
Rumah Demian penuh dengan anak-anak. Mereka tak mau pulang. Hanya orang tua saja yang pulang.
'Baby ... bangun sayang," Demian mengusap pipi Kean.
"Papa ...."
Kean menggeliat, pemuda itu mengerjap. Hari sudah terang benderang. Memang sehabis subuh mereka tidur kembali.
"Ayo sarapan!" ajak Demian.
Semua bayi bangun. Al dan El Bara dimandikan oleh Demian. Anak-anak mandi bergantian. Setelah wangi dan rapi mereka pun sarapan. Della menyuapi Alia dan Anjani. Bayi mau empat tahun itu memang sangat bisa diandalkan oleh para orang tua.
'Pa ... kita jalan-jalan di taman dekat sini ya?' pinta Kean.
"Boleh," jawab Demian.
Semua anak bersorak. Memang para pengawal tidak banyak berjaga karena perumahan itu tertutup. Dominic datang bersama istri dan tiga putranya.
Taman komplek memang sedang sepi pengunjung. Keberadaan keluarga super kaya di tempat itu menjadi prioritas penjagaan. Aaric, Alva dan Sena diletakkan di rumput. Triple Starlight itu merangkak kemanapun mereka ingin. Lagi-lagi Della yang menjaga semua bayi yang sepertinya penasaran dengan apapun.
'Ata nih pa'a?" tanya Dita.
"Imi patu Paypi," jawab Della lalu mengambil benda itu dari tangan Dita.
"Ipu peulpayayah Paypi," terang Della.
"Ata' pa'a yan pidat peulpayayah?" tanya Alia.
Alia sudah berusia satu tahun. Bayi itu juga sudah tidak mau dianggap bayi oleh Puspita.
"Eundat lada yan pidat peulpayayah Paypi ... semama pita meundunatanna denan pait!' jelas Della.
"Talian meunelti!"
Semua bayi ada yang mengangguk ada pula yang menggeleng. Della hanya menghela napas panjang. Lidya mencium Della. Ia sangat yakin bayi cantik itu akan jadi penerusnya.
Acara bermain di taman selesai. Tak lama para orang tua datang. Mereka menjemput semuanya pulang. Hal ini membuat Demian keberatan.
"Besok mereka sekolah sayang," ujar Terra memberi pengertian.
Al dan El Bara tentu ikut dengan semua saudaranya. Keduanya tak mau bersama ayah dan ibunya.
"Babies sama Mama aja ya," pinta Lidya pada dua jagoannya.
"Eundat mawu Mama ... pidat selu talo pama Mama!" tolak El.
Lidya merengut. Wanita itu lebih suka dua bayinya itu duduk manis, ketimbang menjadi pusat kerusuhan. Duo Bara tetap pergi bersama Terra. Hal ini membuat triple Starlight menangis. Tiga bayi itu juga mau ikut.
"Babies, besok kita ke sana ya!' bujuk Dinar lalu membawa tiga putranya pulang.
Para perusuh paling senior memilih pergi sendiri. Tentu saja dengan pengawalan Fio dan tim. Ada delapan pengawal mengikuti mereka. Virgou yang menyuruhnya.
"Daddy ... sekali-kali sih nggak usah pake pengawal,' pinta Kaila.
"No!" tolak Virgou.
"Dengan pengawal atau tidak sama sekali!" lanjutnya tegas.
Kean, Calvin, Sean, Al, Daud dan Satrio jadi pengawas semua adiknya. Seperti Affhan, Maisya, Raffhan, Setya, Davina, Zheinra, Dimas, Duo R, Duo De, juga Kaila.
__ADS_1
Samudera, Gabriella dan lainnya tak bisa ikut karena dilarang keras oleh Budiman.
"Baba ... Ella juga mau jalan-jalan!" rengek gadis itu.
"Baby ... kamu besok satu hari di sekolah loh!' peringat Gabe.
"Nurut sama Babamu ya!" lanjutnya yang memang diangguki berat hati oleh Ella dan semua adik-adiknya.
Kean mengangkat adik bungsunya Harun. Virgou sampai berteriak. Sayang kendaraan yang membawa para perusuh senior sudah pergi. Satrio yang membawanya.
"Anak sialan!" teriak pria sejuta pesona itu.
"Kakak!" teriak Terra kesal.
Di sana banyak mata bayi menelan mentah-mentah perkataan Virgou. Al dan El tentu sudah paham jika semua anak laki-laki adalah nanat sisilan.
"Pita eundat tadet ladhi tot Netnet!' sahut El. "Tan pemua lati-lati nanat sisilan!"
"Atuh judha nanat sisilan don!" sungut Aisya yang tak terima hanya anak laki-laki saja yang memiliki julukan.
"Pamu nanat fifiya Baby Syiyah!' sahut Azha.
"Sulan ... Ata' sulan!" sungut Arsh.
"Peustina Alsh yan piwawa!" lanjutnya protes.
"Atuh don yan lulan pahun!" sungut Al Bara juga protes.
"Ayo pergi!" ajak Seruni lalu mengangkat putrinya.
Semua bayi naik mobil. Rumah Lidya sepi, hanya tinggal Demian dan istrinya.
Demian memeluk erat Lidya dan memberikan ciuman bertubi-tubi di wajah wanita bertubuh mungil itu.
"Ba bowu pu!' balas Lidya tersenyum.
Satrio membelokkan kemudinya ke sebuah mall besar. Semua anak turun bersama para bodyguard yang mengendarai motor.
Tentu saja ketampanan mereka jadi pusat perhatian pengunjung. Karena akhir bulan mall tersebut banyak pengunjung.
"Baby sini Kakak gendong!" Harun digendong Kean.
"Ata' ... yan lain basti tesewa,' ujar Harun memperingati.
"Habis mereka sama ibu bapaknya. Kamu paling dekat. Jadi kakak bawa kamu!' jawab Kean.
Kaila digandeng oleh Setya. Sedang Dimas menggandeng Maisya dan Affhan. Semua bergandengan ketika masuk mall. Sedang delapan pengawal tampan mengelilingi mereka dan menjauhkan beberapa orang yang hendak menyerobot masuk.
"Baby mau manisan nggak?" tawar Satrio ketika berada di sebuah stand makanan kering.
"Mau Mas!" sahut Harun mengangguk antusias.
"Ini tasternya Mas!' ujar pramuniaga.
Satrio membeli beberapa buah yang sengaja dikeringkan dengan gula. Memilih buah lembut dan manis.
"Keripik buahnya juga Mas!" pinta Zheinra.
Satrio mengambil plastik lalu membuka beberapa toples kaca besar. Pramuniaga berusaha mencuri foto remaja tampan itu. Tentu saja Fio melarangnya.
__ADS_1
"Jangan difoto ya Mba!" peringatnya dengan tatapan tajam.
Pramuniaga cantik itu gemetaran karena ditekan sedemikian rupa oleh Fio. Semua pengawal menatap seluruh pengunjung yang mengeluarkan ponsel.
Selesai membayar, mereka beranjak ke sebuah wahana bermain. Semua bermain ketangkasan di sana. Harun memanjat bukit tiruan dengan sigap. Balita itu memang sangat cepat.
"Tuan muda, Tuan Virgou menelpon untuk segera pulang!' ujar Fio memberitahu.
"Papa ...."
"Katanya tidak bisa dibantah Tuan muda!' putus Fio.
"Nyonya Terra sudah masak. Jadi semua dilarang makan di sini!" lanjutnya.
Akhirnya semua menurut. Harun ingin dibelikan es krim cone. Kean membelikan bayi itu.
"Ada yang mau?" semua menggeleng.
Harun ada dipundak Kean. Memang balita itu sangat dekat dengan kakaknya. Mata biru keduanya menjadi perhatian semua orang. Begitu juga mata Calvin dan Kaila.
Ketika sampai rumah tentu saja Harun jadi incaran pertanyaan semua saudara seumurannya.
"Tamuh teunapa peuldi seundili sih!' protes Arion.
"Tata Ata' Tean sih, kalena atuh lepih detet pama Ata'. Sadhi lansun didendon!" jawab Harun.
"Imih peumua dala-dala Mama pita!' sungut Arraya kesal.
"Babies ayo makan!" teriak Seruni.
"Pita modot matan aja yut!' ajak Azha..
"Jangan Baby, nanti Mama sedih loh!" larang Gino.
"Lagian Kakak lapar," lanjutnya.
"Alsh uga lapan!" sahut Arsh mengelus perut buncitnya.
Semua akhirnya makan. Usai makan Terra meminta anak-anaknya tidur siang.
"Mama Kean udah besar!" tolak pemuda itu untuk tidur siang.
"Tidur Baby!" perintah Terra tak mau kompromi.
"Baby!' Rion bersuara.
"Tadi kita sudah membiarkan kalian loh!' lanjutnya memperingati.
Kean naik ke kamarnya. Pemuda itu menurut sebelum ayahnya marah.
"Anak-anak itu!' keluh Bart.
"Entah siapa yang ditirunya," lanjutnya.
Tentu saja semua mata memandangnya malas. Hal itu membuat Bart kesal.
"Apa kalian!" sentaknya. "Dasar semua Nanat sisilan!"
bersambung.
__ADS_1
udah heboh belum?
next?