
Klan BlackAngel kembali menjadi momok yang paling menakutkan. Terlebih aksi mereka mengacau di pasar gelap di sektor M.
Keberadaan ibu hamil yang mampu melumpuhkan seorang sniper juga jadi tranding di kalangan para mafia.
"Jadi yang menembak ketua Gladiator itu istri dari Tuan DeathAngel?" seru beberapa anggota mafia.
"Aku dengar dia sangat cantik!" lanjut lainnya.
Sementara Herman membawa semua anak-anak pulang. Virgou tak bersuara sama sekali begitu juga Gomesh, Budiman, Gio dan Deni. Wajah Herman sangat tidak bersahabat.
Hanya Rion, Azizah, Kean, Calvin, Sean, Al, Daud dan Satrio yang begitu heboh. Mereka seperti mendapat kesenangan baru.
"Babies ...," peringat Gomesh.
"Papa ... Aku ... uuughh!" tiba-tiba Azizah melenguh.
"Sayang!" semua tentu panik.
Azizah mengelus pelan sambil bershalawat. Rupanya janin ikut antusias dengan kegiatan mereka.
"Ayo masuk!" sebuah perintah datar keluar dari Herman.
Satrio memegang kemudi di mpv mereka.
"Kau ikut mereka Gomesh!" perintah Herman masih datar.
Gomesh menurut, Satrio diganti oleh pria raksasa itu. Azizah sangat tau jika Herman masih marah.
Dua kendaraan dan beberapa motor ikut serta mengawal rombongan keluarga kaya raya itu. Kepolisian memberi anugerah pada Herman atas keberhasilan mereka mengacau di pasar gelap itu.
"Ayah," panggil Budiman sangat lirih.
"Diam lah dulu Bud!" tekan Herman lalu mengurut kening.
Tak ada yang bersuara. Virgou tentu berada di mobil bersama Herman. Pria itu melotot ketika Virgou mengambil motor milik Saf itu.
Hari telah malam, semua pulang dalam keadaan lapar. Herman masuk dan meminta para remaja terutama Rion semua duduk.
Khasya, Kanya, Haidar, Andoro, Remario, Bram dan Bart menenangkan pria itu. Terra hendak menangis melihat semua anak dihukum sedemikian rupa oleh paman kesayangannya itu.
Virgou ikut duduk bersama anak-anak. Lalu Gomesh, Gio dan Budiman. Mereka merasa bertanggung jawab atas keselamatan mereka semua.
Herman berdiri di depan para pemuda lajang. Rion ditatap Herman sedemikian rupa.
Langit, Reno, Deni, Exel dan Rudi hanya berdiri dengan kepala menunduk. Fio bergabung bersama rekan-rekan juga Rosa dan beberapa pengawal lainnya.
"Ayah ...."
"Diam Rion! Aku belum suruh kamu. bicara!" sentak Herman.
Untuk pertama kalinya Herman menyebut nama pada bayi besar itu. Rion sangat tau apa kesalahannya. Pria itu pun menurut.
"Mas," peringat Khasya.
__ADS_1
"Jangan sampai kau menyesali semuanya!"
"Lebih baik aku menyesali daripada terjadi apa-apa pada mereka!"
Air mata Herman jatuh. Dadanya terasa sesak, ia berkacak pinggang dengan napas menderu.
"Kalian tau ...!" Herman mengusap kasar jejak basah di pipinya.
"Jantung ayah seperti mau berhenti melihat tingkah kalian!"
Semua menunduk, Herman menahan tangisannya. Terra menangis mendengar kemarahan Herman yang sepertinya kehabisan akal.
"Tak bisakah kalian diam atau kalian cari kegiatan yang lebih baik ... hiks ... hiks ... huuuu ... uuuu!" Herman marah sambil menangis.
Semua anak menunduk tak ada yang bersuara, mereka juga menahan tangisnya.
"Kamu juga Rion. Istrimu hamil, Nak ... hamil!" teriaknya.
"Ayah ... hiks ... hiks!"
Beruntung semua perusuh junior sudah tidur. Terra mendekati Herman dan memeluknya. Ia menangis.
"Apa kau tidak berpikir jika terjadi apa-apa?!" teriak Herman lagi.
Azizah menunduk, ia juga salah ikut serta suaminya. Tetapi, janin di dalam kandungannya sangat ingin berpetualang.
"Apa ayah pernah melarang kalian melakukan kegiatan di luar selama dijaga para pengawal?" seru Herman bertanya.
Semua anak tentu menggeleng. Tapi jiwa muda mereka yang lebih suka tantangan ingin lebih dari sekedar kegiatan positif.
"Maaf ya ... ini salah Calvin. Ide Calvin ingin mendatangi markas mafia," aku pemuda itu jujur.
"Tadinya Sean sudah memperingati. Tetapi, kami malah mengabaikan jika ada orang tua yang masih menunggu dengan cemas jika kami belum pulang," Calvin menangis ketika mengatakan itu.
Krrriuuuk! Bunyi keras terdengar. Semua menoleh satu orang. Bart ada di sana memerah mukanya. Ia tiba-tiba lapar.
"Daddy!' rengek Herman kesal bukan main.
"Aku belum makan karena menunggu mereka!" sahut pria gaek itu membela diri.
"Grandpa bohong. Tadi nambah sup buntut dua porsi!" ujar Haidar memberitahu.
"Apa? Daddy makan sup buntut?!" seru Herman marah pada pria paling tua di sana.
"Salahkan istri Frans! Dia selalu enak masakannya!" sanggah Bart tetap tak mau disalahkan.
Frans dan Leon tentu tak ada, dua pria itu sedang pergi ke Eropa untuk urusan pekerjaan. Istri mereka tentu tinggal bersama Bart dan mengurusi lima puluh anak angkat dan. juga bayi-bayi mereka.
"Ayah, sudah lah. Mereka pasti belum makan," ujar Khasya melunakkan hati suaminya.
Akhirnya, semua pun makan. Khasya, Kanya, Terra menyiapkan untuk mereka. Herman mengecup semua anak-anak.
"Tolong jangan lakukan lagi ya," pintanya penuh harap.
__ADS_1
"Iya Ayah ... insyaallah," jawab Al tak yakin.
Herman hendak menyahuti, Bram menahannya.
"Mas ... mereka adalah anak-anak mafia. Kita tak bisa menghilangkan itu," ujarnya.
Herman sangat kesal. Tapi, ia sadar. Semua keturunan memang begitu hebat. Bahkan Azizah membuktikan diri dengan menjadi istri mafia yang pastinya sudah mendapat nama di kawanan penjahat kelas kakap itu.
Semua anak pergi tidur. Virgou memeluk Herman dan mengecup pipi kanan dan kirinya bolak-balik.
"Kau!"
"Ba bowu Ayah!" ujar pria beriris biru itu.
Herman menghela napas panjang.
"Ba bowu pu," balas Herman mengecup kening pria sejuta pesona itu dengan penuh kasih sayang.
Bart tersenyum, ia memang sudah kalah banyak dengan Herman. Pria pribumi yang sangat ditakuti oleh semua orang. Bahkan Bart gemetar jika Herman memasang wajah dingin dan datarnya.
Bram memeluk paman dari menantu kesayangannya itu. Dari dulu Bram sudah menjadikan Herman idolanya dalam berbisnis.
"Kenapa kau memelukku?" tanya Herman dengan tatapan kesal.
"Mas!" rengek Bram yang membuat Kanya sebal bukan main.
"Kau tau, aku dari dulu berharap bisa duduk dan makan bersamamu. Walau dulu kau hanya pria bayangan di balik sosok Hardi Triatmodjo. Tapi namamu itu membuat semua pebisnis harus memutar otak jika berhadapan denganmu," jelas Bram mengaku.
Andoro dan Remario makin mengagumi sosok Herman. Dua pria itu memang dari awal ingin jadi anak Herman.
"Ayah!" mereka ikut memeluk Herman.
"Sudah .. kalian tidurlah!" suruh Herman.
Akhirnya semua pun tidur. Bart tak lupa menjahili Herman dengan menciumi wajah pria tua itu.
"Daddy!" pekiknya kesal.
Bart terkekeh. Kini Herman berada di kamarnya. Badannya sakit semua akibat berseteru dengan para mafia. Khasya melangkah perlahan dan mengecup kening suaminya. Mata Herman yang terpejam terbuka.
"Sayang," panggil Khasya mesra.
Wanita itu mengenakan lingerie warna hitam. Herman menelan saliva kasar. Tenaganya memang sudah habis, tetapi suguhan di depannya membuat sesuatu tegak berdiri.
"Ah ... sini kau istri nanat sisilan!"
Khasya terpekik girang. Lalu tak lama keduanya melakukan ritual suami istri yang panas di atas ranjang.
bersambung.
Bunda sama ayah masak di atas tempat tidur ya? Othor kan volos🤭🤭🤭
Bravo ayah!
__ADS_1
next?