
Tiga mobil mewah memasuki halaman rumah Rion. Remario memang baru saja kembali dari Eropa. Pria itu turun beserta satu bayi tampan yang terlelap di dadanya.
"Tuan ...."
Remario berdecak mendengar panggilan itu. Ia melirik pada wanita dan empat anak yang sudah besar. Lalu turun dua wanita lagi dengan dua anak kembar masing-masing.
"Panggil aku Remario. Ingat putraku menikah dengan putri kalian!" peringatnya.
"Maaf Kak," ujar wanita itu.
"Mommy ayo masuk aku sudah lelah!" rengek sang anak perempuan yang paling besar.
"Ayo-ayo kita kagetkan mereka!" ajak Remario..
Mereka semua masuk, tentu saja para pengawal membolehkan mereka masuk karena ada tiga wanita yang para pengawal kenali.
"Assalamualaikum!" sapa Widya memasuki rumah mewah itu.
"Wa'alaikumusalam!" Khasya menoleh.
"Sayang!" pekiknya dengan mata berbinar.
Khasya langsung menyuruh mereka masuk dan memanggil para maid membantu semuanya.
"Ayo kalian langsung istirahat!" suruhnya.
"Makasih Bunda," ujar Najwa mencium mantan atasannya itu.
Lastri melakukan hal yang sama. Mereka semua masuk ke kamar masing-masing dan beristirahat. Memang semua tengah tidur siang dan hanya Khasya yang terjaga.
"Bunda aku tidur di mana?" rengek Remario.
"Di sini sayang. Ini kamar untukmu," ujar wanita itu membuka kamar.
Para maid langsung menaruh koper besar miliknya ke kamar itu. Ketika hendak menyusunnya.
"Sudah ... jangan disusun!" tolaknya.
"Biar aku saja nanti!" lanjutnya.
Semua maid keluar, Khasya pun juga pamit. Wanita itu sengaja tak membangunkan semuanya agar ada kejutan ketika sore menjelang.
"Bunda," panggil Lastri.
"Kenapa sayang?"
"Bunda ... Saf ada nggak? Air susuku nggak keluar dari tadi. Baby kehausan, stok susunya menipis," ujar Lastri.
"Oh, sebentar sayang, kau ke kamar. Biar Bunda panggilkan Saf untukmu ya," Lastri mengangguk.
Wanita itu pun masuk ke kamarnya, sedang Khasya hendak membangunkan Saf secara diam-diam. Saf yang haus memilih keluar dari kamar. Darren tentu kembali ke kantornya setelah acara pembukaan kafe milik Adiba begitu juga semua pria lainnya.
"Sayang," panggilnya pelan pada Safitri.
__ADS_1
Wanita bermanik abu itu menoleh. Khasya mendekatinya dan membisikkan sesuatu padanya.
"Beneran mereka udah ada di sini!" seru Saf heboh.
"Ssshhh! Pelankan suaramu sayang!" sahut Khasya sampai berbisik dengan kesal.
Saf terkekeh, wanita bongsor itu mengangguk lalu menuju kamar Lastri melakukan treatment pada wanita itu. Hanya butuh waktu dua menit ASI pun keluar dari dada wanita yang sudah berusia lanjut itu.
"Daddy nggak ikut Mom?" tanya Saf.
"Nggak sayang, Daddy akan datang dua minggu lagi," jawab Lastri setelah mengucap terima kasih.
Zaa dan Nisa tengah terlelap. Bayi mau tiga bulan itu menggeliat sambil mengerucutkan bibirnya. Saf begitu gemas. Bayinya Zizam memang masih menyusu padanya, tapi bayi itu sok jago tak mau dianggap bayi lagi.
"Baby Zam nggak mau dianggap bayi. Padahal ia masih menyusu," dumalnya kesal.
"Jangan salah sayang. Dua adikmu itu juga kadang tak suka jika Mommy memperlakukan mereka layak bayi," ujar Lastri memberi info. "Bahkan Baby Chira dan Baby Aarav!"
Saf terkekeh mendengarnya. Wanita itu juga bertanya dengan jagoan Widya. Tentu saja Lastri sangat antusias menceritakan bagaimana Arsh yang menjadi guru bicara semua anak.
"Ih udah gemes aja!" gereget Saf.
Akhirnya Khasya mengajak Saf untuk membiarkan Lastri berisitirahat. Padahal Saf masih ingin mengobrol dengan Lastri.
"Biar Mommymu istirahat!"
Khasya menarik Saf dari kamar dan menutup pintunya. Saf menggelayut manja pada wanita itu dan menciuminya.
"Bunda ... Saf sayang banget Ama Bunda,"
Akhirnya sore menjelang. Semua anak bersorak ketika melihat kehadiran Arsh di tengah-tengah mereka. Della, Firman dan Alia tentu baru bertemu dengan bayi beriris biru itu.
"Halo," sapa Della pada Arsh, "Assalamualaitum Paypi."
Arsh langsung lengket dengan Della, bayi itu bersender pada kakak yang baru berusia dua tahun beberapa bulan lalu. Semua pria langsung pulang ketika mendengar kedatangan Widya, Najwa dan Lastri ke kediaman Rion.
"Mommy!" pekik David pada Najwa dan Lastri.
Pria itu langsung memeluk mereka. Tentu hal tersebut tak disukai oleh Bart. Ia tidak diberitahu soal kedatangan semua menantu dan cucunya itu.
"Kami juga buru-buru Daddy," jelas Najwa.
"Semua anak sudah lulus dan ingin segera ke Indonesia. Mereka nggak mau lama-lama tinggal di Eropa. Terlebih kemarin sekolah Billy ada kasus penembakan lagi."
"Astagfirullah!" seru Bart mulai takut.
"Untung ada pengawal yang mampu menggagalkan aksi oknum tersebut agar tak terjadi korban lebih banyak, walau kita harus kehilangan salah satu anggota pengawal terbaik kita Daddy," jelas Lastri sedih.
Bart baru tahu hal itu. Virgou juga begitu, kejadian itu sangat cepat markas baru diberitahu jika salah satu pengawal mereka gugur setelah menggagalkan aksi tembak salah seorang oknum.
"Apa sudah diberi santunan pada keluarganya?" tanya Bart pada Virgou.
"Solomon yang mengurusnya Grandpa," jawab Virgou setelah mengecek kebenaran berita itu.
__ADS_1
Solomon adalah ketua utama dari SavedLived yang ada di Eropa. Mereka juga tengah berduka atas gugurnya salah satu pengawal terbaik yang mereka miliki.
"Farenheit sama dengan Budiman dan Gomesh Dan. Ia tak punya keluarga," ujar Widya.
"Mendiang Far pengawal Billy. Dua temannya juga terluka akibat penggalan aksi tembakan itu. Hanya saja yang meninggal Farenheit," lanjutnya.
"Ya sudah, kita doakan dia ditempatkan di tempat yang layak. Kebumikan secara terhormat dan pasang bendera di markas setengah tiang!" ujar Bart.
"Baik Grandpa!" sahut Virgou.
Dahlan diberi tugas untuk itu. Pria itu sudah melaksanakan sebelum titah diberikan. Hal itu membuat Virgou lega.
Kini semua anak tengah bermain. Halaman belakang penuh dengan anak-anak. Mereka memilih bercakap-cakap. Najwa melarang semua anak untuk berenang karena mereka baru saja tiba dengan pesawat.
"Mommy di sini lama nggak apa-apa kan Baby?" tanya Widya pada Rion.
Rion menatap malas pada wanita itu. Widya terkekeh, tentu pertanyaannya menyinggung bayi besarnya.
"Maaf sayang, oteh,' ujarnya menyesal.
Rion mengangguk, ia pun memeluk Widya sayang. Sriani langsung mendatangi rumah Rion untuk melihat semua cucunya.
"Nenet!" pekik semua bayi.
"Assalamualaikum Babies!" Sriani membawa banyak kantung kertas berisi makanan.
Para bayi bukan memeluk nenek mereka yang datang melainkan berebutan ingin melihat paper bag yang dibawa oleh Sriani.
"Masyaallah Babies!" decak Sriani tertawa.
"Babies ... neneknya disalim dulu!" perintah Seruni.
"Mami pita pahu pihat pa'a yan pipawa Nenet!" sahut Aaima.
"Sayang ... yang disambut yang bawa makanan dulu ya," ujar Azizah.
Akhirnya semua anak mencium punggung tangan Sriani. Wanita tua itu tak melepas senyum di wajahnya. Ia begitu bahagia jika bersama semua di sini.
'Apa aku perlu pindah di sini?' gumamnya bertanya dalam hati.
'Tapi rumahku banyak kenangan bersama suamiku,' lanjutnya bermonolog dalam hati.
"Netnet!" pekik Arsh memanggil neneknya.
"Alsh nya Ata' palu woh!" ujarnya memberitahu.
"Siapa Baby?"
Della, Firman diperkenalkan. Sriani sudah tau kisah petualangan Sky dan Bomesh. Wanita itu kini memangku Alia dan Arsh bersamaan.
Bersambung.
Ah ... bahagianya, baby galak ada di Indonesia.
__ADS_1
Welcome semuanya!
Next?