
Pagi buta, semua keluarga sudah sampai hunian mereka masing-masing. Langit menggendong adik iparnya Arion. Sedang Andoro menggendong Arraya. Luisa merangkul menantunya. Mereka akan beristirahat di rumah Terra.
Bart meminta para pengawal membantunya untuk mengangkut lima puluh anak angkatnya. Sedang di mansion Virgou, Kean menggendong Della, Affhan menggendong Firman, Calvin menggendong Alia dan Virgou sendiri menggendong Harun. Arfhan sendiri digandeng Puspita walau mata bocah itu setengah mengantuk.
Semua keluarga memang pulang ke tempat hunian mereka masing-masing dengan membawa putra dan putri mereka.
"Aku yakin, nanti semua kaget ketika bangun," kekeh Herman.
Pria itu membawa tiga anak angkat kembarnya, Lino, Lana dan Leno.
Benar dugaan Herman. Menjelang siang, semua anak bangun dalam kondisi bingung dan mencari keberadaan saudara mereka.
"Ayah?" Lana memindai seluruh ruangan.
'Lana nggak sama Kak Azizah?"
"Tidak sayang. Kamu bersama ayah tadi malam," jawab Herman lalu mengecup kening Lana.
Gadis kecil itu menguap lebar. Ia dalam pangkuan Herman.
"Sayang, ayo makan dulu!" teriak Khasya.
Leno dan Lino digandeng Satrio. Semua makan siang. Triple eL itu tengah manja dan minta disuapi.
"Suapin Mas,"
Satrio menyuapi ketiganya dengan telaten. Hanya sebentar saja, tak lama mereka kini semua berada rumah Terra.
"Amah!" pekik Arsh bossy.
"Baby," sahut Terra gemas.
Bayi itu kini dalam pelukan Azizah. Arsh senang saja diciumi sedemikian rupa.
"Baby kamu tampan sekali sih!" gemas wanita hamil itu.
"Alsh man tenten!" angguk bayi itu sangat percaya diri.
Azizah mencebik gemas. Ari juga mau di pangku, rupanya bayi itu ingin dipuji oleh kakaknya.
"Ata' ... Ali panpan pidat?"
"Tentu Baby," jawab Azizah sangat yakin.
Rion mengangkat satu adik angkat istrinya itu. Bayi itu tergelak. Aminah juga tak mau ketinggalan.
Hujan kembali membasahi bumi. Anak-anak lesu karena tidak bisa bermain puas.
"Pita napain dithu!" sungut Fathiyya kesal.
"Mo papain. Bujan Phiya!" sungut Aisya ikut kesal.
"Mima eundat datan ya?" tanya Azha mencari keberadaan Aaima.
"Lasyad pama Baby Zizam judha peulum datan!' sahut Harun.
"Tan bujan Paypi," sahut Della memaklumi.
"Meuleta pate bomil, Baby Dell. Pisa pate payun," sahut Harun malas.
"Piyal lada payun basti teuna pujan Ata'. Tasyihan talo syatit badhaipana?" sahut Della.
__ADS_1
Della akan selalu jadi pembela semua saudara, ibu juga ayahnya yang dipojokkan oleh salah satu kakaknya. Bahkan para pengawal tak luput dari pembelaan batita cantik itu.
"Mama ... napain dhitu!" sungut Arion benar-benar bosan.
"Karokean Baby," suruh wanita itu.
"Posen!"
"Ya Mama nggak tau kalo gitu. Hujan deras Baby," sahut Terra juga hilang ide.
Di rumah sakit, Aini memeriksa kondisi tiga wanita yang jadi korban kekerasan. Aini mencoba memberikan treatment penguatan pada mental ketiganya.
"Kasihan Baby Gi, Baby Sen, Baby Lilo, Baby Ver dan Baby Dita, Mama,"
Aini mencoba mendekatkan secara naluri seorang ibu. Lidya mengelus punggung Aini.
"Dok," gelengnya pelan..
Tidak ada reaksi sama sekali. Aini kini paham kenapa Gino menolak kembali pada orang tua mereka.
"Dokter Aini, Dokter Lidya. Ada tamu dari kepolisian dan juga komisi wanita!" ujar Putri memberitahu.
"Suruh mereka ke sini dan melihat sendiri kondisi tiga korban!" suruh Lidya.
Dua perwakilan dari kepolisian dan komite perlindungan perempuan datang.
"Jadi ketiga korban masih dalam kondisi koma?"
"Benar, traumatik mereka sangat hebat. Ancaman kehilangan nyawa benar-benar di depan mata!" jawab Lidya.
Lidya membawa empat orang itu keruangan prakteknya. Wanita itu menyerahkan berkas-berkas pemeriksaan. Tentu saja tim kepolisian dan tim dari komite perlindungan perempuan punya tenaga ahli.
"Lalu bagaimana dengan pendekatan secara emosional pada kelima anaknya?" tanya salah satu petugas tim komite.
"Tidak ada reaksi. Kami bisa memberi kesaksian jika kelima anak tidak menginginkan kembali kepelukan orang tuanya!" jawab Lidya.
Lidya adalah seorang profesor dan ahli kejiwaan, tentu saja kesaksiannya bisa dipercaya. Wanita yang sedang mengandung anak ketiganya itu juga memberi data kesehatan lima anak korban.
"Jadi Gino, Lilo, Seno, Verra dan Dita kini berada dalam pengawasan Profesor?"
"Benar Pak! Kelimanya juga mengalami traumatik hebat. Mereka ketakutan jika berbicara perihal orang tua mereka," jawab Lidya.
"Saya tidak percaya!" geleng salah satu dokter.
"Mana ada orang tua sekejam itu!" lanjutnya lagi.
"Ada Dok," jawab Lidya tersenyum.
"Anda sedang berhadapan dengan mantan korban kekerasan salah satu orang tuanya," lanjutnya tenang.
Lidya sendiri kaget, wanita itu tak lagi bergetar hebat ketika mengingat masa menyeramkan itu. Biasanya, jika memori buruk itu melintas. Ia akan berkeringat dingin dan langsung jatuh ke dasarnya. Putri yang ada di sisi Lidya juga sempat heran melihat sahabatnya itu.
Empat perwakilan dari divisi masing-masing sudah pergi. Putri menatap lekat Lidya.
"Lid!" wanita itu menatap sahabatnya dengan pandangan haru.
"Put ... gue nggak down lagi Put!" pekik Lidya tertahan.
Putri langsung memeluk erat sahabat sekaligus penolong hidupnya itu. Keduanya menangis haru.
"Dokter udah nggak takut lagi ... hiks ... dokter udah lepas dari masa kelam itu!" ujar wanita itu tergugu.
__ADS_1
Gio yang mendengar tangisan dua wanita di dalam tentu panik. Pria itu tak mau ambil pusing segera membuka pintu ruang praktek.
"Nona Baby!?" Lidya merengek mendengar panggilan itu.
"Papa, Bu dokter sudah lepas dari trauma itu Pa!" seru Putri memberitahu.
"Benarkah itu?" tanya Gio tak percaya.
Felix dan Hendra ikut masuk. Dua pria yang tentu tahu bagaimana Lidya bereaksi jika menceritakan masalalunya.
"Nona sudah sembuh?" Lidya mengangguk.
"Alhamdulillah ya Allah!" ketiganya memeluk wanita bertubuh mungil itu.
Mereka bertangisan. Aini yang baru selesai pemeriksaan rutin segera mendatangi ruangan karena mendengar tangisan.
"Dok!" panggilnya khawatir.
Putri tengah menutup mulut dengan air mata haru. Aini mendekat. Tentu ia tidak tau apa yang terjadi.
"Sus?" Putri memeluk Aini.
"Dokter Lid sembuh dari traumanya Dok! Dokter Lid sembuh!"
"Apa benar?" Putri mengangguk.
"Alhamdulillah!" pekik Aini kegirangan.
"Nona ... hiks ... alhamdulilah, wa syukurilah!" Gio mengusap wajah basah nona mudanya.
Berita lepasnya trauma Lidya menjadi berita paling membahagiakan seluruh keluarga.
"Baby ... cintaku!" Haidar merentangkan tangannya.
Lidya langsung berlari dalam pelukan ayahnya. Virgou mengalah, ia membiarkan Lidya dalam pelukan cinta pertamanya. Begitu juga Herman dan Bart.
Bram dan Kanya langsung datang bersama anak dan menantunya. Raka juga bahagia mendengarnya.
"Kakak Lata!" pekik Lidya tertawa lepas.
Bart memeluk Demian dan mengucapkan terima kasih pada pria itu.
"Terima kasih sayang ... terima kasih!"
Dinar, Sari, Anyelir juga ikut terharu. Mereka adalah saksi di mana Lidya melewati mimpi buruk hingga ketika menjelang menikah.
"Selamat sayang. Kau bisa melewati ketakutan mu," ujar Virgou.
Lidya memeluk pria kesayangannya. Hati kelam Virgou melunak, pelukan Lidya masih sama, begitu menenangkannya.
Budiman dan Gomesh juga ikut memeluk cinta pertama mereka itu. Andoro, Luisa dan Remario baru mengetahui kisah seorang wanita cantik yang penuh cinta itu ternyata begitu kelam dan menguras air mata.
Bersambung.
Ah ... selamat Lidya ... kau bisa melewati ketakutan mu..
Maaf Readers ... othor banyak kesibukan.
ba bowu 😍😍😍😍
next?
__ADS_1