SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
MAULID NABI DI EROPA


__ADS_3

"Atuh dadamu Ata'Nai!"


"Talian papain syih?" tanya Aaima.


"Nelayu Ata' Nai ... tayat Ata' Lamit dodain Ata'!" jawab El Bara.


"Nelayu Ata'Nai?" tanya Arsyad.


"Apah Palen suta layu Uma," sahut Al Bara.


"Papa atuh judha suta!" sahut Arsyad.


"Layu Mama Ini?" tanya Maryam.


"Biya ... wowan lati-lati ipu halus bandai belayu beulempuan. Dithu tata Papa!' sahut Arsyad.


"Soba tamu layu atuh!" suruh Aaima pada Arsyad.


"Baby, tamu Ata' Azha aja yan layu ya!" sahut Azha pada Aaima.


Para ibu mulai gusar, Seruni berdecak sebal pada putranya yang langsung mengklaim Aaima. Walau ia sangat setuju jika Aaima menjadi istri Azha suatu saat.


Aaima bermata gelap seperti ibunya begitu juga Zizam. Aaima akan jadi gadis yang sangat cantik karena wajah bule ayahnya melekat di raut mukanya.


Sedang Harun tengah menikmati hidangan, ia bersama Bariana, Arion dan Arraya.


"Baby, tumben anteng?" tanya Samudera pada empat adiknya.


"Enatan matan Ata' dali pada nelatuin pesuatu yan pidat bentin," jawab Harun.


Samudera mengangguk setuju, melihat semua adik yang lain menggombal satu dan lainnya.


"Iyya ... pahu tah entau teunapa pulun teulban?" rayu Arsyad.


Fathiyya menggeleng, Gisel gemas dengan keberanian Arsyad pada putrinya. Memang Fathiyya dan Arsyad seumuran. Wanita itu juga tak masalah jika Arsyad menjadi suami putrinya kelak.


"Hei anak bayi!" sanggah Budiman yang kesal sendiri pada Arsyad.


"Baba ... atuh suma mendoda Iyya!" sahut bayi itu pada Budiman lebih galak.


"Awas kau Gio, aku potong gajimu!" ancam Budiman menggerutu.


"Sayang!" peringat Gisel.


Sedang di tempat lain Gio bersin. Hidungnya tiba-tiba gatal.


"Spasa nih yang ngomongin gue!" dumalnya bergumam.


Kembali ke tempat anak-anak. Nai dan Langit buru-buru menyingkir sebelum kedekatan mereka dilihat yang lain. Reno masih berjaga di sekitar Arimbi. Gadis itu tengah memeriksa kesehatan salah satu wanita hamil.


"Your pregnancy is fine madam!" (Kehamilan anda baik-baik saja Nyonya!) ujar gadis itu tersenyum.


"I'll give you vitamins and calcium okay?" (Saya akan memberimu vitamin dan kalsium ya?)


Wanita itu mengangguk setelah diberi bungkusan obat oleh Arimbi. Gadis itu menghela napas panjang. Antrian Lidya jauh lebih panjang di banding antriannya. Lidya dibantu Aini sebagai dokter syaraf. Demian berjaga-jaga di sisi istrinya begitu juga Gio, Felix dan Hendra.


"Ini sayang," sebuah sapu tangan berwarna biru terjulur.

__ADS_1


Arimbi menoleh, sosok pria tampan dengan mata hazel. Gadis itu tersenyum dan mengambil sapu tangan dari pria yang akan dijodohkan dengannya entah kapan.


Reno juga memberi air putih dalam kemasan gelas. Banyaknya pengawal dari SavedLived yang hadir menjaga keamanan. Terlebih mereka begitu tampan, bahkan keberadaan pengawal berjenis kelamin perempuan juga menjadi sorotan karena mereka begitu cantik bak model. Semua usia para pengawal sangat muda bahkan ada yang masih berusia sembilan belas tahun.


Langit, Ricky dan Bambang bersama Satrio. Tiga pria itu memang mengawal remaja yang kini makin melesat tingginya. Kean tengah memeluk Herman, remaja itu memang sangat manja dengan pria tua itu.


"Ayah ... Kean ngantuk," ujarnya lalu menguap.


Kean jika sudah manja akan mengalahkan para perusuh. Remaja itu tak peduli protes saudaranya yang lain.


"Kau berat Baby," keluh Herman.


"Ayah," rengek remaja itu.


"Ya sudah, ayo ke asrama, kau bisa tidur di salah satu kamar," ajak pria itu.


Rio, Toni dan Leo mengikuti Herman dan Kean. Memang tiga pria itu mengawal Kean. Mereka akan berjaga di luar kamar anak ketuanya.


"Jaga dia!" titah Herman pada mereka begitu tegas dan galak.


"Baik Tuan!"


Tentu tidak ada yang berani pada pria tua itu. Bisa-bisa Virgou akan memenggal kepala mereka semua.


Para perusuh junior akhirnya juga mengantuk, perut mereka kenyang. Para ibu membawa semua anak ke kamar asrama dan tidur bersama mereka. Acara masih berlangsung hingga sore menjelang.


Waktu berlalu dan halaman itu kini mulai sepi pengunjung, beberapa kolega dari aliansi pengusaha muslim Eropa masih berkumpul dan mulai membuat rapat pembubaran panitia. Lima puluh anak angkat Bart tentu yang menjadi sorotan mereka semua.


"Kalian hebat sekali!" puji salah satu pebisnis.


"Tentu, mereka adalah adik-adikku!" sahut Frans bangga.


"Tapi kalian dilarang memaksa keagamaan kalian jika mengadopsi anak di sini," sahut Leon.


"Iya, tapi itu jadi tantangan buat kami. Bukankah hidayah datang dari Allah, maka biar Allah menuntun hati mereka memilih agama sama dengan kami tanpa paksaan," sahut pebisnis itu.


Leon dan Frans mengangguk, kini baik masjid dan halaman pesantren sudah sepi pengunjung. Anak-anak sudah bangun. Lidya, Aini, Putri, Nai, Arimbi dan Daud tampak kelelahan.


"Oh ... anak Papi, sini!" David merentang tangan.


Mereka tentu memeluk tubuh pria itu. Bart ikut memeluk mereka begitu juga Bram.


"Terima kasih sayang, kalian berhasil membuat acara ini sukses," ucap Bart.


"Sama-sama Grandpa," sahut keenamnya.


"Huek!" Aini dan Lidya tiba-tiba mual.


"Baby!" Haidar tentu khawatir.


"Sayang," Gio langsung mengamit tangan istrinya.


"Kamu telat makan pasti," keluh Gio.


"Tadi banyak pasien Mas. Itu Ibu Lid juga nggak sempet makan," sahut Aini.


"Iya, kalian minum teh dulu dan makan roti tawar sayang," suruh Bram.

__ADS_1


"Bakso tadi habis ya?" tanya Lidya.


"Masih sayang, tenang saja. Grandpa tadi memang membeli lebih banyak karena kalian tentu tidak kebagian," jawab Bart tenang.


"Iya mau bakso daging sama bakso telor!" rengek wanita itu manja.


"Iya sayang. ada semua bahkan bakso beranak dan bakso iga ada!" sahut Bart.


"Putri mau bakso beranak!" sahut wanita itu.


"Ayo kita semua makan bakso!" ajak Bart dengan senyum lebar.


Kini semua menikmati salah satu kuliner paling diburu di Eropa. Termasuk bubur ayam, nasi uduk dan nasi goreng.


"Ini dari restauran Sedap Indonesia loh!" sahut Frans.


"Jadi ini masakan Nini Last?" tanya Lidya membuka mulut lebar ketika Demian menyuapinya.


"Ada koki sayang," sahut Lastri tersenyum.


"Ma, nasi kuning ada tidak?" tanya Gisel pada Najwa.


"Ada sayang, kamu suka balado jengkol enggak?" tanya Najwa.


"Nini itukan bau!" seru Lidya.


"Enak tau!" celetuk Saf menggado satu potong jengkol.


"Kak Darren jangan cium Uma!" larang Lidya. "Bau!"


Darren duduk dan ikut makan balado jengkol bersama lalapan. Semua mata membola melihatnya. Kecuali beberapa diantaranya termasuk Virgou dan Puspita.


"Daddy juga suka jengkol, apa lagi kalo di rendang ... uh ... lamaknyo!" sahut pria sejuta pesona itu.


"Ini nggak bau sayang, kamu coba deh!" sahut Darren menyodorkan satu piring balado jengkol.


"Tadi juga ada beberapa pengusaha minta dibungkusin ini loh!" sahut Najwa.


Lidya mencoba sedikit makanan itu. Merasa kurang, ia mencoba satu potong besar.


"Nggak bau loh, coba kamu cium sendiri!" sahut Darren.


"Hah!" Lidya menutup mulut dan membaui napasnya.


"Eh ... nggak bau ya?" ujarnya.


"Tentu sayang, Nini kan tau bagaimana mengolahnya," sahut Lastri.


Akhirnya semua mencoba makanan khas itu. Hanya para perusuh yang tidak mencobanya karena pedas.


"Enak Mas?" tanya Adiba ketika menyuapi Satrio satu sendok nasi goreng yang ada lauk jengkolnya.


Herman mendengkus, lagi-lagi Khasya mengelus tangan pria itu. Wanita itu tersenyum lembut.


bersambung.


Bule makan jengkol ...

__ADS_1


othor suka balado jengkol.


Next?


__ADS_2