
Keluarga besar kini tengah berkumpul di sebuah balkon besar yang menjorok ke laut, langit senja mewarnai cakrawala. Banyak kursi dan payung-payung besar menutupi. Haidar duduk memangku sang istri. Sepasang suami istri tampak mesra saling memeluk dan memandang indahnya langit sore.
"Ata' Ajis ... ada lumpa-lumpa!" pekik bayi dua tahun setengah itu menunjuk beberapa kawanan ekor ikan lumba-lumba.
Bart memasang pagar kaca bening setebal 1m dengan tinggi 2m. Anak-anak bisa memandang laut lepas bahkan terkadang ombak yang menghempas.
"Huuaaa ... ombak!" pekik Rasya kegirangan.
"Uyut, kapan boleh main ke pantainya?" tanya Amran pada Bart.
"Besok ya Baby, angin sore terlalu kencang," jawab pria gaek itu.
"Omy!" pekik Arsh.
Rupanya Azizah mengangkat tinggi-tinggi bayi itu hingga terpekik lalu tergelak. Gio memeluk istrinya sambil mengawasi semua anak-anak begitu juga Dahlan, Budiman dan Gomesh. Pria-pria itu terkadang mengecup tengkuk istrinya.
"Sayang!" Gisel paling tak tahan jika disentuh area sensitifnya itu.
Netra biru Gisel menatap pupil pekat milik suaminya. Dengan begitu berani wanita itu mengecup bibir sang suami.
"Bomy ... janan sium Baba!" larang Maryam posesif.
Gisel berdecak, bayi cantik itu mengerucutkan bibirnya sambil melipat tangan di dada. Wanita bermata biru itu menyambangi bayi galak itu.
"Kau melawanku bayi!" tantangnya.
"Selbu Bomy!" pekik Aisya.
Semua bayi mengerumuni Gisel. Wanita itu tentu kalah dengan bayi-bayi montok.
"Baba ... tolong Bommy!" pekik Gisel menciumi bayi-bayi usil itu.
Budiman membantu istrinya, mengangkat dua bayi dan menciumi ketiak hingga Fathiyya dan Aaima tergelak.
Dinar masih setia menjaga semua bayi yang ada bersamanya, Dominic pun tak pernah mempermasalahkan hal itu.
"Ahh!" pekik Fael yang seperti didiamkan.
"Hei ... Gom anakmu protes tuh!" sahut Virgou.
"Hei bayi ... kau belum bisa bicara sudah berani protes!" Jac menciumi bayi tampan itu.
Putranya Zizam ada digendongan Herman, pria itu bersama Khasya memainkan kakinya ke kaca pembatas.
Darren merebahkan dirinya bersama sang istri, jangan tanya bayi mereka ada di mana. Izzat ada bersama Lidya dan Putri, Demian tengah menggoda bayi-bayi yang bersama Dinar.
Saf berada dipelukan suaminya. Ciuman keduanya luput dari perhatian semua orang.
Satrio menatap Adiba yang memandangi laut lepas dengan takjub. Gadis itu terus memuji kebesaran Allah dengan ciptaan-Nya yang indah ini.
Kean, Sean, Al, Daud bermain bersama Ditya, Radit, Lana, Leno dan Lino. Sedang anak angkat Bart mengawasi semua adik-adiknya bermain.
"Dad," keluh Najwa tiba-tiba.
"Sayang!" semua mulai panik.
Bart dan Leon langsung mendudukkan Najwa. Perut besar wanita itu tampak bergerak, Najwa meringis menahan sakit. Bart mengelus perut menantunya.
__ADS_1
"Baby ... jangan sekarang ya, kita jauh dari rumah sakit," ujar pria itu memohon pada janin.
Saf mendorong suaminya ketika mendengar lenguhan Najwa. Wanita itu langsung menyentuh dan meraba sekitaran perut. Gerakan itu pun berhenti, Najwa menghela napas lega.
"Masih sakit Nini?" tanya Saf.
"Tidak sayang. Makasih ya," jawab Najwa.
Semua lega, Arsh mencium perut besar itu.
"Baby ... nan luan lulu ya," pintanya sambil menggoyang telunjuknya seakan bicara pada janin.
"Hei ... kamu anak siapa sih?" Dahlan mengangkat bayi tampan itu dan menyembur perutnya.
"Papa ... elek!" pekik Arsh lalu tergelak.
"Ayo masuk, nanti kita keluar lagi untuk barbeque!'
"Uyut ada marshmellow kan?" tanya Alim.
"Ada sayang," jawab pria itu.
"Coklat?"
"Ada, jagung juga ada,"
Semua bersorak, mereka pun masuk lagi dalam cottage. Ketika malam, para staf dan pekerja sudah menyiapkan tungku besi besar untuk acara barbeque. Beberapa koki menyiapkan makan malam dengan menu stik dan ikan bakar.
"Mama mau ikan!" pinta Domesh.
"Ini motongnya gimana?" tanya Adiba kesulitan memotong daging.
Satrio menuntun tangan gadis itu memegang garpu dan pisau. Remaja itu mengajari bagaimana memotong dagingnya. Tak ada yang curiga karena Kean juga mengajari salah satu adik angkatnya. Hanya Khasya yang tersenyum samar melihat kegiatan mesra putranya.
Wajah Adiba bersemu merah, tangannya yang kecil tentu tenggelam di tangan besar Satrio.
"Makasih Mas," ujar Gadis itu.
"Sama-sama," sahut Satrio dengan jantung berdebar.
Remaja itu langsung menuju Kaila yang juga sepertinya kesulitan, ia harus bergerak cepat agar sang ayah yang sudah mengerutkan keningnya tak curiga.
'Maaf Adiba. Mas harus berlaku sama ... tunggu ya, ada masa sentuhan kita tak ada yang memarahinya,' gumam Satrio dalam hati sambil menatap Adiba.
Gadis itu sangat mengerti, ia juga melirik semua pria di depannya yang sepertinya sedikit mengerutkan kening. Gadis itu harus bersikap biasa saja.
"Pa," panggil Haidar pada ayahnya.
"Hmmm," sahut Bram hanya berdehem.
"Apa ada yang aneh tadi?" tanya Haidar menatap ayahnya.
"Apa?" tanya Bram tak mengerti.
Tatapan Haidar beralih pada Satrio, remaja itu juga membantu anak-anak angkat Bart yang kesulitan memotong daging.
"Ah ... nggak ada apa-apa," ujarnya.
__ADS_1
"Ck ... Baby Trio sudah besar sayang," decak Bram.
"Mengertilah, biarkan ia dengan apa yang dirasakannya!" lanjutnya bijak.
"Memang Papa mau Satrio cepat-cepat menikah?" tanya Haidar memancing.
"Ya enggak lah ... dia baru delapan belas!" jawab Bram sengit.
Haidar mencebik ayahnya sebal. Jelas-jelas Bram juga posesif, pria itu menolak tua dengan melihat para remaja yang kini sudah mulai masa pubernya.
Virgou menatap horor pada Langit yang sepertinya mencuri kesempatan mendekati Nai.
"Baby ... sini!" Nai menghela napas panjang.
"Iya Daddy," gadis itu menurut.
Virgou langsung merengkuh gadis cantik itu dan mengajaknya duduk bersama Puspita. Hal sama dilakukan Frans pada Arimbi, Reno nyaris ditarik jika saja Lastri tak menahan laju tangan suaminya.
"Sayang," peringat wanita itu.
"Putriku masih kecil!" sungutnya.
Lastri mengangguk, lalu memandang Reno yang setengah putus asa mendekati Arimbi.
"Dekati pria-pria posesif ini, tunjukkan jika kalian pantas bersanding dengan putri mereka," ujar Seruni pada Reno.
"Mereka galak sekali Nyonya," keluh Reno.
"Astaga .... tampang serammu tak berguna ternyata," kekeh Seruni.
Reno mencebik, pria tampan paripurna itu memang sedikit putus asa mendekati Arimbi. Ayahnya sudah berkali-kali menelepon dirinya.
"Ah ... gimana mau deketin Tuan Herman?" keluhnya sudah ketakutan setengah mati.
"Daddy juga kalau berhadapan Ayah pasti bertekuk lutut!" lanjutnya mulai frustrasi.
"Daddy, jujur ... aku sayang banget sama Ayah dibanding dirimu," monolognya lagi.
Langit mendatangi rekan seprofesinya itu. Ia sangat tau betapa sulitnya mendekati dua perawan kesayangan semua orang.
"Apa kita tanya Tuan Demian bagaimana caranya mendapatkan Nyonya Lidya?" tanya Langit memberi saran.
"Kau gila. Ia juga sama posesifnya, jika berurusan dengan Nona Nai dan Nona Arimbi," sengit Reno.
Langit menggaruk kepalanya. Ia sudah jatuh cinta pada Naisya. Foto gadis itu sudah ia kirim pada ayah dan ibunya yang berada di Eropa.
"Ren ... besok katanya Tuan Bart akan mengadakan gala dinner di tempat ini. Bagaimana jika kita minta kedua orang tua kita turut hadir!" sebuah ide muncul.
"Sepertinya boleh juga. Aku terkadang kesal, ayahku memaksa membawa anak gadis orang," ujar Reno setuju.
"Ya ... aku juga mau menghadapkan ayahku dengan Tuan Herman Triatmodjo. Aku ingin tau, apa pria sok jago itu mampu berdiri di depan Tuan Herman!" sengit Langit kesal pada ayahnya.
Bersambung.
Wah ... bakalan tunduk pastinya lawan Ayah mah.
Next?
__ADS_1