
Hari berganti anak-anak sudah ramai di halaman belakang yang luasnya 2 hektar. Banyak pohon jeruk yang tumbuh di sana.
"Jangan main jauh-jauh!" peringat Widya.
"Oteh Mama!"
"Kita main apa?" tanya Anti.
"Gobak sodok!" sahut Martha.
"Emang tau gimana mainnya?" tanya Tika ingin tahu.
"Tentu dong!" sahut Billy remeh.
"Aku buat garisnya!" ujar Martha lagi.
Rumput sintetis itu rusak seketika ketika dibuat garis oleh Martha. Baik Tika, Anti dan Diah menahan napas mereka, sedang Azizah sudah biasa melihat itu.
"Ayo kita bentuk tim!"
Arimbi dan Azizah saling gamsuit. Azizah memang, maka lainnya siapa yang menang akan ikut gadis itu.
Ella, Billy, Tika ikut tim Arimbi. Sedang Diah, Martha, Anti dan Bastian ikut tim Azizah. Karena Azizah menang maka yang menjaga garis adalah Arimbi.
"Kita kekurangan pemain nih?" sahut Arimbi protes. "Masa aku hanya bertiga!"
"Daddy ikut," sahut Gabe.
Gabriel masuk sebagai tim jaga paling tengah.
Teriakan dan tawa terdengar.
Arimbi dan Azizah saling adu strategi. Tak ada yang mau mengalah. Bart berteriak menyemangati cucunya.
"Ayo terobos saja!"
"Ambil tiga arah seperti itu, ya ... ya ... maju tangkap Bastian, Tika!" teriak Bart.
"Hup kena!" teriak Tika ketika berhasil menyentuh Bastian.
Bart bertepuk tangan puas. Pria itu seperti pelatih dan memerintahkan apa yang harus dilakukan. Virgou kesal melihat kakeknya ikut campur. Pria itu pun membantu tim Azizah agar bisa imbang.
"Tidak apa-apa, yang penting raja masih selamat!" teriaknya tiba-tiba.
Bart melirik kesal pada cucunya itu. Kini dua kubu saling serang dan adu taktik. Teriakan-teriakan kedua pria itu membuat penasaran para bodyguard. Reno, Hendro dan Rudi datang mendekat. Di sana ada adu fisik dan otak bersatu. Baik Arimbi dan Azizah tak ada yang mau kalah.
Azizah memutar otak cepat, ia melirik Diah dan Martha yang bersamanya. Bastian sudah tertangkap, karena ia hanya pion maka boleh mengganggu penjaga garis.
Azizah mengkode angka pada jarinya. Hanya Diah yang mengerti artinya, ia mencolek pada Martha dan Tika.
Sepasang mata gelap gusar melihat kode itu. Pria itu bersiap memberi tahu jika apa yang ia kira benar adanya.
"Sekarang!" teriak Azizah.
Martha berlari melewati garis kiri yang dijaga Ella, sedang garis depan dijaga oleh Arimbi mencoba menahan laju Diah. Azizah masuk, Billy mencoba menahan tetapi Anti mengganggu.
__ADS_1
"Tuan Billy cegah Nona Azizah dengan menggunakan garis tengah. Nona Ella, Tuan Gabe bakar Nona Azizah dan Nona Martha cepat!" teriak pria itu.
"Diah lari hajar gawang!" teriak Virgou melotot pada salah satu pengawal itu.
Diah berlari dan masuk. Gabe nyaris menyentuhnya, jika saja Anti tak melewati garis.
"Yes!" pekik Virgou senang.
Tim Azizah menang satu poin. Frans dan Leon datang keduanya mau ikut bergabung.
"Awas napasmu Daddy!' peringat Gabe.
"Aku masih kuat!" sahut Leon sombong. "Ingat aku lebih muda darimu Virgou!"
"Ck ... sial!" umpat Virgou.
Memang Leon lebih muda dari Virgou tiga tahun. Pria beriris biru itu berdecih melihat kesombongan pamannya itu.
Permainan bertambah seru. Kini raja diambil alih oleh dua pria yang lanjut usia. Benar kata Leon, keduanya masih bisa mengimbangi napas anak-anak yang usianya masih remaja.
Kali ini tim Azizah kalah. Diah yang lupa akan lawan harus terbakar dan membuat terobosan Leon patah. Virgou geregetan dibuatnya.
"Daddy ini hanya main!" sahut Arimbi kesal.
"Iya, kita having fun aja!" sahut Billy ikutan kesal.
Permainan selesai karena para perempuan berteriak.
"Waktunya makan siang!"
"Jadi siapa yang menang?" tanya Lastri melihat penampilan mereka yang berantakan.
"Seri," jawab Bart kesal.
"Dia susah sekali ditangkap dan dibakar!" tunjuknya sebal pada Azizah.
"Iya, tubuhnya bisa berputar dan berkelit ketika aku menyentuhnya,," sahut Leon dengan menghela napas kasar dan mengelus dadanya.
"Sudah cuci tangan semuanya, lalu pergi makan!" titah Najwa.
Semua menurut, setelah itu mereka makan dengan lahap. Baru kali ini Diah, Tika dan Anti merasakan kehangatan keluarga. Mereka senang menjadi bagian teman Arimbi.
"Ceritakan bagaimana kalian bisa bertemu Arimbi?" tanya Leon setelah makan siang.
"Waktu itu Dokter Arimbi tengah memberi penyuluhan di wilayah kami. Kami adalah penggiat kaum muda terutama perempuan agar bisa memiliki keterampilan," jawab Diyah.
"Intinya Dokter Arimbi waktu itu juga memberi penyuluhan tentang kekerasan seksual yang begitu beresiko pada keselamatan wanita," lanjutnya.
"Iya Mom. Rimbi tertarik dengan kegiatan mereka dengan pemberdayaan perempuan. Daerahnya adalah wilayah penghasil wanita penghibur," jelas Arimbi.
"Jadi Baby ikut perkumpulan mereka memberi penyuluhan?" tanya Najwa.
"Iya Nini, Rimbi memberi penyuluhan tentang penyakit kelamin yang merugikan mereka," jawab Arimbi.
"Mereka bukan dilecehkan tetapi melecehkan diri sendiri," sahut Tika.
__ADS_1
"Apa bisa ditanggulangi dengan penyuluhan itu?" tanya Lastri kini.
"Kami sih optimis berhasil. Dari sepuluh orang yang kami ajak dua masih bertahan dan kini sudah mulai keluar dari wilayah dan Arimbi sebagai donatur besar memberi modal usaha dengan sistem pinjam," jelas Arimbi lagi.
Bart senang dengan kepedulian cucunya itu. pria itu sedikit bingung dengan status sang gadis.
"Ah ... ayahnya memanggil aku Daddy. Jadi Arimbi adalah cucuku!" tukasnya dalam hati.
"Kesulitan kami adalah mereka sudah terlalu enak bekerja sebagai wanita penghibur. Padahal uang yang mereka dapatkan tak satu pun bisa membeli emas satu gram," sahut Tika setengah kecewa.
"Jangan dipaksa. Orang-orang seperti itu biasanya keras kepala!" sahut Widya kesal.
"Benar Nyonya. Mereka sangat keras kepala," sahut Tika lagi.
"Lalu apa yang bertaubat itu mendapat pengawasan?" tanya Frans.
"Kami hanya mengandalkan sistem percaya Daddy," jawab Arimbi.
"Kami memberikan tempat yang jauh dari lokasi dan tak ada yang mengenal mereka. Jadi mereka bisa hidup normal," lanjutnya.
"Kenapa sih mereka susah untuk hidup lebih baik lagi?" tanya Widya kesal.
"Kalau menurut survey yang Rimbi buat sih. Mereka beralasan sudah berdosa tak akan diampuni dan alasan paling logis, mereka tidak tau bekerja apa selain menjajakan diri," jawab gadis itu miris.
Semua hanya terdiam. Lalu anak-anak kembali meminta bermain. Tentu dengan senang hati mereka bersedia bermain lagi.
Arsh ikut berteriak walau sambil menguap lebar.
"Anah ... inih ... ali!" teriaknya.
Bayi delapan bulan itu belum mahir berbicara tetapi ia bersikeras untuk bicara. Arsh akan marah jika tak ada yang mau mendengarnya.
"Daddy ... lali anah ... nan inih!" pekiknya.
"Hei bayi kau memerintahku?!" sengit Gabe pada putra bungsunya itu.
"Bicit!"
"Apa katamu!?"
Gabe gemas bukan main. Pria itu mengangkat tubuh montok Arshaka dan menyembur perutnya.
"Daddy Go ... hep me!" pekiknya sambil tergelak.
Sedangkan sepasang mata teduh menatap sosok gadis yang tersenyum indah. Ia begitu terpana, merogoh dompetnya. Satu anting bentuk strawberry ada di sana.
"Kapan kita bisa berjodoh Nona?" bisiknya lirih.
bersambung.
waduh.
next?
bersambung.
__ADS_1