SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
BERKUMPUL


__ADS_3

Nai dan Arimbi makin lengket dengan suaminya. Dua perempuan yang masih gadis itu tak pernah jauh dari sisi sang suami masing-masing.


"Kamu udah punya suami nggak deket ama kita lagi," keluh Sean.


"Baby, saudarimu sudah punya suami. Itu adalah tugasnya untuk dekat dengan suaminya," terang Terra.


"Nanti ketika kau memiliki istri, kau juga akan sibuk dengan keluargamu sendiri," lanjutnya.


Terra mengelus kepala anak laki-lakinya. Sean memeluk ibunya manja sedang Nai ikut-ikutan memeluk Terra.


"Mama ... apa Nai bisa jadi istri yang baik?" tanya gadis itu.


"Kamu pasti bisa sayang. Minta suamimu mengajari kamu. Jangan meninggikan suaramu dengan suamimu ya," ujar Terra.


Nai mengangguk Arimbi tengah dipeluk suaminya di taman bunga. Keduanya sedang asyik berpacaran.


"Sudah sana, kau dekati suamimu," titah Terra.


Nai pun mendekati suaminya yang tengah bercengkrama dengan para ayah.


"Ma," Satrio memanggil Terra.


"Apa sayang?"


"Ma, Adiba baik nggak?" Terra menatap remaja yang masih polos tapi berani mengikat seorang gadis kecil.


Terra mengetahui kedekatan Satrio dengan Adiba karena Khasya yang selalu memberi tanda. Terra adalah ibu terpolos yang pernah ada. Wanita itu adalah induk dari kepolosan semua anak-anaknya. Makanya butuh waktu lama untuk Terra mengerti dengan kondisi asmara para remaja, termasuk yang terjadi dengan Satrio.


"Adiba gadis baik dan cantik," jawab Terra. "Cocok untuk kamu Big Baby."


Satrio tersenyum, remaja besar itu memeluk dan manja pada wanita yang mestinya ia panggil Mba atau kakak itu.


Kean, Al, Calvin dan Daud tengah bermain tebak-tebakan. Sean dan Dimas mendatangi mereka lalu ikut bergabung.


"Ih Mas Kean gambar apaan!?" ledek Dimas.


"Ini tebak aja!" sahut Kean gemas.


'Kayu?" jawab Al.


"Salah ... ini kek tebak kata gitu loh!" jelas Kean lagi..


Karena kehebohan Kean, semua anak jadi berkumpul. Arsh ikut nyempil lalu semuanya pun jadi ikut bergabung.


"Batang!" jawab Samudera.


"Nah itu!" Kean menuliskan kata yang disebut Samudera.


"Batang pohon!" lanjut Samudera, belum juga Kean menggambar.


"Bener!' sahut Kean bertepuk tangan.


"Ain pa'a syih Ata'?" tanya Arsh bingung.


"Ini main tebak kata tapi pake gambar Baby," Arsh mengangguk saja.


"Sekarang Dimas mau gambar!" ujar remaja mau tujuh belas itu.

__ADS_1


Dimas menggambarkan bulatan lalu menulis angkanya di dalam bulatan tersebut.


"Jam?" seru Benua dan Sky bersamaan.


"Salah!' sahut Dimas.


"Waktu!" jawab Kaila.


"Nah!" Dimas menulis jawaban Kaila.


Dimas menggambar lagi matahari terbenam.


"Waktu maghrib!' seru Bomesh tepat.


Dimas bertepuk tangan meriah. Semua ikut bermain tebak-tebakan itu. Arsh marah-marah karena selalu salah menjawab.


"Ayo makan siang sudah siap!" seru Seruni, Maria dan Lastri.


Semua makan dengan lahap, Remario sangat senang dengan kehangatan keluarga ini. Pria itu berharap mendapat jodoh seperti Dominic.


"Ayah, apa ada anak angkatmu yang belum menikah?" tanyanya.


Herman menatap horor pada pria tampan itu. Remario hanya bisa nyengir kuda.


"Ada tuh, kau tunggu Lana sampai besar!" jawab Herman kesal.


Remario mencebik manja. Pria itu benar-benar menyamakan dirinya dengan semua perusuh junior.


"Siapa yang disuruh nungguin Baby Lan gede?" tanya Frans.


"Tuh, Remario," jawab Herman sambil menunjuk pria yang dimaksud dengan ekor matanya.


"Astaga ... aku hanya menjawab untuk meledeknya!" sahut Herman kesal.


"Oh ... kukira," kekeh Frans.


"Rupanya bibit polos berasal dari kau," ledek Herman.


"Aku nggak polos. Tapi tuh, anak Mas yang polos!" tunjuk Frans pada Terra.


Herman mengangguk setuju, bahkan Terra sampai sekarang belum bisa move on dengan kepolosanya padahal anaknya sudah banyak bahkan kini ada yang sudah menikah.


Habis makan siang semua diminta untuk tidur siang. Semua anak menolak, termasuk anak angka Bart.


"Papa boleh dong kita buat boneka salju!" pinta Nana.


"Iya Papa ... kita juga mau perang bola salju!" pinta Azlan.


"Pakai jas tebal kalian!' semua anak bersorak.


Kini halaman depan vila penuh dengan manusia berbagai usia. Semua menggunakan jaket tebal dan syal.


Mereka berperang dengan melempar bola-bola salju. Gelak tawa tercipta. Satu jam mereka bermain, Bart sudah meneriaki mereka.


"Ayo masuk, akan ada badai dua jam lagi!"


Semua pun masuk. Para pengawal juga ikut masuk. Tak akan ada yang bisa di luar berlama-lama, badai salju datang dengan angin gemuruh pertama kali. Semua berkumpul di ruang tengah dengan penghangat ruangan yang tak begitu berarti.

__ADS_1


Kehangatan dan kasih sayang, semua berpelukan kecuali para pengawal single. Rahma memeluk suami dan putranya yang terlelap karena kelelahan. Dahlan mengusap pipi sang istri yang dingin.


"Umi mau coklat hangat?" tawar pria itu.


"Nai mau Abi!" sahut Nai.


'Rimbi juga!"


"Alsh udha Api!" angguk Arsh.


Semua mau minum coklat hangat. Dahlan akhirnya dibantu oleh sang istri dan beberapa pengawal lainnya. Semua minum coklat hangat.


"Ketika salju turun, ada hati yang beku karena tak kunjung rindu ...," Ajis melantunkan sebuah syair.


"Udara yang dingin, mampu membekukan rasa yang tak kunjung merasa ...," lanjutnya.


"Melebur dalam kehampaan akan cinta yang tak kunjung datang, haruskah menerima pada takdir hidup sendirian?"


Semua terdiam dan menyimak syair yang dilantunkan oleh Ajis.


"Jangan salahkan udara jika tak mampu kobarkan api untuk menghangatkannya. Jangan pula kau salahkan api jika kau tak mampu memadamkannya," lanjut Ajis.


"Tapi salahkan dirimu, karena cinta itu hanya perlu dirasakan tanpa perlu diungkapkan ...."


"Atuh putan peulindu lulun," lanjut Azha.


Semua nyaris tersedak mendengar bahasa yang digunakan syair Azha. David tersenyum lebar mendengarkan sang putra ikut bersyair.


"Atuh judha putan wowan yan mahil beulsinta ...," lanjut bayi mau empat tahun itu.


"Atuh banya selolan piasa ...."


"Atuh ... bunya anjin teusil ...," timpal Maryam bernyanyi.


"Bffhhh!" semua nyaris tertawa.


"Tuh beuli mama Leli ... piya senan peulbain-bain ... sampil beulali-lali ... Leli ... dut ... dut ... dut ... teumali ... dut ... dut ... dut ... ayo lali-lali .... Leli ... dut ... dut ... dut ... teumali ... dut ... dut ... dut ... ayo lali-lali!" Maryam menyudahi nyanyiannya dengan menguap.


"Tuh olan iten ... unyuaih ... ajan ... ajan ... alo selalan ... pot ... pot ... pot ... tuh olan apiten!" Arsh ikut bernyanyi.


"Kikikikik ...!!!" Dinar tak bisa menyembunyikan tawanya.


"Bibu!" pekik Arsh marah.


"Anan wawa!" protesnya.


Bayi itu menerjang Dinar dan menciumnya. Dinar tentu senang diciumi bayi tampan. Akhirnya semua bernyanyi lagu kesukaan mereka. Badai kasih berlanjut hingga tiga hari ke depan. Mereka memilih menggelar kasur dan tidur bersama di sana. Tak ada batasan karena memang mereka adalah keluarga.


"Apa kita di sini semua?" tanya salah satu pengawal wanita yang baru saja bergabung.


"Tentu saja. Jika badai menerjang dan meruntuhkan hunian ini. Kami akan mati bersama, itulah tekad kami dengan keluarga ini," jawab Rio.


Pengawal wanita dan pria tentu terpisah hanya keluarga saja yang bersatu tempat tidur.


Bersambung.


Ah ... hangatnya.

__ADS_1


Next?


__ADS_2