SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
PULANG


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat. Kali ini mereka semua kembali ke Indonesia. Mereka sengaja berangkat malam agar tak ada drama ketika pulang. Terlebih Arsh yang sudah tidak mau berpisah dengan semua saudaranya. Ella, Bastian, Billy dan Martha harus sekolah beberapa bulan lagi agar bisa lulus dan pindah ke Indonesia. Gabe, Frans dan Leon menyiapkan semua data.


"Kami akan menunggumu sayang," ujar Bart memeluk anak dan menantunya.


Bart berangkat bersama lima puluh anak angkatnya dengan beberapa pengawal. Sementara yang lainnya berangkat dengan pesawat jet pribadi masing-masing. Sriani ikut pulang, wanita itu enggan tinggal padahal Gabe meminta mertuanya untuk tetap di sana.


"Maaf sayang, Ibu ada rumah dan harus merawat makam ayahmu," ujar wanita itu beralasan.


Terra, suami dan anak-anak sudah sampai terlebih dahulu. Kini mereka bertambah satu anggota yakni Langit sebagai suami dari Naisya. Sedang Herman membawa Reno sebagai suami Arimbi. Tak lupa Remario juga turut serta di sana. Mereka pulang ke rumah masing-masing.


"Sayang, ini sudah pagi sarapan dulu ya," semua menggeleng.


Langit menggendong Arraya sedang Arion digendong oleh Sean. Mereka menggeleng karena kelelahan. Memilih tidur kembali udara masih terlalu pagi untuk berkegiatan. Langit dan Sean meletakkan Arraya dan Arion di boksnya. Terra sudah berkutat di dapur. Ani dan Gina membantunya.


"Bi Ani, Bi Gina ... apa kabar?" Terra memeluk dua wanita yang sudah tua itu.


"Saya baik Nyonya. Alhamdulillah," ujar Ani tersenyum. Gina ikut mengangguk.


"Perlu bantuan Ma?" tawar Langit.


Terra menoleh, ia mengelus wajah menantunya.


"Istirahat lah sayang," suruhnya.


"Makasih Ma,"


Langit pun menuju kamar istrinya, ia sedikit bingung. Pemuda itu pun mengetuk pintu satu persatu.


"Eh Kak Langit. Kamar Kak Nai ada di ujung sana yang tulisannya Girls Room," ujar Rasya menunjuk kamar kakaknya.


"Makasih Baby,"


Langit pun berjalan menuju kamar yang ditunjuk. Pintu diketuk, tak ada sahutan. Pemuda itu mencoba membuka kamar, ternyata terkunci dari dalam.


"Sayang!" panggilnya sambil mengetuk pintu.


Nai yang lupa jika sudah bersuami mengernyitkan keningnya ketika ada yang memanggil sayang. Gadis itu membuka pintunya.


"Kak?"


"Sayang," Langit menyerobot masuk.


Nai baru sadar jika ia telah bersuami setelah menatap cincin yang ia kenakan. Langit merebahkan dirinya di ranjang. Tidak ada pakaian pemuda itu di kamar ini. Nai sedikit risih dengan pakaian suaminya.


"Jorok," dumalnya.


Sedang di mansion Herman. Reno sudah berada di kamar istrinya dan memeluk Arimbi seperti guling.


Jam sebelas siang, semua sudah bangun dengan wajah segar. Para perusuh celingukan mencari saudaranya.


"Mama ... pita lada pinana?" tanya Arion ketika bangun.


"Kita sudah di rumah sayang," jawab Terra.

__ADS_1


"Ata' Ella, Ata' Paspian, Ata'Altha pama Baby Alsh itut?" tanya Arion sambil menguap lebar.


"Tidak sayang, Kakak kan masih sekolah. Kemungkian tahun ajaran baru, mereka baru ke sini," jawab Terra.


Arion diam, Arraya tampak kebingungan karena kemarin baru saja berkumpul dengan semua saudaranya. Tetapi kini hanya ia berdua saja dengan Arion yang paling kecil.


Tak ubahnya di Indonesia, di Eropa juga sama. Arsh menangis ketika melihat rumahnya sepi. Bayi itu mencari semua saudaranya.


"Ata' Alan ... hiks ... Ata' Wewi ... hiks ... hiks," isaknya.


Widya harus menggendong bayi tampannya yang langsung murung. Bukan hanya Arsh yang sedih, baik Ella, Bastian, Billy dan Martha ikut sedih.


"Babies ... nggak lama lagi kita kumpul bareng kok," ujar sang ibu menenangkan semua anaknya.


Lastri dan Najwa datang membawa anak-anak kembar mereka, baru lah Arsh sedikit semangat. Najwa meminta bayi tampan itu menjaga dan mengajari tiga bibi dan satu pamannya berbicara.


Saf datang membawa empat anaknya. Mereka berempat menangis karena kecarian saudaranya.


"Au Ata' Ayi!" pekik Izzat.


"Ata'!" panggil Maryam, Aisya dan Al Fatih.


"Babies!' sambut Arion dan Arraya.


"Ata'!" Izzat ikut menggerakkan tangannya antusias.


"Nenet!' panggil Maryam pada Terra.


Panggilan yang membuat Terra cemberut dan gemas bersamaan. Wanita itu menciumi keempat cucunya.


"Opa!" panggil Terra pada suaminya.


Haidar sedikit berdecak, tetapi ia menatap Nai dan Langit yang sedang bercengkrama dengan anaknya yang lain.


"Ah ... aku memang sudah tua!" keluhnya pelan.


"Iya sayang!" sahutnya kemudian.


"Nih ... dicari cucu cantikmu!" sahut Terra sedikit meledek suaminya.


"Iya Nenek cantik," sahut Haidar membalas ledekan sang istri.


"Eh ... Mama Papa kenapa sih?" tanya Saf bingung.


Darren tak ikut, pria itu langsung ke perusahaannya. Begitu juga Azizah yang langsung mengecek semua pekerjaan walau mereka kemarin bisa melihat via ponsel BraveSmart. Tetapi mereka juga harus mengecek secara manual.


Tak butuh waktu lama. Sore menjelang kali ini rumah Terra sudah penuh dengan manusia.


"Ma, kapan Baby Ella dan lainnya ke sini?" tanya Kean.


"Kemungkinan sehabis naik-naikan kelas Baby," jawab Terra.


"Setengah tahun lagi ya?" Terra mengangguk membenarkan.

__ADS_1


"Nggak berasa kok," ujarnya.


Sementara Adiba mulai mengecek kafe khusus bayinya itu. MilkOutBaby miliknya sudah rampung dua bulan lalu. Gadis itu membuka tirai dan sebagainya mulai membersihkan tempat itu. Memang barang-barang belum ada yang ia beli. Gadis itu masih harus menunggu karena design yang diinginkan berbeda dengan yang lain.


"Harus nyari uang lagi nih," monolognya ketika menghitung semua budget yang ia keluarkan.


"Masih banyak kurangnya!" keluhnya.


Ponsel gadis itu berdering. Memang hanya Adiba yang keluar sendirian menuju kafe bayi miliknya. Gadis itu mengangkat ponsel dan langsung kena marah oleh kakaknya.


"Kamu di mana?"


"Maaf Kak. Diba ada di kafe nih," jawab Adiba.


"Tunggu di sana. Mas Satriomu jemput!' sahut Azizah di seberang telepon.


Adiba menekan dadanya ketika nama itu disebut. Tak butuh waktu lama, Satrio ada di tempat itu dengan wajah galak.


"Jangan biasain kek gini ya!"


"Maaf Mas," cicit Adiba.


"Kamu tau ... semua panik nyariin kamu!"


Satrio menarik tangan Adiba, mereka masuk mobil di sana ada Ricky yang menjadi supir.


"Assalamualaikum!' salam Adiba ketika masuk.


"Kamu kenapa nggak bilang-bilang kalo mau ke kafe!' seru Dewa kesal.


"Maaf ... habis aku pikir kan Mas Dewa cape," jawab Adiba merasa bersalah.


"Eh ... udah jangan dimarahi Adiba!" ujar Khasya.


"Dia punya tanggung jawab jadi dia menjalankan tanggung jawabnya. Kalian mestinya inisiatif dong, jangan melimpahkan semua pekerjaan sama Adiba!' lanjutnya memberi pengertian.


Akhirnya semua meminta maaf. Dewa sangat tau apa yang kurang dari kafe yang akan dibuka secara umum itu.


Tak lama mereka makan malam, sehabis makan malam semua kembali pulang ke hunian mereka masing-masing. Rumah Terra kembali sepi.


"Kak, baju Kakak simpan sini aja!" ujar Nai.


Gadis itu meletakkan pakaiannya di sebuah lemari pakaian yang lain. Kamar Nai begitu sederhana bahkan bajunya bisa dihitung dengan jari. Terra memang mengajarkan Nai kesederhanaan.


Jika di mana-mana kamar gadis anak pengusaha akan seperti kamar putri raja. Kamar Nai hanya ada tiga lemari pakaian itu pun satu lemari hanya diisi tumpukan buku kuliahnya. Langit membantu istrinya, pemuda itu merapikan pakaiannya yang tak seberapa di lemari itu.


"Nanti juga kita pindah sayang. Kita tidak mungkin kan tinggal terus sama Mama?" ujarnya.


Nai menatap langit, netranya mengembun, tetapi ajaran sang ibu yang menyuruhnya menuruti kemauan sang suami. Gadis itu mengangguk lemah.


"Kita pindah nggak jauh kok sayang, di sebelah rumah Kak Darren, kita tinggal di sana," ujar Langit menenangkan istrinya.


Bersambung.

__ADS_1


Yah udah pulang semua deh ke Indonesia.


Next?


__ADS_2