
Tiga bus yang ditumpangi berjalan lambat di area hewan. Para perusuh antusias melihat hewan-hewan. Mereka menanyakan semua hewan yang mereka lihat.
“Mama ... ipu wewan pa’a?” tanya Maryam menunjuk kuda nil yang mulutnya menganga.
“Itu kuda nil Baby,” jawab Lidya.
“Papi ... ipu wewan pa’a?” tanya Al Bara pada David.
“Yang mana Baby?” tanya David.
“Yan lehennya banjan!”
“Oh, itu jerapah!”
“Selapah?”
“Je-ra-pah!” ralat David.
“Pe-la-pa!” ulang Al Bara.
David begitu gemas dan mencium pipi gembul Al Bara, hingga bayi tampan itu protes lalu memarahi David dengan bahasanya sendiri.
“Mommy, pa’a bi syimi eundat lada pemut?” tanya Harun ingin tau.
“Mungkin ada Baby. Tapi tidak kelihatan,” jawab Widya.
“Bestina ada, telajaan pemut, meleta tan wewan judha,” sahut Bariana.
“Kan mungkin ada Baby. Karena koloninya semut itu ada dalam tanah,” sahut Widya lagi.
“Toloni pa’a Mommy?” tanya Arraya.
“Koloni adalah kumpulan hewan yang hidup saling membantu satu dan lainnya. Semut adalah hewan yang hidupnya berkoloni,” jawab Widya panjang lebar.
“Aya eundat neulti,” jawab Arraya.
“Nanti juga ngerti Baby,” sahut Widya gemas.
“Mama ... ntuh pa?” tanya Arsh. Bayi itu berdiri menenmpel di jendela.
“Itu ada zebra, keledai, domba dan juga ada unta,” jawab Terra yang gemas menciumi bayi itu.
“Sini sama Papa sayang,” ujar Haidar ingin menjauhkan Arsg dari jendela.
“Papa no!” pekik Arsh marah.
Haidar suka sekali mengganggu bayi tampan itu, ia tetap menarik Aeshaka dari tempatnya berdiri. Hasilnya, pria itu dihadiahi pukulan dari tangan bayi, pria itu menggelitik perut bundar Arsh hingga tergelak lalu menangis karena kesal.
“Pa,” peringat Terra.
“No au Papa!” tolaknya kesal.
__ADS_1
Bayi itu langsung mencari ibunya. Hal ini membuat Terra sebal dengan suaminya. Haidar hanya nyengir kuda. Ternyata Arsh ingin menyusu langsung dari kendi kehidupannya. Bayi itu tertidur ketika sampai di kandang macan.
“Wah ... hamilau!” sahut Harun.
“Halimau, Alun!” ralat Azha.
“Hamilau!” ulang Harun.
“Macan!”
“Bacan!” sahut Fathiyya.
“Sima!” sahut Arsyad.
“Singa baby!” ralat semua kakak.
Bus sampai pada area utama dari taman safari. Semua turun, paara bayi diangkut denga kereta dorong agar tak berlarian. Rion menggandeng Sky dan Bomseh erat. Sedangkan semua adik Azizah saling bergandengan tangan.
“Gandengan ya!” ujar Gomesh [ada semua anak panti yang diajak serta.
“Iya Paman!” sahut semua anak.
Tempat itu benar-benar sepi pengunjung lain selain keluarga besar, Triatmodjo, Pratama, Dougher Young dan Starlight. Para ayah mendorong kereta bayi mereka. Para remaja saling mengawasi adik-adiknya.
“Selamat datang di Taman Safari Tuan!” sambut manager tempat wisata itu.
“Ya ... ya!’ sahut Herman mengangguk.
Mereka menonton atraksi gajah. Pemandu wisata menawarkan untuk naik gajah. Tak ada satu anak yang mau. Mereka merasa kasihan dengan hewan-hewan besar itu.
“Nggak deh,” tolak Kean.
Semua anak panti memilih mengelus hewan itu. Mereka mencium belalai gajah yang sepertinya sedih. Bariana, Arraya dan Aaima menangis melihat gajah yang sepertinya sedih.
“Dajah ... tamu syatit? Pimi, Mama atuh doptel, basti tamu pembuh,” panggil Aaima.
“Baby, mama Iya bukan dokter hewan. Yang bisa sembuhin hewan itu hanya dokter hewan Baby,” jelas Putri.
“Bibu ... talo besan manti, Mima poleh padhi doptel wewan?” tanya bayi cantik itu.
“Tentu Baby. Jadi apapaun kamu boleh, asal berguna unguk semua orang,” ujar Putri.
Jac yang mendorong keretanya mengelus kepala putrinya. Kandungan putri sudah mencapai enam bulan, banyak yang memprediksikan jika janin di dalamnya adalah laki-laki. Jac tak mempermasalahkan jenis kelamin bayi yang akan keluar dari perut istrinya nanti.
“Yang penting bayi dan ibunya sehat,” ujarnya.
Mereka bergerak mengelilingi taman satwa terbesar di Indonesia itu. Sky dan Bomesh benar-benar tak bisa lepas dari genggaman Rion. Walau mereka berlarian ke sana ke mari, pemuda itu mengikuti kemana langkah dua raja perusuh itu.
“Kak itu hewan lehernya agak panjang namanya apa Kak?” tanya Sky melihat satu hewan yang begitu asing baginya.
“Oh itu namanya lhama, Baby,”
__ADS_1
“Lhama?”
“Llama adalah binatang berambut tipis camelidae yang juga binatang asli Amerika Selatan. Llama juga biasa digunakan sebagai binatang pengangkut barang oleh masyarakat Inka dan masyarakat di sekitar pegununungan Andes,” jelas Rion.
“Ayo kita ke hewan lain,” ajak Rion.
Azizah menggendong Ari, bayi itu tak mau lepas dari pelukan sang gadis. Padahal semua ibu panti hendak menggendongnya. Tetapi, bayi yang ditemukan di belakang gerobak sampah oleh salah satu ibu panti itu menolak.
“Mawu syama Ata’ aja!”
“Iya sayang.” sahut gadis itu menggendong Ari.
Aminah dalam gendongan Gabe, sedang Arsh ada di kereta dorongnya. Mereka tiba di hewan primata. Hewan pertama yang mereka jumpai adalah kandang gorila yang baru dimiliki oleh taman safari ini.
Hewan ini hidup sendirian di kandang kaca yang tebalnya sampai 100mm. Para bayi melambaikan tangan pada gorila itu. Binatang cerdas itu melambaikan tangannya, anak-anak memberi kiss bye dan juga dibalas, hingga membuat semua perusuh bertepuk tangan.
Puas berkeliling mereka masuk ke sebuah restauran, hidangan lansgung disajikan. Mereka makan dengan lahap. Usai makan mereka beranjak untuk mengunjungi tempat lain yakni taman buah Mekar sari.
Butuh waktu yang cukup lama ke tempat itu sampai sana hari mulai beranjak sore, anak-anak antusias memetik buah apel dan melon berbentuk kotak. Semua buah ditimbang. Usai membeli aneka buah. Mereka akhirnya pulang.
Sampai tempat masing-masing hingga larut malam. Semua turun dengan wajah lelah. Anak-anak panti kembali bersama empat ibu pengurus mereka. Sedang Azizah dan adik-adiknya plus Ari menginap di mansion Bram.
“Ari jadi adik kita saja kak,” ujar Ajis.
“Siap sayang,” sahut Azizah tak keberatan.
Pagi menjelang, mereka semua bersiap untuk sekolah dan bekerja. Sembilan adik Azizah plus Ari diantar oleh Leo dan Joe dengan mobil milik Bram. Azizah berangkat bersama Darren dan Safitri.
Setelah mengantar istrinya, Budiman menjalankan mobilnya ke perusahaan. Hanya butuh waktu dua puluh menit mereka sudah sampai tempat itu. Azizah langsung menuju perusahaan menggunakan motor satpam .
Sampai sana gadis itu langsung menuju ruang kerjanya yanag ada di lanati paling atas. Azizah sudah menjadi CEO dari PT Hudoyo Cyber Tech. Dua orang gadis menyambutnya. Ketiganya langsung bekerja.
“Nona, kemarin ada yang mencari anda,” ujar sekretaris, Dinda.
“Siapa?” tanya gadis itu.
“Namanya ... eum siapa ya?” Dinda lupa siapa kemarin yang mencari atasannya itu.
“Ah ... mereka mengaku paman anda, Nona!”
Deg! Jantung Azizah seperti tersentak kaget.
“Apa namanya Razak, Handi, Tohir dan Ahid?” tanyanya datar.
“Tidak tau dengan yang lain. Tapi memang yang mencari anda memanggil dirinya Paman Razak!” jawab Dinda.
“Baik, terima kasih, kau boleh kembali ke mejamu,” ujar Azizah.
Dinda kembali, Azizah mengepal tangan erat. Ia yakin delapan manusia yang mengaku paman dan bibinya dulu itu mencarinya karena ingin menginginkan sesuatu.
‘Aku akan lihat, apa yang mereka inginkan,’ gumamnya dalam hati.
__ADS_1
bersambung.
next?