SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
SEBUAH MASALAH


__ADS_3

Bart menatap seluruh orang-orang di mansionnya. Baru kemarin ada pernikahan baru dan langsung mendapat dua cucu menantu baru.


Tak terasa air matanya berlinang. Dulu, ia yang menjaga utuh keluarganya hancur karena sibuk menyingkirkan sosok yang dibenci semua keluarga.


Virgou sedang dipeluk Terra. Wanita itu berada di atas punggung pria dengan sejuta pesona. Kericuhan dan saling ledek terdengar di sana. Mereka berusia paling tua tapi tak kalah rusuh dengan bayi yang lebih sering menggunakan dengkulnya untuk berjalan.


"Mashaallah ... mashaallah ...!"


Bibirnya tak berhenti mengucap kebesaran Allah. Maria melihat Bart yang menangis mendekat.


"Grandpa," panggilnya.


"Ah ... sayang ... hiks!"


"Grandpa kenapa?" Bart menggeleng.


"Aku bahagia sayang ... aku teramat bahagia!" jawab Bart antusias.


"Benar begitu?" tanya Maria menyelidik.


"Tentu sayang ... tentu saja!"


Maria memeluk Bart. Pria itu membalas pelukan hangat salah satu wanita terbaik dalam keluarganya.


"Terima kasih sayang," ujar Bart.


"For?"


"Karena kamu mau ikut bersama kami," jawab Bart penuh senyum.


Maria menatap pria di depannya. Ia juga menarik dua sudut bibirnya. Bart mengecup kening Maria penuh kasih sayang.


"Gomesh beruntung mendapatkanmu," Maria menggeleng.


"Aku yang beruntung mendapatkan kalian," sahutnya.


"Piyam peumuana!" pekik Arsh tiba-tiba.


Semua mendadak hening. Bayi berusia tiga tahun itu melihat semuanya tenang ia mengangguk puas.


"Peubental Alsh mawu meulatutan pestuwatu!" lanjutnya.


Lalu Arsh meletakan tangannya di kepala dan juga di bokong dengan mengipas-ngipas telapak tangannya.


"Didelen ... teupala didelen-delen ... delen ... delen!"


Grrrr! Satu ruangan tertawa terbahak-bahak. Para bayi mengikuti tingkah ketua paling rusuh itu.


"Oh ... sadhi pusin teupalana!" keluh Aisya.


"Atuh mabot!" sahut Aaima lalu berjalan sempoyongan.


"Tamuh peumanan bunya payi talam peyut?" tanya Maryam.


"Payi?" Aaima spontan mengelus perut gembulnya.


"Oh ... pa'a peyut atuh lada payina?" Arimbi tentu gemas mendengar percakapan itu.

__ADS_1


"Itu bukan bayi isinya. Tapi, bakwan jagung, mie goreng, sosis, nugget, bolu kukus, kue sumprit ...," Arimbi menyebut makanan yang masuk ke dalam perut Aaima.


"Oh pa'a tah banti teuluan payi peulpentut mie apaw polu tustus?" tanyanya yang membuat semua orang tertawa.


Arimbi menciumi Aaima. Salah satu bayi bar-bar yang ada di rumah. Aaima tergelak diciumi seperti itu. Semua bayi mengerubungi Arimbi, Reno sang suami membantu istrinya menciumi bayi-bayi yang banyak itu.


Bram memangku Lino, bocah itu sudah kelas empat SD. Sky, Bomesh dan Arfhan tentu sekelas dengannya. Sedang Benua dan Domesh berada di kelas lima. Samudera kelas tujuh.


"Kakek ... Leno abis puasa mau ikut lomba melukis, apa dibolehkan ayah ya?" tanya Leno.


"Tentu boleh. Memangnya kenapa?" tanya Bram.


"Nggak kan semua rata-rata ikut lomba Science. Hanya Leno yang ikut lomba lukis," cicit Leno menjawab.


"Tidak ada yang salah dengan lomba lukis sayang. Itu Kak Azlan kemarin ikut lomba design komputer menang nggak apa-apa," jawab Bram menenangkan Leno.


"Lino kemarin bisa ciptain robot hafidz loh Kek," lapor Leno.


"Eh!" tiba-tiba ia menutup mulutnya.


"Sayang ... ada apa?"


Bram ternyata tak mendengar perkataan bocah itu. Ia tadi sibuk melihat bayi yang super aktif dan makin banyak tingkah di depannya.


"Nggak ada Kakek," jawab Leno cepat.


Lino dan Lana asik bermain, wajah Lino seperti tak bergairah. Tetapi karena semua sedang berpuasa. Maka tak ada yang memperhatikannya.


"Kak!" panggil Della.


Lino menoleh, Della belum berusia lima tahun. Tetapi kepekaan balita itu sangat terasah. Jadi ia sangat tau jika Lino salah satu kakaknya sedang ada masalah.


Della masih mencampur bahasanya dengan bahasa bayi. Banyaknya bayi yang baru bisa bicara membuatnya kesulitan membedakan bahasa terlebih semua orang tua membiarkannya.


"Nggak apa-apa dik," jawab Lino.


"Kakak ... jangan bohon!" tekan Della.


Lana mengelus punggung adik kembarnya itu. Ia mengangguk.


"Takut Kak," cicit Lino.


Lana menatap Della. Kedudukan mereka sebagai anak angkat menjadi batasan tersendiri walau tak ada yang membedakan mereka.


"Tapi semua baik dik. Buktinya waktu kita beliin Mommy Maria kalung, semua mau bayarin utangnya loh!" ujar Lana mengingatkan sang adik.


"Kan itu uang kakak. Bukan masalah seberat ini!' keluh Lino.


"Dibilang aja kak, muntin eh mungkin Della bisa kasih solsusi ...."


"Solusi Baby," ralat Lana.


"Nah itu matsutna," sahut Della.


Lino tampak ragu. Virgou bukan tidak tau masalah salah satu anaknya itu. Pria itu hanya menunggu keberanian Lino untuk berbicara.


"Bilang sama Ayah gimana?" tanya Lino resah.

__ADS_1


Rosa mendengar percakapan anak-anak itu. Ia memang penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya.


"Ada apa Baby ... coba bilang ke Tinti dulu," ujarnya.


"Tinti ...," Lino tampak ragu mengucapkannya.


"Ayo sayang!" Rosa makin penasaran.


Akibat kegelisahan Lino semua malah diam menatapnya. Bocah itu makin takut mengungkapkan sesuatu.


"Sayang ... kami tidak akan bisa membantu jika kamu nggak ngasih tahu!" paksa Rosa.


"Robot buatan Lino diklaim oleh pihak panitia lomba Tinti,' jawab Lino lirih.


"Apa!" semua terkejut mendengarnya.


Virgou sudah menduga hal itu. Ia adalah ayah dari banyak anak. Makanya semua kegiatan anak ia berusaha mengikuti termasuk yang dilakukan Lino.


"Padahal Lino buat sendiri loh. Bahkan Lino punya blue printnya. Tapi, sekarang blue print itu ditolak karena dianggap plagiat," lanjut Lino lirih.


"Jujur Lino nggak ngerti sama sekali mesti apa ... hiks!"


"Oh sayang," Rosa memeluk Lino, tangis bocah itu pecah.


"Wah ... apa perlu diganyang panitia itu?" ujar Dominic kesal.


"Aku sudah menyelidikinya. Blue print milik Lino digandakan. Mereka main curang ... andai saja bravesmart bisa mengurai waktu yang dicurangi pihak penyelenggara ...."


"Bisa Daddy!" seru Darren tiba-tiba.


"Jika mereka mengubah waktu sedemikian rupa. Maka kita akan mengembalikan waktu itu dengan data-data yang pasti mereka tak bisa menyanggahnya!' lanjut pria beranak empat itu.


"Blue print asli ditangan pihak penyelenggara sayang," ujar Virgou.


"Dan yang ada di tangan Lino adalah yang palsu," lanjutnya.


"Tenang Daddy. Semua bisa dibuktikan. Kejahatan itu tak akan bertahan lama," ujar Darren lagi.


"Kita tekan saja promotor terbesar penyelenggara itu. Lino adalah salah satu peserta minoritas di sana. Kita tekan bagaimana sebuah karya langsung diklaim sebagai milik penyelenggara!" cetus Andoro memberi saran.


"Ide yang bagus!" sahut Bram semangat.


"Penyelenggara dibuat pihak dari internasional ... eh ... bukankah ini adalah event yang dulu Daddy dan ayah pernah ikuti?" tanya Darren mengingat.


Virgou diam, tentu saja semua sistem dan pemiliknya sudah berubah.


"Jangan ingat itu. Sekarang masalahnya karya adikmu dicuri!" tukas Virgou.


Darren mengangguk. Hanya sepuluh menit ia mengutak-atik ponsel ciptaannya.


"Done Daddy. Darren udah lapor pihak penyelenggara pada kesatuan hak cipta seluruh dunia. Ternyata, banyak kasus serupa dan tak ada yang berani lapor karena minim bukti," ujarnya lagi.


"Baiklah ... Baby ... jangan khawatir ... kita akan rebut lagi apa yang memang jadi milikmu!" ujar Virgou dengan senyum yang begitu menakutkan.


Bersambung.


Masih aja cari masalah ya!

__ADS_1


next?


__ADS_2