
Hari berganti, mereka masih menikmati libur panjang mereka. Ella, Bastian, Billy dan Martha masih bersekolah hingga akhir tahun. Kurikulum mereka tentu berbeda dengan kurikulum Indonesia.
Maisya mengajak Dewi pergi jalan-jalan. Sebenarnya dua gadis beda usia itu memiliki kesamaan.
"Cabut yuk!" bisik Maisya pada Dewi.
Mestinya Dewi sebagai tante dari Maisya, tetapi karena usia Maisya lebih tua satu tahun setengah. Dewi memanggil Mai dengan sebutan kakak.
"Emang bisa?" tanya Dewi.
"Bisa lewat belakang," bisik Mai.
Dewi melihat semua saudaranya. Mereka tengah bercengkrama. Gadis itu mengangguk, ia mengikuti Maisya ke arah dapur. Tak ada yang memperhatikan karena Arsh sedang menguras semua perhatian semua orang dewasa.
Maisya dan Dewi tak memakai penutup kepala seperti dua kakaknya, Nai dan Arimbi. Keduanya memang belum siap menutup kepala mereka.
"Nanti aja kalo udah nikah," begitu alasan Mai.
"Dewi juga nanti aja," sahut Dewi beralasan.
Tak ada yang memaksa gadis itu. Khasya dan Puspita juga tak mempermasalahkan, selama mereka tidak memakai baju terbuka, baju ketat atau celana pendek.
Maisya mengenakan hoodie oversize berwarna biru pucat, gadis itu memberi kesan luntur pada hoodienya dan dipadu dengan celana jeans beleldan sepatu kets putih. Sedang Dewi mengenakan baju kaos putih yang ia lukis sendiri dipadu dengan celana oversize berbahan katun yang juga ia beri kesan kelunturan warna lain. Mode nyeleneh ala Dewi dan Maisya benar-benar berbeda.
Keduanya berhasil keluar dari kastil. Maisya mengeluarkan tas dari dalam hoodienya.
"Uang kakak cukup?" tanya Dewi.
"Jangan khawatir, kakak nggak pernah pake kartu unlimited yang diberikan Daddy, jadi kita bisa senang-senang," jawab Mai.
"Nggak ngajak Kak Nai sama Kak Arimbi?"
"Duh ... keramean kalo ngajak mereka. Dah yuk!"
Maisya menggandeng Dewi, berjalan cukup jauh menuju jalan besar dan menghentikan taksi. Mereka berdua pergi ke sebuah distrik yang mengadakan bazar.
Berkat kecanggihan ponsel, mereka tak tersesat, terlebih supir taksi yang membawa mereka sangat hapal tempat dan jujur.
"Thank you Sir!" ujar Mai ketika turun setelah membayar.
"Anytime Miss," sahut supir.
Dua gadis itu bergandengan tangan. Dewi seperti berada di surga, gadis yang sebentar lagi mau enam belas tahun itu langsung mendatangi stand-stand yang begitu menarik matanya.
"Ini Kak?" tunjuk Dewi pada sebuah mini dress.
__ADS_1
"Bisa digantung Daddy kalo pake dress sependek ini!" sahut Maisya memutar mata malas.
"Eh .. tenang dulu Kakak sayang, kita bisa padukan dengan celana legging putih, ala kartun Jepang gitu!" Dewi mengambil satu pans ketat yang panjang berwarna putih.
"Nih, kek gini!" ujarnya.
"Waw ... You have great taste, right!!" (Wah, seleramu bagus sekali!) puji seorang pria berpakaian nyentrik.
"Are you models? You are so beautiful!" (Apa kalian model? Kalian cantik sekali?!) lanjutnya masih memuji.
Dewi menarik kakak yang mestinya keponakannya. Maisya juga tak begitu suka berbicara dengan orang asing. Tinggi Mai dan Dewi memang cocok untuk dijadikan model, terlebih Dewi yang memiliki kulit kecoklatan, begitu eksotis.
"Hai ... kalian mau kemana?!" tanya pria itu, rupanya dia bisa berbahasa Indonesia.
Dewi menggandeng Maisya erat. Bukan takut tapi mereka menahan diri untuk tidak berlaku bar-bar di negara orang.
"Sorry, bisa tinggalkan kami, sebelum kami berteriak?!" ancam Maisya menatap tajam pada pria itu.
"Eh ... easy girls. Aku punya penawaran menarik untuk kalian," rayu pria itu.
"Kami tidak tertarik!" tolak Dewi.
"Oh ... ayolah ... masa kalian tak suka uang," ujar pria itu lagi.
"Kami tidak tertarik!" tolak Dewi lagi.
"Nona ....,"
Dewi yang kesal langsung menarik kerah pria itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Tentu saja pria itu terkejut bukan main, walau tingginya 175cm dan Dewi hanya 169cm. Tetapi tenaga Dewi yang kuat membuat pria itu harus berjinjit.
"Hei ... leave her alone!" seru para pedagang mulai membela dua gadis yang dari tadi diganggu oleh pria nyentrik itu.
"Easy girl ... easy," pria itu hendak melepas cengkraman Dewi pada kerahnya.
Dewi setengah melempar pria itu hingga terjajar. Maisya hanya menatap santai di sana. Dewi menggandeng Maisya, instingnya sebagai bibi yang melindungi keponakannya langsung menguar dari diri Dewi.
"Bu'lek," rengek Maisya manja.
Dewi memutar mata malas. Maisya terkekeh lalu merangkul tangan bibinya erat dan kembali berbelanja.
Pria tadi tiba-tiba ditarik seseorang. Di kejauhan, pria itu dihajar sampai babak belur oleh seorang pria dengan pesona luar biasa. Sedang di sisi pria itu sosok tinggi besar menatap datar muka pria yang babak belur.
Keduanya kembali mengikuti dua gadis nakal itu. Mereka memang sengaja tak menampakkan diri. Gomesh yang mengetahui pergerakan dua nona mudanya. Ia langsung melaporkan pada Virgou.
Dua pria itu kembali mengawasi anak-anak gadisnya. Beberapa mata pria yang menatap Mai dan Dewi membuat keduanya kesal bukan main.
__ADS_1
"Halo, Miss ... this is for you," ujar seorang pria tampan memberi bunga pada Dewi.
Gomesh ingin sekali mematahkan tangan pria itu. Sedang Virgou ingin merobek bibir pria yang tersenyum manis pada dua anak gadisnya.
"Sorry we can't accept it!" (Maaf kami tidak bisa menerimanya!) tolak Mai langsung.
"Oh ... please," pinta pria itu penuh harap.
"Sayang ... jangan terima!" dumal Virgou kesal.
Mai menatap Dewi, akhirnya mereka menerima bunga itu. Virgou kesal dengan hal itu, pria itu tadi mendumal dalam hati jadi tidak terdengar oleh putrinya. Tetapi jadinya, pria itu malah mengikuti keduanya.
"Kenapa kau malah mengikuti kami?" tanya Dewi mulai risih.
Mai tenang-tenang saja, gadis itu tentu berbeda dengan Dewi yang blak-blakan.
"Karena kau cantik, sayang!' puji pria itu lalu mencolek dagu Dewi.
Muka Dewi langsung merah padam. Gadis itu memang biang keributan, tak ada anak laki-laki yang berani padanya.
Bug! Pria itu terjajar, Dewi kembali mengarahkan pukulan pada muka pria itu. Bug! Pria itu jatuh ke tanah, banyak orang ingin mengehntika perkelahian, Mai hanya menatap bibinya yang meninju berkali-kali wajah pria yang tadi mencolek dagunya.
"Hentikan Nona!" salah satu pria paru baya berhasil meraih tubuh Dewi dan menjauhkannya dari tubuh pria yang sudah terkapar tak berdaya.
Dewi kini berada di kantor polisi bersama Maisya. Dua gadis itu tertunduk di hadapan Virgou dan Gomesh. Para polisi melepas mereka dengan uang jaminan. Pria tadi masuk rumah sakit milik Demian dan biayanya ditanggung oleh Virgou.
Kini mereka pulang. Terra menatap dua anak gadisnya dengan gelengan kepala. Haidar mendatangi mereka.
"Bagaimana petualangannya?" tanya pria itu.
"Nggak seru Pa, tadi Dewi mukulnya kurang kenceng!" jawab gadis itu setengah kesal.
Herman menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. Kanya merangkul keduanya dan menyuruh mereka berganti pakaian.
"Emang kurang kenceng Dad?" tanya Demian.
"Kok kata dokter di sana rahang orang itu sampai bergeser, hidung patah, muka babak belur ...."
"Anakku memang beda lah," sahut Virgou bangga.
bersambung.
Eh ... Dewi 🤦
next?
__ADS_1