SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
RIO IN LOVE


__ADS_3

Anak-anak kembali bersekolah seperti biasa. Masalah kemarin tidak membuat semua orang pusing.


"Putraku mendengar namanya disebut ketika penyerangan. Tentu dia penasaran," ujar Haidar ikut membela Dewa kemarin.


"Iya Pa, anak-anak eh temen-temen pada nanya. Kamu punya masalah apa sama anak SMA Binus. Gitu!" jelas Dewa.


"Terus mereka bilang suruh selesaikan sendiri jangan bawa-bawa sekolah. Dikira keong kali ya kalo kita bawa-bawa," gurau Rasya.


Semua anak bayi tampak berdiskusi. Mereka membentuk tiga kelompok. Terra gemas dan langsung merekam kegiatan mereka yang sok tau itu.


"Ata' Alun, pemana teunapa Bas Wewa peulatem?" tanya Della.


"Ella syedih woh pipi Bas Wewa tan leset," lanjutnya mengingat.


Terra juga melihat luka kecil itu. Memang tak begitu terlihat semua orang jika saja bayi cantik itu tak memperhatikan. Della memang sangat perhatian pada semua saudaranya.


"Meuleta pilang ada yang najak eh ada yang nyelang setolah meuleta!" ujar Harun menjawab pertanyaan Della.


Harun sudah mulai membiasakan diri memakai bahasa dewasa. Walau masih bercampur dengan bahasa planet anak-anak.


"Tatana syih dala-dala sewet!" sahut Arion menimpali.


"Dala-dala sewet? Meman napain sewetna?" tanya Arraya.


"Palin lada sewet yang suta sama Mas Dewa!' sahut Bariana menjawab.


"Wah ... Baliana syudah pate pahasa pewasa!" sahut Azha bertepuk tangan.


"Eh ...biya tah?" tanya balita cantik itu tak sadar kembali ke bahasa bayi mereka.


"Ah ... teulnyata Baliana peulum pisa pahasa wowan puwa," angguk Azha maklum.


"Sadhi dala-dala sewet Bas Wewa peulatem?" tanya Fatih dengan mata bulat.


"Biya dan sewet itu suta sama Mas Dewa!" sahut Azha.


"Basti Bas Wewa eundat syuta Pama sewet ipu!' terka Fathiyya.


"Meuleta Pasih teusil pasa syuta-syutaan!' geleng Aisya.


"Tata Mommy meuleta pudah peusal!" sahut Bariana.


"Aaah!" pekik Arsh yang merasa diabaikan.


"Teunapa Paypi?" tanya Della.


Gio dan empat adiknya hanya menyimak, mereka bingung harus berpendapat apa. Ranah bicara Harun dan lain diluar jangkauan mereka.


"Alsh au uta wewet!' ujar bayi tampan itu kesal.


"Paypi tamuh ipu pasih nompol pi popot. Tot mawu sewet!' geleng Azha sambil meledek.


"Mama sewet ... uta Alsh!' sahut bayi itu tak mau kalah.


"Butan sewet ipu Alsh!" ujar Arraya menjelaskan.


"Meman Mama sewet. Pati pemua Mama sinta pama nanatnya!' lanjutnya bijak.


"Sayan pama nanat sisilan judha?" tanya Al Bara.


"Nanat sisilan tan Papa Domesh Pama Daddy, pasa Mama eundat sayan?" tanya Gino kini mulai ikut berbicara.


"Woh wiya ya!" angguk Al Bara baru ingat.

__ADS_1


"Beudithu pun nanat fifiya!" sahut Bariana memastikan.


"Atuh nanat fifiya!' tunjuk El Bara.


"Atuh judha!" tunjuk Lilo.


"Atuh judha don!' sahut Dita dengan suara kecil.


"Yan teulas talo peulsuala Paypi Pita. Janan tatut. Sunjutan pita bandha talo pita pemua nanat fifiya!" seru Fathiyya antusias.


"Pita puelsyumpah yut!" ajak Harun tiba-tiba.


"Pumpah pa'a Ata'?" tanya Ari.


"Pumpah ipu tayat sanji. Suma sanji ini pidat poleh dilandhal!" jawab Harun tegas.


"Bawu peulsyumpah?!" teriak bayi itu.


"Bawu!" semua bayi berteriak.


"Tamih peulsyumpah!" sahut Harun dengan suara lantang.


Semua anak mengikuti perkataan Ari. Bahkan Arsh ikut-ikutan. Bayi itu memang sangat suka membeo kakak-kakaknya.


"Amih upupah!" teriak bayi itu.


"Talo tamih nanat fifiya yan pait pudi!" sahut Harun yang diikuti semua saudaranya.


"Amih nat yayiya ait dudi!" sambung Arsh.


"Eh ... undu!" pekik bayi itu.


Harun yang hendak membuka mulut batal menyuarakan suaranya.


"Itah ninih nat yiyiyah awaw nat Babah Pudi?" tanya Arsh bingung.


Harun hendak menjawab. Tetapi, ia juga bingung menjawab apa.


"Memana padhi Ata' pilang Baba Pudi?" ia malah bertanya.


Semua mengangguk kompak. Kecuali Bariana, Azha, Arraya dan Arion. Terra sudah kaku perutnya. Ia menahan tawa dari tadi.


"Yan bana?" tanya Harun.


"Pait Pudi!" jawab semua anak kecuali Bariana, Azha, Arion dan Arraya.


"Oh ipu!" sahut Harun akhirnya tau di mana permasalahannya.


"Pait pudi ipu butan pudi nama Baba," lanjutnya menjelaskan.


"Pati sitap pita seubadhai nanat halus bait dan sopan pama wowan puwa," lanjutnya.


"Oh beudithu," angguk semua anak.


Gisel mengusap perutnya yang buncit. Wanita itu sedikit kram perut gara-gara menahan tawa. Layla ikut mengusap perutnya di sana.


"Mashaallah, mereka menggemaskan sekali!" ujar wanita itu.


Maria tersenyum, ia mencium perut Layla kemudian Gisel. Keduanya langsung manja pada perempuan itu.


Maria memang sangat penyayang, Dinar bahkan suka memeluk Maria. Begitu juga Terra, Najwa dan Lastri.


Keseruan bayi memang jadi hiburan sendiri bagi orang tua. Mereka kembali bermain dan tidak jadi bersumpah.

__ADS_1


Sedang di tempat lain. Ruko milik Ariya kini banyak berdatangan pelanggan-pelanggan baru. Mereka membeli beberapa perhiasan unik dan cantik milik gadis itu.


Rio menemani nona mudanya. Seperti janjinya beberapa minggu lalu jika ia memantaskan diri untuk menjadi yang terbaik untuk Ariya.


"Jadi anda yakin memesan cincin sepasang ini Nona?" tanya Rio.


"Iya Mas. Kalau bisa matanya warna ungu ya," pinta pelanggan itu.


"Kalau ungu adanya amethys mau Nona?" sahut Ariya.


"Nggak ada kecubung?" tanya gadis pelanggan itu.


"Amethis lebih kuat dari kecubung Nona," jawab Ariya membandingkan.


"Tapi saya mau ungunya lebih gelap," ujar pelanggan itu.


"Saya usahakan yang sedikit gelap untuk yang pria dan yang wanita ada campuran pink-nya. Gimana?" tawar Ariya.


Ariya berdiri bersisian dengan Rio. Banyak mata menatap mereka sambil tersenyum. Keduanya tak sadar hingga ketika tangan mereka bersentuhan.


"Eh ...!?" keduanya terkejut sambil lihat satu dan lainnya.


Rona merah menyeruak di pipi sang gadis. Adegan manis itu tak luput dari pandangan para pelanggan yang menatap dengan senyum lebar.


"Duh ... jangan bikin baper dong!" sahut salah satu pelanggan keki.


Keduanya bersemu merah karena malu. Akhirnya toko sepi, hari telah siang.


"Mas, temenin aku makan yuk," ajak Ariya.


Rio mengangguk setuju. Pria itu duduk di sisi sang gadis. Ariya melayani Rio. Keduanya pun makan dengan tenang.


"Biar saya yang cuci piring," ujar pria itu ketika usai makan.


"Tapi tadi Mas yang masak!' elak Ariya mengangkat piring bekas makan mereka.


"Sudah tidak apa-apa. Seorang suami adalah tugasnya memberikan kenyamanan pada istrinya," jawab Rio lembut.


Ariya merona. Gadis itu langsung tersipu. Ia menatap punggung lebar Rio. Lalu membayangkan jika bersandar pada punggung kokoh itu.


"Sepertinya nyaman," gumam gadis itu.


"Ada apa Nona?" tanya Rio formal.


"Ah ... ti-tidak!" jawab Ariya menggeleng cepat..


Gadis itu bergegas ke ruang toko. Menyuruh dua karyawatinya makan siang berikut dua pengawal lainnya.


Rio menatap Ariya yang selalu salah tingkah. Pria itu menikmati semua momen yang ia lalui bersama gadis pujaannya itu.


"Nona ...," panggilnya pelan.


Gadis itu menoleh padanya dengan pandangan penuh. Dua sorot mata saling bertaut. Rio memberikan sebuah harapan besar pada tatapannya.


"Nikah yuk!" ajaknya tiba-tiba.


Bersambung.


Yuk Bang! hiks!


Othor ditinggal rabi maning 😭😭😭


next?

__ADS_1


__ADS_2