SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
SEKOLAH SULIT


__ADS_3

Dewi, Kaila, Dewa, Rasya dan Rasyid yang baru kelas satu SMP. Kelima remaja tanggung itu memilih satu kelas tak mau dipisah. Bahkan semuanya memilih duduk di barisan paling depan. Kelimanya ditunggui oleh para bodyguard.


Usai sekolah, mereka pun pulang. Kelimanya diminta untuk membentuk kelompok kerjasama dan membuat makalah tentang alat reproduksi manusia, juga perkembangan janin dalam perut.


"Materinya dewasa sekali ya?" ujar Rasya melihat tugas yang diberikan pada mereka.


"Mungkin kita disuruh mengenal alat reproduksi kita sendiri," sahut Dewi.


"Kai, kita sekelompok bareng yuk!" ajak salah satu teman sekelasnya.


"Wah ... tapi makasih, aku udah sama saudara-saudaraku," jawab gadis tanggung itu.


"Oh, oke!' sahut anak itu.


Kaila mengangguk, Dewi, Dewa, Rasya dan Rasyid hanya diam menanggapi. Mereka yakin banyak anak yang ingin dekat Kaila karena matanya berbeda dengan keempat saudaranya.


"Kai ... ama kita aja yuk, apa kamu nggak bosen sama saudaramu terus!" kini teman yang lain mengajak Kaila untuk bergabung dengan mereka.


"Nggak ah!" tolak Kai.


"Mending sama aku, Kai ... selain alat reproduksi, kamu juga bakal tau alat lain yang menunjang kehamilan," sahut lainnya lagi.


Mereka mengerutkan kening dengan perkataan anak laki-laki yang sepertinya lebih tua usianya. Di dadanya tertulis nama Dzakaria A.


"Kamu juga akan lihat langsung dari mana cairan mani keluar," ujarnya menyeringai.


"Otak mesum!" hardik Dewi.


"Wow ... apanya yang mesum?" tanya anak laki-laki itu tertawa meledek.


"Udah Dew, biar aja jangan ditanggepin," sahut Dewa menenangkan.


Dewa, Dewi, Rasya, Rasyid dan Kaila segera meninggalkan sekolah. Dzack tertawa terbahak-bahak sambil menggoda Kaila dan Dewi bersamaan.


"Kalian berdua juga nggak apa-apa kok lihatnya!"


Para pengawal ada di depan gerbang sekolah. Memang peraturan baik yang menjemput dan mengantar sekolah tak boleh masuk ke sekolah, mereka harus menunggu di depan gerbang.


Mereka duduk di bagian belakang. Semuanya terdiam dengan muka kesal.


"Apa tadi dia itu berusaha melecehkan kalian?" tanya Rasya yang dari tadi diam.


"Makanya aku kesel banget!" gerutu Dewi.


"Udah yang penting kita nggak usah ladenin. Selama dia nggak main fisik. Kita biarin aja!" sahut Dewa.


"Mestinya sih nggak boleh gitu," sela Rasyid kini.

__ADS_1


"Kalau dilecehkan harus dilaporkan, karena itu sudah melanggar hukum," lanjutnya.


"Kita anak kecil, siapa yang percaya?" sahut Dewi.


"Papa, Papi, Daddy, ayah ... percaya sama kamu, Dew!" sahut Rasyid.


Dewi dan Kaila diam. Kedua anak perempuan itu memang masih terlalu polos dan tak mengerti dengan apa yang terjadi.


"Sepertinya kita harus banyak bertanya pada mama agar kita tau apa itu pelecehan," ujar Kaila.


Dewi mengangguk setuju. Sudah saatnya mereka belajar apa itu kata-kata vulgar yang bisa melecehkan mereka.


Sampai mansion Virgou. Kaila minta ijin menginap di mansion ayahnya, Virgou mengijinkannya.


"Pa, telepon mama sih, Rasya sama Rasyid juga mau nginap di mansion kakek," pinta Rasya.


"Oke baby," sahut pria itu.


Mereka makan siang terlebih dahulu. Virgou menelepon adik sepupunya itu. Terra pun mengijinkan walau terjadi perdebatan pada keduanya.


"Kenapa bukan mereka aja yang nginep sini?" ujar wanita itu.


"Kau mau beradu mulut perkara ini sama ayah?!" sahut Virgou kesal bukan main.


"Sudah kuijinkan dua putraku itu menginap!"


Virgou langsung menutup sambungan ponselnya. Ia menggerutu panjang pendek. Puspita sampai menenangkan pria itu. Mansionnya juga sepi, walau Maisya, Affhan dan Harun ada di sini. Pria itu masih kecarian anak-anaknya yang lain.


"Boleh baby," jawab pria itu dengan senyum indahnya.


Rasya dan Rasyid senang bukan main. Ia sengaja meminta pria itu menelepon ibunya, karena jika mereka meminta pengawal yang menelepon, mereka pasti menuruti apa kata Terra, ibu mereka.


Setelah makan siang, mereka pun berangkat ke mansion Herman. Khasya sudah menanti semuanya, wanita itu tak kembali ke kantor ia menyerahkan semua pekerjaan pada Rando, asisten sekaligus sekretarisnya. Pria itu memang sangat kompeten dan sebanding dengan Najwa dan Lusy sekaligus. Sedang Puspita akan kembali ke perusahaan dan mengawasi semua pekerjaan. Hanya Terra yang sangat santai mengerjakan semuanya di rumah. Otak dari ibu banyak anak ini memang sangat genius.


Usai shalat maghrib Kaila mulai menyusun makalah. Dewi menggambar alat reproduksi manusia dan Dewa menggambar perkembangan janin, sementara Rasya dan Rasyid mencari materinya. Khasya dan Herman terkejut dengan materi yang diberi oleh guru anak-anak mereka.


"Kalian disuruh membuat materi ini?!" tanya pria itu tak percaya.


"Iya kek ... ih .. Kai panggil ayah aja lah ya!" pinta gadis kecil itu kesal.


"Masa beda sendiri bahkan perusuh manggil ayah juga bukan kakek," dumalnya sambil mengerucutkan bibirnya.


Herman tertawa, ia memeluk gadis kecil cantik itu gemas. Selama dua jam mereka mendampingi putra dan putri mereka menyusun makalah itu.


"Alhamdulillah ... beres juga!" seru semua anak-anak.


"Oh ya yah, tadi sepertinya Kaila dan Dewi dilecehin deh sama salah satu temen," adu Kaila.

__ADS_1


"Apa bagaimana bisa kalian melecehkan mu!" teriak pria itu.


"Jangan marah dulu ayah," tenang Khasya.


"Bisa jelaskan, kenapa kamu bilang kamu merasakan dilecehkan?" tanya Khasya kini.


Kaila pun menceritakan bagaimana Dzakaria atau biasa dipanggil Dzack melecehkan mereka dengan mengeluarkan kata-kata vulgar.


"Bahkan Dew juga diajak buat lihat dari mana air mani itu keluar secara live," lanjut Kaila.


"Kurang ajar!" maki pria itu pelan.


"Dzakaria, sepertinya ia anak yang tinggal kelas kemarin?" ujar Khasya.


"Apa dia anak tinggal kelas?" tanya Herman.


"Kemarin waktu mengantar daftar sekolah, bunda denger kalo ada beberapa anak yang sedikit nakal tinggal kelas dan salah satunya bernama Dzack-Dzack itu," jawab Khasya.


"Ah, mereka mestinya dapat pengawasan dan penanganan langsung dari guru," sahut Herman.


"Nah, maka itu kami ingin bunda ngajarin kami. Apa aja pelecehan itu," sahut Dewi kini.


Herman menghela napas panjang. Zaman mulai berubah, teknologi berkembang memang sangat memudahkan manusia untuk mengakses apapun. Walau pemerintah telah berupaya menutup semua informasi tentang hubungan intim antara lain jenis, bahkan sejenis. Tapi tekhnologi dan internet memudahkan semua orang mengakses apa saja di ponsel mereka.


"Oh jadi, perkataan vulgar termasuk pelecehan ya Bun?" tanya Kaila.


"Benar sayang," jawab wanita itu.


"Terus nyikapinnya gimana, biar nggak dilecehin lagi?" tanya Dewi.


"Jangan dekati mereka, hindari. Karena pelecehan lewat kata-kata tak bisa dijerat hukum," saran Khasya sekaligus kecewa.


"Kalau dia dekatin kita dan terus berkata seperti itu, boleh Dewi hajar nggak?"


"Boleh!"


"Nggak!"


Herman dan Khasya menjawab dengan berbeda. Dewi mengerutkan keningnya bingung.


"Kalau terpaksa kek nya bisa deh langsung tonjok!" sahut Kaila setuju dengan saudaranya itu.


"Bolehlah ... kita akan dukung jika gitu!" sahut Dewa, Rasya dan Rasyid.


bersambung.


ah ... memang perlu ditonjok bagi orang-orang bermulut kotor itu.

__ADS_1


Reader maaf ya kalo hanya satu. Othor lagi sakit nih, minta doanya ya ... makasih ba bowu ❤️❤️❤️


next?


__ADS_2