SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
HEBOH


__ADS_3

Para perusuh tengah menikmati hari di taman belakang rumah Terra. Arsh, duduk sedemikian rupa hingga terlihat perut bundarnya.


"Paypi Alsh janan pibuta peyutna ... banti tamuh masut anin!" peringat Aaima.


"Pasuna dat wuwat Ata'!" kilah Arsh.


Arsh memang cepat sekali besar, padahal ia baru beranjak sepuluh bulan mau ke sebelas bulan. Tapi besarnya hampir sama dengan Gino dan Firman.


"Pate paju bunya Ata' Tean basti muwat!" sahut Harun.


"Janan nadhi-nadhi Ata'!" ketus Arsyad memutar mata malas.


"Ata' eundat nadhi-nadhi!" sahut Harun.


"Ata' Tean pesal! Paypi Alsh pate pajuna pisa teundelem!" sahut Fathiyya.


"Pial eundat wushah peuli paju ladhi!" sahut Harun.


"Hei ... kenapa kalian malah ribut?!" tegur Layla gemas.


"Mumi paju Alsh teteusilan," lapor Firman.


"Oh Baby Arsh bajunya udah sempit?" tanya Layla dengan senyum lebar.


"Pempit?" tanya semua bayi menatap Layla.


"Mumi ... yan pitape Paypi ipu pashu butan salan!" protes Aisya.


"Biya Mumi, sejat tapan Alsh pate salan puat mutupin padanna?!" sengit Maryam.


Layla terbengong. Ia berpikir lama mencerna perkataan semua bayi cerdas nan rupawan itu. Setelah berpikir lama, Layla baru tertawa lirih.


"Sayang, kecil itu sama dengan sempit," jawab Layla.


"Oh sadhi talo salan ipu Pisa pilan ditit ya Mumi?" tanya Fatih.


"Peulalti Mama Iya padanna peumpit!' celetuk Al Bara.


Layla tertawa mendengar asumsi putra dari Lidya itu. Ia tak bisa berkata-kata. Ia membiarkan semua bayi berpikiran apa yang ingin mereka pikirkan.


"Nanti juga tau sendiri," gumamnya.


"Baby memangnya nggak ada baju yang lebih besar kah?" tanya Layla mengalihkan topik pembicaraan.


"Ommy mama Addy siput ... siput wewus!" gerutu Arsh.


Widya yang mendengarnya tentu kesal. Ia bukan tidak punya waktu membeli baju untuk anak bungsunya itu. Tetapi Arsh memang cepat besar.


"Assalamualaikum, Bibu datang!"


"Bibu!' pekik semua anak berhamburan memeluk wanita berbobot besar itu.


Tiga bayinya berada di kereta dorongnya. Luisa langsung mengambil Aaric, bayi ajaib yang hidup setelah setengah jam tak bernapas.


"Aaahhh!" teriak bayi itu karena Luisa gemas menciuminya.


Teriakan Aaric disahuti oleh dua saudaranya yang juga mau digendong. Luisa senang mendengar kebisingan itu.


"Amah ... nan anduin padet payi tuh!" larang Aaima galak.

__ADS_1


"Mama gemes sayang, nggak ganggu kok," sahut Luisa gemas juga pada semua bayi yang ada.


"Subit ... subitan Ooy ... sendol-sendolan ... subit-subitan ooy ... sendol-sendolan!"


Tiba-tiba Aaima bernyanyi dan berjoged asik memutar pinggulnya.


"Deunit-deunit dhadis setalan ... talo disendol tatana sinta ... deunit-deunit dhadis setalan ... talo pisendol tatana sayan ...."


Terra terbahak mendengar Aaima bernyanyi, ia sangat yakin nyanyian itu didapat di tempat ibu dari Putri berada.


"Mama teunapa pentawa?" tanya Azha tak suka.


"Oh Mama, tertawa bukan karena Baby Mima nyanyi sayang," jawab Terra tentu bohong.


"Amah wewosa! Amah ohon!" tuduh Arsh tepat.


"Hei bayi ... kau menantang ku!" Terra gemas dengan bayi tampan itu.


"Kau seperti Kakak Baby Ion sayang!" ujarnya.


"Alsh nanat fifiya!"


"Al pama El Pala yan nanat fifiya Paypi!" sahut Al Bara.


"Nanat fifiya ipu Ata' Paliana!" sahut Maryam tepat.


"Nama Mama atuh Malia butan fifiya!" sanggah Bariana menolak.


"Sutup pemua piam!" sentak Harun.


"Pial janan libut. Ata' aja yan nanat fifiya. Talian puwas?" lanjutnya.


Terra gemas sekali. Walau ia sedikit kesal dengan ucapan para orang dewasa yang ditelan mentah-mentah oleh semua perusuh paling junior itu.


"Te, nggak bisa ngebayangin anak Baby Ion lahir nanti. Seperti apa jadinya?"


Terra akan melihat kehebohan yang lebih heboh, terlebih akan ada banyak kelahiran terjadi. Ia menunggu putrinya Naila mengandung dan ia benar-benar jadi seorang nenek.


"Mereka cepat besar sayang," sahut Najwa.


"Te pengen lihat Baby Chira, Baby Aarav, Baby Nisa dan Baby Zaa jika sudah bisa berjalan dan bicara!" sahut Terra semangat.


"Kau akan lihat kehebohan semua perusuh ini sayang," ujar Najwa terkekeh.


Para ibu bersantai setelah makanan sudah siap dimasak. Terra mengusap perut Gisel yang membuncit. Budiman harus mengurus perusahaannya sendiri. Darren dijaga oleh Dahlan yang berganti tugas. Remario dijaga oleh Hugo dan Gito.


"Baby ayo makan dulu!"


Semua anak duduk di kursi masing-masing. Layla membantu Dita dan Alia.


"Oh Baby Alia mau tumbuh gigi ya," ujar Layla melihat gusi bayi itu bengkak.


"Atit Mumi!' keluh bayi itu.


Walau sedikit sulit untuk menghabiskan makanan, Alia akhirnya selesai makan juga.


"Mumi ... Alsh uda tit idi!' aku bayi itu.


Layla memeriksa, memang Arsh juga tumbuh giginya.

__ADS_1


"Berarti kalian cepat besar ya. Gigi sudah mau komplit!" seru Layla senang.


Bomesh, Sky dan Arfhan pulang. Mereka ganti pakaian dan langsung makan siang. Usai makan, semua harus tidur siang.


'Mau tunggu Kak Sam, Kak Benua sama Kak Domesh Mama!" ujar Sky.


"Iya, Kak Ella, Kak Bastian, Kak Billy sama kak Martha juga belum datang!" sahut Bomesh.


"Bobo sayang!" perintah Terra tak mau dibantah.


Walau berat akhirnya semua tidur siang. Samudera pulang bersamaan Domesh dan Benua. Lalu disusul Ella dan tiga adiknya yang lain.


Semua diwajibkan tidur siang tanpa ada kecuali. Sore menjelang, semua anak sudah rapi dan bersih.


Semua memakan kudapan onde-onde yang dibuat oleh Lastri. Tangan wanita itu sangat mahir memasak.


"Mama ini enak!" puji Ella habis makan dua onde-onde.


"Makasih sayang," sahut Lastri.


Sedang untuk Arsh dan bayi lainnya dibuat kue yang sama tapi beda bahan dan cocok dengan usia mereka.


"Kak Kean itu masih banyak!" teriak Maisya ketika Kean mengambil onde-onde dari tangannya.


"Aku mau ambil punyamu," sahut Kean usil.


"Mama!" adu Maisya kesal.


"Baby ... itu ada banyak! Kamu tinggal ambil lagi sayang!" sahut Frans sedikit kesal dengan manjanya para perusuh jika sudah berkumpul.


"Bunya atuh!" teriak Al Bara pada kembarannya.


"Atuh!" El Bara membalas berteriak.


Tak! Al Bara memukul lengan saudara kembarnya. El Bara tak terima ia pun membalas pukulan Al.


"Paypi!" peringat Della.


Al dan El bukannya berhenti malah makin menjadi, dua bayi tampan itu saling dorong.


"Ehem Babies!" peringat Rion.


Al dan El Bara menangis kencang. Dua bayi itu saling ngambek. Lidya hanya bisa menghela napas panjang.


"Tuh meunayis ... meunayis tuh talna lindu ... tuh beuldutan ... dutatuh talena lindu ...!" tiba-tiba Aaima bernyanyi dangdut.


"Pinama tun teulinat dadamu ... pinama tun lada payananmu ... pipetiap tuh lada payan muh ... teutasyih tuh!" lanjutnya masih asik bernyanyi.


"Jac ... putrimu!' Demian gemas bukan main.


Jac hanya tertawa. Bart tampak berbinar melihat semua keturunannya begitu berisik. Tak butuh waktu lama Al dan El Bara kembali bermain.


Semua bayi tampak antusias dengan permainan baru mereka. Main loncat tali.


bersambung.


Begitulah bersaudara... pasti berantem.


Next?

__ADS_1


__ADS_2