
Semua anak ikut, tak ada yang mau ditinggal. Gino akan mengambil seragam sekolahnya.
"Itut Ommy!' pekik Arsh galak.
"Talo eundat pendal Ommy Alsh pumpetin!" ancam bayi tampan itu.
Maria menggaruk kepalanya. Terra mengangguk, menyerahkan semua anak pada Maria. Layla dan Gisel ikut serta.
Gino, Harun, Azha, Bariana, Arraya, Arion, Lilo, Seno, Verra, Dita, Della, Firman, Arsyad, Fathiyya, Maryam, Fatih, Aisya, Al dan El Bara, Arsh, Rinjani, Izzat, Zizam, Fael dan Angel.
"Wah, banyak sekali yang ikut?' seru beberapa guru ketika menyambut Gino.
"Ini sekolah kakak-kakak kalian. Bahkan Mama Iya sama Papa Ion dulu sekolah TK nya di sini loh!" lanjut Maria memberitahu.
"Wah ... pa'a pita atan setolah pisyimi Ommy?" tanya Dita bersuara kecil.
"Tentu Baby, semua nanti akan sekolah di sini!" jawab Maria.
Semua anak masuk ke kelas. Mereka ribut di sana. Arsh duduk di kursi guru.
"Nanat-nanat sisilan! Hayap tenan!" serunya pada seluruh saudaranya.
Semua tenang. Maria mengabadikan moment itu di ponselnya. Para guru tentu gemas dengan aksi keduanya. Fio, Exel, Rosa, Indah, Dwi dan Michael menjaga semua anak dari luar kelas. Menghalangi para guru mengambil gambar anak-anak.
"Jangan ya Bu!" larang Rosa lembut.
"Ih ... itu Bu Mar boleh!' sengit wanita itu.
"Itu anak-anaknya,' sahut Rosa tetap menghalangi perempuan itu mengambil gambar.
"Alsh atan meunajal palian muwa-muwana!" seru bayi itu.
Tentu saja Arsh harus berjinjit agar sampai pada papan tulis. Gino sedikit lebih tinggi dengan Arsh.
"Patai bantu Bu dulu aja Baby!' seru Gino memberitahu.
Arsh menoleh, bayi itu tentu kesulitan mengambil bangku. Gino, Azha dan Harun membantunya.
Arsh naik ke atas bangku kayu berwarna hijau itu. Bayi itu menulis satu garis panjang dari atas ke bawah.
"Imi anta zatu!" seru bayi itu memberitahu.
"Talo duwa Paypi?" tanya Lilo.
Arsh mencoret asal, tentu saja ia belum tau bagaimana menulis angka dua.
"Bedhini Baby!' tunjuk Gino.
Gino mengajari Arsh menulis angka dua. Bayi itu marah karena selalu salah.
"Pudah ah!" ujarnya bosan.
"Ayo Babies pulang!" ajak Maria.
Semua anak bergerak keluar. Beberapa ibu hendak mencubit gemas pipi Arsh. Tentu saja par bodyguard selalu sigap menjauhkan tangan-tangan jahil para ibu.
"Huh pelit amat sih!" sungut salah satu ibu kesal.
"Dih!" sungut Gisel yang kesal dari tadi.
Mereka pun pulang. Gino membawa lima setel baju sekolah. Dua seragam biasa satu batik dan satu baju olah raga dan satu baju polisi.
"Wah ... paju powisi!' seru Dita ketika melihat seragam kakaknya.
__ADS_1
"Teunapa pidat lada Paju pentala?"
"Eundat pahu!" jawab Gino juga tidak tau.
Semua anak turun dari mobil ketika sudah sampai rumah Terra. Hari masih terlalu pagi. Tetapi Arsh ingin makan, perutnya lapar.
"Mama ... Alsh papal!"
"Ini ada klepon Baby," Terra memberikan jajanan pasar yang dibeli Ani.
"Mau tiwul nggak?" tanyanya.
"Piwul?"
"Ini makanan dari singkong sayang," jawab Terra.
Wanita itu menyuapi Arsh. Bayi itu minta lagi dan menghabiskan satu pincuk.
"Enyan Mama ... matasyih!'
"Sama-sama Baby, main sana!" Arsh mengangguk.
Mereka kembali bermain. Terra melihat seragam Gino. Bibirnya tersenyum lebar. Ia mengingat pertama kali Lidya sekolah TK. Dulu, Lidya anak paling kecil. Bahkan dagunya sobek akibat keusilan salah satu temannya.
Terra jadi tersenyum lebar ketika mengingat bayi besarnya yang tak pernah mau bawa bekal karena semua teman wanitanya menawari Rion bekal mereka.
"Mama, lejeki itu tidak boleh ditolak!" ujarnya waktu itu.
"Te?" panggil Najwa yang melihat Terra terkekeh tiba-tiba.
"Kenapa?" tanyanya mengerutkan kening.
Jangan tanya sepasang Dougher Young itu. Dua-duanya sudah membuat banyak pengawal harus berlari mengejar bayi yang baru belajar merangkak itu. Begitu juga Zaa, Nisa dan trio Starlight. Tingkahnya sama dengan keponakan kecil mereka.
Vendra dan Zora baru berumur satu bulan. Mereka belum diaqikah. Andoro akan menyiapkannya setelah usia bayinya empat puluh hari.
"Sini Nyonya, biar saya gendong," pinta Layla.
"Perutmu sudah besar sayang," peringat Luisa.
"Nggak apa-apa," Layla mengambil Zora, si mungil.
Netra hazel bayi itu tentu membuat Layla jatuh hati. Wanita itu menciumi Zora sampai merengek.
"Mumi ... janan nayisin Paypi!" larang Al Bara berkacak pinggang.
'Oh ... maaf sayang. Umi gemes soalnya," ujar Layla tersenyum.
"Tuan Meghan!" pekik Alin pada bayi Dahlan.
Bayi tampan itu melompat ke kolam bagian paling dalam Alin harus menceburkan dirinya. Terdengar gelak tawa Meghan yang melihat pengawalnya basah.
Rahma sudah tak bisa berkata apa-apa. Bayinya di rumah juga sama lasaknya. Dahlan tak pernah mempermasalahkan bagaimana kelakuan putra tunggalnya itu.
"Tingkah siapa yang ia tiru itu?" keluh Maria.
"Tuan Fael!"
Prang! Pot bunga di atas meja pecah. Maria diam, Rahma melirik wanita itu.
"Itu gurunya Mommy," kekehnya geli sendiri.
"Nona Maryam!'
__ADS_1
"Balyam mawu lonsat tayat Paypi Aghan Papa!" seru bayi itu pada Fio.
"Mindhil!" pekik Fathiyya.
Byur! Semua bayi akhirnya melompat salam kolam berikut para pengawal. Terra menggaruk kepalanya.
"Assalamualaikum!' Sky, Bomesh dan Arfhan masuk.
"Wa'alaikumusalam!' sahut semua orang tua.
"Wah ... berenang!'
Tiga bocah itu melempar tas, sepatu dan kaos kakinya. Mereka ikut menceburkan diri sebelum Terra, Gisel atau Maria berteriak.
"Ah!" hanya kekesalan terdengar dari mulut semua ibu.
Setelah berenang. Semua anak-anak tentu mandi dan berganti baju lalu makan siang. Usai makan siang semua diminta tidur.
Sore menjelang, semua anak sudah rapi. Kudapan sudah tersedia dan tengah dinikmati bersama. Azizah sudah mengajukan cutinya.
"Bibu ... kok Zizah suka pipis di celana ya?" tanya wanita itu.
"Pastinya sayang. Katung kemih kamu ditekan jadi pasti cepat pipis," jawab Dinar.
"Mama polpol lana!' seru El Bara memberitahu.
"Ih ... Mama solot ih!' tuding Fatih pada Azizah.
"Mama pake popok Baby!" sahut Azizah keki.
"Mama payi peusal?" tanya Verra.
"Karena Mama hamil sayang. Jadi suka pipis di celana," ujar Azizah memberitahu.
"Alsh pasih suta polpol! Pa'a Alsh dunandun?" tanya bayi itu tak percaya.
"Ya, beda Baby," sahut Azizah terkekeh.
"Peda badhaipana Mama?" tanya semua bayi penasaran.
"Karena Mama tidak sengaja pipis,' jawab Azizah lagi.
"Pita sudha pidat seunaza pispis. Ainna teluan beuldili!" debat Aaima lalu melipat tangan di dada.
"Mama ...."
"Sayang, sudah lah," potong Dinar.
"Biar mereka dengan pikiran mereka. Jika kita jawab, mereka akan menyangkutkan pada diri mereka sendiri," lanjut wanita itu.
"Nanti kalian besar, pasti tau sendiri kok," sahut Layla.
Azizah pun mengangguk, ia juga lelah jika menjawab pertanyaan semua bayi yang tingkat keingintahuannya sangat tinggi itu.
"Sawaban yan bastina pemposantan!' sungut Harun kesal.
"Pita basih seutesil imi!" lanjutnya mendumal.
"Tapan peusalna?!"
bersambung.
Jangan cepat besar baby ... nanti ibu kalian tambah pusing ðŸ¤
__ADS_1
next?