
Pagi hari Raka sudah bersiap. Terra memeluk pria itu dengan erat.
"Mama Teya!" rengeknya.
"Sayangku," sahut wanita itu menciumi wajah tampan Raka.
Terra juga menciumi Almira, istri dari ponakan suaminya itu.
"Hati-hati di jalan sayang," ujar Bram pada putri dan menantu juga semua cucunya.
Kanya sedih ditinggal oleh Karina dan Raka, wanita itu selalu marah pada Zhein suami dari Karina karena berhasil membuat putri dan cucunya repot dengan. segudang pekerjaan.
"Maaf ya ma, nanti kalau Raffhan dan Zheinra sudah lulus kuliah dan bisa bertanggung jawab. Raka nggak akan sesibuk ini kok," ujar Zhein meminta maaf pada mertuanya.
"Ma ... nggak boleh gitu, Karina sudah memiliki keluarga sendiri, ia harus menurut sama suaminya," tegur Bram.
Kanya kesal dengan perkataan suaminya yang benar itu. Ia mencium menantunya.
"Hati-hati dan langsung kabari mama jika sudah sampai!' pinta wanita itu.
Zhein mengangguk, ia mencium ibu dan ayah mertuanya, juga Bart. Lalu memeluk Haidar dan Terra. Anak-anak masih tidur hari masih terlalu gelap untuk bangun. Karina pulang bersama suami, anak menantu dan cucunya. Dominic menyuruh supir untuk mengantar keluarga itu.
"Ayo, masuk. Udara masih dingin untuk terus-menerus di luar," ajak Dominic pada semuanya. Mereka pun masuk ke dalam.
Matahari sudah tinggi. Lidya sedih karena tak mengantar Raka pulang tadi subuh.
"Sudah tidak apa-apa. Raka ngerti kok sayang," ujar Kanya menenangkan Lidya.
Pagi itu mereka masak nasi goreng sosis. Para perusuh yang menginginkan hal itu.
"Bersiaplah. Besok kita ke tempatku," ujar Bart.
"Oteh Grandpa!" sahut semua kompak.
Hari ini mereka tidak kemana-mana. Mereka memilih bersiap dan mengemasi pakaian mereka.
"Pita pesot temana ladhi?" tanya Harun.
"Besok kita ke kastil uyut baby," jawab Puspita.
"Oh," angguk bayi itu mengerti.
Harun memilih mendatangi para saudara seusianya. Bayi itu juga melihat para ibunya yang lain sibuk memasukkan semua baju-baju ke dalam tas.
"Mama," panggilnya lalu naik ke atas kasur Terra.
Di sana Arion dan Arraya tengah berbaring.
"Baby," sahut wanita itu sibuk dengan melipat baju.
Tak lama Azha dan Bariana datang juga menaiki kasur.
"Eh, kok di sini? Nggak main?" tanya Haidar melihat lima bayi di atas ranjangnya.
"Posen papa!' jawab Arraya.
Pria itu menciumi bayi-bayi rusuh itu. Tak ada penolakan bahkan mereka tertawa bersama.
__ADS_1
Terra tersenyum melihat tingkah semuanya.
"Loh, malah bobo?"
Terra menggeleng melihat lima bayi dan suaminya malah tertidur bersama di ranjang. Kaki Haidar menggantung karena memang posisinya yang salah. Terra mencium semuanya. Hanya Haidar yang membalas ciuman istrinya.
"Ayo bangun sayang," ajak Terra pada sang suami agar bangkit.
"Mereka belum mandi ini," ujar Haidar menatap lima bayi yang terlelap.
"Ma, boleh minta bantuan nggak?' Rasya datang membawa pakaiannya.
Terra membantu melipat pakaian putranya dan mengajaknya keluar kamar dan membantu saudaranya yang lain. Sedang di dapur, Lastri, Aini dan Najwa memasak untuk makan siang. Safitri membantu menyusun piring di meja. Para maid akhirnya sadar jika keluarga majikannya ini tak menyusahkan sama sekali. Terbukti mereka yang tak pernah harus membereskan kamar lagi hanya awal saja. Setelah itu pakaian juga mereka tak mencucinya. Karena semua orang memilih mencuci sendiri pakaian mereka saja. Bahkan juga menyetrikanya.
"Sayang, biarkan para maid yang melakukannya," ujar Dominic melihat Saf menata piring di meja.
"Tidak apa-apa dad," sahut wanita itu.
Rion tengah duduk di taman. Pikirannya melanglang buana. Kemarin, ada gadis yang menarik perhatiannya. Ia tersenyum samar.
"Nggak mungkin dia jodohku, tinggalnya saja jauh," gumamnya pelan.
Pemuda itu memilih memutuskan untuk berhenti memikirkan gadis yang berhasil mencuri perhatiannya.
"Hah ... susah ... susah!" keluhnya sambil menutup mata.
"Apanya yang susah baby?" tanya Virgou heran.
Pemuda itu sedikit terkejut ketika keluhannya didengar oleh salah satu ayahnya. Ia hanya tersenyum kikuk.
"Baby, jangan bohong ... kalau bohong itu ber ...."
"Bosa ... eh dosa!' lanjutnya masih kikuk.
Virgou mengacak rambut putranya itu. Rion cemberut, ia protes jika semua melihatnya seperti anak bayi.
"Dad, aku sudah besar!" protesnya.
"Aku jauh lebih besar!" sahut Virgou dan tak bisa dibantah oleh Rion.
"Apa kau keberatan jika aku menganggapmu seperti bayi?"
Rion memeluk pria dengan sejuta pesona itu erat. Ia menggeleng kuat dan menolak Virgou tidak memanjakannya.
"Jangan Daddy," rajuknya.
"Bagus!" sahut Virgou senang.
"Karena selamanya di mataku, kau adalah bayiku. Mengerti!" Rion mengangguk.
"Sudah jangan pikirkan gadis bermata hijau itu. Apa kau sudah menyusun pakaianmu?"
"Ion minta mama yang susunin," jawabnya santai.
"Astaga ... begini nggak mau dianggap bayi lagi, kalah sama Rasya dan Rasyid!" cela Virgou setengah meledek.
"Ayo, urus sendiri pakaianmu!" titahnya tegas.
__ADS_1
Rion menurut. Memang ia paling malas jika disuruh bebenah pakaian. Pemuda itu akan hanya memasukkan baju-baju itu begitu saja.
"Baby Ras!" panggilnya.
Duo R menyambanginya. Pemuda itu menariknya.
"Tolongin kakak dong, bantu beresin baju," pintanya.
Dua adik baik hati itu pun membantu kakak kesayangannya. Rion senang dengan bantuan dua adiknya itu.
"Mama ... Kak Ion memanfaatkan Rasya dan Rasyid!" adu Sean.
"Baby!" teriak Terra memperingati.
"Nggak apa-apa ma, Rasya dan Rasyid mau bantuin Kak Ion kok!" bela duo R pada kakak kesayangannya.
Rion menjulurkan lidah pada Sean, yang tak berhasil mengadu pada ibunya.
Sean cemberut. Tadi duo R menolak membantunya tapi, ketika Rion memintanya, Rasya dan Rasyid langsung membantu. Hingga tiba-tiba ....
"Kak Ion dilipat sendiri dong bajunya. Kita nggak bisa lipetnya!'
Sean tertawa melihat Rion yang kini kesal harus melipat bajunya. Sementara Rasya dan Rasyid menyusun pakaian yang sudah dilipat.
"Jangan ketawa kamu, sini bantuin!" seru Rion memberi perintah.
Sean hanya cemberut, remaja itu tak bisa menolak perintah dari kakak kesayangannya itu.
"Jangan cemberut, ikhlas nggak nih bantuinnya?' ujar Rion.
"Baby ... kenapa nggak beresin sendiri bajunya?" tegur Terra ketika masuk dan mendapati tiga putranya membantu Rion membereskan pakaiannya.
"Gunanya adik, ya bantuin kakaknya ma," jawab Rion dengan senyumnya.
Terra menggeleng melihat tingkah satu putranya itu. Akhirnya ia membiarkan saja.
Usai membantu kakak mereka, Sean, Rasya dan Rasyid keluar kamar bersama Rion. Pemuda itu memeluk ketiganya dengan erat dan menciuminya.
"Kakak!" protes mereka.
"Apa sih!" sahut Rion terus menciumi ketiga wajah adiknya sayang.
Bart menghela napas panjang. Kelakuan Rion yang malas berbenah mirip salah satu cucu yang beriris sama dengannya.
Virgou santai dengan semuanya. Jika para suami membantu istrinya, maka pria satu itu menyerahkan semuanya pada Puspita.
"Kau menyuruhnya untuk membenahi sendiri bajunya. Kamu?'' tanya Bart sengit.
Virgou hanya terkekeh dan menyeruput kopi buatan Safitri.
"Like son like father! Ben juga sama sepertiku, grandpa tentu ingat itu kan?" sahutnya santai.
bersambung.
begitulah jika sedarah pasti ada kelakuan yang mirip.
next?
__ADS_1