
"Baik acara puncak memang sudah selesai. Selama kita menunggu keputusan juri. Kita akan dihibur oleh para santri. Tidak lama sekitar tiga puluh menit saja!"
Acara berlangsung seru. Para perusuh mulai menguap dan lapar. Darren, Lidya, Demian, Rion Azizah membawa semua anak-anak keluar begitu juga Kean dan lainnya.
"Sat ... nggak ikut?" tanya Kean.
"Nggak, gue mau lihat siapa yang menang!" tolak Satrio.
"Lu ntar ke kafe nggak?" tanya Kean lagi.
"Lu pada ke sana?" tanya Satrio disertai anggukan Kean.
"Ya, habis gue tau siapa yang menang. Gue ke sana!" sahut Satrio.
Kean mengangguk, Arimbi, Sean dan lainnya pun pergi setelah mencium semua orang tua. Terra sudah tak seketat dulu, kini ia melepas semua anak-anak untuk nongkrong tentu dengan penjagaan ketat para pengawal. Terra masih belum berani melepas mereka tanpa pengawal.
Baris tengah tampak sepi. Begitu anak-anak keluar, makanan nasi kotak dihadirkan. Virgou memegang kotak dengan gambar salah satu kandidat peserta pemilu. Pria dengan sejuta pesona itu menggeleng dengan tawa remeh. Ia menatap Budiman yang berwajah Indonesia tulen dan juga istrinya. Di kepalanya muncul ide untuk mendaftar istri dan saudaranya itu di sebuah parpol yang ikut pemilu beberapa tahun lagi.
"Bud!" panggilnya.
"Ya!' sahut pria itu menyantap nasi kotak di pangkuannya.
"Lapar Lo?" sindir Virgou.
"Iya, enak tau. Coba itu anak-anak bertahan sedikit lagi. Mereka seneng banget nih dapat nasi kotak!" sahut Budiman santai.
"Yang lain ke mana Mas?" tanya panitia ketika membagikan kotak pada Satrio.
"Pada ke kamar mandi!" jawabnya tentu berbohong.
"Jadi saya letakin di kursi masing-masing aja ya!" sahut pria itu.
Satrio mengangguk cepat. Ada dua puluh bangku kosong, Juno, Gio, Dahlan dan Ricky masih ada di sana.
"Om, masukin ini ke kresek!" bisik remaja itu menyerahkan kotak-kotak yang di atas bangku.
Gio sangat mengerti apa yang tuan mudanya maksud. Pria itu mengajak semua rekannya maju dan menduduki bangku-bangku kosong itu. Ia mengambil kresek besar yang memang tadi dipersiapkan. Semua kotak makanan dimasukkan dalam kresek dan disembunyikan di antara mereka. Tak lama penonton kembali masuk dan memenuhi ruangan. Tentu para panitia tak sadar jika tak ada lagi penonton anak-anak di tengah-tengah kursi.
"Terima kasih para penonton yang masih setia menunggu hasil dari keputusan juri!" sahut pembawa acara.
"Bagaimana juri apa sudah ada keputusan?" tanya pembawa acara lagi.
'Sudah!' jawab juri tegas.
'Baik!"
Pembawa acara menuju tempat juri, mengambil satu kertas berisi pemenang dan nilainya. Beberapa promotor hadir bersiap memberi hadiah.
Virgou yang melihat ada satu kejanggalan malah berdoa.
"Ya Allah, jangan menang ... jangan menang!" pintanya.
"Eh ... kok malah doain jelek sih!" protes Kanya.
"Mama, lihat itu yang bawa hadiah!" tunjuk Virgou.
"Emang kenapa?" tanya Kanya bingung.
"Aku takut, anakku akan dijadikan ajang manfaat untuk mendongkrak mereka dalam pemilu. Selama dua tahun mendatang, Adiba akan dijadikan budak politik mengusung nama-nama peserta parpol, membungkus politik dengan agama. Aku nggak mau Ma!" jelas pria itu gusar.
__ADS_1
Bart sudah berdiri, pria itu akan segera mengembalikan semua hadiah untuk cucunya itu jika memang menang. Pria gaek itu tak mau keturunannya harus menjadi peluru dalam semua kampanye politik.
"Daddy ngapain?" tanya Herman gusar. "Duduk aja!"
"Aku akan menarik Adiba dari sana dan membawanya pulang. Menolak semua kemenangan!" tekan pria itu.
"Iya Dad, tapi jangan sampai menarik perhatian. Belum tentu juga Adiba menang kan?" sahut Herman.
Pria itu juga gusar melihat foto-foto di banner yang akan menjadi hadiah bagi para pemenang. Ia sangat yakin acara ini sudah diatur.
"Aku yakin, Adiba dan Hafid tidak menang!" ujar pria itu.
"Tenang Ayah, yang diambil hanya juara satu sampai tiga," sahut Virgou, "juara harapan hanya mendapatkan hadiah dua ratus ribu dan piagam penghargaan!"
Tiba-tiba Virgou berdiri, ia menelpon Gomesh membawakan uang tunai untuknya. Lima menit para juri dan sponsor tampak berdiskusi, ada sedikit perdebatan mengenai nama-nama pemenang lomba. Gomesh datang membawa satu tas keresek hitam berisi uang.
"Tuan, ini tiga ratus lima juta!" bisiknya.
Virgou menepuk bahu pria raksasa itu. Gomesh memilih duduk di sana. Gio memberinya satu kotak makanan.
"Kau tau sekali aku lapar!' cengir raksasa itu.
Gio memutar mata malas. Jangan hanya perusuh yang akan protes jika tak mendapat kotak makanan. Pria besar itu juga akan protes jika tak dapat. Beruntung Gio tadi mengambil dua kotak lebih dari penonton yang pulang. Gomesh makan dengan lahap.
Virgou mendekati panitia, ia berbisik di sana. Bart dan lainnya sedikit panik dengan apa yang dilakukan oleh pria sejuta pesona itu. Banyak mata perempuan memandang Virgou penuh pemujaan.
"Ih ... ganteng amat sih!" puji salah satu perempuan.
"Iya ... ganteng amat!' sahut lainnya.
"Iya Bu ... yang ganteng itu suami saya loh!" sahut Puspita keki dan kesal dengan para ibu-ibu genit itu.
Puspita kesal dan hendak mendamprat ibu genit itu. Khasya menahannya.
"Jangan ikutan gila ah!" peringatnya.
Puspita kesal, ia menatap sebal pria yang berdiri begitu gagah, bahkan lebih gagah dibanding para sponsor yang tengah mencalonkan diri sebagai anggota legislatif itu. Tiba-tiba melintas ide gila di kepalanya.
"Sayang, ba bowu!' pekik Puspita.
Virgou menatap istrinya dan memberikan cium jauh pada Puspita dan menggerakkan. bibir mengatakan sama dengan sang istri. Puspita melirik pada ibu-ibu genit yang tadi tak percaya dirinya adalah istri pria yang mereka puji. Kanya, Khasya, Gisel dan Terra menggeleng melihat kelakuan wanita itu. Seruni, Dinar dan Safitri tak ikut karena harus menjaga para bayi bersama Maria.
'Ada hadiah tambahan yang nanti akan diserahkan oleh Tuan Virgou Black Dougher Young!" ujar pembawa acara.
Bart berdecak kesal dengan cucunya yang entah berpikir apa di sana. Hadiah paling besar untuk juara satu hanya satu juta saja, sedang juara dua, tujuh ratus ribu, juara tiga lima ratus ribu. Juara harapan masing-masing dua ratus ribu.
"Untuk juara harapan satu jatuh pada peserta ....."
Keputusan juri tak dapat diganggu gugat. kehadiran Virgou di atas panggung sebagai pihak swasta memotong pembicaraan itu. Pemenang sudah diputuskan maka. tak ada perubahan sama sekali.
"Pak, silahkan duduk!" pinta salah satu panitia pada Virgou.
Pria sejuta pesona itu duduk dengan tenang. Ia melihat uang dan mulai membaginya. Ada lima anak di sana, ia akan membagi besaran hadiah pada para juara nantinya.
"Ananda Indah Azahra dari pondok pesantren Adzikra!" semua bertepuk tangan.
Hadiah dan penghargaan diberikan. Semua berfoto. Pada calon anggota legislatif itu mengangkat dagu memperlihatkan dua lembar uang berwarna merah. Virgou berdecih mencibir.
"Silahkan Pak Virgou!"
__ADS_1
Virgou maju dan menyerahkan dua gepok. Ia berbisik pada pembawa acara berapa hadiah yang ia berikan pada pemenang juara harapan.
"Selamat bagi juara harapan, mendapat tambahan uang dua puluh juta lima ratus ribu rupiah dari Pak Virgou!"
Semua terkejut kaget, Virgou hanya tersenyum sinis melirik para calon anggota yang tengah berkampanye itu. Kini Bart dan Bram tau maksud dari Virgou. Mereka langsung bertepuk tangan sambil berdiri. Haidar dan lainnya juga ikut bertepuk tangan.
Juara harapan dua juga diberi hadiah sama besar dengan yang tadi. Juara tiga lima puluh juta, juara empat tujuh puluh lima juta dan juara satu seratus juta rupiah, sisa hadiah akan ia bagikan pada anak-anak yang tidak menang. Virgou sudah membaginya tadi.
"Juara tiga jatuh pada ananda Derry Ahmad Sulaiman!"
Tak ada lagi dagu terangkat dari para peserta anggota legislatif itu. Virgou mematahkan tujuan mereka dengan hadiah fantastis.
"Juara dua jatuh pada Ananda Adiba Zahra Sabeni!'
Semua bertepuk tangan meriah, Bart bersorak.
"Itu cucuku ... itu cucuku!"
Adiba menerima piala, sertifikat pemenang dan juga hadiah tujuh ratus ribu dari sponsor. Virgou mengecup kening gadis tanggung itu, dan memberikan hadiahnya.
"Juara satu jatuh pada ananda Hafid Fuad Hasan!"
Lagi-lagi semua bersorak meriah. Bocah itu bersujud syukur. Ia menerima hadiah satu juta dari sponsor lalu seratus juta dari Virgou.
"Uangnya mau diapakan Nak?" tanya Virgou.
"Mau umrohin Mamak!' tunjuknya pada seorang pria yang menatapnya dengan bangga.
"Nak bilang bapak. Pak, tahun depan Bapak naik haji ya!" suruh Virgou.
Hafid menatap iris biru Virgou. Pria itu mengangguk tegas.
"Mak ... tahun depan Mamak naik haji!" pekik bocah itu.
Pria itu mengusap tangan ke muka dan menangis. David mendekatinya dan mengelus punggung pria itu. Ayah dari bocah itu memeluk David. Sedang Hafid memeluk Virgou.
"Terima kasih Pak Virgou. Ini hadiah lebih besar dari hadiah yang semestinya!" sahut ketua panitia.
"Saya melakukan ini untuk memutus dan melindungi anak-anak agar tidak dibebani oleh orang-orang tamak!" jawab pria itu sarkas.
Semua akhirnya pulang. Tadinya ada pemotongan hadiah dari oknum panitia. Tetapi melihat Virgou memasang wajah sangar. Oknum itu tak jadi melakukan pemalakan. Semua anak yang tidak menang ikut senang karena mereka juga mendapat uang dari Virgou.
"Terima kasih sayang," Khasya mengecup pipi pria sejuta pesona itu.
"Sama-sama Bunda!" ia mengangkat dagu menyindir semua iparnya.
Haidar, Gabe, David dan Budiman berdecih melihatnya. Herman malah kesal karena tak berpikir cepat.
"Dasar tukang pamer!' sindirnya.
"Bunda ...," rengek Virgou.
"Ayah!' peringat wanita itu.
Bersambung.
Ah ... Daddy Virgou mah emang the best.
Next?
__ADS_1