria gaek itu.


"Jangan bohongi kami Grandpa, ceritakanlah," ujar Widya kini.


Kedua wanita itu membawa masuk tubuh Bart, ke kamar pria itu. Bart menurut, ia tentu tak mau keduanya khawatir.


"Tidurlah Grandpa, jangan pikirkan macam-macam. Jangan tanyakan kapan Tuhan memanggil. Perbanyak ibadah dan yakin hari itu pasti tiba," ujar Seruni yang seakan membaca pikiran kakek dari suaminya itu.


"Aku hanya takut sayang," jawab Bart jujur.


Seruni dan Widya mencium kening Bart bergantian. Pria gaek itu bahagia bukan main. Di masa tuanya, ia tak menyangka masih melihat banyaknya keturunan yang lahir. Bahkan semua kini menyayanginya.


"Wajar jika kita takut," ujar Widya kini.


"Mintalah pada sang khalik Grandpa, jika kita akan bersatu di surga-Nya Allah," lanjutnya.


"Aamiin,"


Bart tertidur dengan tersenyum, ia sudah berusia sembilan puluh lima tahun, lima tahun lagi akan menuju satu abad usianya.


"Semoga usiaku panjang seperti Labertha, aamiin," doanya penuh harap.


Bersambung.


Aamiin.


Halo Readers ... mohon maaf ya dari kemarin hanya satu. Othor lagi sibuk.

__ADS_1


Makasih atas pengertiannya. Ba bowu 😍


next?


__ADS_2