SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
LATIHAN UPACARA


__ADS_3

Rion tengah berlatih paskibra di halaman utaman perusahaan PT Bermegah Pratama. Sosok tampan itu memakai balutan kemeja putih, ia akan menjadi komandan upacara. Haidar yang ingin merayakan peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia dengan mengadakan upacara di perusahaannya.


“Kepada Pemimpin Upacara hormat ... grak!” pekik Rion ketika Bram ada di podium.


Bram membalas hormat dengan mengangkat tangan membentuk siku dan merapatkan jari-jari ke pelipis, lalu menurunkan kembali dalam posisi sikap sempurna.


“Tegak grak!” pekik Rion.


Acara pengibaran bendera ternyata diikuti oleh seluruh perusahaan, baik PT Hudoyo Grup, PT Hudoyo Cyber Tech, PT Starlights Co., PT Triatmodjo Grup, PT Black Pisteres Steel, PT Tridhoyo SaveAcounting, PT SaveLived dan PT Pratama Grup sendiri. Hari ini adalah gladik resik setelah beberapa hari kemarin latihan pengibaran bendera.


Pembawa baki bendera adalah Azizah, wanita dengan tinggi 175cm diapit oleh Kean dan Satrio kemudian di belakang pasukan inti pengibar bendera adalah Sean, Arimbi, Daun, Calvin, Dimas, Affhan, Al, Maisya dan Nai.


Safitri sebagai pembaca acara protokoler upacara. Sedang Lidya, Putri dan Aini juga lainnya hanya duduk sebagai tamu kehormatan. Haidar, Budiman, Dominic, Virgou, Demian, Herman dan lainnya menjadi peserta upacara yang ikut berdiri bersama para karyawan mereka masing-masing.


“Kepada bendera merah putih ... hormat grak!” pekik Rion.


Lagu Indonesia Raya berkumandang. Para karyawan, anggota bodyguard yang mengikuti upacara dan berbaris di sana. Bendera terbentang secara sempurna, lalu perlahan dilepaskan hingga kain segi empat itu naik ke atas dan berkibar dengan gagah, seiring berakhirnya lagu kebangsaan.


Rangkaian latihan telah dilewati, mereka akan kembali berlatih ketika penurunan bendera dilaksanakan. Semua kini berada di lobi perusahaan milik Haidar yang dipimpin oleh Rion. Para perusuh mempraktekkan bagaimana gerak jalan yang tadi mereka lihat.


“Zalan bi pentat ... dlat!” Harun menjadi komando gerak jalan.


“Tanan, tanan, tanan, tili, tanan ...!”


Semua perusuh mengikuti ketua mereka bahkan Arsh ikut dengan barisan paling depan. Jangan harapkan gerakan mereka sama, semua bergerak semau mereka. Bahkan Aisya, Fathiyya dan Aaima hanya menggerakkan satu kaki saja. Sedang Fatih, El Bara, Al bara dan juga Arsyad melompat.


“Ata’ pana yan tanan pana yan tili?” tanya Aaima.


“Anan ... iyi,” Arsh menunjuk kaki terbalik.


“Teulpalit Baby, yan imi tanan, yan imi palu tili,” sahut Azha membenarkan.


“Lantah tedat paju ... salam!” pekik Harun.


“Tanan, tanan, tanan, tili, tanan ...!”


Para bayi malah memajukan kaki kanan saja dan tidak mengangkat kaki kiri mereka. Sean menggeleng melihat pasuakan paskibra yang baru saja terbentuk spontanitas itu berjalan. Tentu kacau dan tak terarah.


“Ah ... pibeut mamat syih!” pekik Al Bara kesal.


“Piya mih, talo zalan ... ya zalan ajha!” sahut Fatih setuju.


“Kan beda Baby,” sahut Sean memberi pengertian.


“Jika upacara harus memakai standar berjalan seperti yang sudah ditetapkan!” lanjutnya menjelaskan.


“Eundat pisa zalan peubelti piasa?” tanya El Bara dengan mata bulat.


“Nggak bisa,” jawab Sean.

__ADS_1


“Hei ... ayo pulang!” pekik Khasya.


Semua anak pun ribut, mereka langsung menuju kediaman Dominick pria itu menggelar acara tujuh bulanan. Kandungan Dinar sudah besar, baik Demian, Jac maupun Lidya suak sekali mengelus perut bundar itu.


“Aku harap ini adalah perempuan,” ujar Demian.


“Aku mau adik laki-laki!” sahut Jac.


“Aku mau Bibu punya anak kembar juga ... biar Starlight juga banyak!”


“Tapi yang di kandungan Bibu cuma satu, sayang,” sahut Dinar.


Lidya mengusap dan mengecup perut besar itu. Ia belum lagi hamil, Demian juga tak memaksa istrinya memiliki anak lagi dengan cepat. Acara tujuh bulanan Dinar jadi satu dengan Putri yang juga tengah hamil anak keduanya.


Doa dan harapan dilontarkan pada dua ibu dan janin yang ada di kandungan keduanya. Anak-anak yatim sudah diberi bingkisan, seperti biasa. Lagi-lagi Bram harus memisahkan para perusuh baik yang senior maupun junior.


“Kalian kenapa ikut rusuh?” tanya pria itu pada sepuluh adik Azizah.


“Kan kita memang yatim piatu Kakek,” jawab Adiba yak merasa bersalah.


“baby, kemari Nak,” panggil Khasya.


“Dibilang anak yatim piatu memang kalian termasuk di dalamnya. Tetapi kalian tidak berhak mendapat bagian itu karena ada yang jauh lebih membutuhkan lagi,” jelas wanita itu panjang lebar.


“Mestinya dilebihkan saja ya. Aku lupa jika mereka sangat suka hadiah,” sahut Dominic.


“Apa katamu barusan?”


Dominic gemas, ia mencium habi-habisan kepala perusuh itu hingga tergelak dan mulai menangis karena protes. Hal ini membuat Arsh memarahi pria itu.


“Papa ndbddbbdghdvhgjdedngdhjshsbushdudbushu!”


“Ah ... ada bayi yang memarahiku?” pria itu kini mengangkat Arshaka setelah melepaskan Harun.


Bayi itu tentu memekik kegirangan. Widya dan Gabe hanya tersenyum sedang empat anaknya yang lain tengah bercengkrama dengan saudara-saudaranya yag lain. Mereka makan siang di kediaman Dominic.


“Wah ... ada rendang!” sahut Martha senang.


“Mama pawu ponton sayun!” pinta Maryam pada Lidya.


“Pate empin ya,” pintanya lagi.


“Mau pake rendang juga nggak baby?” tanya Lidya.


“Pumpuna aja,” jawab bayi itu.


“Ini Baby,” Lidya memberikan satu priring melamin pada bayi cantik itu.


“Matasih Mama syantit,” sahut Maryam.

__ADS_1


“Kiss dong,” pinta Liyda.


Maryam memonyongkan bibirnya, Lidya mendekatkan pipi agar dikecup keponakannya yang cantik itu. Sedang yang lain, Safitri, Azizah, Aini, dan Putri melayanai semua bayi yang belum bisa mengambil makanan sendiri.


“Sayang, suapin dong,” rengek Rion manja pada istrinya.


“Tangan suamimu lelah,” lanjutnya beralasan.


Di sana Terra, Hiadar dan juga lainnya mencebik sebal. Kini bayi besar mereka tak lagi merengek manja pada mereka. Ada sosok cantik yang kini dengan telaten menyuapi tiga mulut bergantian. Akhirnya hal itu membuat Kanya marah.


“Baby, istrimu belum makan,” tegurnya.


“Nanti Ion suapin setelah disuapin Oma,” sahut Rion santai.


Usai makan anak-anak tidur siang. Para perusuh kekenyangan dan memilih tidur di ruang tengah yang beralas karpet tebal. Dinar meletakkan banyak bantal di sana. Pare remaja juga ikut tidur di ssna. Dominic berencana akan membeli senuah mansion dengan banayk kamar.


“Aku ingin membeli mansion. Virgou, apa kau bisa bantu?” tanya pria itu.


“Daddy kan belum bisa ambil rumah sebelum lima tahun?” sela Demian.


“Aku membeli atas nama istriku,” jawab Dominic.


“Aku ada mansion, letaknya tak berjauhan dari mansionku,” sahut Virgou.


“Kalau begitu. Aku mau lihat setelah tujuh belasan!” ujar Dominic yang ditanggapi oleh Virgou.


Usai ashar mereka kembali ke perusahaan Bram, perusuh sudah wangi dan rapi mereka menonton penurunan bendera. Kali ini Budiman menjadi inspektur upacara, Rion berdiri bersama para karyawan. Nai membawa baki kosong diapit oleh Calvin dan Sean, sedang yang lain berbaris di belakang.


“Kepada bendera merah putih ... hormat grak!” seru Sean yang ada di sebelah kanan barisan.


Ketiganya memberi hormat, lalu sesuai aba-aba mereka maju menuju tiang bendera, Sean dan Calvin memegang tali lallu memberi tanda pada petugas upacara jika mereka siap menurunkan bendera. Latihan memang harus sesuai, bendera juga adalah bendera merah putih sebenarnya.


Latihan selesai sampai pada para pasukan pengibar bendera keluar dari lapangan upacara. Akhirnya pasukan dibubarkan oleh Budiman sesuai dengan protokoler upacara bendera.


“Upacara penurunan bendera telah selesai, pasukan siap dibubarkan laporan selesai!”


“Bubarkan!” sahut Bram.


“Siap laksanakan!”


Latihan selesai setelah Bram selaku komandan upacara meninggalkan podium dan Budiman membubarkan seluruh pasukan yang berbaris.


“Semoga acara puncak besok bisa sesuai dengan apa yang telah kita latih hari ini!” harap Arimbi.


Bersambung.


Itu baru latihan, pas benerannya pasti deg-degan!


Next?

__ADS_1


__ADS_2