SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KE EROPA


__ADS_3

Malam hari seluruh keluarga menunjukkan bandara. Semua media kaget dengan keluarga pengusaha super kaya itu. Bagaimana tidak, Bart baru saja membeli pesawat lagi.


"Tuan, apa Tuan tidak merasa berlebihan memiliki lebih dari satu pesawat?" tanya wartawan.


"Tidak!" jawab Bart tegas. "Aku memiliki banyak anak, cucu, cicit dan menantu. Jika aku pergi atau salah satu dari mereka pergi. Kami akan ikut!"


Tak ada larangan, tapi monopoli ekonomi seperti dipegang penuh oleh keluarga keturunan Dougher Young, nama Terra jadi trending kembali karena dirinya lah yang menjadi pion utama pemegang kendali bisnis di Eropa merambah ke negara Asia.


"Mama, Iya, Kak Gisel, Kak Aini, Putri, nggak ikut ya ... ada banyak kasus di rumah sakit," ujar Lidya yang berat ketika Bart mengajak mereka pergi.


"Pita mawu itut Mama!" teriak Al Bara tak mau tau.


"Sayang ...."


"Pototna Al pama El pawu iput!" tekan El Bara tak mau kompromi.


"Saf juga nggak bisa ikut," keluh wanita itu.


"Pita itut!" Maryam langsung minta gendong Felix.


"Sari juga ... Sari dokter Grandpa," sahut Sari.


"Hanya lima hari sayang ..., kehamilan kalian juga baik-baik saja selama ini setiap bepergian dengan pesawat," rayu Bart.


"Jika kalian tidak ikut, suami-suami kalian pasti juga tidak ikut," lanjutnya.


Lidya menatap semua saudaranya. Akhirnya mereka kembali mengecek jadwal. Memang kasus besar di rumah sakit tidak perlu penanganan ekstra dari mereka. Terutama banyak dokter baru yang bermunculan.


"Oke deh!" sahut Lidya.


Bart tersenyum senang. Ia menciumi perempuan yang paling ia sayang itu. Lidya memeluk manja kakeknya. Anak-anak diangkut ke pesawat dalam keadaan mengantuk. Para remaja juga berkali-kali menguap. Kean duduk di samping Della, adiknya.


"Ata' ... pita nait besyahwat ya?" tanyanya lalu menguap lebar.


"Iya Baby," jawab Kean juga menguap.


Para bayi memakai kursi khusus dan duduk bersama kakak mereka. Semua terlelap dengan nyaman untuk perjalanan 18 jam ke depan sekali transit di Thailand.


Bart memilih tak turun karena memang semua anak tidur termasuk dirinya. Akhirnya mereka sampai di hari gelap.


"Tuan!" seorang pria datang membawa tiga bus ukuran sedang.


"Sudah disiapkan semua?" tanya Bart.


"Sudah Tuan. Semua villa telah dibersihkan!" jawab pria itu.


Semua naik bus menuju di mana sebuah kawasan bernama DY's Villages. Kawasan dekat perbukitan yang dibeli Bart untuk seluruh keluarga.


"Papa, Henry muntah!" lapor Leo.


Henry tengah berjongkok dan. memuntahkan semua isi perutnya. Bocah berusia sembilan tahun itu menangis. Saf langsung memberikan penanganan.


"Masuk angin Grandpa," jawab Saf ketika ditanya dengan kecemasan.


Hendri digendong oleh Rio, bocah itu sedikit rewel karena perutnya rasa melilit. Lidya memberi minyak di perut bocah itu, lalu memberi sedikit totokan agar anginnya keluar.


"Henry mau makan apa sayang?" tanya Puspita membelai kepala bocah itu.


Hendry menggeleng, ia menguap lagi dan terlelap dalam pelukan Rio.


Akhirnya semua sampai villa. Bart memutuskan tidur bersama putranya yang sakit itu.


Pagi menjelang, Henry sudah lebih baik. Ia mau makan banyak. Arsh menyuapi kakaknya itu.


"Makasih Baby,"

__ADS_1


"Amah-amah!" angguk Arsh begitu percaya diri.


Virgou yang gemas mengangkat bayi itu lalu terdengar gelak tawa dan ocehan tak jelas dari mulut Arsh.


"Mami ... kepala Leno kok pusing juga ya?" keluh Leno.


Seruni meraba kepala salah satu putra angkat Herman itu. Memang sedikit hangat.


"Kamu flu sayang?" Leno hanya mengangguk lalu menggeleng tanda tak tau.


Lana dan Lino jadi ikutan sakit. Perjalanan mendadak menjadi faktor semua anak yang kaget jadi fisik mereka sedikit ngedrop terlebih mereka berangkat juga diiringi rintik hujan.


"Istirahat saja dulu semua. Dari pada sakit beneran!" sahut Remario.


"Iya, istirahat dulu sana. Gomesh, mukamu juga sedikit pucat. Jangan bawa penyakit ke rumah sakit!" perintah Virgou.


Akhirnya setelah sarapan mereka memilih kembali tidur hingga puas.


Sore menjelang, keluarga Gomesh datang ke villa mewah itu. Tentu saja Gometrio, Gorgon, Goemitha dan lainnya tercengang melihat deretan bangunan yang ditempati seluruh keluarga.


"Apa sakit ibumu?" tanya Bram.


"Sakit tua, Tuan Hovert," jawab Gometrio.


"Biar Gomesh saja yang menjenguk. Kami tentu tidak bisa datang secara bersamaan," ujar Bram.


'Iya, kami titip salam saja. Aku yakin ibumu pasti sembuh!" sahut Bart.


"Aamiin!" sahut semua orang dewasa.


Gomesh pun pergi bersama istrinya. Pria itu ingin sang istri juga menemaninya.


"Mau ikut sayang?" ajak Maria pada Bariana.


"Eundat mawu Mommy," tolak Bariana.


"Jangan paksa putrimu Maria!" tekan Khasya.


Maria sedikit cemberut, ia punya anak banyak tapi semua anak tak mau ikut dengannya.


"Kean ikut lah!"


"Sean juga!"


"Satrio!"


"Calvin!"


"Tidak!" larang Haidar.


Semua remaja langsung mengerucutkan bibirnya. Maria marah pada Haidar.


"Terus buat apa aku banyak anak jika tidak ada yang mau temenin!"


"Marahin aja Kak. Emang tuh, jadi bapak posesif amat!" celetuk Layla.


"Bawa remaja-remaja itu bersama kalian Gomesh!" suruh Virgou tiba-tiba.


"Kak! Nanti kalo kek Baby Sam kemarin gimana?" tentu saja Haidar tak mau putranya kenapa-kenapa.


"Mereka sudah besar. Biar mereka belajar!" sahut Virgou walau ada nada cemas di sana.


"Papa ... janji deh, kita nurut sama Mommy sama Papa Gom!" ucap Kean.


Akhirnya Haidar membiarkan semua putranya yang remaja ikut.

__ADS_1


"Alhamdulillah ikut juga!" sahut Setya lega.


Anak kembar Raka memang ikut rombongan berikut paman dan bibi mereka. Sedang Zhein dan Karina tetap di Indonesia karena faktor kesehatan Zhein yang mendadak bermasalah dengan jantungnya.


Setelah kepergian Gomesh. Semua anak kembali ramai dan bermain.


"Ah bales bain mulu!" keluh Azha bosen.


"Twus mawu papain Ata'?" tanya Al Bara.


Sementara itu Gomesh sudah sampai di rumah sakit. Mereka beranjak ke ruang VVIP. Di sana sosok wanita terbaring lemah dan di pinggir ranjang memegang erat tangan sang istri sambil mengecupnya.


"Don't leave me please ... if you wanna go ... bring me with you," pinta pria itu lirih.


"Mom ... Papa! panggil Gomesh.


Pria raksasa itu mendatangi keduanya lalu mencium sang ibu yang masih terlelap akibat obat.


"Mommy sakit apa Pa?" tanya Gomesh lagi walau ia tau apa penyakit ibunya.


"Kanker darah," jawab sang ayah lirih.


"Kata dokter kita butuh donor sumsum tulang belakang," lanjutnya lirih.


"Aku mau jadi pendonor!" ucap Gomesh.


"Nak, darah ibumu rhnuel A negatif. Kau berdarah sama denganku. Ab negatif," jawab sang ayah.


Gomesh terdiam. Pria raksasa itu akan mengupayakan pengobatan ibunya termasuk mencarikan pendonor yang cocok untuk sang ibu.


"Tuan, aku butuh pendonor tulang sumsum belakang dengan darah Rhnuel A negatif!" lapornya pada Virgou.


Tak butuh waktu lama, lima belas pengawal datang mendaftarkan diri. Tiga diantaranya pengawal berjenis kelamin perempuan.


"Ada yang cocok?" tanya Virgou lagi.


Gomesh masih belum mendapatkan laporan.


"Belum Tuan," jawabnya lemah.


Sedang di dalam villa, Deta mendengar jika salah satu keluarganya butuh bantuan.


"Papa," bocah itu mendekati Bart.


"Iya sayang,"


"Coba periksa Deta, Siapa tahu Deta cocok," Bart tentu menggeleng kuat.


"Tidak!" tolaknya.


"Papa," bocah sembilan tahun itu mengelus pipi ayah angkatnya.


"Kita bantuin Papa Gom ya," lanjutnya.


Bart menggeleng kuat. "Tidak Deta ... Papa bilang tidak ya tidak!"


Pria itu lalu meninggalkan Deta. Lidya menenangkan pria gaek itu. Deta menatap Virgou.


"Maaf sayang, Daddy juga melarang itu!"


Bersambung.


Wah ... gimana nih?


Next?

__ADS_1


__ADS_2