
Rumah baru Rion dan Azizah belum komplit. Mereka kini tinggal di mansion Virgou, semua adik Azizah dibawa serta, termasuk Ari, Lana, Leno dan Lino. Ari kini dalam gendongan Dahlan, pria itu turun tangan dalam mengamankan kepindahan Rion ke rumah barunya.
“Ari!” panggil Alim.
“Ali syama Om Pahlan Ata’!” pekik Ari.
Aminah dalam gendongan Adiba. Mereka turun dan langsung masuk sebuah paviliun yang dulunya tempat Gomesh dan istri. Mereka langsung masuk kamar dan berganti baju. Azizah menyiapkan makan siang untuk keluarganya.
“Tuan Baby mana, Zah?” tanya Dahlan lalu menurunkan Ari dari gendongannya.
“Mas Baby tadi ke kantor Ketua,” jawab gadis itu.
“Ketua sudah makan?” Dahlan mengangguk.
“Sudah tadi, dibawain bekal sama istri,” jawab Dahlan dengan wajah merona.
“Cie ... yang udah punya istri,” goda gadis itu.
“Ck ... dasar kau ini,” gerutu Dahlan kesal.
Azizah terkekeh mendengarnya, gadis itu menyuruh pria itu utuk makan siang bersama. Bau harum masakan Azizah membuat semua pengawal meminta makan pada gadis itu. Virgou yang melihat keramaian di paviliunnya langsung marah.
“Tuan, kami minta makan sama Dik Azizah,” rajuk para pengawal.
“Kamu kira ini rumah makan apa?” sahut pria sejuta pesona itu kesal.
“Daddy,” peringat Azizah sambil tersenyum.
“Azizah masak banyak, jadi nggak masalah,” lanjutnya.
“Makasih Dik!” seru para pengawal.
“Panggil dia Nona!”
“Nggak mau!” tolak Azizah langsung.
“Baby!”
“Maaf Daddy, Azizah lebih suka dipanggil Adik dibanding Nona,” sahut Azizah beralasan.
Virgou berdecak kesal. Ia juga ikut makan bersama para pengawal dan juga adik-adik Azizah. Usai makan Azizah meminta semua adiknya tidur siang. Gadis itu membersihkan semua ruangan mengganti sprei di kamar utama.
__ADS_1
Azizah merona ketika membersihkan kamar, pikirannya melayang ke sebuah peristiwa intim tadi pagi. Gadis itu menggeleng pelan, ia harus mempersiapkan diri jika Ion nanti meminta haknya sebagai seorang suami.
“Tapi Mas Baby polos banget. Pasti nggak akan terjadi apa-apa selain ciuman tadi pagi,” monolognya.
Gadis itu menatap ranjangnya, lagi-lagi pipinya merona membayangkan sesuatu yang kan terjadi nanti dan seterusnya di ranjang itu. Untuk menghentikan fantasi liarnya, Azizah memilih pergi meninggalkan kamarnya sebelum ia menjadi gila.
Tak terasa hari mulai malam, Rion pulang dalam keadaan lelah, tentu ia pulang ke paviliun Virgou. Haidar mengingatkan putranya itu pulang ke rumah di mana istrinya menunggu.
“Iya Pa, Ion tau kalau udah beristri,” ujar pemuda itu.
“Mas mau mandi?” tanya gadis itu mencium punggung tangan suaminya.
Anak-anak sudah tidur di kamar mereka. Ajis dan Adiba sangat senang memiliki kamar sendiri. Azizah memisahkan kamar anak laki-laki dengan anak perempuan. Lana dan Aminah tidur di satu kamar begitu juga Amran, Alim, Ahmad, Leno dan Lino juga satu kamar.
Rion tak menjawab pertanyaan istrinya. Azizah memaklumi itu, sang suami sangat lelah. Gadis itu hanya menyiapkan semua pakaian Rion, bahkan tak ragu menaruh pakaian yang paling pribadi. Usai mandi, pemuda itu hanya mengenakan handuk menutupi bagian bawahnya.
Otot dada dan perut yang tercetak sempurna hingga menciptakan petakan di perut Rion, membuat Azizah menelan saliva. Gadis itu memalingkan wajah pura-pura sibuk mencari sesuatu. Lalu ia beranjak menuju kamar mandi.
“Mau kemana?’ tanya Rion menarik tubuh istrinya.
Jantung Azizah seakan berhenti berdetak. Tubuh Rion yang basah dan harum sabun menguar membuat pikiran gadis itu kemana-mana.
“Mau ke kamar mandi ambil pakaian kotor,” jawab Azizah setengah berbisik.
“Sayang,” panggilnya dengan suara serak.
Azizah nyaris pingsan mendengar panggilan suaminya yang begitu menggoda. Dua netra saling berhadapan. Rion membantu istrinya membuka baju, Azizah mengenakan kaos oblong. Rona merah menyeruak, Azizah menutup matanya karena tak sanggup memandang suaminya.
“Buka matamu sayang,” pinta Rion.
“Aku ingin melihat indah matamu ketika kita melakukan ritual ini,” rayunya.
Azizah membuka matanya yang berat karena genangan di sudut matanya. Rion mengecup lembut kedua mata sang istri bergantian, lalu kecupan itu turun di hidungnya kemudian merambah, Rion perlahan memagut manis bibir sang istri yang sudah menjadi candunya.
Entah bagaimana, kini tubuh Azizah sudah tanpa sehelai benang. Rion memandunya ke ranjang yang tadi baru saja diganti spreinya. Pemuda itu menatap kulit putih bersih milik istrinya, ia mengusapnya, sang istri hanya merinding menerima usapan itu.
“Lukanya panjang sekali,” ujar Rion ketika mengusap bekas luka Azizah.
Dari paha hingga betis, lebih dari seratus jahitan untuk menutup luka yang menoreh kaki kanan gadis itu. Rion membayangkan kejadian yang nyaris membuat salah satu adik kesayangannya terluka. Pemuda itu mengecup pelan luka yang menoreh kaki istrinya.
“Mas Baby,”
__ADS_1
Azizah tak mampu lagi membendung buncahan gairah sang suami. Ia pun terhanyut dalam buaian dan cumbuan Rion. Pemuda itu mengandalkan instingnya sebagai laki-laki normal. Hingga ketika titik puncak penyatuan. Lenguhan keluar dari dua mulut pasangan halal itu.
“Buka yang lebar sayang,” pinta Rion. “Ini sempit banget!”
“A-apanya ... hhh ... yangh dhibukha?” tanya Azizah menanamkan kukunya di punggung Rion.
“Aarrgghh!” erang keduanya.
Tubuh Azizah melenting laksana busur panah ketika Rion berhasil menanamkan seluruh benda pusaka. Keduanya mulai mengayun mengarungi ombak cinta. Peluh membasahi tubuh pasangan halal itu hingga membuat mengkilat, padahal mesin pendingin ruangan bekerja dengan baik.
Azizah mendapat pelepasan pertama, lalu kedua. Rion terus mendaki bukit asmara dengan napas menderu dan irama jantung yang berdetak cepat. Sang istri mendapat pelepasan ketiganya, Rion masih mengejar kepuasan mendaki lebih cepat ... hingga.
“Aaaah!!” pekik keduanya.
Rion berhasil menanam bibit-bit unggul di sawah yang subur milik istrinya, Azizah mendapat pelepasan keempatnya. Napas keduanya menderu, Rion mempraktekkan perkataan Jac kemarin tentang menyusu. Squizy milik Azizah yang lembut membuncah kelelakian Rion.
“Terima kasih sayang,” ujarnya ketika melepas penyatuan.
Rion mengecup mesra kening istrinya menetralkan semua degup jantungnya. Mata Azizah terpejam, pemuda itu menatapnya. Ia membuka selimut yang menutupi dada istrinya, ia tersenyum lebar ketika melihat banyaknya tanda cinta yang ia berikan, ia juga melihat dadanya juga ada tanda cinta dari Azizah.
“Sayang ...,” panggilnya dengan suara lembut.
“Ya Mas baby,” sahut Azizah dengan suara mendesah.
“Ba bowu,” ujar pemuda itu.
“Ba bowu pu,” sahut gadis yang telah menjadi wanita.
Bukan Dougher Young jika bercinta hanya sekali. Rion, pemuda yang baru saja lepas dari kepolosannya, kini mulai mencumbu istrinya,
“Sayang ... aku mau lagi,” pintanya dengan suara lirih.
Azizah pasrah, ia pun makin berani di permainan kedua ini. Wanita itu memimpin dengan berada di atas tubuh suaminya. Mereka saling memberi kenikmatan hingga ketika puncaknya Rion kembali menyemai bibit-bibitnya.
“Sayang ... aku ingin anak banyak!” ketika melepas cairan kenikmatan.
“Aamiin!” sahut Azizah.
Kini keduanya pun terlelap setelah permainan ketiga kalinya.
Bersambung .
__ADS_1
Ion ... 😭
Othor masih volos!😱