
Semua asik bermain di taman belakang. berbagai makanan dan kue sudah tersedia di meja-meja. Rumah pohon sudah lama dibongkar oleh Haidar. Ia takut jika anak-anaknya bersembunyi di sana dan tak ada yang tau. Atau kejadian Rion waktu itu.
"Yuk berhitung!" ajak Saf.
Maryam, Aisyah, Fatih, Al Bara, El Bara, Fathiyya, Arsyad dan Aaima dibiarkan tiduran di atas karpet tebal. Beberapa pengawal tampak berjaga-jaga. di sekeliling tembok tinggi rumah itu.
"Ayoo!" seru para perusuh.
"Uma pial Alun aja yan jajalin babies," pinta bayi tampan itu.
"Boleh," sahut Saf dengan senyum lebar.
"Babies ... pilan Zatu ...!" titahnya.
"Ntu!" sahut semua bayi.
"Puwa!" sahut Harun lagi.
"Wawa!" sahut semuanya kompak.
"Pida!" lanjut Harun.
"Dada!" sahut para bayi lagi.
Harun bertepuk tangan meriah. Para bayi mengikutinya sambil terpekik dan tergelak.
"Pempat!" lanjut Harun lagi.
"Embat!" tiru para bayi.
Harun seperti berpikir lama, ia akhirnya mengangguk membenarkan.
"Pima!"
"Mima!"
"Lujuh!" sahut Harun lagi.
"Enamnya mana baby?" tanya Seruni gemas.
"Eh ... padi pelontat ya?' tanyanya.
"Iya ... tadi kelongkap!" jawab Saf gereget.
"Oh ... penam pulu baby," ralatnya.
"Nda!" semua menolak ajaran Harun.
Ke depan bayi itu bergulingan dan merangkak ke manapun mereka mau. Harun garuk-garuk kepala. Akhirnya ia pun mendatangi semua saudaranya.
"Mau apa lagi mereka?" tanya Bart kesal melihat para perusuh berkumpul.
"Biarkan dad," sahut Bram.
Pria itu tertawa mendengar kisah bagaimana Bariana ingin sekali melihat dunia arwah. Bahkan Kanya kesal dengan siapa pelaku utama hingga Samudera menceritakan pengalaman yang menurut wanita itu sangat menyeramkan.
"Apa makhluk itu kuat sekali sampai bisa menarik manusia?" tanyanya bergidik.
"Mau percaya atau tidak. Cucu kita melihat dengan kepalanya sendiri, ma," sahut Bram ketika mendengar kisah itu.
"Apa ada yang kemarin merekam pembicaraan mereka?" tanya Bart.
Haidar menggeleng. Begitu seru dan menegangkannya cerita itu mereka sampai lupa merekam betapa ekspresi para perusuh yang tegang sangat lucu.
"Ah ... sial!" dumal Bart pelan.
__ADS_1
"Eh ... pita eundat pisa petempat yan punyi?" tanya Bariana.
"Matsut tamu pespi?" Bariana mengangguk.
"Pana lada?" sahut Arion melihat semua ruangan ramai.
"Pemanan teunapa?" tanyanya kini.
"Eundat pa'a-pa'a. Puma bawu noblol peda aja," jawab bayi cantik itu.
"Pemana bawu noblol pa'a?" tanya Azha kini.
"Pasalah punia walwah teumalin?' tanyanya lagi.
Bariana mengangguk. Bayi itu masih sangat penasaran. Kenapa Arion dan Arraya mampu melihat mahkluk itu, sedang dia tidak.
Bart berdecak kesal dengan keingintahuan Bariana. Ia gemas sendiri dan mencoba menjelaskan jika tak semua bayi bisa melihat hal itu walau sebenarnya mereka bisa, karena mata mereka masih suci dan polos.
"Pemana tamu bawu pa'a talo pisa pihat punia walwah?" tanya Arraya.
"Eundat pahu ... tayana selu aja," jawab Bariana.
"Eundat benat woh punia walwah, talo pihat Ayi basti lewel," aku bayi itu.
"Iya pama. Aya judha peulasa beulaaat dithu!" sahut Arraya mengangguk membenarkan perkataan saudaranya.
"Mih ya ... atuh pilanin ... beultama atuh pihat ipu bas watu basih teucil ... atuh tila mama ladhi peuldili bi bintu sepelah syana!" tunjuknya pada arah gudang.
"Atuh pandil-pandil ... Mama ... Mama ... mamana eundat nenot-nenot!" ujarnya lagi.
Rupanya Arion menceritakan pengalaman melihat hantu itu.
Semua malah mendengarkan bayi itu bercerita. Bart sudah merekamnya. Ia begitu gemas dengan wajah Arion yang begitu serius bercerita.
"Peulnah watu tamu beusyentilan pama Om Puno!" jawab Arion ketus.
"Tapan ipu atuh eundat beulnah beusyentilan!" sanggah Arraya tak terima.
"Beulnah ... pamu doda-doda Om Puno ... Pahutah euntau peulpedaan batahali pama pulan!"
Arraya hendak menyanggah lalu tiba-tiba ia teringat ketika waktu itu ia menggombal salah satu pengawal.
"Oh watu ipu,' ujarnya santai.
"Tlus ... tlus?" tanya Bariana dan Azha penasaran.
Harun hanya jadi pendengar. Sedangkan para bayi kini tengah mengganggu para bodyguard. Kolam renang ditutup oleh Haidar agar tak ada anak bayi yang tercebur di sana.
"Padhi beulitana syampai bana?" tanya Arion lupa.
"Bampai tamu pandhil-pandil mama!" sahut Harun menjawab.
"Nah ...!" Arion tampak berpikir untuk mengingat apa kelanjutannya.
"Mama eundat nenot tan?" semua mengangguk bahkan para orang tua dan remaja.
"Atuh pandhil ladhi don tan?!"
Semua lagi-lagi mengangguk mengiyakan. Semua masih penasaran dengan apa yang terjadi.
"Eh suala atuh ilan don," lanjut Arion.
Terra mengingat ketika suara bayinya itu serak seperti habis. Ia mengira bayinya waktu itu batuk atau kena radang. Ia pun membuat air hangat untuk meredakan tenggorokan bayinya itu.
"Tlus!" Bariana sangat tidak sabaran.
__ADS_1
"Mama pandhil atuh bi tentat bainna, eh mama yan bi pepan ilan!" lanjutnya.
"Ih seulem amat sih!" sahut Azha mulai takut.
"Hei ... makanya suka berdzikir dan berdoa ... jadi nggak ada setan yang menggangu kita!" seru Herman mengingatkan.
"Ayo jangan bicara hantu lagi. Nanti datang beneran loh!' lanjutnya menakuti.
..."Pana ... Pana!?" ...
Bariana malah penasaran.
Maria menepuk keningnya. Bayi perempuannya itu memang keingintahuannya tinggi. Bariana tidak akan berhenti sampai ia melihat sendiri.
"Seubenelna lada woh petanna!" celetuk Arraya tiba-tiba.
"Baby!" peringat Herman.
"Mana ketannya? Kak Kean mau ma ... mama ... apa itu!" teriak Kean tiba-tiba menunjuk sudut ruang dekat jalan dapur dan gudang.
"Apaan sih ... ini terlalu pagi buat ada setan!" hardik Haidar kini.
Virgou penasaran. Pria itu berjalan menuju di mana Kean menunjuk. Remaja itu langsung memeluk Khasya yang ada di dekatnya.
Para perusuh yang penasaran mengikuti Virgou terutama Bariana.
"Baby mau kemana?!" Bart mulai gusar.
"Pembeuntal benpa!" sahut lima perusuh berikut empat ketuanya.
Samudera memilih duduk dekat Nai, kakaknya, bocah itu juga takut.
"Mana Kean?" tanya Virgou gusar.
"Syini Daddy!" tunjuk Arraya.
Virgou menyipitkan mata. Hari masih terlalu pagi memang tapi pria dengan sejuta pesona itu merasakan tengkuknya meremang dan tebal. Lalu rasa itu menghilang ketika sinar matahari menyeruak ke celah yang ditunjuk Arraya.
"Oh di situ ternyata?" gumamnya pelan sekali.
Pria itu melihat apa yang menutup celah kecil itu hingga tak terkena matahari langsung.
"Ternyata memang posisinya begini, jika dirombak ... maka seluruh rumah harus dibongkar," gumamnya lagi.
"Pudah peuldi bas matahali buncul daddy," ujar Arion.
Semua disuruh kembali oleh pria itu. Terra menatap kakaknya, Virgou mengangguk membenarkan.
"Apa ditutup aja?" tanya Terra meminta pendapat.
"Percuma, sisi gelap itu malah melebar kemana-mana," sahut Virgou.
Bart hanya menghela napas panjang. Rumah ini adalah rumah penuh kenangan termasuk rumah awal milik Terra. Semua anak tumbuh dan besar di sini. Bart juga tak mungkin menyuruh Terra pindah.
"Pian syaja daddy, walwah na syuma sey helo aja tot," sahut Arion santai.
"Ih ... atuh peubel!' teriak Bariana.
"Tenapa talian pisa pihat, atuh eundat!' lanjutnya gusar.
bersambung.
🤦 tepok jidat Bariana..
next?
__ADS_1