SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
ATHENA DEWI 4


__ADS_3

“Jadi bagaimana?” tanya pemuda bule itu.


Semua atlet lain mengira Dewi akan menerima tawaran menggiurkan itu. Rahmed mulai mengajak yang lainnya untuk pergi. Tetapi kawan-kawan bule menahan mereka.


“Siapa yang memperbolehkan kalian pergi?” tanya salah seorang di antara mereka.


“Kami tak ada urusan dengan kalian!” ujar Rahmed tentu berani.


“Easy bro ... kami tidak jahat kok,” ujar pemuda bule itu.


“Tidak masalah. Tapi kami memang ingin istirahat!” pungkas Rahmed tenang.


“Hei ... Yusoof baru saja menang tadi. Bagaimana jika kita rayakan di klub. Para atlet ternama hadir di sana. Salah satunya pasti atlet idola kalian,” bujuk pemuda bule iru lagi.


“Itu terserah Yusoof, aku ingin tidur!” tolak Rahmed.


“Maaf, saya juga mau tidur. Otot saya sedikit sakit dan sekarang saya mengantuk sekali!” ujar Yusoof menolak ajakan bule itu.


“Oh ... ayolah!!” paksa yang lain.


Yusoof ditodong senjata kecil di pinggangnya. Pemuda itu adalah tentara negaranya. Ia pejuang Palestina yang diterbangkan untuk menjadi wakil negara.


“Aaarrrgghh!!” pekik bule yang memegang senjata.


Tangannya terpelintir sempurna, Rahmed langsung mengeluarkan kamera dan merekam kejadian itu. Beberapa atlit hendak mencegahnya. Tetapi, Dewi dan dua lainnya menghalangi.


Terjadi keributan di sana, aksi saling dorong terjadi, masing-masing mengeluarkan teknik bela diri mereka. Karena baik Rahmed, Yussof, Dewi, Hasseef dan Lonny baru saja bertanding. Tenaga mereka sedikit lemah.


“Sialan!” sentak rahmed mulai emosi.


”Tahan Rahmed. Itu tujuan mereka yang ingin kita emosi dan mulai melawan dan menggunakan kekerasan!” peringat Dewi.


“Hei ... ada apa itu!”


Sebuah teriakan membuat semuanya berhenti. Virgou datang dengan wajah kesal, ia adalah seorang ayah, mafia dan ceo terkemuka. Menatap anak gadisnya bisa mendapatkan skorsing karena membuat keributan.


“Apa yang kalian lakukan?” tanyanya dengan tatapan tajam.


“Anda siapa?” tanya pemuda bule itu berani.


“Tempat ini dilarang dikunjungi bagi yang tidak berkepentingan!” lanjutnya memindai Virgou dari kepala hingga kakinya.


Virgou menarik kerah pemuda bule itu dan mengangkatnya. Pemuda itu sampai harus menjinjit karena tubuhnya diangkat tinggi-tinggi.


“Berhenti! Jangan kasar pada atlit!”


Brugh! Pemuda bule terlempar dan jatuh ke lantai. Beberapa temannya mendekati rekannya itu. Sosok pria berambut merah mendekat.

__ADS_1


Kini semua orang ada di ruangan introgasi. Rekaman Rahmed membebaskan Dewi dan lainnya. Tapi Virgou tentu ditahan karena mengasari atlet. Pria itu duduk dengan keangkuhan yang paripurna.


“Apa yang kalian lakukan kepada tamu kehormatan negara?!” hardik seorang pria.


“Mr. President!’ teriak semua orang lalu membungkuk hormat.


Virgou tersenyum sinis, ia menatap semua orang dengan pandangan gelap. Satu bundel bukti ia keluarkan. Kecurangan terbongkar.


“Kalian bisa jelaskan ini di komite beladiri internasional!” ujarnya dengan penuh ketegasan.


“Kami bersedia Tuan Ketua!” bungkuk pria yang menjabat sebagai presiden olahraga di sana.


Virgou melenggang dengan kepala mendongak. Presiden olahraga memandangi anak buahnya.


“Apa kalian hendak menang secara curang?” tanyanya.


“Kami hanya menekan negara yang tidak memiliki kemampuan Mr. President!” jawab salah satu di antara mereka.


Plak! Satu tamparan keras dilayangkan oleh president olahraga itu. Pria itu merasa kecolongan dan ia kini harus rela mencopot kedudukannya nanti ketika sidang komite.


“Kenapa ada ketua komite internasional di sini? Lagi pula, kenapa dia membela negara minoritas?” tanya salah satu diantaranya.


“Aku tidak tau. Tuan Virgou sosok yang memang vokal terhadap kecurangan. Tetapi, ia tak sampai berbuat kasar pada atlet seperti itu,” jawab pria itu.


Pertandingan masih berlanjut di arena tanding. Dewi akan bertanding dua hari lagi di semi final melawan salah satu negara yang bertanding malam ini juga.


Semenjak mereka diberlakukan secara diskriminasi. Atlet negara-negara yang tak diunggulkan membentuk kelompok sendiri.


“Aku saja tak menyangka bisa ada di babak quarta final!” celetuk Nguan.


“Siapa lawanmu sebelumnya?” tanya Clark.


“Korea Selatan,” jawab Nguan datar.


“Wah ... hebat!” Chilia bertepuk tangan.


“Tidak ... aku tidak seperti itu. Mungkin yang di herankan adalah Chilia yang bisa mengalahkan Jie Ji na dari China!” ujar Nguan.


Semua menatap Chilia dengan pandangan kagum. Dua gadis saling menatap. Keduanya menggenggam tangan.


“Kau tau, aku tak akan mengalah sedikitpun nanti di pertandingan!” ujar Nguan.


“Aku juga tak akan mau mengalah!” ujar Chilia tegas.


Keduanya berpelukan dan saling berjanji akan bertanding secara sportif. Dewi ternyata akan melawan kembali atlit tuan rumah. Puja datang dengan wajah sedikit bengap. Rupanya ia melawan habis-habisan lawan tandingnya tadi.


“Astaga!” seru semuanya khawatir. Tetapi Pooja malah tersenyum.

__ADS_1


Atlet dari India ini memang kalah tiptis dari lawannya, Natalia Herzigovia.


“Kenapa kau tidak ke rumah sakit untuk di rawat?” tanya Clark khawatir.


Semua menoleh pada pemuda tampan itu. Lalu tersenyum penuh arti, terlebih melihat betapa Clark mengusap semua memar yang ada di tubuh gadis hitam manis itu.


“Aku sudah disuruh pulang karena memang tidak mengalami cidera serius. Tapi aku minta traktir makan di restoran bintang lima oleh Athena, karena membuat koma lawannya,” ujar Pooja lagi.


“Apa?’ bagaimana bisa dia menang jika dia koma?” tanya Rahmed bingung.


“Waktu melawanku masih baik-baik saja hingga akhir. Aku dibawa ke rumah sakit untuk penanganan. Tak lama Natalia dilarikan ke rumah sakit karena mengalami retak kaki dan juga tulang rusuk,” jawab Pooja santai.


“Astaga ....” geleng semuanya.


“Salah sendiri dia menghina rasis padaku,” saut Pooja membela diri.


“Jangan katakan itu karena kulitmu?” sahut Clark.


Pooja mengangguk, “ia juga mengataiku budak.”


“Ah ... kenapa kau tak biarkan aku menghajarnya!” protes Dewi.


Pooja hanya menggendikkan bahu tak acuh, mereka masuk ke ruangan tidur masing-masing. Dewi menjanjikan akan mentratikr semua makan di restoran bintang lima. Semua hanya tertawa, mereka tak percaya dengan janji gadis cantik itu.


Tak ada yang berubah, fasilitas buruk tetap didapatkan oleh atlit-atlit yang tak dijagokan. Rupanya panitia belum merubah semua pelayanan. Virgou melihat itu benar-benar marah.


“Halo ... kenapa masih ada diskriminasi!” bentaknya pada seseorang di seberang telepon.


“Maaf Tuan ... kami akan segera mengubahnya!”


Semua atlet mendapat fasilitas sama. Mereka sangat berterima kasih pada sosok malaikat yang memperdulikan mereka.


“Aku Tak tau jika ada suara yang lebih berkuasa melindungi kita di sini,” ujar salah satu atlit.


Dewi hanya tersenyum, tentu ia tau siapa pelakunya. Di sana ia melihat Virgou yang menatap bangga padanya. Pria itu memang sangat tampan dengan gayanya.


“Ck Dady!” decak Dewi kesal melihat gaya salah satu ayahnya itu.


“Ayah pasti memarahimu jika kau sok kegantengan di sana!” gumamnya bermonolog.


“Aku aduin Mommy nanti ah!” ujarnya usil.


Bersambung.


Wah ... memang baby Dew nanat sisilan.


Next?

__ADS_1


__ADS_2