
Andrea sangat kesal telah diusir oleh ayah dari pria yang ia cintai. Gadis itu sudah mempengaruhi banyak orang yang bekerja di mansion besar itu. Andrea adalah gadis yang manis, sebelum Reno pergi, gadis itu telah menjalin kasih secara diam-diam dengan Reno selama dua tahun. Reno sering membawa gadis itu ke mansion itu jika tak ada sang ayah.
Andrea menikmati fasilitas mewah, Reno benar-benar memanjakan dirinya waktu.
"Aku mencintaimu," ujar gadis itu pada sang kekasih.
"Aku juga mencintaimu," sahut Reno.
Keduanya saling memagut bibir. Ciuman itu begitu panas hingga menuntun mereka berbuat lebih jauh.
Baru saja Andrea membuka kancing kemeja kekasihnya. Remario datang dan berteriak marah.
"Apa yang kalian lakukan di dalam rumahku!"
"Pa ...,"
Dua insan itu terlonjak kaget dengan baju berantakan. Remario menghajar habis-habisan putranya hingga babak belur.
"Papa .... hentikan ... kami saling mencintai!" jerit Andrea.
"Aku bukan Papamu. Pergi kau dari rumahku!" usir Remario saat itu.
"Pergi sebelum aku menghancurkan semua keluargamu!" ancam pria itu lagi.
Reno tak dapat berbuat apa-apa, ia tergeletak tak berdaya di lantai dengan wajah babak belur.
"Pengawal ... usir dia!" titah pria itu tegas.
Andrea harus pergi dari sana. Gadis itu selalu memiliki cara bagaimana masuk mansion mewah itu seperti rumahnya sendiri. Tetapi, semenjak itu Reno tidak ada lagi di sana.
"Kata Papa ... ah ... maksudku, Reno sudah menikah ... menikah dengan siapa?" tanyanya bergumam.
Andrea memang sudah hilang komunikasi dengan kekasihnya mau lima tahun lamanya. Reno juga tak pernah menghubunginya lagi setelah kejadian itu.
"Apa Tuan Sanz memaksa Reno untuk menikah dengan gadis lain?"
Andrea pusing sendiri. Gadis itu adalah anak pengusaha yang cukup ternama di Eropa. Ayah dan ibunya adalah pemilik saham di distrik pemerintah E-Towel Government. Sebuah kartu bayar untuk semua tol dan pembayaran karcis kereta.
Andrea menaiki mobil sport warna pink. Mobil yang hanya ada lima di seluruh dunia. Kendaraan mewah itu melaju cepat menuju sebuah gedung bertingkat.
Gadis itu turun dengan begitu anggun. Andrea yang mengenakan setelan kulit warna hitam melenggang dengan santai dan semua orang menunduk padanya.
"Nona," sapa sekretaris ayahnya yang memakai baju formal begitu ketat.
"Kau mau menggoda ayahku?" tanya Andrea menyindir.
"Tiātidak Nona!" sanggah wanita itu menunduk.
Andrea berdecih. Ia akan mengatakan pada ibunya agar terus mengunjungi ayahnya.
"Dad!"
Ferdinan tengah membaca banyak berkas di mejanya. Pria itu menoleh, lalu tersenyum.
"Sayang," sapanya senang.
__ADS_1
Andrea adalah putri kesayangannya, gadis yang cukup pintar dan cantik.
"Duduk sayang. Daddy mau menyelesaikan ini dulu ya," pinta pria itu.
Andrea duduk di depan ayahnya. Ia mengirim pesan pada sang ibu dan mengirim foto sekretaris yang berbaju seksi itu.
(Mom akan datang segera!)
Rupanya Silvia memang cemburuan. Wanita itu akan menendang siapapun yang berusaha menghancurkan keluarganya. Perusahaan ini adalah milik wanita itu.
"Ada apa sayang. Tak biasanya kau mendatangi kantor Daddy," ujar pria itu lalu membawa sang putri ke sofa lembut di sudut ruang. Andrea memang begitu manja pada ayahnya.
"Daddy ... maukah kau mencari tau di mana Reno Sanz berada?" tanya gadis itu untuk kesekian kalinya.
"Nak," Ferdinan menghela napas panjang.
"Sudah mau lima tahun sayang. Daddy sudah mencarinya dengan berbagai cara. Tapi, kekasihmu itu seperti ditelan bumi," jawab pria itu sambil mengelus kepala putrinya.
Andrea merebahkan diri di dada sang ayah. Ferdinan mencium pucuk kepala putrinya lebih kasih sayang.
"Daddy ...," rengek gadis itu.
Ferdinan mengangkat dagu sang putri lalu memberi kecupan di bibirnya. Sebuah pagutan yang tak semestinya diberikan dari seorang ayah pada anaknya. Tapi keduanya tampak menikmati itu.
"Mommy aku panggil ke sini," ujar sang gadis ketika ayahnya melepas pagutannya.
"Kenapa sayang?" tanya Ferdinan.
"Itu sekretarismu pakaiannya menggodamu!" sungut Andrea cemberut.
"Sayang!" sambut Ferdinan dengan senyum lebar.
Andrea memilih bermain dengan ponselnya dan membiarkan ayah dan ibunya berciuman dengan penuh napsu di atas sofa. Bahkan kini keduanya menyatu tubuh.
"Aku ke kamar ya!" sahut Andrea.
Sepasang suami istri tak menjawab. Keduanya sibuk salin memberi kenikmatan dengan erangan dan *******.
Andrea ke kamar tersembunyi di sana. Gadis itu membuka portal berita online.
"Kami mengumumkan jika dua putri kami telah menikah dengan pria pilihan mereka!"
Sebuah tayangan berita menampilkan Herman tengah berbicara. Sebuah tajuk berita menggemparkan, pernikahan rahasia empat anak pengusaha. Langit dan Reno muncul bersama istri mereka.
"Reno?" Andrea membesarkan matanya memastikan apa yang ia lihat.
"Benar kami telah menikah kemarin siang!" jawab Reno lalu memperkenalkan istrinya.
"Apa-apaan kamu Reno!" bentaknya tak terima.
Gadis itu mengamati sekitar live. Di sana tampak jelas jika berada di sebuah wilayah.
"Apa ini kastil?" tanyanya bergumam.
Andrea mencari titik lokasi yang jaraknya cukup jauh dari lokasi tempat dirinya tinggal.
__ADS_1
"Bukankah ini kawasan elit?" tanyanya lagi.
"Aku tak peduli. Aku harus ke sana dan memastikan!" ujarnya.
Gadis itu memilih mengganti pakaiannya. Di ruangan itu ada banyak pakaian gadis itu karena sering menemani sang ayah bekerja.
"Mom, Dad ... aku pergi ya!" pamitnya.
Dua manusia itu masih tengah bergulat dan saling menikmati satu dan lainnya.
"Mau ... keh ... manah ... sayang!" erang sang ibu bertanya.
"Mengurus sesuatu," jawab gadis itu begitu sombong.
Andrea menutup pintu dan melihat sekretaris ayahnya telah berganti pakaian. Gadis itu mengangguk.
"Tahan semua jadwal hingga tiga jam ke depan!" titahnya.
"Ayah dan ibuku tengah bercinta. Kau tau, ayahku harus memuaskan ibuku yang lebih hebat di atas ranjang!" bisiknya.
Sekretaris itu menelan saliva. kasar. Memang ia ingin menggoda sang atasan. Tetapi, jika ada istri atasannya di sini. Ia harus tau diri sebelum jadi bubur kacang.
Andrea menaiki lagi mobil sportnya. Perjalanan membutuhkan waktu dua jam untuk sampai lokasi elit tersebut.
Masih banyak wartawan di sana meliput konferensi pers. Langit dan Reno membenarkan jika mereka telah menikah dengan putri dari Hovert Pratama dan Arimbi Triatmodjo.
"Tuan ... apa kalian akan berbulan madu?" tanya para wartawan.
"Kami sekarang tengah berbulan madu," jawab Langit menatap Nai, istrinya penuh cinta.
"Apa sudah berencana punya anak banyak seperti ayah dan ibu kalian?" tanya wartawan lagi.
"Tentu saja. Dewangga harus punya banyak penerus!" jawab Nai. "Insyaallah!"
Semua bubar, konferensi pers memang diadakan di kastil Bart Dougher Young. Mereka sudah kembali dari pesantren.
Sementara di sebuah mobil mewah. Andrea berhenti di sebuah jalan yang menunjukkan tempat berlangsungnya konferensi pers itu. Perlahan ia melajukan mobilnya. Bangunan-bangunan mewah mendominasi di sana. Sebuah bangunan paling besar ada di jalur khusus yang dijaga ketat oleh beberapa pengawal.
"Selamat siang Nona, apa tujuan anda ke sini?" tanya pengawal yang berjaga.
"Saya adalah saudara dari Reno Sanz!" jawab Andrea begitu percaya diri.
"Bisa lihat kartu identitasnya Nona?"
Andrea sangat paham jika begitu. Ia menyelipkan satu lembar uang seratus euro dan memberikan pada penjaga.
"Maksud anda apa Nona?" tanya pria itu gusar.
"Sudahlah ... kau tentu sangat membutuhkan itu kan!' ujar Andrea sambil mengerling.
bersambung.
Wah ... diterima nggak ya?
Next?
__ADS_1