
Pria bernama Ardan meringkuk akibat dipukuli Bart. Walau ia telah sepuh, tapi pukulannya kuat. Rio menahan laju pria itu.
"Pria berengsek! Bangsat ...!" sumpah serapah dilontarkan dari mulut Bart.
"Grandpa!" peringat Rio menenangkan pria itu.
Beruntung semua perusuh junior tidak ada. Haidar dan lainnya membawa semua anak ke villa untuk makan.
Langit dan Reno sedang mengawasi tukang jualan yang dirubungi jamaah. Tak sedikit orang-orang bermobil ikut antrian.
"Jangan nyerobot!" peringat Langit menarik kerah pria yang hendak menyelinap masuk dalam antrian.
Di ruangan tertutup, Virgou dan Bart mengintrogasi Ardan. Pria yang mengaku sebagai ayah dari Azlan.
Ratna hadir dijadikan saksi oleh Virgou tentang kebenaran cerita Azlan. Tentu saja wanita itu menceritakan bagaimana ibu dari anak angkat Bart dia dapat.
"Almarhumah Nandia tinggal di gubuk dengan pekerjaan sebagai buruh cuci. Tinggal selama mengandung Azlan. Beliau meninggal setelah dua minggu kelahiran Azlan!" terang Ratna.
"Banyak pria berpakaian bagus mencari keberadaan Azlan. Tetapi ibu Nandia meminta saya menyembunyikan anak ini karena takut dibunuh oleh mantan suaminya," lanjutnya.
"Itu tidak benar!" sanggah Ardan. "Mana mungkin aku mau membunuh darah dagingku sendiri!"
"Tapi kau mengusir ibunya!' bentak Bart.
"Itu ... itu karena aku terhasut oleh perkataan ibuku kalau Nandia selingkuh dan Azlan bukan darah dagingku!" ujarnya membela diri.
Plak! Satu tamparan keras dilayangkan oleh Ratna. Wanita itu marah luar biasa. Ia memberikan satu surat yang disimpannya selama ini.
"Anda tau Tuan. Saya akan menuntut anda akan dakwaan pembiaran, mencelakai orang lain dan juga upaya pembunuhan!" ujarnya menuntut.
Virgou membaca surat yang diberikan Ratna. Di sana ada tulisan ancaman agar Nandia tak lagi mengganggu dan tidak membawa anak dalam kandungannya untuk meminta harta atau apapun. Tanda tangan pria itu ada di sana.
'Kau sepertinya harus dibuang di tengah laut!" ujar Virgou kesal.
Tes DNA dilakukan, butuh waktu satu minggu untuk pembuktian jika Azlan adalah putra dari Ardan.
"Grandpa nggak usah khawatir. Dia nggak bakalan bisa ngambil Azlan terlebih selama lima belas tahun tidak diakui," ujar Remario menenangkan Bart.
"Azlan masih di bawah umur. Aku takut, pengadilan memberi hak penuh pada pria sialan itu!' ujar Bart merasa pusing.
"Sudah ... tidak apa-apa. Kita tak boleh memutus nazab," ujar Andoro.
Bart menutup matanya. Lima puluh anaknya memang sebagian bernasib sama. Dibuang oleh orang yang mestinya menyayanginya.
"Kau tau, aku sudah mengecek mereka semua. Aku akan menjodohkan mereka dengan sesamanya. Jadi mereka tidak mencari jodoh di luar," ujar Bart.
"Aku ingin memantaskan Anggia untuk Calvin atau Kean, sedang Nia, Ambar dan Ruri aku pantaskan untuk Sean, Al dan Daud," ujarnya lagi.
__ADS_1
"Mereka bertiga sudah masuk universitas kedokteran bukan?" Bart mengangguk.
"Semoga Bram, Haidar dan Virgou menyetujui," ucap Bart.
"Mereka pakai Dougher Young?" Bart menggeleng.
"Mereka memakai binti fulanah," jawabnya lirih sambil menitikkan air mata.
Ardan menatap Azlan yang tak mau ikut dengannya. Pria itu tak bisa memaksa terlebih yang ia lawan adalah seorang pebisnis yang paling berkuasa.
"Ayah pulang ya Nak! Tangan ayah selalu terbuka untukmu," ujarnya lirih.
Ardan pulang mengendarai mobil mewahnya. Sedang Azlan menggeleng ia tak mau percaya jika masih memiliki ayah.
"Nak, seburuk-buruknya orang tua. Tetapi kami wajib menghormatinya," ujar Dinar menenangkan Azlan.
"Tapi selama lima belas tahun dia baru nyari Azlan Bibu!"
"Iya Nak. Bukankah semua orang harus memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya?" sahut Dinar.
Virgou mendumal pelan, ia memang banyak diberi kesempatan untuk berbuat kebaikan selama ia hidup bersama keluarga.
Usai taraweh, Azlan berada di kamarnya, ia tidur bersama Roni dan Leo. Mereka bertiga seumuran.
'Lan!' panggil Leo.
"Kamu masih mikirin pria itu?" tanya Leo lagi.
"Nggak, aku cuma berharap nggak akan berpisah dengan keluarga ini!' jawab Azlan tegas.
"Tapi Bapak kamu datang," ujar Roni lagi.
"Aku berharap aku bukan anaknya!" sahut Azlan lagi.
"Kamu mau merubah apa yang digariskan Allah?" sahut Leo yang membuat Azlan diam.
"Tapi aku nggak mau diambil dia!" sahut Azlan lirih.
"Nggak ada yang mau ambil kamu Lan. Tapi, kamu nggak boleh menolak ayahmu," ujar Leo.
"Kamu pasti tetap di sini. Terlebih ibu Ratna pastinya tak akan membiarkan kamu jadi ganti hal asuh!' lanjutnya.
Surat itu akan jadi acuan keluarga Dougher Young jika Ardan memaksa untuk mengambil Azlan dari tangan keluarga kaya raya itu.
Sampai di hunian mewahnya. Ardan membanting vas bunga kristal yang ada di meja. Pria itu marah luar biasa.
"Ardan!" seorang wanita memakai kursi roda keluar.
__ADS_1
"Kenapa kau keluar bodoh?!" sentak Ardan marah.
"Nak ...."
"Jangan kau panggil aku anakmu!" bentak Ardan lagi.
"Kau yang menghancurkan semuanya. Beruntung aku masih bisa keluar dari jerat dua wanita pilihanmu!" teriaknya marah.
"Kau membubuhkan tanda tangan yang mestinya bukan di surat itu. Kau pembohong ibu!" ujarnya penuh kebencian.
Laksmi menangis, ia tak menyukai gadis pilihan sang putra hingga ia buat berbagai cara untuk mengusir wanita itu keluar dari rumah.
Setelah bercerai, ia juga memastikan jika mantan menantu dan anak dalam kandungannya itu musnah dari muka bumi dan ia akan selamat.
"Aku berbuat begitu karena aku menyayangimu Nak!" ujar wanita itu.
'Kau menghancurkan aku Ibu!" teriak Ardan.
"Andai Indra tak cepat tanggap. Kita akan jadi gembel gara-gara dua wanita pilihan ibu itu!" sengit Ardan murka.
"Nandia sudah tiada ... aku kehilangan wanita yang mencintaiku secara tulus ... hiks!"
Laksmi terdiam, ia adalah biang kesalahan di sini. Wanita itu memaksakan kehendak dan benar-benar menolak wanita dan anak yang ada dalam rahim mantan menantunya itu.
"Lihat dia Bu ... Azlan putraku mirip dengan kakek ... sekarang katakan. Siapa yang berselingkuh itu?" desis Ardan sambil memperlihatkan foto putra yang berhasil diambilnya secara diam-diam.
Laksmi menatap layar ponsel yang ada gambar bocah laki-laki di sana. Derai air mata langsung membasahi pipinya. Ia nyaris membunuh keturunannya sendiri.
"Kalau begitu kita ambil dia. Kita kan bisa mengambil penuh hak asuh Azlan!" ujarnya bersemangat.
"Tidak bisa dengan semua bukti yang dipegang pihak ayah angkat Azlan Bu ...."
"Kau beri mereka sejumlah uang!' saran wanita itu dengan nada angkuh.
"Mereka pasti akan menyerahkan dengan suka rela. Atau begini saja. Biar ibu yang mengambilnya, ibu yakin bisa!" lanjutnya sangat percaya diri.
Ardan menggeleng dengan senyum sinis. Pria itu sangat tak menyukai ibunya. Wanita yang melahirkan dirinya itu dulu ia puja. Tetapi setelah kesalahan fatal kemarin.
"Jika ibu lakukan itu ... aku yang mati!' kecam Ardan sinis.
"Memang siapa yang nggak suka uang? Apa lagi jika kau beri mereka seratus juta?!" sahut Laksmi sombong.
bersambung.
Yah ... cuma seratus juta? Itu jadi upilnya Arsh aja segitu mah.
Next?
__ADS_1