SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
AQIQAH BESAR-BESARAN


__ADS_3

Bagaimana jika orang paling kaya mengadakan aqiqah? Herman menunjukkan kekayaannya dengan menggelar aqiqah di sebuah hotel dengan mengundang dua ribu anak yatim piatu dari berbagai yayasan panti sosial. Banyak wartawan berdatangan hanya untuk melihat seperti apa acara aqiqah terbesar itu.


Dekorasi Ballroom yang indah dan mewah, banyak kursi di sana. Herman juga mengundang salah satu ustadz ternama ibukota untuk mengisi tausiyah.


Semua anak ikut duduk bersama anak yatim lainnya. Bayi-bayi yang hendak diaqiqah diletakkan dalam boks dekat orang tua mereka masing-masing.


"Ayo kita marhaban!" ajak ustadz.


Semua melantunkan marhabanan. Para perusuh begitu antusias mengumandangkan marhaban. Ustadz sangat senang melihat para bule yang begitu fasih. Bariana dan semua saudaranya yang lain bahkan hafal.


"Ayo Kakek, Nenek, Papa, Mama. Potong rambutnya ya," ujar Ustadz.


Pria itu menggunting rambut pada bayi lalu diikuti oleh orang tuanya. Usai gunting rambut. Acara makan bersama. Semua makan dengan meja secara kelompok.


"Balo .... namana spasa?" tanya Harun pada salah satu anak.


"Halo ... nama atuh Dede," jawab salah satu anak panti.


"Nama atuh Alun, imi sodala-sodala atuh, Azha, Aya, Ayi Baliana!" sahut Harun memperkenalkan diri dan juga saudaranya.


"Atuh Balyam, imi Aisya, Fatih, Al Bala, El Bala, Alsad, Alshata, Aaima Pama Fathiyya!" Maryam memperkenalkan juga diri dan semua saudara seumurannya.


"Talian banat ya," ujar Dede kagum.


"Atuh judha banat solada," lanjutnya menatap semua saudara sepantinya.


"Mama syama Papa tamu pudah menindal?" tanya Fathiyya langsung.


"Biya, tata Bunda panti, pemuana eundat bunya Papa dan Mama .. hiks!" isak Dede.


"Yan syabal ya ... pemoda tamuh tuat. Papa syama Mama tan udah di syuldana Allah," sahut Arraya bijak.


"Biya, tata Bunda Panti judha pilan bedhitu," sahut Dede tersenyum.


Akhirnya pembagian kotak hadiah. Lagi-lagi para perusuh senior dan junior mengantri. Saf berkacak pinggang melihat semua adiknya yang mengantri.


"Kak ... kita mau kotak hadiahnya!" rengek Kean sampai merajuk.


"Memang apa hadiahnya?" tanya Azizah penasaran.


"Kita nggak tau Kak. Makanya kita ikut ngantri," jawab Nai.


Azizah pun menyempil di antara semua adiknya, ia jadi ikut penasaran dengan hadiah yang didapat anak yatim. Karena banyaknya manusia tak ada yang sadar jika anak-anak mengantri. Rion pun kecarian istrinya.


"Sayang!?" panggilnya.


Hingga ketika Kean sampai pada Bram. Pria itu sampai tak mengenali cucunya sendiri karena terlalu banyak manusia.


"Papa jangan kasih anak itu!" teriak Kanya.

__ADS_1


Kean cemberut, padahal ia sudah menutup wajahnya dan memakai kontak lensa warna hitam agar tak kelihatan mata birunya. Kanya mendekat.


"Kalian semua keluar barisan!" titah Kanya galak.


"Oma!" rengek semua perusuh terutama perusuh senior.


"Oma eundat asyit lah ... pita tan bawu judha!" protes Arsyad.


"Oma bilang kalian keluar barisan. Kasihan yang benar-benar harusnya dapat!" titah Kanya lagi.


"Azizah ngapain kamu di situ juga!" teriak Kanya lagi ketika menyadari jika salah satu istri cucunya ikut mengantri.


Rion yang baru tau jika istrinya ada di dalam antrian langsung menarik wanita itu dan semua adiknya pun akhirnya ikut keluar barisan dengan wajah cemberut.


"Dari sekian banyak antri, hanya sekali loh kita dapat!" gerutu Sean kesal.


"Iya, mana kita penasaran lagi apa isi paper bag itu!' sahut Daud ikut-ikutan.


Kanya hanya menghela napas panjang. Padahal jika mereka ingin beli juga bisa. Tetapi itu lah uniknya perusuh keluarga itu. Dari Kean bayi sampai besar begini. Masih ikut antri jika ada pembagian hadiah.


"Oma eundat asyit!" cibir Arraya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Ma dat sitsit!" Arsh ikut-ikutan marah pada Kanya.


Wanita itu gemas bukan main, ia pun mencium perut semua bayi. Bahkan Kean juga tak luput dari kelitikan Kanya.


"Oma ... ampun!" teriak Kean manja.


Acara selesai, mereka kini semua berkumpul di ballroom itu. Pintu tertutup beberapa wartawan mewawancarai Herman selaku pemilik pesta. Sari dan Bimo yang anaknya lahir bersamaan ikut serta dirayakan sedang yang lain masih belum dilahirkan oleh ibu mereka. Anak angkat Herman menjadi trending karena begitu banyak.


"Tuan, apa tidak repot dengan semua keturunan yang begini banyak?" tanya salah satu wartawan.


"Tidak, mereka yang harus mengingatku sebagai orang tua. Jika aku lupa, wajar karena usiaku yang tua pasti tak mengingat mereka semua," jawab pria itu.


"Tuan apa anda akan memperlakukan khusus pada semua keturunan anda?" tanya wartawan lagi.


"Tidak. Mereka memiliki orang tua masing-masing. Jadi itu tanggung jawab mereka. Peran saya hanya memberi saran dan nasihat," jawab Herman panjang lebar.


Bimo, istri dan kedua mertuanya pamit. Mereka mengucap terima kasih. Ibu dari istri Bimo mencari tiga adik yang selalu dibawa oleh pria itu.


"Lana, Leno dan Lino kok nggak pernah datang ke rumah ibu?" tanyanya sedih.


"Maaf Bu. Kami udah tinggal sama kakak angkat kami, Kak Azizah," jawab Lana.


Wanita itu mengelus kepala gadis kecil itu. Ia memang sayang dengan ketiganya. Akhirnya Bimo pulang. Felix juga membawa istri dan juga putrinya yang baru saja diaqiqah oleh Herman. Pria itu mengucap terima kasih pada pria itu.


"Ayah ... makasih ya, udah buatin pesta aqiqah. Jadi hemat budget sayanya," ujar pria itu yang langsung dihadiahi pukulan oleh Khasya.


"Bunda," rengek Felix.

__ADS_1


"Jangan buat Ayahmu marah!" bisik wanita itu.


Felix melipat bibirnya. Hendra juga membawa Anyelir bersamanya pulang dengan putranya yang juga diaqiqah bersama anak-anak tuannya. Pria itu merasa beruntung mendapat rejeki itu.


"Ayah, nanti anakku lahir juga diaqiqah seperti ini ya," pinta Ricky.


"Enak saja kau!" sahut Herman.


"Ayah ... pilih kasih!" cemberut pria pengawal itu.


"Astaga ... apa kau membuatku bangkrut!" pekik Herman kesal.


Semua anak angkat Herman memeluknya, memberikan ciuman di pipi pria itu.


"Kami sayang Ayah!"


"Aku juga menyayangi kalian!" sahut Herman.


Tak lama, mereka semua sudah sampai di mansion Bram. Dominic belum mendapatkan hunian barunya. Semua mansion yang ditunjuk Virgou ditolak oleh pria itu, hingga Virgou kesal dan menyuruh Dominic mencari sendiri.


"Grandpa, Virgou masa nggak mau nolong saudaranya!" adu Dominic.


"Siapa yang nggak mau bantu!" sela pria sejuta pesona itu.


"Kau tak mau membantuku!' jawab Dominic.


"Kutembak kepalamu!"


"Virgou!" sentak Kanya.


"Ma ... apanya yang nggak mau bantu Aku udah nyari. Lima Ma ... lima!" teriak Virgou tak terima.


"Iya tapi jaga ucapanmu. Kau lupa semua anakmu itu!" tunjuk Kanya pada para perusuh.


Virgou kesal melihat Harun dan lain-lain menatapnya seakan menelan kata-kata yang dikeluarkan dari mulut para orang tua.


"Kalian ... ayo pergi tidur!" titah pria beriris biru itu.


"Daddy ... embat ja ... don ... don!" sahut Arsh mengacungkan jarinya dengan gaya menembak.


"Aaaahhh ... Daddy kena!" Virgou berdrama jatuh ala film India.


"Selbu Daddy!" pekik Harun mengomando.


Semua bayi menerjang pria itu hingga timbullah gelak tawa semuanya.


bersambung.


Ah ... bahagianya.

__ADS_1


next?


__ADS_2