
Hari kemenangan tiba. Semua orang tumpah ruah di jalanan. Tak ada kaya atau miskin, semua duduk sama rendah dan saling berbaur satu dengan lainnya.
Lantunan takbir memuji kebesaran Allah pencipta semesta alam terdengar. Semua melantunkan bersama.
Bart, Herman, Bram, Virgou, Andoro, Remario, Frans, Leon, David, Gabe, Haidar, Rion, Darren. Duduk berderet. Lalu diapit oleh Fio, Michael, Exel dan pengawal pria lainnya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh! Bagi bapak-bapak dan ibu-ibu yang masih di rumah. Harap segera ke masjid karena sholat Ied akan dilaksanakan sebentar lagi!' pekik muadzin.
Semua perusuh bersama ibu-ibu mereka. Tak ada keributan seperti anak-anak yang lain.
"Sudah siap semua?" tanya imam.
"Siap!" seru semua jamaah..
Mereka semua berdiri, imam mulai takbir pertama hingga tujuh kali berikutnya. Semua mengikuti dengan khusyuk.
Jika anak-anak lain sudah mulai menangis. Tapi tidak para perusuh paling junior.
"Eehek ... papa hiks!' rengek seorang bayi di sebelah Arsh.
"Ssshhh ... baby ... syini pama Ata'!"
Arsh beriris biru, balita itu sangat tampan sama seperti kakek, ayah dan pamannya. Bayi Italia diajak bermain oleh Arsh hingga tak jadi merengek.
"allażīna yażkurụnallāha qiyāmaw wa qu'ụdaw wa 'alā junụbihim wa yatafakkarụna fī khalqis-samāwāti wal-arḍ, rabbanā mā khalaqta hāżā bāṭilā, sub-ḥānaka fa qinā 'ażāban-nār!'
Imam membaca surah Ali Imran ayat 191 dengan berurai air mata. Bahkan beberapa jamaah ikut menangis mendengarnya. Begitu syahdu dan sangat khusyuk.
Rakaat berlanjut hingga berakhir salam. Tak lama, takbir menggema kembali. Beberapa orang saling bersalaman. Hanya beberapa saat mengikuti kutbah. Semua orang meninggalkan tempat ibadah kembali pulang.
Bart duduk di sana bersama Beni, Feri, Basri, Leni, Mia, Shama dan Sriani. Frans lebih dulu bersimpuh di depan Bart.
Dua pria saling menangis. Bart menciumi putra pertamanya. Bertahun-tahun menjadi seorang Islam. Membuat hati mereka begitu lembut, walau sifat bar-bar tetap menjadi prioritas keluarga mafia itu.
Semua bergantian sungkem. Tradisi turun temurun yang diikuti oleh keluarga itu. Herman menciumi Terra.
"Aku titip semua anak-anak padamu. Jaga bunda ya sayang!"
"Ayah ... jangan ngomong gitu!' rengek Terra langsung memeluk Herman.
Selesai sungkeman, Terra tak pernah bergeser dari pangkuan Herman hingga Khasya kesal.
"Sayang!"
"Apa sih bunda!" ketus Terra cemberut.
"Sayang," Herman menenangkan istrinya.
Haidar yang kesal membalas perlakuan Terra dengan memeluk Khasya dan bermanja dengannya.
Bukan Herman yang marah. Malah Kanya sang ibu yang mengomel panjang pendek. Wanita itu memeluk Virgou.
"Mama ngapain peluk aku?" Virgou menyeringai jahil.
"Ya sudah kalau nggak mau!" Kanya cemberut.
"Ih ... Mama gitu!"
Virgou memeluk bahkan mengangkat tubuhnya hingga wanita itu tergelak.
"Kau apakan istriku!" ketus Bram kesal.
__ADS_1
"Papa iri ya Ma?" ledek Virgou.
"Anak sialan!"
"Papa!" teriak Terra kesal.
Semua perusuh tak ada yang peduli lagi. Mereka paham jika nanat sisilan itu pasti jatuh pada anak laki-laki dan daddy mereka adalah salah satunya.
"Mereka sudah paham. Sudahlah, yang penting mereka nggak tau artinya," sahut Bram santai.
Terra berdecak, memang tak seheboh ketika awal. Tetapi bukan itu maksud Terra.
"Nanat sisilan!" teriak Zaa pada Vendra.
Terra mendengkus, Bram tersenyum lebar. Vendra menatap polos suadaranya besannya. Sedang Zora sedang bermanja dengan Langit, kakaknya.
Itu lah yang ditakutkan Terra. Anak-anak terbiasa memakai bahasa jelek itu.
"Baby nggak boleh ngomong itu!" larang Dav pada adiknya.
"Babisna Dendla mih!" gerutu Zaa mengadu.
Semua orang tua hanya menghela napas. Melihat tingkah para bayi yang membuat mereka garuk kepala.
Semua makan ketupat. Hanya anak yang belum satu tahun saja yang tidak memakan ketupat.
Setelah makan, semua anak memilih tiduran. Dewi mengatai anak-anak ular.
"Hanya ular yang habis makan tidur Babies,"
"Peulalti Apah Semalio judha ulan!' sahut Nisa santai.
"Apah Dalen!" teriak Nabila.
"Sayang ... gimana kalo kita persiapkan Nabila untuk jadi istri dari Tuan muda Fatih?" ujar Gio berbisik pada istrinya.
"Iya sayang, aku setuju!' ujar Aini.
"Dan Sabila untuk Tuan Izzat karena Tuan Azha sudah memilih Aaima," lanjutnya.
Gio mengangguk setuju. Mereka bercengkrama. Santo mendekati tiga anak kembarnya.
"Nak,"
Lana, Lino dan Leno terkejut. Mereka nyaris lari jika saja Santo tak bersimpuh di depan tiga anakya. Ia pun menyembah meminta ampun.
'Santo!"
Gomesh menarik kerah pria itu hingga berdiri. Santo menangis.
"Biarkan aku ... biar aku menyembah tiga anakku agar mereka mengampuniku!" teriak Santo.
Gomesh menyeret pria itu dan membawanya pergi jauh. Triple eL ketakutan, semua saudaranya memeluk mereka.
"Dek," panggil Azlan anak laki-laki tertua di sana.
"Kak,'
"Maafkan bapak dek. Semua orang punya kesalahan, tetapi jika kau terus menolaknya. Kakak takut bapak malah buat jahat!" lanjutnya memberi pengertian.
Lana, Lino dan Leno saling pandang. Alzan menggandeng mereka berikut, Ajis, Amran.
__ADS_1
"Kakak temani!' ujar Ajis.
Mereka pun menyusul kemana Gomesh membawa Santo pergi. Virgou yang gusar mengikuti mereka.
Sampai di tempat yang sedikit jauh, Santo dimarahi habis-habisan oleh Gomesh. Pria itu menunduk dengan tetesan air mata yang jatuh. Ia menerima kemarahan Gomesh.
"Papa!" Ajis berlari mendekati pria raksasa itu.
"Tenangkan diri papa!' pintanya lirih.
Azlan, Amran juga menenangkan pria besar itu. Triple eL ada di sana. Gomesh mendengkus kesal.
"Pak!" panggil Lana lirih.
'Nak ... ini Bapak nak ... ini bapak!" ujar Santo berusaha menarik Lana.
"Jauhkan tanganmu!" teriak Virgou.
Santo menangis, Virgou hampir menerjang Santo jika saja Amran tak menghalangi laju pria sejuta pesona itu.
"Daddy ... tenang Daddy!"
"Nak ini bapak mu Nak ... aku bapakmu ... huuuu!' teriak Santo putus asa.
"Kau memang ayahnya. Tetapi berapa lama kau tak ingat jika mereka adalah anakmu?" desis Gomesh kesal.
Santo hanya terdiam, memang ia salah besar di sini. Meninggalkan anak dan istri hanya karena tak kuat menderita.
"Katakan saya salah Tuan. Tapi, waktu itu keadaan benar-benar sulit. Saya putus asa ...," ujarnya. "Tuan pasti akan melakukan yang sama ...."
"Bangsat kau!" bentak Gomesh.
Tangannya hendak mengayun memukul. Tetapi teriakan anak-anak menghentikannya.
"Papa ... jangan pukul Papa. Leno nggak mau tangan papa ternoda akibat pukul dia!"
Santo menangis, pria itu benar-benar menyesali semuanya.
"Ijinkan saya membayar semuanya Tuan. Tolong berikan saya kesempatan kedua ... hiks ... hiks!"
"Aku ...."
Virgou kesal sekali, tetapi Lino mendekati ayah biologisnya itu.
"Berjanjilah Pak untuk jadi lebih baik dan berlaku jujur!" pintanya lirih.
"Bapak mau ... bapak mau!" angguk Santo setuju.
Akhirnya Lana, Lino dan Leno dipeluk oleh Santo. Tangis pria itu pecah di dada putrinya.
"Maafkan bapak Nak ... maafkan bapak!'
"Bismillah ya pak. Kita jadi orang baik bersama!" ujar Lana membelai pipi ayahnya.
bersambung.
nah itu dia ... kasih sayang adalah jawaban dari semua masalah.
'Taqabbalallahu minna wa minka'
ba bowu Readers ❤️❤️❤️😍
__ADS_1
next?