SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KENCAN ALA SATRIO


__ADS_3

Sabtu sore, para perusuh kembali memenuhi kafe milik Adiba. Rangga sedang menyiapkan menu baru yakni burger dari roti gandum. Daging halus yang dicampur dengan sayuran diolah saus keju. Begitu nikmat, semua bayi berusia satu tahun sangat menikmatinya.


"Ini enak sekali!' puji salah satu pengunjung berusia lima tahun.


"Wah ... tamuh sudah pisa pahasa dewasa!" sahut Harun yang terkadang masih mencampur bahasanya.


"Iya dong. Kan udah besal!" sahut anak itu bangga.


"Atuh susah talo pate pahasa pewasa. Soalnya adit-adit atuh pasih teusil," ujar Harun lagi.


"Jadi suka ke ikut ya?" Harun mengangguk.


Melihat banyaknya anak bayi yang baru merangkak bahkan ada yang masih dalam perut. Membuatnya merasa kesulitan memakai bahasa orang dewasa. Terlebih para orang tua yang membiarkan mereka memakai bahasanya sendiri.


Sementara itu Adiba tampak mengedit beberapa konten yang baru ia buat. Subscribenya sudah tembus 2juta setelah pembuatannya satu hari lalu.


"Wah, kau sudah kaya Nona!" puji Rangga pada atasannya.


Khasya yang tidak mau calon menantunya jatuh ke pesona laki-laki lain. Selalu berdiri dekat dengan Adiba.


"Alhamdulillah, mashaallah tabarakallah ya Nak!' ujarnya membelai kepala Adiba yang terbungkus hijab.


Gadis itu tersenyum, ia tentu senang mendapat pujian. Tetapi, perlakuan Khasya yang membuatnya hangat.


Azizah tetap menyayangi mereka sama seperti sebelum ia menikah. Tetapi, kasih sayang dari semua ibu membuat Adiba menghangat.


"Makasih Bunda. Adiba ingin mengembangkan sebuah usaha baru dan Azlan. Kemarin kan dia menang lomba design komputer!" ujar gadis itu.


Rangga tersentuh mendengar rencana atasannya itu. Azlan bukan darah daging mereka. Tetapi, perlakuan mereka seperti satu darah.


"Anda baik sekali Nona!' pujinya lagi.


"Rangga, bisakah jika kau memuji awali dengan mashaallah terlebih dahulu?" peringat Khasya.


"Loh memangnya kenapa Nyonya?" tanya Rangga heran.


"Saya tidak mau putri saya terkena ain karena kau memujinya melebihi sang pencipta!" jelas Khasya tegas.


"Maaf Nyonya!" Rangga membungkuk hormat ia merasa bersalah.


"Terima kasih Bunda sudah mengingatkan," ujar Adiba begitu manis.


Rangga sudah bekerja hampir tiga tahun. Pria itu tentu sangat menyukai atasannya yang masih belia itu. Adiba membebaskan Rangga mengembangkan makanan yang bisa dikonsumsi bayi.


"Burgernya tiga lagi!" seru Nana salah satu pelayan di kafe tersebut.


Rangga langsung membuatnya. Tak lama Satrio datang. Untung Herman tidak ada karena pria itu bersama Kean pergi keluar kota. Khasya tersenyum menyambut putranya. Para ibu juga tak terlalu memperhatikan Satrio.


"Assalamualaikum Bunda," Satrio mencium punggung tangan ibunya.


"Wa'alaikumusalam sayang," Khasya mencium pucuk kepala putranya dan memberikannya doa.


Pemuda itu duduk di dekat pot bunga besar. Adiba membawa secangkir kopi dan beberapa kudapan. Lalu duduk di hadapan pemuda yang telah mengikatnya.


"Mas kelihatan lelah?" ujarnya penuh perhatian.


"Alhamdulillah Dek, Allah masih kasih tanggung jawab dengan pekerjaan," sahut Satrio.

__ADS_1


Virgou lalu datang bersama Gomesh. Pria sejuta pesona itu menatap Satrio yang tengah berduaan. Ia hendak mengacaukan kencannya.


"Sayang!" Khasya menahan laju pria itu.


"Bunda!" rengek Virgou kesal.


"Biarkan ya," pinta Khasya.


Gomesh pun tak jadi mendekati bayi besar keduanya itu. Setelah Rion, Satrio adalah anak didik buah tangan Gomesh dan kini dilanjutkan dengan Arfhan.


"Dek," panggil Satrio.


Pipi Adiba merona, gadis itu menunduk. Satrio menopang dagu dengan kedua tangannya. Menatap gadis yang tumbuh kembang. Sebentar lagi usia Adiba tujuh belas tahun.


"Mas ingin segera memperistrimu, dek," ujarnya lirih.


"Mas ...," Adiba makin menurunkan wajahnya.


"Jangan menunduk sayang," ujar Satrio lembut.


"Aku ingin melihat rona di wajahmu yang ayu," lanjutnya merayu.


Pipi Adiba makin memerah, ia malu sekaligus melayang akibat rayuan sang kekasih hati. Satrio sangat tampan, matanya tajam dan senyumnya sangat mahal.


"Dek, jika kita telah resmi. Maka duduk kita adalah ladang pahala kita berdua, tatapan kita dan genggaman tangan kita akan meleburkan semua dosa," ujar Satrio begitu lembut.


"Dek, andai kau bisa meraba dadaku. Kau akan merasakan betapa jantungku berdetak begitu cepat saat ini!"


Adiba makin merona, ia benar-benar salah tingkah. Jujur, hatinya juga ikut berdebar mendengar rayuan dari Satrio. Ia ingin berdiri dan meninggalkan pemuda tampan itu. Tapi hati dan tubuhnya berkhianat, Adiba tak mau bergeser sedikit pun.


"Ya Mas!'


Dua netra saling bertemu, pipi keduanya pun bersemu merah. Lalu dua-duanya memutuskan pandangannya. Virgou sangat kesal, ia ingin menghentikan adegan romantis itu.


"Bunda!' bisiknya.


"Diamlah!' sahut Khasya juga berbisik.


Sementara para bayi menonton aksi dua saudaranya yang paling besar. Sungguh, baik Terra dan semua ibu tak memperhatikan jika para bayi menelan mentah-mentah semua kata-kata yang keluar dari mulut dua sejoli yang sedang menjalin hati itu.


"Dek, apa aku harus menunggu jika sudah tujuh belas tahun?" tanya Satrio.


"Diba belum lulus Mas," cicit Adiba menjawab.


"Oh iya ya," kekeh Satrio.


"Dek ...."


"Mas ...."


"Taukah jika purnama kalah indah dengan kerling matamu?' ujar Satrio mulai menggombal.


"Mas ... ih!" Adiba benar-benar malu luar biasa.


"Taukah jika ribuan bunga kalah cantik dengan parasmu yang juga cantik?" lanjut Satrio menggombal.


Para bayi mulai mengerutkan keningnya. Mereka saling menyenggol satu sama lain.

__ADS_1


"Ata' ... seujat tapan Ata' Pida sadhi Puna?' tanya Aaima.


"Puna sasmala buntin Paypi Mima," sahut Azha.


"Puna sasmala tayat dhimana Ata'?' tanya Maryam kini.


"Ah ... atuh atan beulpanyi ladhu!' seru Bariana.


Musik bermain, Satrio masih melancarkan gombalannya pada Adiba.


Musik terdengar, seorang pelayan sangat hapal apa yang ingin dinyanyikan Bariana. Balita itu sudah berjoget heboh.


"Buna sinta ... piya mendoda ... Buna buna sinta pindah pi mata ... Pewi sinta banah sasmala ... buna sinta pindah pi laaassaa!"


Bariana menyanyikan lagu dangdut milik Nini Karlina berjudul "Panah Cinta". Balita itu bergoyang heboh, lalu diikuti semua bayi yang ada di sana.


Satrio dan Adiba terdiam, mereka lupa jika banyak saksi mata di sana.


"Ah ... atuh satuh sinta dadamu ... satuh sintah hatituh ... peultebalan dada imi owowowowo!"


"Sel poha ... doyan Daddy!" seru Lilo bergoyang sambil memutar pinggulnya.


Virgou turun, ia juga ikut berjoget. Satrio menghela napas panjang. Adiba tersenyum lebar. Kafenya jadi ramai.


"Ah ... atuh satuh sinta dadamu ... satuh sintah hatituh ... peultebalan dada imi owowowowo!"


Adiba pun akhirnya ikut berjoged, ia menggendong Dita dan menggoyangkan bayi itu hingga terpekik senang.


Triplet Starlight juga bergoyang heboh di kursi mereka.


Malam pun larut, Herman pulang bersama Kean. Pemuda itu digendong oleh Bambang, salah satu pengawal mereka.


"Baby sudah tidur?" tanya Khasya lalu mencium kening Kean.


"Iya Nyonya!'


"Bawa dia langsung ke kamar ya!" suruh Khasya.


Bambang langsung naik ke atas. Membawa Kean yang ada di punggungnya. Khasya membawa suaminya ke kamar mereka.


"Apa yang kau lakukan hari ini sayang?" tanya pria itu menyelidik.


Khasya tersenyum. Tentu ia tak bisa menyembunyikan apapun dari suaminya. Ia mengalungkan lengan di leher pria yang membuatnya jadi ibu dari lima anak itu.


"Aku mendekatkan Baby besar kita dengan gadis idamannya sayang," jawabnya.


Herman menghela napas panjang. Walau ia tau jika kencan putranya itu rusak akibat Bariana yang bernyanyi dangdut.


"Aku mencintaimu sayang!" ujarnya tulus.


"Aku juga!" balas Khasya lalu mencium bibir suaminya.


Bersambung.


Ah ... Othol judha satuh sinta pama Papa Lemalio eh ...


next?

__ADS_1


__ADS_2