SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
SEBUAH KISAH


__ADS_3

Harun cs ngambek pada semua orang tuanya. Kehadiran tiga bayi kini menjadi empat bayi membuat ia dan saudara lainnya terabaikan.


"Baby, jangan marah dong," bujuk Puspita pada putra bungsunya itu.


Wanita itu sebenarnya ingin memiliki anak lagi. Ia gemas dengan bayi-bayi baru lahir. Harun putranya sudah tidak mau dianggap bayi lagi.


"Dali teumalin, payi aja yan disyium, didendon, dipantu!" seru bayi tampan itu protes.


Darren gemas sendiri, begitu juga Demian. Dua pria itu sudah merekam aksi protes para bayi itu.


"Pita bawu cali olan pua palu!" lanjutnya kesal.


"Mau cari di mana?" tanya Rion.


Semua bayi bingung. Akhirnya semua menangis karena merasa tak disayang. Terra memeluk semua anak-anak itu dan mengecup pipi chubby mereka.


"Sayang, kami sayang kok sama kalian semua. Hanya saja beda porsinya," ujar Terra.


"Assalamualaikum!"


Dinar dan Dominic datang, wajah keduanya tampak bahagia. Kening semua orang mengerut.


"Saya hanya ingin menyampaikan berita bahagia," ujar ayah dari Demian.


"Bibu batalan bunya payi!" terka El Bara.


"Apa itu benar Dad?" tanya Demian.


Keduanya mengangguk dengan senyum lebar. Demian bersorak dan memeluk ibu sambungannya itu.


"Alhamdulillah ... aku punya adik ... hiks!" ujarnya penuh haru.


Dinar mengusap jejak basah di mata putra sambungnya itu. Bart bertepuk tangan, ia tertawa puas hingga semua orang menoleh padanya.


"Kita akan buat negara!"


Semua tertawa mendengar seloroh pria gaek itu. Akhirnya para bayi tenang dan tidak ngambek lagi, karena Dinar membawa makanan enak.


"Ata' Alun!" panggil Al Bara.


"Pa'a Baby?"


"Ata' tapan setolah?" tanyanya.


"Tata Mama sih pasih lama. Teunapa?" tanya Harun.


"Al penen setolah Apli!" sahut bayi tampan itu.


"Setolah pa'a ipu?" Bariana heran.


"Ipu woh ... setolah yan pawa-pawa benjata!"


"Oh, bentala!" sahut Azha.


"Pemana napain bawu setolah pentala?" tanya Arsyad.


"Pial pisa nembat wowan pahat!" ujar Al Bara.


"Eundat seumbalanan pahu talo pembat-pembat ipu!" sahut Aaima tak setuju..


"Pati bi pilem ipu tot lada beuntala yan nembat-nembat wowan pahat!" seru Al bersikeras.


"Ipu tan pohonan!" sela Fathiyya.


"Bolonan!" ralat Arion.

__ADS_1


"Nah ipu batsudna!" sahut Fathiyya.


"Eh ... teumalin lada yan peulatem ladhi woh!" tiba-tiba Arsyad mengadu.


"Palinan teutanda, " sahut Aisya


"Ya, talo Mama syama Papa mah meulsa teulus! Padhi eundat peulnah peulatem," sahut Arsyad.


"Bas Pitya!" panggil Arsyad.


Ditya hanya menghela napas panjang. Bocah usia tujuh tahun ini menggaruk pelipisnya.


"Iya Baby," sahutnya.


"Teumalin lada ya ya balah-balahin Mama!?" ujar Arsyad.


"Iya gitu Baby?" tanya Kean.


"Iya Mas," jawab Ditya. "Radit juga ada di sana."


"Memang marahin Mama gimana?" tanya Terra.


Lidya, Putri dan Aini memang tidak ada. Mereka tengah dinas sore. Jac ditugaskan keluar kota, Demian tengah santai bersama semuanya.


"Kamu mah enak Aini, suami kerja, kamu dokter. Jadi nggak susah mikirin anak! Gitu Mas," jawab Ditya.


"Emang suaminya?"


"Tata ibut-ibut ipu buamina nandul!" sahut Arsyad..


Terra menggaruk kepalanya mendengar perkataan bayi mau dua tahun itu.


Dinar gemas bukan main. Ia ingin anaknya nanti secerdas dan seberani para perusuh ini.


Semua berdecak, tetapi penasaran dengan jawaban Ditya.


"Kata Mba, mau apa pun kondisinya. Kalau kita bersyukur mah, semua bisa dilewati kok. Gitu kata Mba,"


"Bagus jawaban Mbamu itu!" sahut Khasya.


Semua mengangguk setuju.


"Kata Mba, Pak Toto nggak nganggur, walau hanya sekedar tukang ojek pangkalan, beliau bisa menghidupi istri dan lima anak. Semua anak-anak sekolah di sebuah pondok pesantren. Itu kan biayanya mahal, gitu lagi kata Mba,"


"Berarti, ibu tadi kurang bersyukur," sahut Maisya.


"Emang kenapa sih tiba-tiba, Mbamu dimarahin sama tetangga?" tanyanya lagi.


"Gara-gara Mas Gio ganti mobil dan beli ruko di pinggir jalan depan kompleks," jawab Ditya.


"Ah ... fix ibu itu nganan!" sahut Al.


"Kok nganan?" tanya Kaila dan Dewi bingung.


"Lah ... kalo ngiri dia mentok!" kekeh Al.


Semua berdecak sebal dengan guyonan anak laki-laki Terra itu. Rasyid yang dari tadi diam, tiba-tiba mengingat sesuatu.


"Eh ... Ma, besok Rasya sama Rasyid disuruh ikut kemping,"


"Mana surat minta ijinnya?" pinta Terra.


Rasya dan Rasyid bergegas ke kamar mereka. Tak butuh waktu lama surat minta ijin ada di tangan Terra.


"Mama ijinin," ujar wanita itu lalu menorehkan tanda tangannya.

__ADS_1


"Kata Bu guru, pengawal nggak boleh ikut, Ma," ujar Rasya.


"Soal itu tenang saja," sahut Virgou.


"Mereka kemping di mana?" tanya Haidar..


"Di taman kota," ujar Terra.


"Taman Kota yang dekat perkantoran Papa?" Terra mengangguk.


"Hanya semalam saja, katanya ada hanya buat mengisi waktu luang sebelum ujian tengah semester," jelas Terra.


"Bain yut!" ajak Al dan El Bara.


"Bain pa'a?"


"Eh ... bentar lagi makan siang, habis makan siang, tidur semua!" titah Terra.


"Ah ... Nenet Teyya!" protes semua cucunya.


Sedang di tempat lain. Langit, Hendro dan Ricky tengah menjaga nona mereka. Nai, sedang memeriksa pasiennya. Gadis itu tengah menjalani pendidikan spesialisasi tentang kandungan dan juga perkembangan bayi.


"Jadi bagaimana dengan kandungan saya, Dok?" tanya seorang pasien.


"Kandungan ibu sebenarnya sudah tidak dalam kondisi bagus. Saran saya adalah aborsi," jawab Nai begitu berat.


Wanita itu menangis. Nai jadi ikutan menangis. Tentu, ia gadis berusia baru delapan belas tahun. Ia mengingat jika salah satu ibunya mengalami hal serupa.


"Janin tidak berkembang, jika diteruskan. Maka nyawa ibu taruhannya ... hiks!"


"Dok ... ini adalah janin yang saya harapkan selama delapan belas tahun, apa tak bisa diselamatkan?" tanya wanita itu begitu menyayat.


"Saya bukan Tuhan, Bu ... hiks ... hiks! Andai saya punya kekuatan, saya akan beri ilmu saya agar ...."


Nai terhenti ucapannya karena melihat layar monitor. Ia mengusap jejak basah di matanya, agar yakin dengan apa yang ia lihat.


"Dok ... ada apa?" tanya ibu yang masih berbaring di kasur periksa.


"Sebentar Bu," ujar Nai.


Gadis itu menggeser lagi alat di perut pasien. Nai mengucap takbir. Gadis itu menuju kebesaran Allah.


"Ada apa Dok?" tanya ibu itu gusar.


"Bu ... nanti ibu sujud syukur ya. Janinnya berdenyut," jawab gadis itu.


"Dokter lagi nggak bercanda kan?"


"Nggak saya nggak bercanda!" sahut Nai tegas.


"Gini aja, jika satu Minggu janin tetap dalam kondisi begini. Apa pun resikonya, kita akan besarkan janin ini. Apa ibu setuju?"


Ibu itu sedikit ragu lalu perlahan mengangguk setuju. Akhirnya pekerjaan Nai selesai, gadis itu pun keluar dari ruangannya. Langit dan dua rekannya sudah berdiri tegak.


"Nona!"


"Pulang yuk!" ajaknya dengan suara lelah.


Langit menatap nona mudanya begitu intens. Netra cantik Nai memejam, ingin sekali pria itu memberikan bahu dan dadanya untuk sandaran sang gadis.


"Nona ... aku mencintaimu," gumamnya dalam hati.


Bersambung.


Next?

__ADS_1


__ADS_2