SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
Bab 30. Apa Yang Aku Rasakan Dengan Irfan


__ADS_3

“Aku paham”, Irfan mengangguk dan kemudian, masuk ke dalam kamarnya, aku juga ikut masuk ke dalam kamarku, namun sebelum tidur aku sholat Isya lebih dulu.


Dan ketika selesai sholat, aku memanjatkan doa kepada Allah, dan air mata menetes dengan berlinangan dan aku menangis sejadinya, di atas sajada, mengadu dengan semua apa yang aku rasakan di hati, yang selama ini, buat aku sangat amat merasa tertekan dengan keadaan, dan yang aku sangat merasa tidak tenang, dan kadang di hantui perasaan yang benar - benar stress berat.


“Ya Allah…….., aku mohon padaMu, jalan keluar dari semua ini, karena kadang, aku sudah merasa enggak tahan dengan apa yang semua aku rasakan ini, dan aku merasa rasanya enggak mampu, untuk menelan semua apa yang aku rasakan sendirian ini, tetapi untung saja aku sudah tidak sendiri lagi, aku sudah bersama Irfan, seorang sahabat, yang sudah seperti keluarga aku sendiri, menyayangi aku dengan tulus menyempurnakan, apa yang selama ini aku rasakan, tidak sempurna dalam hidup, aku merasa kekurangan dalam hidup adalah kekurangan kasih dan sayang, dari orang yang seharusnya memberikan hal itu kepada aku”


Aku menaruh wajahku di sajadah dan aku menangis sejadinya di sana, dan kemudian aku baru mengusap air mataku, ketika aku mendengar seseorang membuka pintu dan berdiri di sampingku, aku mendongak ke atas, dan kemudian merapikan sajadahku, serta melipat mukenaku.


Irfan akhirnya sambil duduk di depanku, yang dari tadi hanya berdiri terpaku, kemudian dia memelukku, dan air matanya menetes juga.


“Ri….”, lirih Irfan.


“Kalau saja juga, dari awal, aku enggak juga mudah percaya begitu saja, sama fans aku terutama, semua enggak akan begini, padahal aku sudah tahu, ciri – ciri mereka seperti apa dari awal, aku sudah punya perasaan enggak enak, tapi kadang aku juga merasa galau, dan enggak tahu harus cerita sama siapa, aku merasa gelusah dan bimbang, dengan keadaan, dengan apa yang aku rasakan ini juga, yang sebenarnya, justru masalahnya netizen enggak mungkin bersikap gitu, kalau bukan karena ada yang mancing mereka untuk berbuat begitu, dan yang manas – manasin, selama ini aku juga mereka, ke orang – orang itu, agar seolah aku merasa yang salah benar – benar netizen, tapi justru fans aku sendiri”, kata Irfan.


“Itu namanya main cantik”, sahutku singkat.


“Tadi mama sama papa kamu bilang”, Irfan mulai melanjutkan obrolannya denganku.

__ADS_1


Aku menaruh kembali perangkat sholatku ke tempatnya, dan mulai mendengarkan Irfan bicara kepadaku, sambil aku duduk di pinggir tempat tidur.


“Mereka bilang pasrahkan kamu ke aku dan keluargaku, kalau terjadi apa – apa sama mereka, atau salah satu dari mereka, terjadi apa – apa, mereka sangat berharap aku adalah orang pelindung kamu satu – satunya, yang emang sangat paham dengan apa yang kamu rasakan, bahkan mengerti dengan permasalahan kamu, itu situasi dengan hati kamu sendiri itu seperti apa, aku tahu kadang hal itu buat kamu galau, apalagi, stroke yang di indap mama kamu dari otak, kadang di saat kambuh pikiran seperti anak kecilnya, dia akan bertingkah seperti anak kecil, dan di saat itu, orang yang berniat jahat dengan mudah mempengaruhinya, makanya jadi kacau begini dan membuat kamu yang jadi kambing hitam, di samping ada kiriman gaib dari mereka juga”, kata Irfan panjang lebar.


“Aku paham Fan”, aku menganggukan kepala.


“Kita ngobrol di depan yuk”, ajakku.


“Mumpung aku belum mau tidur mungkin sebentar lagi, aku masih mau dengerin kamu ngomong sama aku”, kataku lagi.


“Yah kalau begitu cemilan di dekat Tv masih banyak”, ! seru Irfan, dan kami berdua keluar dari kamar.


“Irfan”, aku menegur dirinya dengan suara lirih.


“Sebenarnya, kadang dulu itu aku merasa bersalah juga, karena aku sempat masuk ke grup itu sehingga tiap event yang kamu adakan, mama aku jadi suka salah paham, kalau yang minta uang itu, adalah fans kamu dan Mira, sehingga mereka mengira itu kamu, dan keluarga kamu padahal enggak, dan aku tahu kamu kayak apa Fan, sangat tahu”, kataku sambil meneteskan air mata.


“Kamu ingat kan pas aku di Singapore”, aku menatap mata Irfan dengan tajam, dan kemudian aku mengambil cemilan lagi keripik pedas, dan mengunyahnya, yang kebetulan juga di taruh di ruang Tv.

__ADS_1


“Yah aku ingat soal itu”, Irfan menganggukan kepala.


“Yang masalah ulang tahun mamaku, dan mama Reina, salah paham dengan adanya masalah uang yang di adakan oleh grup mereka patungan buat beli kue, dan kamu di minta duit juga, buat itu, padahal kamu mau kasih hadiah buat mama Reina itu dari inisiatif sendiri, dan sebenarnya, waktu itu, juga, aku enggak pernah bilang ke mereka buat kasih hadiah, aku malah bilang enggak usah kasih apa – apa, dan mama aku juga bilang, tapi kamu baca sendiri kan, di grup dan di semua Instragram fans aku, di sebarin kalau itu kata mama aku, dan aku, ini sama aja fitnah namanya”, kata Irfan panjang lebar.


“Ri….”, Irfan memulai ingin kata – katanya padaku.


“Kalau di ralat lagi untuk intropeksi diri sendiri, adalah kesalahanku, yang emang dari awal, asal aja buat rekrut anggota fans waktu itu, karena yang salah dari pemikiran aku sendiri juga Ri”, air mata Irfan menetes.


“Jujur yah fan, bukan maksud aku mendikte”, tiba – tiba saja aku ingin berkata tegas dengan Irfan.


“Masalahnya yang salah, dari kamu sendiri, dari pemikiran kamu dulu itu Fan, aku sering dengar wawancara kamu kadang – kadang, waktu aku belum kenal kamu, dan aku pernah dengar, kamu merasa diri kamu kuat karena support orang lain, dan itu adalah fans kamu, selain keluarga kamu juga”, kataku.


“Irfan dari apa yang aku alami sekarang, kebaikan seseorang itu adalah orang yang tulus bukan datang dari support karena kesuksesan, tapi orang yang melindungi dan menjaga kamu, dan sekarang kamu sekarang sadar sendiri, namanya juga fans, kadang mereka bukan orang di jalan Allah, tapi jalan setan mendewakan manusia, dan keluarga belum tentu orang yang baik seperti yang kamu harapkan”, kataku.


“Dan manusia sebenarnya, enggak ada yang bisa di harapkan, kalau pun ada seseorang yang hatinya tulus, dan bisa untuk menjadi pelindung, bukan berarti untuk di harapkan, seperti kita berharap sama Allah, hanya saja orang itu, adalah amanah dari Allah, untuk menjaga kita, dan yang melindungi kita, dan aku tahu apa yang kamu rasakan dalam hidup itu sama seperti aku, kamu merasa sendiri, dengan adanya, orang – orang yang kurang tepat untuk jadi teman curhat kamu, sehingga kamu curhat ke sembarangan orang lain”, kataku meneruskan kata – kataku lagi.


“Aku juga begitu, karena aku juga punya teman kuliah kayak anjinggggg yang datang di saat butuhnya doang, kirim whatsapp atau telepon karena ada perlunya doang, enggak pernah mau dengerin atau angkat telepon, tapi nanti kalau ada perlunya dia, egonya dia sendiri, hubungi aku, kayak apa, kadang subuh juga dia telepon, aku bukan boneka, yang bisa di manfaatkan sembarangan orang lain begitu”, emosiku mulai meledak entah kenapa kalau sedang membahas masalah yang seperti ini.

__ADS_1


“Rianti, aku bukan maksud mau bikin kamu marah juga, dan kepancing emosi begini, aku cuma mau minta maaf kalau ada salahku juga sama kamu, aku dulu emang terlalu mudah percaya dengan orang lain juga, hanya karena orang itu baik, padahal yang terlihat baik belum tentu baik, hanya karena dia perhatian padahal kita belum tahu isi hati seseorang”, Irfan menambahkan kata – katanya.


“Semua itu karena dulu mama kamu, terlalu memanjakan pendapat kamu, tanpa mama kamu memberikan teguran terhadap pengaduan kamu dengan masalah sama orang lain, atau memberikan nasehat, aku sebenarnya sudah pernah bilang dengan mama Vinda, sebaiknya jangan terlalu di manja dengan masalah yang kamu hadapi itu, karena kamu adalah laki – laki, dan harus mampu menghadapi kehidupan yang keras ini”, sahutku.


__ADS_2