SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
MENEMUI NASAB


__ADS_3

Dominic terhenyak ketika mendengar kabar jika kedua orang tua dari Dinar masih hidup. Itu bertanda jika Herman tak bisa menjadi wali nikah gadis pujaannya itu.


Dinar sempat berujar tak mau menikah selamanya. Dominic mendatangi gadis itu. Dinar membelakangi pria yang memandangnya.


"Dinda ...," panggilnya.


"Tolong ... aku ...."


Dominic memeluk Dinar. Ia tau ini salah, tetapi gadis itu butuh kekuatan dan sandaran. Tubuh gadis itu seketika kaku ketika dipeluk oleh Dominic.


"Dik ... tatap aku," pinta pria itu.


"Mas!" tegur Dinar.


Dominic membalik tubuh besar gadisnya dan menatap wajah yang basah. Kesedihan dan luka yang gadis itu rasakan begitu dalam.


"Mana hafalanmu dik? Mana Tuhan di matamu?" tanya Dominic begitu berani.


"Mas ... hiks ... hiks!"


"Apa arti sujudmu jika masih ada dendam itu dik?" cecar Dominic.


Dinar menangis. Ia masih berkubang dengan rasa sakit yang diperbuat oleh orang yang mestinya menyayanginya.


"Setiap orang memiliki kesempatan kedua, maafmu akan membuka jalanmu sendiri pada Allah dik!"


Netra biru Dominic menghunus netra coklat terang milik gadisnya. Herman datang dan melihat Dominic memeluk anak gadisnya hendak marah. Tetapi Khasya menahannya.


"Dinar sedang butuh manusia yang menyadarkannya. Biar Dominic melakukan perannya yah!"


Wanita itu menarik suaminya. Keduanya mengantar enam adik Azizah dan juga Lana, Lino dan Leno. Azizah tengah memasak untuk semua orang dibantu empat ibu pengurus.


Dominic memeluk gadisnya erat dan menenggelamkan kepala gadis itu ke dadanya.


"Menangis lah sayang ... menangis lah ...," Dinar menangis keras.


Hatinya rapuh dan memang butuh pelukan. Pelukan yang menenangkan dari seseorang.


Dominic yang memeluk tubuh Dinar membenarkan kata menantunya jika memeluk gadis itu sangat enak karena empuk. Pria itu ingin sekali lebih dari sekedar memeluk Dinar.


"Aku harus menikahinya segera," tekadnya.


"Dik, kita temui ayah kandungmu sekarang!" ajak Dominic.


"Tapi aku enggak tau di mana mereka," cicit Dinar.


"Kita tanya ayah!" ajak Dominic menarik tubuh Dinar.


"Ayah ...."


"Makan dulu sini!" titah Herman.

__ADS_1


Dominic dan Dinar duduk. Azizah melayani mereka. Usai makan Herman akhirnya mengajak semuanya menemui orang tua dari Dinar.


"Zah!" panggilnya.


"Saya tuan!" pria itu berdecak.


Azizah memang belum terbiasa memanggil paman dari atasannya itu ayah padahal ke enam adiknya memanggil pria itu dengan sebutan ayah.


"Jaga semuanya ya," pinta pria itu.


Azizah membungkuk hormat. Herman kesal lalu memukul gadis itu.


"Ayah!" tegur Khasya.


Azizah sedikit perih pada lengan yang dipukul. Herman begitu marah pada gadis itu.


"Apa kau belum bisa menganggap ku ayah setelah semuanya?" tanya pria itu gusar.


"Aku memang tak akan bisa menggantikan mendiang ayahmu ... tapi, jika kau terus menjauh seperti ini. Jangan salahkan jika enam adikmu akan jauh darimu!" tekan pria itu.


Azizah berkaca-kaca. Gadis itu diam ketika Herman meninggalkannya. Khasya mengelus tangan gadis itu dan memberinya kecupan di kening Azizah.


"Jangan ragukan cinta kami sayang," ujarnya.


Khasya menyusul suaminya. Azizah hanya mematung. Semua kebaikan keluarga ini begitu hangat dan tak akan bisa ia balas. Gadis tersenyum.


"Terima kasih ayah ... bunda,' gumamnya.


Herman menyetir dan Khasya ada di sisinya. Dominic dan Dinar ada di bangku belakang. Herman tak perlu mencari tau di mana keberadaan orang tua dari anak angkatnya. Dari BraveSmart ponsel, ia mengetahui di mana keberadaan kedua orang tua Dinar.


"Sayang?" pekik Khasya dan Dominic bersamaan.


Dominic memegangi bahu gadisnya. Herman menyuruh semuanya turun.


Dinar dipapah oleh Khasya. Herman langsung membuka pagar. Sedang di dalam rumah sepasang suami istri terkejut dengan kedatangan orang asing ke rumahnya. Keduanya belum melihat Dinar.


"Hardi ... Rima!" bentak Herman memanggil pasangan suami istri itu.


Keduanya kaget, Rima membuka pintu. Herman masuk dan langsung menampar pria yang diam mematung. Rima berteriak keras, Dominic langsung memeluk Herman agar tak menghajar pria yang sudah terkapar tak berdaya.


"Apa yang kau lakukan pada suamiku!" teriak Rima tak terima.


"Itu atas keputusannya membuang putrinya di pasar dua puluh lima tahun lalu!" teriak Herman.


Rima dan Hardi terdiam. Dinar masuk bersama Khasya. Sungguh ia puas Herman memukuli pria itu.


Darah mengucur pada pelipis Hardi. Rima mengobatinya dengan tangan gemetar. Sedang Herman, Khasya, Dominic dan Dinar hanya diam menatap keduanya.


Muka Hardi sudah babak belur. Kini keduanya menunduk. Herman tak mau basa-basi dan terlalu lama di sana.


"Kami ke sini meminta persetujuan mu. Putriku ini akan menikah dan hanya kau yang bisa menjadi walinya!" tekan Herman.

__ADS_1


Hardi dan Rima terkejut. Ia mengira putrinya sudah menikah. Ternyata belum.


"Jadi—jadi ... Dinar belum menikah?" tanya Rima.


"Belum, dia akan menikah dengan pria di sisinya!" sahut Herman lagi.


Dinar sedari tadi pusing. Ia sudah mengingat semuanya. Mengingat penghinaan yang keluar dari ayahnya karena bertubuh gemuk dan tak ada satu kolega bisnis ayahnya yang tertarik dan melakukan perjodohan bisnis. Sang nenek yang mengatainya anak tak tau di untung dan tak bisa berkontribusi pada perusahaan. Sang ibu yang tak pernah membelanya. Menyiksanya dengan diet ketat hingga nyaris pingsan. Tapi, tubuh Dinar tak bisa kurus malah jatuh sakit dan harus dirawat intensif.


Di sana lah sang nenek datang dan meminta dokter menyuntiknya. Tadinya Dinar menolak karena takut. Tapi alasan dari perempuan tua itu agar Dinar cepat sembuh. Satu hari penyuntikan Dinar memang sembuh sang nenek mengajaknya ke pasar yang sedikit jauh dari kota. Berjalan-jalan sang nenek juga membelikannya pakaian bagus dan juga jajanan. Setelah itu pegangan sang nenek terlepas ketika Dinar menatap wahana bermain kincir angin. Ia ingin menaikinya, Dinar memanggil neneknya tetapi sang nenek sudah tak ada.


Dinar ingat sekali, dia berteriak kencang bahkan menangis mencari di mana neneknya. Mengingat hal itu membuat Dinar menangis. Khasya menenangkan putri angkatnya.


"Bunda ... mereka memang tak menginginkan ku ... bunda ... kita pulang yuk ... hiks ... hiks!"


Rima menangis begitu juga Hardi. Kedua orang tua itu meminta maaf pada putri yang mereka buang.


"Maafkan kami nak ... kami berjanji tak akan mengganggumu," ujar Hardi.


"Tuan, siapapun dirimu. Aku berterima kasih telah membantu putriku, dia tumbuh dengan sangat cantik dan sepertinya soleha ... terima kasih tuan," ujar Hardi panjang lebar dengan suara tercekat.


"Saya juga menyerahkan hak wali saya pada anda. Tidak apa, saya tau saya tidak berhak atas kesuksesan Dinar sekarang," ujar pria itu.


Keempat orang itu pergi. Rima dan Hardi mengantarkan mereka


"Nak ... bolehkah ibu memelukmu terakhir kali?' pinta wanita itu.


Dinar mundur ke belakang tubuh Khasya. Rima tersenyum kecut dan mengangguk tanda mengerti. Air mata keduanya meleleh. Herman duduk di samping Dominic, kali ini pria itu yang menyetir. Khasya membuka pintu dan meminta Dinar masuk.


Tangisan Rima dan Hardi yang pilu menghentikan langkah gadis itu.


"Bu ... kita memang tak pantas Bu ... dosa kita terlalu besar, bersyukur lah putri kita masih mau memaafkan kita. Jangan beratkan Dinar lagi ya," ujar Hardi menenangkan istrinya.


"Ibu hanya ingin memeluknya seperti ketika pertama kali dia hadir ke dunia ini pa," sahut Rima sesenggukan.


"Sudah Bu ... sudah,"


Hardi memeluk istrinya erat. Ia juga ingin dipeluk putrinya. Hatinya sakit sang putri menolaknya.


"Ini pantas ... ini pantas setelah perbuatan kita, bu!"


Grep!. Keduanya terkejut dan menoleh. Dinar memeluk mereka.


"Pa .. ibu nggak lagi mimpikan?" tanya Rima.


"Entah Bu ... mungkin papa juga sedang bermimpi," jawab Hardi tak yakin.


"Pa ... Ibu ... ini Dinar ... putri papa dan ibu ...."


bersambung.


😭😭😭😭

__ADS_1


readers mohon maaf ya kalo hanya satu dari kemarin. Othor sibuk banget. jadi cuma bisa up satu. makasih ba bowu ❤️😍🌹


next?


__ADS_2