SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
UANG LIMA RIBU TANDA MINYAK 2


__ADS_3

Deta hanya diam selama pelajaran berlangsung. Semua murid yang menatapnya dan langsung berbisik-bisik. Doni duduk di belakang, ia menolak duduk dengan Deta.


Doni merapikan uang lima ribu yang tadi diambil. Ia mengambil bukunya, ketika membuka halaman buku, ada uang lima ribu yang terselip di sana.


Namun selanjutnya, seperti tidak terjadi apa-apa. Doni hanya diam dan kembali duduk dengan normal.


"Eh Don, itu di buku ada uang lima ribu juga. Kamu nabung?" tanya Joko.


"Iya, ini uang jajanku yang kemarin," jawab Doni.


"Tapi, kemarin bukannya kamu jajan ya?" tanya Joko dengan kening berkerut.


"Ah ... ini ... ini uang jajan yang kemarin-kemarin. Ibuku setiap hari kasih jajan, bahkan hari minggu juga," jawab Doni memberi penjelasan.


Joko mengangguk tanda mengerti. Pelajaran berlangsung hingga bel tanda belajar selesai. Semua pun keluar kelas setelah guru keluar.


Deta masih diam dalam kelas padahal semua temannya sudah keluar. Tubuhnya bersandar pada kusen kaca dengan pandangan kosong. Sesekali air matanya jatuh.


"Deta nggak nyuri," ujarnya lirih.


"Det!" Juno mencari keberadaan salah satu putra angkat Bart itu.


Pria itu begitu terpukul melihat keadaan Deta yang melamun dengan air mata berlinang. Juno sangat bersalah dengan hal itu. Pria itu mendekat.


"Nak?" panggilnya lirih.


"Deta nggak nyuri Pa ... hiks ... huuuu ... Deta nggak nyuri," isak bocah itu.


Juno memeluk Deta. Tubuh bocah itu gemetaran begitu hebat. Bayang-bayang ayahnya yang tewas dipukuli warga akibat dituduh mencuri. Padahal mangga yang diambilnya merupakan mangga jatuh dari pohon. Tetapi orang meneriakinya dengan begitu ganas.


Deta masih terlalu kecil waktu itu. Anak itu menangis mengatakan jika ayahnya bukan pencuri. Semua pelaku pengeroyokan ditangkap. Tetapi para istri pelaku meminta sang ibu membebaskan suami mereka, meminta maaf.


"Bapak nggak nyuri Pa ... tapi orang mukulin dia sampai mati ... huuuuu ... uuuu!"


Juno menggendong Deta yang gemetaran. Dalam dekapan pria itu Deta tak sadarkan diri. Hidup yang begitu keras Deta alami. Sang ibu juga meninggal dunia akibat sakit yang tak kunjung sembuh. Juno mendapati Deta yang pingsan. Pria itu bergegas membawa Deta. Adiba bersamanya, sedang anak-anak lainnya berada di bus yang dibelikan oleh Bart.


"Pa ... Deta kenapa?" tanya Diba sedih.


"Deta pingsan, sekarang suhu tubuhnya naik!" jawab Juno.


"Ndre ... kebut!" pinta Juno.


Andre yang menyetir menekan pedal gas dalam-dalam. sepanjang perjalanan, kendaraan itu membunyikan klaksonnya dan juga menyalakan lampu pijar, menandakan jika mobil itu sedang dalam masalah.


Tak berapa lama, mereka sampai di rumah sakit Lidya. Semua turun begitu juga Adiba. Beberapa petugas medis mendorong brankar menyambut tubuh Deta yang lemah.


Semua berlari menuju ruang UGD. Lidya yang mengetahui jika salah satu adiknya tak sadarkan diri langsung menuju ruangan itu.

__ADS_1


"Pa!" panggilnya.


"Nona," sahut Juno begitu cemas.


Adiba juga ada di sana sangat cemas dengan keadaan Deta.


"Papa Hendri mending bawa Adiba pulang," ujar Lidya.


"Nggak mau Kak, Diba mau nungguin Deta," tolak Adiba.


"Sayang, pulang aja ya. Nanti Kakak akan hubungi perkembangan Deta," pinta Lidya.


Wanita hamil itu mengelus kepala Adiba dan memintanya pulang. Akhirnya Adiba menurut. Hendri membawa nona mudanya pulang ke rumah Terra.


Tak butuh waktu lama Bart sudah ada di rumah sakit. Ia begitu shock mendengar berita jika Deta, salah satu putranya masuk rumah sakit.


Pria itu belum tau kenapa Deta bisa masuk rumah sakit. Padahal Deta anak yang sehat. Baik Juno dan Adiba belum memberitahu peristiwa tentang uang lima ribu tanda minyak itu.


Sementara di hunian yang sangat sederhana. Doni mengelus lembaran uang yang sudah ia kumpulkan. Ia tersenyum dan bayangan sepeda di kepalanya sebentar lagi akan terwujud.


"Harus lebih sering nggak jajan lagi," ujarnya lirih.


Dari semua uang yang dikumpulkan hanya satu uang yang bertanda minyak di sana. Bocah itu meletakkan bukunya di bawah bantal. Ia memejamkan matanya, hari ini makanannya sedikit enak karena sang ibu habis jualannya.


Yuyah masuk ke kamar yang ditempatinya bersama sang putra. Melihat Doni yang tertidur dengan senyum di bibir membuat ia begitu bahagia.


Yuyah mengecup kening putranya pelan. Sesekali mengusap peluh yang membasahi dahi lebar Doni.


Wanita itu pun keluar kamar dan kembali berkutat di dapur untuk mengolah jualannya. Doni perlahan membuka matanya.


"Maaf Bu," ujarnya lirih lalu kembali memejamkan matanya..


Kembali ke rumah sakit. Deta masih memejamkan matanya. Hanya selang infus yang menancap dilengan kirinya. Bart mengusap kepala putranya itu.


"Dad," Frans datang dengan wajah sedih.


Pria itu duduk di samping ayahnya.


"Kata Baby, Deta mengalami press traumatik disorder. atau bisa dibilang traumatik masa lalu," jelas Bart.


"Astagfirullah, Nak ... kejadian apa yang kau alami sampai kau mengalami ini?" Frans mengusap wajah adiknya.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!" suruh Frans.


Juno masuk ke dalam ruangan dengan fasilitas mewah itu. Pria itu membungkuk hormat.

__ADS_1


"Tuan, ada yang harus saya ceritakan kenapa Tuan Deta menjadi seperti ini," ujarnya melaporkan.


"Duduklah," pinta Bart.


Juno duduk dan langsung menceritakan kejadiannya. Bart terdiam, ia memang memberikan uang jajan yang tidak banyak pada semua anak-anak. Tetapi masalah noda minyak, pria tua itu tak memperhatikannya sama sekali.


"Jadi adikku dituduh sesuatu yang mungkin bukan dia pelakunya?" tanya Frans kesal.


"Benar Tuan, semua bukti mengarah hal itu. Tuan muda Deta tak bisa membuktikan jika itu adalah uangnya," jawab Juno.


Bart dan Frans terdiam. Tak lama Rion dan Azizah, disusul Virgou, Gomesh dan Satrio, lalu Haidar dan Sean juga Al. Calvin serta Jac datang bersama Demian.


"Bapak saya nggak nyuri ... Bapak saya bukan pencuri!" igau Deta.


Bart dan lainnya panik. Satrio segera menekan bel. Lidya datang bersama Putri.


"Papa keluar dulu ya," pinta wanita bertubuh mungil itu. "Biar Iya periksa."


Semua menjauh dari sana. Azizah menangis, Rion memeluknya. Teriakan Deta yang begitu memilukan membuat semuanya sedih. Bart sampai hampir pingsan.


"Grandpa!" pekik Satrio dan lainnya panik.


"Dad!" Frans dan Herman lalu membawa Bart keluar dari ruangan begitu juga yang lain.


"Aku mau sama anakku!" pinta pria tua itu sambil menangis.


Di dalam Lidya memeluk Deta erat. Wanita itu juga ikut menangis melihat betapa mengerikan apa yang dilihat Deta waktu kecil.


"Bapak bukan pencuri ... huuuu ... uuu ... mangga itu jatuh ... Bapak bukan pencuri!" pekik Deta lalu kembali tak sadarkan diri.


Putri menenangkan Lidya yang ikut hancur akibat apa yang dilihatnya. Wanita itu segera keluar dan meminta Demian dan lainnya masuk untuk menenangkan Lidya.


"Sayang," Demian langsung menjauhkan Lidya dari tubuh Deta.


"Huuu ... uuu ... kasihan Deta ... bukan dia pencurinya Daddy, bukan dia," ujarnya tergugu.


Virgou yang sudah diberitahu Juno duduk perkaranya langsung mengambil ponsel pintar milik Darren.


"Ah ... ternyata seperti itu?" pria itu mengepal erat tangannya.


"Masih kecil sudah belajar jadi penipu ternyata," lanjutnya geram.


Bersambung.


Uh ... oh ...


Next?

__ADS_1


__ADS_2