
Pagi menjelang. Semua sudah rapi dan bersih. Hari ini Dominic mengajak semuanya pergi ke mall terbesar salah satu inventaris perusahaannya. Pria itu menyewa banyak mobil mewah. Ia tak mau membawa keluarganya dengan bus.
"Ayo sarapan dulu!' ajak Lidya.
Kali ini wanita bertubuh mungil itu menguasai dapur bersama, Lastri, Najwa, Seruni dan Safitri. Para wanita jago masak itu memasak untuk semua orang bahkan para maid kebagian.
"Loh, kenapa tak suruh maid yang siapkan sayang?" tanya Dominic melihat menantunya menata piring.
"Tidak apa-apa Daddy, kan hanya hari ini," ujar wanita itu.
Leon, Frans, Bart, Bram, David, Haidar, Virgou, Zhein dan Herman duduk di kursi makan bersama Dominic. Karena tak muat. Raka, Demian dan Darren duduk di kursi dan meja lain, bersama para remaja.
"Uma, mau nasi goreng!' pinta Dimas.
"Trio mau juga!"
"Kean mau pancake pisang buatan Nini Lastri," sahut Kean.
"Baliana bawu pasi dolen, bantek pisan, pomlet, banwic judha!" Bariana menyebut semua nama makanan yang ada.
"Baby, nggak boleh banyak-banyak," larang Maria memberi nasi goreng di piring anak-anak yang meminta makanan itu.
Sedang Karina, Aini dan Putri juga melayani yang lainnya. Termasuk para pria.
"Makasih mama!" sahut Kean.
"Sama-sama sayang," ujar Maria dengan senyum indah.
"Mama ... pial Baby Bal lasain pemuana!" sahut bayi cantik itu cemberut.
"Jangan sayang, tidak boleh rakus. Kalau rakus sifatnya hewan apa?"
"Monyet!" jawab Kean, Satrio, Sean dan Al.
Nai, Daud, Arimbi menggeleng. Sedang Maisya, Radit, Ditya, Affhan, Raffhan, Zheinka, dan lainnya hanya menonton saja. Mereka memakan sarapannya.
Usai sarapan Dominic melarang Aini membereskan meja. Ia menyuruh para maid membereskan semuanya. Tentu saja para pekerja itu harus melakukan perintah tuannya.
Seperti janjinya Dominic membawa mereka semua ke pusat perbelanjaan di mall. Para bodyguard menjaga para tuan muda mereka. Gomesh, Gio dan Budiman belum pulang. Ketiganya masih mengurusi perusahaan pengawalan yang kemarin dibeli oleh Virgou dan menamainya sama dengan yang ada di Indonesia yakni Savelived.
Deretan mobil mewah berhenti di lobby hotel. Semua karyawan berjejer rapi menyambut kedatangan pemilik gedung ini. Nyaris seluruh lantai sepi dari pengunjung yang datang. Mereka di hanya boleh masuk di outlet tertentu.
Penjagaan ketat dilakukan untuk keamanan dan kenyamanan tamu dari tuan mereka.
"Selamat datang Tuan, selamat ...."
"Sudah jangan banyak basa-basi!' sahut Dominic malas.
Semua orang langsung naik ke atas. Di mana letak baju koleksi dari perancang ternama terpajang di sana. Rion menggandeng Sky dan Bomesh. Dua ketua perusuh itu tak bisa dilepas sedikit saja.
"Kak, kita ke sana yuk!" ajak Sky. "Di sini baju pelempuan pemua!"
Rion mengangguk setuju. Pemuda itu menggandeng duo perusuh ke tempat baju-baju anak laki-laki. Dimas dan lainnya ikut ke sana kecuali para pria.
"Aini, pilih saja sayang," ujar Lastri mencocokkan beberapa baju pada wanita itu.
__ADS_1
Arsyad putranya sudah berada di tangan Kean. Ia tak perlu khawatir tentang keberadaan sang putra.
"Tapi ini harganya ...." cicitnya dengan mata membola.
"Jangan lihat harga sayang. Seusai kualitasnya," sahut Najwa menimpali.
"Ini, kau coba ini dan ini!" titah Lastri memberi tiga dress cantik pada Aini.
Sedang Putri, Jac tak pernah pusing dengan apa yang dibeli istrinya. Wanita itu selalu mengingat ibu, ayah dan juga adiknya.
"Bang, setelan ini cocok ya buat ibu?" tanyanya.
Jac melihat pilihan istrinya. Ia mengangguk setuju. Mertuanya akan kembali segar dengan pilihan istrinya.
"Kau juga beli untukmu sayang," Putri mengangguk.
Jangan tanyakan di mana putrinya. Aaima kini berada di tangan Khasya. Bayi cantik itu dipakaikan dress dengan rok mengembang.
"Uuhh ... cantik sekali," puji Herman gemas bukan main.
Maryam, Aisyah, Fatih, Al Bara dan El Bara bersama Haidar, Terra dan Dominic, Bart, Bram dan Kanya. Lima bayi itu juga didandani oleh kakek dan nenek mereka.
"Maryam, Aisyah!' panggil Herman.
"Teh ... teh!" sahut dua bayi cantik itu.
"Kalian ikut kakek yuk!" ajaknya.
Dua bayi digendong dengan mudah oleh pria tua itu. Bart sampai kesal.
Herman menciumi dua bayi cantik sampai tergelak. Pria itu mengabaikan gerutuan Bart.
Khasya datang dan membawa stroller para bayi laki-laki. Aaima ada di tangan Naisya.
Para perusuh menatap panggung yang sepi. Di sana banyak pengawal menghalangi para pengunjung yang datang untuk mendekat.
Harun berbisik pada Azha. Arraya, Arion dan Bariana mengikut dua saudaranya itu.
"Pati eundat lada busitna!' sahut Azha.
"Bemanan bawu napain syih?" tanya Arraya penasaran.
"Bawu banyi," sahut Harun.
"Ah ... pita atapela!" sahut Arion.
"Pa'a atabela?" tanya Bariana ingin tahu.
"Bitu woh yan. banyi eundat pate busit!" jawab Arion.
"Oh ... tosidahan?" sahut Bariana berpikir satu musik religi.
"Butan tosidah, pati nasyid!"
"Pa'a ipu?" kali ini Arraya yang bertanya.
__ADS_1
"Pama taya atapela!' jawab Arion.
"Biya Pahu! Pita badaibana banyina?" tanya Harun.
"Bedini woh ... bita banyi telus ada yang banyi buap ... buap ... lalala ... buat ... cetewill ... bedithu!" jawab Arion.
Akhirnya mereka mengangguk tanda mengerti. Mereka pun berembuk menentukan lagu.
"Pita lapihan bulu!" ajak Harun.
Kesibukan para perusuh menjadi pusat perhatian para remaja. Rion membawa Sky dan Bomesh ke tempat adik-adiknya.
"Kalian mau ngapain?" Tanya Kean yang menggendong Arsyad.
""Bawu atapela!" jawab Arion.
Akhirnya semua berkumpul di depan panggung menanti penampilan, Sky, Bomesh, Harun, Azha, Arion, Arraya dan Bariana. Sky dan Bomesh ingin ikut serta. Mereka berlatih dengan suara sedikit berbisik.
"Yan suala lendah spasa?" tanya Sky.
Bariana, Bomesh dan Azha tunjuk tangan. Sky menjejer mereka. Harun dan Arraya suara asli dan Arion juga dirinya memakai suara tinggi.
Semuanya maju ke tengah panggung. Rion mengomando bertepuk tangan meriah. Semua bertepuk tangan, hal itu membuat semua orang tua ikut penasaran dengan apa yang terjadi. Kaila langsung menjepret kamera ponselnya. Gadis kecil itu suka sekali fotografi. Hasil bidikannya juga sangat bagus. Objek yang dipilihnya juga sangat dominan.
"Duuu ... dududu ...!" suara rendah memulai bernyanyi.
"Pulun tata pua dindap bi centela ... benet budah pua ... didina pindal bua ...!"
"Sululup ... tetiwil ... sululup tetiwil ...!" sahut Harun tiba-tiba.
"Bulun ...," Arraya bernyanyi.
"Syululup!" timpal Harun.
"Tata pua!" sambung Arraya.
"Tewiwil!" timpal Harun.
"Benslot ... pi bendela ....!" sahut Arraya.
"Syululup tetiwil!' timpal Harun.
Sedang Sky, Bomesh, Azha dan Arion mulai bingung harus bernyanyi seperti apa. Akhirnya mengikuti Harun.
"Syululup tetiwil!'
"Bulun ... (syululup) ... tata pua ... (tetiwil) ... benslot ... (syululup) ... bi belenda ... (tetiwil) ... Benet ... (bululup) ... pudah pua ... (weliwil) ... bidina ...
"Pindal buaaa!" seru semua kompak.
"Slet ... dul ... sewiwil ... slet dul sewiwil ... eh syalala ... slet dul ... slet dul ... syalalaaaa ... pulun patat puaaa!" seru semuanya kompak mengakhiri lagu.
Bersambung.
Mereka nyanyi aapaaaa 😳😳😳😂😂😂🤦🤦
__ADS_1
next?