
"Seperti yang kita ketahui Bang Arsyad jika permainan seru, hingga menghasilkan angka imbang!" ujar Sean memberi penilaian pada sebuah pertandingan.
"Pati atuh pihat butan seupelti ipu Bun Sean. Meuleta beulmain seli talna meuleta banyat meunalah. Seupelti tetita Apan Deo meunejal Apan Lino, halusna Apan Lino teultantap!" sahut Arsyad memberi ulasan.
"Apa seperti itu?" tanya Sean senang dengan pengamatan Arsyad.
"Pisa sadhi Apan Deo seunaja satuh hinda eundat menenai Apan Lino!" ujar Arsyad.
"Atuh lasa Bun Sean lada sonpilasi antala duwa peubain!" lanjutnya memberi pengamatan.
Virgou sangat suka dengan kecerdasan Arsyad yang begitu jeli mengamati pertandingan. Memang para bocah yang lebih besar banyak mengalah pada bocah bertubuh kecil seperti Lino, Leno, Benua, Bomesh dan Sky.
"Jika memang adanya konspirasi dalam pertandingan, harusnya ada pertandingan ulang bukan begitu Bung Arsyad?" tanya Sean.
"Seupeltina pidat Bun Sean ... meuleta meman inin peulmain saza!" jawab Arsyad.
"Baitlah peulmisa ... tuwa sam pudah pita beunenami anta pemua ... peultandinan pudah bipeledisitan talo atan beulahil imban!" lanjut Arsyad menutup acara.
"Saya Bun Syasyad beulsyama Bun Sean bamit dundul dili .... pemamat sole!"
"Ayo mandi semua!" teriak Kanya.
Semua anak mandi, yang besar memandikan yang kecil terlebih dahulu. Usai mandi, kini mereka rapi dan wangi. Bart menciumi semua anak-anak.
"Kalian hebat!" pujinya bangga.
"Makasih Papa!" sahut semua anak tersenyum indah.
Frans dan Leon mengusap kepala adik-adiknya yang juga memanggil mereka Papa.
"Oh ya Adiba, kamu SMA mau di mana?" tanya Rion..
"Mau masuk SMK aja Kak, mau ambil programing seperti kak Azizah!" jawab Adiba yakin.
"Ih ... andai aku bisa masuk sekolah biasa!" keluh Gabriella kesal.
"Sayangnya, kamu harus masuk internasional school sayang, kamu mulai sekolah besok sayang. Daddy sudah urus semuanya," ujar Gabe.
"Pasti banyak anak sombong!" terka gadis berusia mau enam belas tahun itu.
Bastian seumuran Adiba, sedang Billy lebih tua satu tahun dari Samudera, begitu juga Martha yang lebih tua satu tahun dari Benua dan Domesh.
"Samudera masuk SMP yang sama aja kek kita!" ajak Billy.
"Nggak mau ... kita mau sekolah di tempat kakak Rasya kemarin!" tolak Samudera.
"Ih ... masa pisah sih!" cemberut Billy.
"Ya nikmati saja Kak. ada yang macem-macem, tinggal sikat!" ujar Sam memprovokasi.
"Eh ... kok gitu!" peringat Adiba.
__ADS_1
"Iya Kak, nggak apa-apa, namanya juga membela diri," sahut Billy semangat.
Kaila sedang bermanja dengan Terra, gadis berusia mau enam belas tahun itu tak lepas dari pelukan Terra.
"Mama ... Ila kok ngantukan yah sekarang?" tanyanya sambil menguap.
"Kamu kurang gerak baby," jawab Terra.
"Mau gerak banyakan pada sensi sih!" celetuk Dewi.
"Siapa yang sensi?" tanya Haidar dengan tatapan horor.
"Tuh Papa horor, padahal belum kejadian juga," sahut Dewi.
"Hmmm ... kayaknya ada yang lupa kalo kemarin baru pukulin orang sampai bergeser rahangnya?" sindir Haidar mengingatkan.
Dewi menutup mulutnya. Ia pun cengar-cengir ketika mengingat hal itu. Lalu ia cemberut dan mengadu pada ayahnya.
"Tuh kan ... sukanya ngadu,"
"Ayah," rengek Dewi.
"Baby ... kan emang bener kamu hajar orang sampai babak belur,'' sahut Herman tak membela putrinya.
"Habis dia nyolek dagu Dewi Yah!" seru gadis itu membela diri.
"Makanya Ayah dan lainnya melarang kalian keluar rumah!" sahut Herman.
Usai makan kediaman Dominic sepi. Malam telah tiba, semua orang sudah pulang ke huniannya masing-masing. Tiga bayinya telah terlelap, Dominic kembali menciumi mereka dengan penuh kasih sayang.
"Mas, belum bobo?" tanya sang istri.
Dinar membuka hijabnya, wanita bertubuh subur itu memang sangat padat di beberapa bagian, terlebih tiga putranya menyusu. Rambut hitam terurai panjang sepunggung, tebal dan bergelombang.
Dominic mendekati wanita yang membuat hidupnya berwarna itu. Dinar sosok yang sangat kuat dan berpendirian teguh, walau ketika menikah dulu, mantan istri Dominic hadir datang mengganggu.
"Ba bowu honey," ujarnya lalu merapikan riyapan anak rambut Dinar.
"Ba bowu pu," balas Dinar.
Dua bibir bertemu, Dominic benar-benar terbakar hasratnya.. Pria itu membimbing sang istri ke peraduannya.
"Kau tau sayang, aku masih ingin satu anak perempuan," ujarnya penuh harap ketika selesai menabur benih di rahim istrinya.
"Triple kita baru tiga bulan sayang," ujar Dinar mengusap rahang kokoh sang suami yang berpeluh akibat olahraga malam mereka.
"Lagi pula anak perempuan kita banyak. Ada Baby Mai, Baby Dew, Baby Ila, Baby Arraya, Baby Bariana, Baby Fathiyya, Baby Aaima, Maryam, Aisya, Nisa, Chira, Zaa, Angel ... siapa lagi yang belum kusebut?" ujar Dinar panjang lebar.
"Ada Baby Xiera, Baby Arlo," sambung Dominic terkekeh.
"Belum nanti Lidya lahiran ...," Dinar menerawang betapa banyaknya keturunan yang lahir setiap tahunnya.
__ADS_1
"Kau benar sayang, tapi nggak apa-apa kan kalo aku mau anak lagi," ujar Dominic memeluk erat istrinya.
"Tentu sayang, setelah Sena, Aaric dan Alva satu tahun, kita upayakan anak lagi," sahut Dinar lalu mengecup pipi suaminya.
********
Pagi menjelang, Kean sibuk mengurusi perayaan selamatan rumah baru empat pria, Jac sudah memiliki hunian sendiri, rumah milik Septian dibeli oleh Demian. Septian juga tak masalah, pria itu belum menikah setelah gagal kemarin.
Septian makin mengejar karirnya, ia juga ingin menaikkan haji kedua orang tuanya. Bart sudah mengatakan jika seluruh keluarga yang muslim akan berangkat haji tahun depan.
Namun sebagai laki-laki, Septian juga mau memberi uang untuk pemberangkatan haji untuk kedua orangtuanya pada Bart.
"Nak,"
"Maaf uyut. Tapi, aku juga mau punya andil dan aku ingin pahala dari Allah," ujar pria berusia dua tiga tahun itu.
Bart menerima uang pemberian Septian. Kini Dominic menugaskan pria itu menjadi manager lapangan di Eropa.
"Ma," panggil sang suami pada istrinya.
Nania menoleh pada suaminya. Pria itu mengusap wajah sang istri.
"Ada apa Pak?"
"Aku hanya khawatir tentang Septian," ujar sang suami sambil menghela napas panjang.
"Apa putra kita normal?" pertanyaan yang membuat Nania berdesis pada suaminya.
"Pak, jangan doa yang nggak baik!"
"Ya gimana, sejak gagal nikah waktu itu gara-gara calon istri minta mahar rumah. Septian tak lagi menggandeng wanita lain, sedangkan mantannya dulu kini sudah punya anak," gerutu pria itu kesal.
Nania pun ikut terdiam, wanita itu juga sering menanyakan kapan putranya memperkenalkan calon istri atau pacar.
"Sabar ya Ma, Tian pasti kasih Mama istri dan menantu yang baik!" ujar pemuda itu beralasan.
Sementara itu di mansion Frans, semua anak tengah heboh bergoyang.
"Sel poha!" pekik Arsyad sambil memutar pinggulnya.
"Papi saslama yan tahulu peulna peumpala ... sematin nitmat badhai siuman yan peultama ... seuatan tembali delola siwa mudhatuh ... talna sesempuh alunan ladhu seupeldu topi dandut ....!"
Bersambung.
Sel ... poha!
Maaf ya Readers ... othor masih sakit jadi satu dulu.
Ba bowu 😍😍😍
next?
__ADS_1