SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
THE BODYGUARDS


__ADS_3

Ratusan pria tampan tengah berada di satu bangunan bertingkat. Di sana ada lapangan tempat berlatih. PT SavedLived kini membuka perusahaan baru bodyguard berjenis kelamin perempuan. Azizah adalah pelopor pertama bodyguard perempuan di perusahaan itu. Bahkan wanita itu kini sudah menjadi istri dari salah satu pewaris keluarga kaya raya itu.


Dari sekian banyak pelamar wanita hanya sedikit yang bisa masuk ke perusahaan berbasis pengawalan tersebut. Dipinangnya Azizah oleh salah satu keturunan dari raja bisnis Eropa membuat perempuan manapun tertarik.


"Kamu pikir di sini itu ajang ratu kecantikan?" tanya Deni sinis pada salah satu perempuan yang datang melamar.


Gadis itu mengenakan rok span dengan dandanan tebal. Terlebih, di sana semua pengawal harus berbasis komputer IT. Atau setidaknya memiliki otak cerdas.


"Kalian harus memiliki wawasan luas. Satu lagi kalian harus penyayang anak-anak!" lanjut pria itu.


Deni Kusman, pria yang pernah nyaris melukai Sky dan Bomesh. Ia babak belur dihajar oleh pengawal lain. Namun Virgou memberi kesempatan pada pria itu membuktikan diri.


"Kalian tidak lolos!" ujar pria itu langsung mengeluarkan lima puluh gadis yang mencari peruntungan.


Semua gadis tertunduk. Mereka pun pergi meninggalkan gedung dengan langkah gontai. Remario datang ke bangunan itu.



Remario Matteo Sanz, 48 tahun.


Semua pasang mata menatap pria tampan itu dengan mulut menganga. Tatapan dingin dan menusuk membuat semua bukan takut malah heboh.


"Astaga ... tampan banget!"


"Helo mister ... how are you!" sapa salah satu gadis mencoba ramah.


Remario tak menanggapi. Beberapa pengawal pria menghalangi dan mulai mengusir mereka. Remario diikuti Dahlan, Andreas dan Michael.



Dahlan Aerlangga, 44 tahun.



Andreas Philip, 27 tahun.



Michael Suarez, 27 tahun.


Itu baru tiga bodyguard yang kadar ketampanannya di atas rata-rata. Belum lagi para pengawal yang asli Indonesia, mereka juga tak kalah tampan. Begitu juga yang perempuan, mereka juga sangat cantik, kuat dan berotak cerdas.


"Selamat siang Tuan!" sapa Deni pada Remario.


"Selamat siang, aku mau berlatih di sini!" ujar pria menjelang paru baya itu.


"Silahkan Tuan," ujar Deni lalu membawa pria itu untuk di data.


Remario yang pusing dengan pekerjaan memilih berlatih menjadi bodyguard. Pria itu menyerahkan semua perusahaan pada Reno, putranya.


"Ada berapa wanita yang berhasil lolos tahap satu?" tanya Dahlan.


"Hanya delapan perempuan Ketua!" jawab Deni.

__ADS_1


"Yang di luar tadi?" Deni hanya tersenyum meledek.


"Mereka sepertinya mencari peruntungan dipinang oleh para tuan muda Ketua!" sambung pria itu.


"Oh, mengira Dek Zizah, menjadi pengawal untuk menggoda Tuan Baby?" Deni mengangguk membenarkan.


"Sialan mereka!" makinya kesal.


"Dia tidak tau bagaimana Nona Azizah bisa menjatuhkan Michael hanya sekali pukul!"


"Ketua," keluh Michael malu.


Pria itu tentu mengingat kejadian awal Azizah bergabung. Gadis itu kuat dan sangat cerdik. Ia mampu membalik kekuatan lawan untuk menyerang.


"Dek Azizah memang the best ketua!" sanjung pria itu.


"Berhenti memuji istri dari Tuan Baby, Mike!" tegur Dahlan tak suka.


Michael mengangguk kepala hormat. Pria itu memang tak pernah berani pada Azizah. Bukan perihal kehebatan wanita itu ketika jadi pengawal. Tatapan tajam Azizah membuat semua tunduk, kecuali ketua utama mereka, Virgou.


Bangunan dengan luas 200m² dan luas tanah mencapai dua hektar. Bangunan dikelilingi oleh tembok tinggi tiga meter. Setiap sudut ada post penjaga dan selalu dikitari oleh para pengawal secara bergantian.


"Sarah, Dira, Marsya!" panggil Deni pada tiga pengawal yang sudah jadi.


"Kami ketua!" sahut ketiganya sigap.


"Bawa mereka untuk ditest tahap selanjutnya!" perintah pria itu sambil menunjuk delapan gadis yang berhasil masuk.


Remario lolos hingga tahap lima. Pria itu memang langsung menghadapi testnya.


"Tuan, sebaiknya anda beristirahat!' pinta Dahlan.


"Kami akan di sini sampai Tuan lolos!" lanjutnya.


Sementara itu, di rumah Terra. Semua anak-anak diminta tidur siang setelah pulang sekolah.


Fio sedang mengecek halaman belakang rumah Terra. Mereka tadi pagi baru pulang ke rumah itu setelah menginap di mansion Herman.



Fio Mahmad Davidson, 27 tahun.


Usai memeriksa keamanan setempat. Beberapa rekannya juga mulai memeriksa seluruh halaman dengan mesin magnet agar semua benda berbahaya tidak ditemukan oleh Della.


"Tuan, paku-paku ini berasal dari kayu tempat rumput sintetis yang dibeli Nona Terra!' lapor Herdi salah satu pengawal.


Fio mengangguk, sekitar satu ons berbagai jenis paku yang ditemukan para pengawal. Mereka membuang benda-benda tajam itu ke tempat sampah di luar rumah.


Para pengawal banyak berada di paviliun sebelah. Mereka mengamati seluruh rumah melalui kamera pengintai.


"Assalamualaikum, kami pulang!" seru duo De, duo R dan Kaila berbarengan.


Kelima remaja itu tampak lelah. Mereka baru saja mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.

__ADS_1


"Mama ... masa Dew tadi mukul orang lagi!" adu Dewa pada Terra.


"Baby?"


"Mama dia mau colek aku!" seru gadis itu membela diri.


"Colek gimana. Orang kamu jauh, dia nggak sengaja rentangin tangan," sahut Dewa.


'Kan awal nggak sengaja dulu! Entar kebiasaan deh!" sahut Dewi tak mau kalah.


"Baby ... jangan main hakim sendiri dong," ujar Khasya tak habis pikir untuk menasehati putrinya.


"Bunda ... kalau mereka cuma modus gimana?" tanya gadis itu masih tetap dalam pendiriannya.


Khasya hanya bisa menghela napas panjang. Selesai makan siang mereka diminta tidur siang.


"Bun, bentar lagi Ashar. Mana bisa tidur?" ujar Kaila memutar mata malas.


Akhirnya mereka berlima duduk di teras. Dewi yang memang tengah suntuk, keluar rumah. Gadis itu bermain ayunan yang ada di depan rumah Terra.


Dewi berjalan perlahan ke depan pagar. Deno ada di sana. Pria paruh baya itu mengenal Dewi.


"Mau kemana Non?" tanyanya..


"Mau beli bakso cuanki Pak," jawab Dewi.


"Biar Bapak panggilin, Non tunggu di dalam!" perintah Deno tegas.


Dewi sedikit kesal. Tapi Deno tak mau kalah dengan nona mudanya. Semua orang tua akan membela pria itu jika salah satu anaknya tak mau menurut.


"Nona?"


"Pak, biar Dew aja yang nungguin!' ujar Dewi bersikeras.


"Masuk Non!" perintah Deno tegas.


Pria itu berusia lima puluh tahun lebih. Perawakannya pendek dan sedikit gemuk. Dewi harus menurut jika dirinya mau selamat dari amukan kedua orang tuanya.


"Jangan pake sambel ya," ujar gadis itu cemberut.


Deno menghela napas panjang. Ia menggeleng melihat Dewi yang berusaha untuk keluar rumah.


"Nona!" sapa Fio.


"Kak," sahut Dewi lemas.


Tak lama, bakso yang diinginkan Dewi ada di meja makan. Tentu saja hal itu membuat yang lain ribut ingin dibelikan juga.


"Pototna Alsh au sansit lolenna!" teriak bayi itu galak.


Bersambung.


Next?

__ADS_1


__ADS_2