
Sore menjelang, Darren kena marah Virgou karena menyalahkan Saf karena tadi bangun kesiangan.
"Daddy," rengek Darren mengerucutkan bibirnya.
Darren mencari siapa pengadu kericuhan pagi harinya tadi. Pria itu menatap tiga anak kembarnya. Maryam, Aisya dan Al Fatih menoleh pada duo Bara.
"Hei ... bayi pengadu!" panggilnya gemas.
"Pa'a Apah? Spasa yan penadu?" tanya Al dan El Bara dengan mata bulat.
"Kau mengatakan jika Abah tiap hari marahin Uma kalian. Kapan kalian lihat, hmmm?" tanyanya mulai menggelitik perut bundar dua Bara itu.
"Muma yan pilan!" jawab Al Bara sambil tergerak.
"Oh ternyata Uma yang bilang ke kalian Babies?" duo Bara tergelak.
Semua bayi menyerang Darren. Kini pria itu yang terpingkal karena ditindih semua perusuh paling junior.
"Ampun Babies!" ujar pria itu kapok.
"Janan peulawan tamih Apah!" angguk Harun yang ternyata menjadi provokator.
Darren akan kalah, Saf tersenyum ia banyak dibela anak-anak. Darren mendekatinya.
"Nanti malam giliranmu sayang," bisik pria itu.
Saf pun menghela napas panjang, wanita itu harus siap pasrah di bawah kukungan suaminya.
"Janan tatut Uma, Alun atan peulindunimu!" Harun menenangkan Saf.
Wanita beriris abu itu hanya berdecak. Para perusuh junior kini bermain bersama. Della masih menangani para bayi yang mau merangkak dan suka sekali menarik apa saja.
"Paypi janan ya, manti tananna luta," larangnya.
"Ata' ... hiks!" Angel merasa tangannya perih.
Della langsung sigap, ia meniup telapak tangan bayi cantik itu dan menciumnya.
"Pasih syatit?" tanyanya khawatir.
Angel mengangguk kecil dengan mata berkaca-kaca. Maria begitu tersentuh dengan kepedulian Della, Alia yang seusia dengan putrinya hanya mengamati semua, ia begitu tenang dan tak banyak tingkah.
"Yiya, pini!" panggil Firman.
Alia menggerakkan dengkulnya dan merangkak ke arah kakaknya. Firman duduk dan menjaga sang adik layaknya pria. Firman tau jika Della harus menjaga saudara lainnya maka ia harus menjaga adiknya.
"Ta' in yut," ajak Alia.
"Ata'Lela, Yiya pisa momon!" pekik Firman senang.
Della sudah menenangkan Angel, bayi itu kini sudah berada di tangan Nai. Della mendatangi dua adiknya.
"Nomon pa'a Det?" tanya Della dengan luapan kegembiraan.
"Momon ladhi Yiya,' suruh Firman.
"In yut!" ulang Alia.
Della bertepuk tangan. Firman ikut bertangan. Hal itu membuat Maryam, Aliyah, Aisya, Fatih, Al dan El Bara, Arsyad, Aaima. dan Fathiyya mendatangi mereka.
"Teunapa petut tanan?" tanya Fathiyya.
__ADS_1
"Yiya pisa nomon!" ujar Della senang.
"Wah ... pemamat ya!" sahut Maryam pun bertepuk tangan.
Semua anak bertepuk tangan, Alia tersenyum dan ikut bertepuk tangan sambil memutar tubuhnya.
"Bawu pain pa'a Paypi?" tanya Della.
"In impa," jawab Alia.
"Pompinpa?" tanya Aaima memastikan perkataan Alia.
Alia mengangguk antusias. Akhirnya mereka pun bermain hompipa.
"Bompinpa lalaiyun danblen ... policah ... pate paju somben!" Della menggoyang telapang tangannya.
Semua tentu belum mengerti cara bermain hompipa. Maryam menggoyang terus tangannya, Fathiyya melambai tangan, sedang yang lain malah berjoget tak jelas.
"Palian syalah," ujarnya memberitahu.
"Tlus padhaipana Lela?" tanya Al Bara.
"Tayat dhini mih, pompinpa lalayiyun damplen ... policah pate paju lomben!"
Della menggoyangkan tangan Al Bara dan membaliknya telapak tangan di atas sedang buku tangan di bawah.
"Nah, talo tamuh banya peundilian yan peupelti imi, tamuh teluan lalias talah," jelas Della.
"Panti talo pindha puwa lolan, pita suwit," lanjutnya.
"Suwit pa'a?" tanya Maryam.
"Suwit peubelti imi,"
"Talo jali peulunjut, ipu ladalah lolan, palo pipu jali ipu dajah, nah telintin ipu pemut,"
"Jita telintin peutemu selunjut, yan peunan selunjut, talena pemut pisinjet lolan. Palo dajah pawan lolan, lolan talah talena dajah lepih peusal," jelasnya lagi.
Nai merekam penjelasan Della yang sudah seperti guru itu. Semua menyungging senyum, Della begitu sabar menjelaskan permainan yang akan mereka mainkan. Harun, Azha, Bariana, Arion, dan Arraya jadi ikutan tertarik begitu juga semua kakak-kakak mereka.
Arfhan datang setelah melakukan theraphy tangannya. Ia bersama Gomesh, pria raksasa itu tak pernah lepas dari perkembangan kesehatan bocah itu.
"Apa kata Dokter?" tanya Virgou.
"Semua berjalan lancar, Ketua. Hanya saja selama beberapa tahun Arfhan belum boleh mengangkat beban terlalu berat," jawab Gomesh sedikit sedih.
Virgou menghela napas, keberanian Arfhan dibayar mahal dengan kinerja tangan bocah itu. Tetapi melihat sekarang Arfhan menggendong Firman tanpa beban berarti. Pria itu sangat yakin jika Arfhan akan jadi pemuda yang sangat kuat.
"Gomesh ... latih dia!" perintahnya.
"Baik Ketua!" sahut Gomesh membungkuk hormat.
"Teunapa dajah pisa talah pama peumut!" seru Al Bara tak terima.
"Dajah peubih peusal dali panusia!" lanjutnya sengit.
"Ipu ... ipu," Della tak tau alasannya.
"Apan Fafan?" Della melihat sang kakak yang menggendong adiknya.
"Itu Karena semut umumnya berkoloni di berbagai tanaman yang menjadi makanan gajah. Ketika gajah mencoba memakan tanaman tersebut, semut akan masuk ke belalainya dan membuat gajah sangat tidak suka. Ya, belalai merupakan salah satu titik kelemahan pada gajah. Walau banyak yang meragukan itu, nah sebenarnya Gajah itu takut dengan kumpulan lebah. Hewan besar itu akan memberi tanda pada teman-temannya agar menjauhi kawanan lebah," jelas Arfhan panjang lebar.
__ADS_1
Virgou mengelus kepala anak yatim-piatu itu. Ia mengecup sayang. Arfhan memang pintar, sepintar semua anak-anaknya.
"Apan Fafan bebat!' puji Al Bara takjub.
"Suma toloni ipu pa'a?" tanya Harun.
"Koloni itu kumpulan Baby," jawab Samudera, "atau bisa disebut kelompok."
"Oh aku sering dengar kolonial Belanda apa itu sama dengan koloni?" tanya Bomesh.
"Daerah koloni adalah suatu daerah yang dijajah oleh bangsa lain. Koloni biasanya merupakan bagian dari wilayah negara jajahan. Daerah kolonial adalah suatu daerah atau negara yang dikuasai oleh rakyat. Daerah kolonialis adalah orang atau negara yg menganut paham atau mempraktikkan kolonialisme;penjajah," kini Affhan yang menjawab.
"Oh berarti semut atau gajah yang berkoloni itu bukan berkumpul di sebuah tempat. Melainkan menjajah atau menguasai tempat yang ada di sana?" tanya Sky memastikan rangkumannya.
"Benar sekali Baby!" ujar Bart begitu bangga.
Semua anak memperlihatkan kecerdasan mereka. Seakan tak mau kalah dengan yang lainnya. Bukan untuk saling memamerkan jika ada yang lebih pintar. Tapi mereka menunjukkan kemampuan otak mereka.
"Aku senang melihat otak encer kalian!" pujinya bangga.
Harun dan semua kelompok bayi melipat tangan di dada. Mereka tentu belum bersekolah, jadi pengetahuan mereka belum banyak.
"Atuh bunya peulsanyaan!" sahut Azha yang kesal dengan kakak mereka.
"Pertanyaan apa Baby?" tanya Kean.
"Wewan pa'a yan pisa menuasai syatu wiwayah peundilian?"
Kean hendak menjawabnya, tetapi langsung ditahan oleh Satrio. Remaja itu menggeleng.
"Wah apa ya Baby?" tanya Adiba pura-pura tidak tahu.
"Pemana tamuh pahu Azha?" tanya Bariana.
"Sustlu atuh pidat pahu matana atuh beulpanya!' sahut Azha yang membuat semua memutar mata malas.
Adiba pun menjelaskan hewan-hewan yang biasa hidup soliter atau mandiri itu. Kini semua pun bermain kembali dan tertawa bersama.
Bart menatap semua keturunannya, Virgou mendekati kakek yang dulu jadi rivalnya.
"Kau bahagia Grandpa?" tanyanya, lalu memeluk pria gaek itu.
"Ya ... aku bahagia Boy,' jawab Bart terharu.
"Kau mau menikah lagi tidak?" tanya Virgou menggoda Bart.
"Siapa tau akan lahir bibit baru!" lanjutnya langsung berlari karena Bart mengumpat pri sejuta pesona itu.
"Kemari anak sialan!"
"Grandpa!" peringat Terra.
"Wah ... spasa nanat sisilan ipu?" tanya Al Bara penasaran.
Bersambung.
Nah loh ... spasa yan sisilan?
Readers ... maaf ya hanya satu up. Othor sibuk banget, insya Allah akan double up kalo nggak sibuk banget triple up ya.
Ba bowu 😍❤️
__ADS_1
next?